Qona'ah, Merengkuh Kekayaan Sejati

April 20, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Salah satu fitrah dari manusia adalah tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ketika kita melihat sesuatu yang lebih bagus dari apa yang kita miliki, timbul dalam diri kita keinginan untuk mempunyai hal tersebut. Kita seperti tersihir untuk selalu membeli handphone yang baru dirilis, padahal handphone yang kita miliki sekarang masih sangat layak untuk digunakan. Kita sangat terobsesi untuk selalu menambah pundi-pundi kekayaan kita. Kita tidak pernah puas dengan apa yang kita miliki. Kita sering lupa bahwa apa yang kita miliki akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Kita sering tidak yakin bahwa kepuasan atas apa yang Allah SWT berikan adalah kekayaan sejati.

“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya kemewahan dunia, akan tetapi kekayaan hakiki adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)” [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051]

Ikhwati fillah. Perlu kita ketahui bahwa memiliki sifat qona’ah sangat bermanfaat bagi kita. Diantara manfaat-manfaat dari sifat qona’ah adalah:

1. Hati terhiasi oleh keimanan kepada Allah SWT.
Ketika kita puas atas apa yang telah Dia berikan kepada kita, hati kita akan selalu dihiasi dengan keimanan kepada Allah SWT. Kepuasan kita mendorong kita untuk selalu meyakini bahwa Allah SWT telah menetapkan jatah rezeki untuk kita, sehingga kita tidak takut ketika merasa ketidakcukupan. Ini sangat berkaitan dengan salah satu rukun iman, yaitu iman kepada takdir. Mari kita bercontoh kepada Imam Ahmad, beliau berkata “Hari yang paling bahagia menurutku adalah ketika saya memasuki waktu Subuh dan saya tidak memiliki apapun.” [Shifatush Shafwah 3/345]. Beliau bisa berkata demikian karena beliau yakin bahwa Allah SWT sudah menetapkan jatah rezeki beliau dan puas dengan apa yang dimiliki beliau.

2. Membantu kita dalam merealisasikan rasa syukur kita kepada Allah SWT. 
Kita sering menganggap kecil dan kurang apa yang Allah SWT telah berikan kepada kita. Ini mengakibatkan kita sering tidak bersyukur atas nikmat Allah SWT kepada kita. Kita pun jadi sering berkeluh kesah bahkan sampai menuduh Allah SWT yang tidak-tidak. Rasulullah SAW pernah mengingatkan Abu Hurairah:

“Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’ niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling taat. Jadilah orang yang qana’ah, niscaya dirimu akan menjadi hamba yang paling bersyukur” [HR. Ibnu Majah: 4217].

Ibnu Qutaibah pun pernah berkata: “Sesungguhnya engkau ini tengah mengadukan Zat yang menyayangimu kepada orang yang tidak menyayangimu” [Uyun al-Akhbar karya Ibnu Qutaibah 3/206]. Lain halnya ketika kita puas dengan apapun yang Allah SWT berikan kepada kita. Kita akan merasa betapa besarnya nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Maka dari itu qona’ah membantu kita merealisasikan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

3. Mendapatkan keberuntungan.
Setiap dari kita ingin sekali menjadi orang yang beruntung, maka beruntunglah orang-orang yang pada dirinya sudah melekat sifat qona’ah. Rasulullah SAW bersabda:

Keberuntungan bagi seorang yang diberi hidayah untuk memeluk Islam, kehidupannya cukup dan dia merasa qana’ah dengan apa yang ada” [HR. Ahmad 6/19; Tirmidzi 2249].

4. Terjaga dari hal-hal negatif.
Tentunya ketika kita merasa puas atas nikmat Allah SWT, kita tidak terobsesi untuk selalu menambah kekayaan kita yang sering kali kita mengahalalkan segala cara untuk mencapainya. Maka dengan sifat qona’ah ini, kita bisa menjaga diri kita dati melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti berjudi, mencuri, merampok, mencelakakan pesaing bisnis, dll. Dan juga dengan sifat qona’ah kita bisa menjaga hati kita dari penyakit-penyakit hati yang dapat mengikis pahala-pahala kita seperti hasad.

