Apa yang Akan Kita Tinggalkan?

April 05, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Kebaikan apa yang akan kita tinggalkan? | Sumber: Reuters
Sekitar sebulan lalu, seorang dosen mengirimkan undangan makan siang lewat grup facebook. Tidak ada keterangan apapun kecuali kapan dan dimana acaranya akan dilaksanakan. Di akhir pesannya beliau mengharap dengan sangat kehadiran kami. Oh ya, sebenarnya kami mengambil kelas beliau dua semester sebelumnya, tetapi grup kelas yang awalnya dibuat hanya untuk keperluan assignment masih aktif hingga sekarang.

Karena tidak ada kelas, alhamdulillah saya berkesempatan memenuhi undangan beliau. Ada belasan mahasiswa lain yang memenuhi rumah beliau di Taman Melati. Kedua anak beliau yang masih kecil berlarian mengelilingi ruangan. Sementara sang istri terus meminta maaf atas kedua anaknya yang tidak bisa diam, sembari mempersiapkan jamuan. Dosen kami sendiri seperti biasa menceritakan banyak hal, tetapi tidak menyebut apapun perihal makan siang tersebut. Kami sendiri bertanya-tanya dalam hati.

Baru setelah makan usai, beliau mengutarakan maksudnya untuk meminta doa karena beliau tidak akan lagi mengajar di IIUM. Tentu saja kami kaget, mengetahui betapa beliau mencintai kampus ini. Kemampuannya mengajarpun mumpuni. Tetapi dengan setengah bercanda beliau malah mengatakan, "IIUM membutuhkan penyegaran. Masa selama 10 tahun yang ngajar saya terus?"

Tetapi bukan di situ inti ceritanya. Ada sedikit pesan yang beliau sampaikan kepada pentingnya meninggalkan warisan (legacy), terutama dalam hal pengetahuan. Dalam Islam, posisi ilmu sangatlah krusial. Bahkan wahyu pertama yang Allah SWT turunkan kepada nabi Muhammad juga perihal ilmu. "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS: Al-Alaq 1-5)"

Beliau merefresh kembali ingatan kami tentang cendekiawan-cendekiawan Muslim yang namanya masih sangat dihormati hingga sekarang. Mulai dari Al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn Taimiyyah, Ibn Haytham, Al-Kindi, Ibn Khaldun, Al-Biruni, Al-Khazin, Al-Khujandi, Al-Razi, Al-Sijzi, Abul Wafa dan masih banyak lagi. Apa warisan yang mereka tinggalkan dan masih dimanfaatkan hingga sekarang? Tak lain dan tak bukan adalah ilmu pengetahuan. Khawarizmi dengan konsep algoritmanya, Sina dengan ensiklopedi ilmu kedokterannya yang menjadi rujukan ilmu kedokteran modern, ataupun Ibn Haytham yang dengan konsep optiknya kita bisa mengenal kamera, teleskop juga kacamata seperti sekarang. *Untuk nama-nama lainnya sila cari sendiri ya :)*

"Bagaimana dengan kita, warisan macam apa yang akan kita tinggalkan?", tanya beliau retoris.

Ada beberapa hal penting yang dapat kita ambil pelajaran dari sana:

1. Pentingnya mewariskan sesuatu yang membawa manfaat untuk umat manusia di masa mendatang

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh) (Q.S.: Yasin - 12)

Tentang ayat tersebut, dalam tafsir al Munir disebutkan bahwa bekas-bekas yang dimaksud adalah segala hal yang terjadi karena perkataan dan perbuatan yang pernah mereka lakukan semasa hidup dan masih berlanjut walaupun mereka telah meninggal. Ini tentu sejalan dengan hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa "Ketika anak Adam mati, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga hal: ilmu yang bermanfaat, anak sholeh yang mendo’akannya, dan shodaqoh jariyah.” (Riwayat Muslim)

Kita lantas pantas bertanya pada diri kita sendiri tentunya, bekas apa yang kita tinggalkan apabila umur kita hanya sampai esok hari misalnya? Sudahkah kita manfaatkan rahmat yang Allah berikan kepada kita untuk menciptakan bekas-bekas tersebut? Hal baik apa yang sudah kita lakukan hari ini?

2. Menghargai waktu

'Abdur-Rahman bin Abi-Bakrah meriwayatkan dari ayahnya, suatu kali seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah,"Orang seperti apakah yang paling baik?" Beliau menjawab, "Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya." Dia bertanya lagi, "Lalu, orang seperti apa yang paling buruk?" Beliau menjawab, "Orang yang panjang umurnya, tapi buruk amal perbuatannya." (Riwayat Tirmidzi).

Berapa lama waktu kita di dunia ini tidak ada yang tahu, kecuali Allah SWT. Tetapi diri kita sendirilah yang bisa mengatur untuk apa waktu tersebut. Dalam satu hari, satu jam, satu menit, satu detik, apa saja yang sudah kita lakukan? Saya pribadi masih berusaha keras untuk menghilangkan kebiasan menunda-nunda pekerjaan. Tugas kuliah yang sebenarnya sudah diberikan sejak lama misalnya, tetap saja dikerjakan saat sudah mendekati batas pengumpulan. :(

Dalam hal ini, seorang Muslim seharusnya memiliki visi yang jauh ke depan. Waktu kita bukan hanya penting untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi juga sangat krusial untuk kehidupan akhirat yang akan kita hadapi nanti.

3. Memperbaiki niat

Dari Umar bin Khattab, dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat Bukhari - Muslim)

Latar belakang hadist ini adalah peristiwa hijrah nabi dari Mekah ke Madinah, dimana ada seseorang yang berhijrah untuk dapat menikahi seorang wanita, bukan untuk meraih pahala berhijrah. Artinya, perbuatan baik harus dilandasi dengan niat yang benar. Saking pentingnya niat, Imam Ahmad dan Imam Syafi'i bahkan berpendapat bahwa hadist tentang niat tersebut telah mencakup sepertiga ilmu. Artinya, kita harus mempunyai niat dan tujuan yang jelas atas setiap hal yang kita lakukan. Harus ada ridha Allah yang kita tuju pada setiap perbuatan kita. Sudahkah demikian?

***

Pertanyaan apa yang akan kita tinggalkan pada akhirnya bukan lagi sekadar tanya yang bisa dijawab dengan segepok daftar kebaikan. Lebih jauh lagi, kita harus berani menanyai diri kita sendiri, "Apa yang kita tuju? Ridha Allah atau ...?"

Penulis: HDB

Bahan bacaan lebih lanjut:
Tafsir Al-Munir (Syeikh Wahbah Az-Zuhaili)
Lost Islamic History (Firas Alkhateeb)
Cahaya dari Timur (John Freely)

Kebaikan apa yang akan kita tinggalkan? | Sumber: Reuters Sekitar sebulan lalu, seorang dosen mengirimkan undangan makan siang lewat...

0 Komentar: