Sial!

Desember 12, 2014 Forum Tarbiyah 2 Komentar


Bismilahirrahmanirrahim

Pada akhir pekan beberapa tahun yang lalu, saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pria berumur 25 tahun. Perbincangan kami berlangsung cukup lama meskipun topik yang kami bahas sebenarnya tidak jelas arahnya. Setelah sekian lama kami berbincang, seketika raut muka pria ini berubah dari yang semula santai menjadi serius. Sontak, saya mecoba mendengarkan dengan seksama apa yang akan ia ucapkan.

Lelaki ini pun berkata, “Bro, Alhamdulillah nih kemaren gua baru aja ngelamar perempuan dan…. diterima sih, tapi…”.

Diam. Suaranya yang berat tidak terdengar lagi. Saya berniat untuk bertanya apa yang hendak ia utarakan. Namun di satu sisi, saya merasa tidak enak karena khawatir apa yang akan ia ungkapkan itu adalah sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin diceritakan pada siapapun. Akhirnya, saya lebih memilih untuk diam. Dalam bingung, saya hanya menunggu berharap ia akan melanjutkan kalimatnya yang masih belum selesai.

Sekian lama menunggu dalam hening, akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya. Tetapi sebelum saya sempat melontarkan satu kata pun, pria ini melanjutkan perkataannya, “Gua diterima tur, dan kedua keluarga udah sepakat melanjutkan prosesi ke akad pernikahan. Tapi keluarga si perempuan minta akad nikahnya berlangsung bulan depan”.

Saya bersyukur mendengarnya, namun dari caranya mengungkapkan kabar tersebut seakan ada hal yang ia sesali, dengan penuh penasaran saya pun bertanya, “Tapi..? emangnya bulan depan kenapa bang?”. Seketika itu dia menghela napas, lalu mencoba menghirup udara di sekitar sebanyak-banyaknya. Setelah menghembuskannya, ia pun melanjutkan, “Ya, lu tau kan bulan depan itu bulan Safar? Gua khawatir prosesi pernikahan gua bakal ancur. Yang lebih parah, bisa-bisa keluarga gua juga bakal berantakan nantinya. Kenapa coba gua harus nikah di bulan sial kaya gitu!?”.

Jujur, ketika itu saya kaget terutama karena dua kata yang ia ucapkan, BULAN SIAL. Sesungguhnya, Bulan Safar sama dengan bulan-bulan yang lainnya dimana tidak ada kesialan ataupun peruntungan. Selain menganggap sial suatu waktu seperti pengalaman saya diatas, masih banyak lagi kebiasaan yang termasuk ke dalam bentuk menganggap sial. Salah satu hal yang paling familiar bagi sebagian di antara kita adalah mempercayai pamali.
 ***

Pamali

Kita sebagai umat muslim di Indonesia hidup di tengah-tengah akulturasi berbagai macam budaya dan agama. Dengan percampuran budaya yang begitu lama, kita jadi tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Pamali ini sebenarnya diperuntukkan oleh orang tua kita dulu agar anaknya melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tapi sayangnya, seringkali pamali ini cenderung mengajarkan kita untuk percaya pada nasib sial. Sebagai contoh:
  • Menyapu di malam hari akan sulit mencari rezeki,
  • Makan menggunakan piring kecil akan tersisihkan dari keluarga,
  • Makan di sudut meja akan dimusuhi mertua,
  • Makan di depan pintu akan sulit mendapat jodoh,
  • Berselimut dengan tikar nantinya akan mati digulung ombak,
  • Berfoto dengan jumlah ganjil akan ada yang meninggal, dll.
Beberapa anjuran ini perlu kita waspadai. Kita cukup mengambil hikmahnya bilamana terkandung nasehat yang baik di dalamnya. Namun, kita tidak perlu mempercayai bahwa akan ada nasib sial yang menimpa kita jika kita melakukan pekerjaan tersebut karena mempercayai nasib sial sesungguhnya dilarang dalam islam.

Pandangan Islam tentang Menganggap sial suatu hal/pekerjaan.

Semua hal di dunia ini, memiliki kebaikan dan juga keburukan. Kebaikan yang ada datangnya dari Allah, sedangkan kejelekan yang ada terjadi dengan takdir-Nya. Mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Abu Hurairah Radhiyallah ‘anhu bahwa Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda:
“Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Shafar.” [HR. Al-Bukhari 5437, Muslim 2220, Abu Dawud 3911, Ahmad (II/327)]
Selain itu, Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

Kesialan, bala bencana, dan naas dapat terjadi kapan saja, tidak hanya pada waktu, objek, maupun kegiatan tertentu. Allah Swt menegaskan:
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51).
Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang jahiliah sebelum kedatangan Islam. Pergantian malam dan siang, pekan demi pekan dan bulan demi bulan adalah merupakan salah satu tanda kekuasaanNya, sehingga semua itu tidak ada hubungannya dengan nasib celaka atau keberuntungan manusia. Manusia akan mendapatkan keberuntungan atau justru mendapatkan bencana dan malapetaka adalah karena takdir dariNya, bukan berkaitan dengan suatu masa tertentu.

Namun sangat disayangkan, tradisi Jahiliyah yang berkeyakinan bahwa ada hari baik dan ada hari buruk telah terwariskan oleh hampir seluruh wilayah di dunia ini, dari kawasan Jazirah Arab pada zaman sebelum Islam hingga saat ini di kawasan India dan sampai di Indonesia (khususnya jawa). Mereka berkeyakinan bahwa ada hari-hari yang baik dan ada hari-hari yang na’as. Demikian juga ada bulan-bulan yang membawa kebaikan dan ada bulan-bulan yang membawa malapetaka.

Semoga kita semua terhindar daripada kebiasaan mempercayai nasib sial dan kemusyrikan lainnya.

Wallahu a’lam bi ash-shawabi.

By: Muhammad Fathudzikri Aulia

Bismilahirrahmanirrahim Pada akhir pekan beberapa tahun yang lalu, saya pernah berbincang-bincang dengan seorang pria berumur 25 tahu...

2 komentar:

  1. Subhanallah, baru tau pamali jg termasuk bentuk percaya sial. Bermanfaat sekali tulisannya

    BalasHapus
  2. Menarik tulisannya. Mengangkat isu sehari-hari yang kadang terlupa. Ditunggu pengingat-pengingat selanjutnya :)

    BalasHapus