Sepaket Janji #1

Februari 10, 2015 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Aku dijual kak. Aku udah lepas kerudungku, bungaku sudah diambil

Jalanmu ditunjukanNya menghadap harap, tidak perlu menghardik skenario, coba resapi, mulai cintai.

Siang dikampusku bermesra dengan mentari, sama panasnya dengan jemari yang sedari tadi mengukir pesan di aplikasi handphone berbentuk hijau bulat itu. Tidak peduli dengan rentetan pesan dari grup A sampai Z, aku hanya menanggapi pesan dari seseorang yang tidak dikenal.

“Assalamualaikum ukhti, saya Yusuf, kawan Ustadz Arif, guru ukhti. Apa benar anti tinggal di Malaysia?”, sambil berpikir tentang Subagyo, aku menjawab “betul akh, saya sekolah disini, ada yang bisa saya bantu?”. Dijawabnya damai seolah aku bisa mendengar deru nafas lega “Alhamdulillah, baik, saya butuh bantuan ukhti”.

Cahaya matahari sisa kala itu mulai bergandeng dengan angin sore, melebur segar bak pagi hari yang membawa semangat baru. Dan ternyata, Allah menitipkan kabar petang ini ke dunia untuk mengantarkanku pada sebuah pengalaman mahal. Niat menjadi agenNya kini terbuka gerbangnya, masih tanpa pintu.

“Halo Rim, betul alamatnya disini? Apakah saya aman kesana sekarang?”, setelah berkenalan singkat, aku berniat menemuinya.

Suara diarah seberang berbisik seperti ketakutan “Iya kak, boleh, nanti ya jam 3. Soalnya sekarang masih ada Bu Rianti”.

Dua pasang kaki menuju ke arah bangunan tinggi berlantai 16, di kiri kanan jalan terlihat beberapa orang yang sepertinya berasal dari Afrika, Thailand atau negara-negara ASEAN lainnya. Pukul 3, kami bertemu untuk pertama kalinya. Kenalkan, gadis ini bernama Erima.

“Aku dijual kak. Aku udah lepas kerudungku, bungaku sudah diambil.”

Erima adalah korban human trafficking akibat tetangganya. Bu Rianti, sang penjual, adalah wanita paruh baya bercadar dan dikenal sebagai ustadzah di Johor. Dulu, Bu Rianti bersahabat dengan Ibunda Erima. Setelah Erima lulus SMP, Bu Rianti datang bersilaturahim sambil menawarkan peluang keberuntungan di negeri tetangga. Pilihan untuknya adalah menjadi pembantu rumah tangga di Johor yang kemudian, setelah 2 bulan, Erima tidak betah dan kembali ke rumah Bu Rianti di Kepong. Naasnya, Erima harus membayar sewa kamar padahal dia tidak bergaji dan kamarnya harus ditinggali bertiga bersama anak-anak Bu Rianti.

Erima, si gadis berumur 16 tahun, dibeli oleh seorang Bangladesh bernama Morten. Hidup di biayai sepenuhnya dan harus menuruti apa yang diperintah Morten. Tanpa paspor, tidur bukan lagi tenang seakan oksigen untuknya hampir habis dihirup pedzalim rakus. Sampai akhirnya, dia tidak bisa bertahan dan memintaku bertindak.

“Saya hanya mahasiswa biasa tanpa kuasa, biar saya ajukan kasus ini ke KBRI” sahutku menanggapi permohonan Erima.

Singkat cerita, Erima diantar Morten ke KBRI. Shelter yang dianggapnya sebagai penjara menjadi alasan buntu untuk tinggal. Namun dia ternyata menolak, dia lebih memilih tinggal bersama Morten dan kawan-kawannya.

Disisi lain, sepasang Ayah dan Ibu menangis di negeri sebrang, mereka meneleponku bahkan mengirimi uang. Padahal pekerjaan keduanya hanya petani dan penjual gorengan di pinggiran jalan. Berkali aku menolak, tapi kakaknya yang sedang bekerja di Mekkah memohon agar aku menerima uang tersebut, demi membantu Erima pulang ke kampung halaman. Tidak berhenti disini, aku meminta perwakilan kedutaan Indonesia untuk mendatangi rumahnya. Dan Erima, setelah menceritakan semua kejadian ke perwakilan KBRI, seakan melarikan diri ketika pihak KBRI hendak mendatangi rumahnya di Kepong. Baik, aku harus lebih bersabar. Posisi diantara harapan orang tua yang ingin anaknya segera pulang dan seorang anak yang bimbang menjadikan hari-hariku dipenuhi deringan telepon.

“Mbak Disa, tolong Ibu ya. Ibu nggak bisa tidur ki. Mambengi Rima telepon katanya Morten jahat lho, Mbak.”, suara parau ditengah subuh melambungkan bayang lukisan pena di langitan merah, membentuk wajah penuh kerutan. Aku berusaha menenangkan Ibundanya Erima, memastikan bahwa keluarga di Tegal sehat dan tetap kuatkan doa berharap rahmat. Padahal nyatanya, Erima sama sekali tidak berteman dengan situasi, dia ingin pulang ke Indonesia, tapi masih dan terlanjur mencintai Marten. Lha njok piye?

Belia ini sangat sulit diajak diskusi, tidakkah dia merasakan kekhawatiran Ibunya?. Satu bulan pergi tanpa kabar, aku tidak berhasil membujuknya pulang. Dia sudah dapat kerja, dicarikan Morten, katanya. O-ow, ternyata Morten juga tidak mau kekasihnya pulang. Posisi terbaru, aku berada diantara cinta mereka, berusaha memisahkan dengan baik tanpa niat menyakiti hati keduanya.

Seminggu berjalan, Erima selalu menelepon, berkisah tentang kegalauannya. Pagi bilang katanya Marten baik, dan malam mengatai Marten yang jadinya jahat. Apalah aku disini hanya menjadi pendengar, berusaha menyisipkan nasehat tentang Ibu, tentang jilbabnya yang dilepas karena sudah tidak perawan lagi, dan tentang banyak hal. Minggu kedua, Erima membuat saya tersenyum, dia bilang dia akan pulang lebaran ini. Menantiku hari itu, ternyata Marten menjadi penyebab Erima urung pulang. “Bukan lebaran Idul Fitri, tapi lebaran Idul Adha saja, aku masih ingin cari duit, Kak”, kata Erima.

Kakak Erima di Mekkah berkali-kali menghubungi via telepon, aku meminta maaf karena belum bisa membujuk adik bungsunya pulang. Dia berharap Erima bisa pulang dan melihat pernikahan Kakaknya di kampung, setelah Idul Fitri. Namun sepertinya Erima belum bisa pulang kecuali setelah Idul Adha.

Tiga bulan lebih kisah ini belum berakhir, akhirnya Aisyah pulang menggunakan kapal ferry. Setelah membayar RM 4000, dia berhasil ke Johor bersama teman-teman Indonesia lain yang juga pulang ke tanah air. “Kalau sudah sampai Indo, usahakan kabarin Kakak ya, Erima”, aku sempat meneleponnya dan dijawab ceria berartikan “iya”.

Dua hari tanpa kabar, Kakak Erima mengirim pesan “Mbak, buka dedetik.com dan ketik di search nya “Kapal yang berisikan imigran gelap Indonesia tenggelam di perairan Johor”, Erima tenggelam, Mbak”. Sontak aku kaget, duka Erima dan keluarga benar-benar belum berakhir. Imigran gelap? Tenggelam? Itu duit RM 4000 dibuat apa sama agennya? Jangan-jangan?

Tidak lama kumelihat handphone yang sengaja ku-setting mute, layarnya bertuliskan “7 Missed call, Morten”.

Bersambung ke bagian 2.

Penulis: Faradesha

Aku dijual kak. Aku udah lepas kerudungku, bungaku sudah diambil Jalanmu ditunjukanNya menghadap harap, tidak perlu menghardik sken...

0 Komentar: