‘FUTUR’ itu apaan sih?

Maret 08, 2015 Forum Tarbiyah 1 Komentar

FUTUR. Mungkin beberapa orang dari kita sering mendengar kata ini, dan sebagiannya lagi mungkin saja jarang atau bahkan belum pernah mendengar ungkapan ini sebelumnya. Dikalangan teman-teman yang aktif di organisasi (dakwah) kampus maupun luar kampus, kata ini sering kali disebut untuk membangkitkan kembali semangat para anggota organisasi tersebut, ataupun ketika sang ketua mengingatkan para anggotanya agar jangan sampai terjangkit ‘virus’ ini. Nah loh, virus? Jadi futur itu penyakit? Apaan sih futur itu?

Menurut Ibn Manzur dalam kamusnya, pengertian futur secara bahasa ada 2 :
  1. Putus setelah bersambung, atau tenang setelah bergerak
  2. Malas, lambat atau perlahan setelah rajin dan bersungguh-sungguh
Sedangkan secara istilah, futur ini adalah suatu penyakit yang dapat menimpa orang-orang muslim, pelajar maupun aktivis, bahkan dapat menimpa siapa saja secara perbuatan. Tidak hanya itu, ternyata futur ini ada level-levelnya juga loh guys. Level terendah dari futur ini adalah berupa kemalasan, menunda-nunda atau berlambat-lambat. Sedangkan level futur yang tertinggi adalah terputus atau berhenti sama sekali padahal sebelumnya rajin dan terus bergerak. Bagaimana dengan kita hari ini? Apakah kita ada di salah satu level tersebut? Astaghfirullah! :’(

Futur
Emangnya apa sih ciri-ciri kalau kita terjangkit penyakit futur ini?

Jika penyakit ini menyerang kita, maka semangat untuk menghadiri agenda yang sebelumnya kita ikuti mulai berkurang, amanah mulai terbengkalai, assignment baru akan dikerjakan ketika hampir deadline, malas datang rapat (dengan anggapan ada atau tidaknya kita tidak akan berpengaruh pada putusan rapat) dan bentuk-bentuk kemalasan lainnya. Astaghfirullah! :’(

Eh, tau nggak sih kenapa kita sampai terjangkit virus ini?
Hhmm,,, ternyata beberapa hal ini loh yang menjadi penyebabnya :
  • Bersikap setengah-setangah dalam melakukan banyak amalan shaleh. Melakukan banyak hal sekaligus namun tidak maksimal malah akan membebani diri kita, sebagaimana sabda Rasul ﷺ “akan binasa orang-orang yang memberatkan diri” (HR.Muslim), dan pada akhirnya amalan yang kita lakukan itu akan terputus dengan sendirinya. 
  • Manajemen waktu. Pengaturan waktu yang kurang baik dapat mendatangkan kefuturan pada diri kita. Sebagai anak, aktivis, mahasiswa, pekerja, masyarakat dan lain sebagainya kita punya buuuaanyak amanah yang harus diselesaikan. Jangan sampai kita menggadaikan tugas kita sebagai anak untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua) demi menyelesaikan pekerjaan misalnya, lupa akan status sebagai seorang hamba Allah SWT dan memberikan waktu ‘sisa’ untuk melakukan ibadah kepadaNya dan berkilah harus beresin kerjaan dulu, melupakan hak tubuh kita yang juga butuh asupan gizi seimbang dengan alasan masih banyak tugas kuliah, amanah dakwah dan lain-lain, atau lupa akan amanah yang diberikan orang tua ketika awal masuk kuliah dulu supaya bisa segera wisuda dengan nilai yang bagus namun berdalih “ane masih harus berkotribusi di dakwah kampus kita ini akh, ukh..” Astaghfirullah! :’(
Tidak bisa dipungkiri bahwa kondisi keimanan kita ini fluktuatif. Kalau kata lecturer CELPAD itu “increase gradually, decrease sharply and then rise at a certain point”. Ketidakstabilannya iman di hati seseorang itu adalah hal yang wajar karena kita tahu bahwa hati ini sifatnya memang berbolak-balik, dan Rasulullah menyifatinya ibarat bulu yang menggantung di pohon, ia akan terbolak-balik oleh angin (HR. Ahmad). Oleh karena itu, Rasul ﷺ menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berdoa :
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinik

Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan at Tirmidzi)

Trus, apa yang harus kita dilakukan untuk menghindari diri dari penyakit futur ini??
Nah, selain selalu berdoa kepada Allah SWT agar ditetapkannya hati kita pada agamaNya, hal lain yang juga perlu kita lakukan adalah :
  1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah;
  2. Sering berkumpul dengan orang shaleh yang dapat menyemangati kita dalam melakukan amal kebaikan; dan
  3. Datang ke majlis ilmu yang akan sangat berpengaruh pada keimanan kita.
Semoga kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas iman pada diri kita dan dapat menuntaskan seluruh amanah yang telah diperoleh di bumi Allah ini dengan sebaik-baiknya. Aamiin, Allahumma Aamiin..

 والله أعلم بالصواب

Penulis: AH as a Self Reminder 

FUTUR. Mungkin beberapa orang dari kita sering mendengar kata ini, dan sebagiannya lagi mungkin saja jarang atau bahkan belum pernah mende...

1 komentar:

  1. artikelnya sngt bermanfaat...terimakasih
    http://www.kangalip.com/

    BalasHapus