5. Memiliki kekayaan sejati.
Kita sering menganggap bahwa kekayaan itu berarti mempunyai rumah mewah, memakai pakaian dengan merek terkenal, makan makanan mahal, mempunya latest gadget, mengendarai mobil yang harganya milyaran. Sesunguhnya anggapan tersebut adalah anggapan yang keliru sebagaiamana Rasulullah membantah anggapan yang salah terhadap kekayaan sejati.

Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya, “Wahai Abu Dzar apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itu adalah kekakayaan sebenarnya?” Saya menjawab, “Iya, wahai rasulullah.” Beliau kembali bertanya, “Dan apakah engkau beranggapan bahwa kefakiran itu adalah dengan sedikitnya harta?” Diriku menjawab, “Benar, wahai rasulullah.” Beliau pun menyatakan, “Sesungguhnya kekayaan itu adalah dengan kekayaan hati dan kefakiran itu adalah dengan kefakiran hati” [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685]

6. Mendapatkan kemuliaan
Sifat qona’ah menjauhkan kita dari selalu bergantung kepada manusia, sehingga kita dipandang mulia. Sedangkan sifat tamak, akan menjadikan kita sangat bergantung pada orang lain, dan tidak jarang kita sering menghinakan diri kita dihadapan orang lain. Jibril pernah berkata:

“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin terletak pada shalat malam dan kemuliaannya terletak pada ketidakbergantungannya pada manusia” [HR. Hakim: 7921].

Seorang Arab badui pernah bertanya kepada penduduk Bashrah, “Siapa tokoh agama di kota ini?” Penduduk Bashrah menjawab, “Al Hasan.” Arab badui bertanya kembali, “Dengan apa dia memimpin mereka?” Mereka menjawab, “Manusia butuh kepada ilmunya, sedangkan dia tidak butuh dunia yang mereka miliki” [Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam 2/206]. Kisah tentang kemuliaah Al-Hasan ini hanya satu dari ribuan bukti bahwa dengan sifat qona’ah yang kita miliki Allah SWT menganugerahkan kemuliaan kepada kita.

Dengan mengetahui manfaat-manfaat yang luar biasa daripada sifat qona’ah, seyogyanya mulai dari sekarang kita harus memulai untuk menanamnkan sifat qona’ah ini dalam kepribadian kita. Ada beberapa tips yang bisa lakukan: 
  • Mengingat akan besarnya nikmat Allah
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu ’Isa mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib).
Rasa aman, kesehatan, makanan yang bisa dimakan, menurut sebagian besar dari kita adalah hal yang biasa. Tetapi Rasulullah telah menerangkan bahwa siapa saja yang mendapatkan hal-hal tersebut maka sama saja dia sudah mendapat nikmat yang sangat besar. Kalaulah kita selalu yakin bahwa nikmat Allah itu luar biasa, maka kita akan selalu merasa cukup dengan berbagai nikmat-Nya.
  • Lihatlah orang-orang yang lebih kurang dalam masalah harta.
Ketika kita melihat orang lain yang mempunyai apa yang tidak kita punyai, maka kita tidak akan pernah puas dengan apa yang kita miliki. Tetapi ketika kita menyadari bahwa banyak orang yang tidak memiliki apa yang ada dalam genggaman kita, maka kita akan merasa cukup.
”Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremahkan nikmat yang telah Allah anugerahkan -kata Abu Mu’awiyah- padamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, shahih kata Syaikh Al Albani)
Mungkin akan terlintas dalam pikiran kita “Lalu, apakah tidak boleh kaya ?”. Tentu saja boleh, tetapi kekayaan yang kita miliki harus mendorong kita untuk lebih bertakwa lagi. Dan jangan lah kita rakus dengan terus menambah. Jadi tak mengapa kaya asalkan bertakwa. Yang namanya bertakwa, selalu merasa cukup dengan kekayaan tersebut. Kalau pun menambah karena hartanya dikembangkan, ia pun merasa cukup dengan karunia Allah yang ada. Dan yang paling penting adalah melaksanakan kewajiban seperti membayar zakat.

By: Mush’ab Al-Khadramiy

Salah satu fitrah dari manusia adalah tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ketika kita melihat sesuatu yang lebih bagus dari a...

0 Komentar: