Berawal dari Sebuah Nadzar

Desember 05, 2014 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Engkaukah itu?

Semester ini adalah awal semester tahun terakhir Ayu di kampus biru, UIA. Hari yang ia tunggu-tunggu selama tahun pertamanya kuliah di kampus tersebut. “Baru jadi mahasiswi tahun pertama aja tugas udah banyak susah pula. Mau cepet tahun akhir deh.” 

Sekilas balik itulah perkataan Ayu ketika menjalani kuliah di tahun pertamanya. Bersyukur ia dapat bertahan kuliah disana. Malah, ia masuk dalam dean’s list, dimana mahasiswa/wi yang mempunyai nilai ipk 3.5 - 4.0. Konon, kuliah di UIA tuh susah, bertahan sampai akhir bahkan ikut acara wisuda aja udah alhamdulilah. Ayu bisa dibilang murid yang berprestasi. Ia tidak ada masalah dengan Bahasa pengantarnya yaitu, Bahasa inggris.

Awal semester ini, Ayu sudah menuliskan beberapa target dan impian.

“Semoga tahun depan orangtuaku dapat menghadiri hari wisuda. Dan beraharap mendengar nama putri kesayangannya, Ayu Ramadhani, disebut sebagai wisudawan terbaik. Pasti mereka bangga banget . Wah senangnya… Kalau benar hal itu terjadi, satu list dari impian-impianku tercoret lagi. Hm tapi mungkin ngga ya? Diliat dari nilai ipk dan aktivitas kampus sih aku bisa masuk dalam deretan para wisudawan terbaik. Tapi, semua keputusan itu kan ada pada Allah. Yaudah lah ya yang penting ikhtiar dulu. Sebenernya masih agak pesimis. Biar ada semangat buat nadzar aja kali ya. “

Ia terdiam sejenak memikirkan nadzar yang akan ia buat. Sesuatu yang pastinya akan membuat ia terdorong untuk mencapai impian menjadi wisudawan terbaik.

“Aah gini aja deh, kalau ternyata aku gagal jadi wisudawan terbaik, aku bernadzar setelah lulus akan menikah dengan mahasiswa Indonesia di UIA. Kan aku anti banget tuh nikah sama orang yang satu kampus, secara gitu kita udah saling kenal. Kan jadi ngga seru. Untuk menghindari hal itu terjadi, aku berharap impianku tercapai dan nikah sama orang lain deh. Haha”

Selang setahun kemudian…

Acara wisuda untuk fakultas ilmu kemanusiaan (Human Sciences) sedang berlangsung. Satu per-satu nama wisudawan dipanggil untuk dinobatkan menjadi sarjana. Alhamdulilah, pada hari yang berbahagia itu, orangtua Ayu dapat hadir. Tiba waktu disaat akan diumumkan nama wisudawan terbaik dari fakultas tersebut. Dengan detup jantung yang semakin cepat, Ayu menanti dengan harap-harap cemas.

“Ayah, Ibu, Ayu mau bicara serius dan ini penting,” pintanya ketika dalam perjalanan ke hotel setelah acara wisuda selesai.

“Iya nduk, ada apa?” Dengan sigap ibu langsung menjawab

“Ayu mau segera menikah,”

“Apa sih kamu, jangan bercanda. Baru juga lulus. Emang kamu udah siap? Perilaku kamu itu loh yang masih harus diperbaiki.” Timpal Ayah

“Ayah, Ibu, Ayu punya alasan dibalik keputusan ini.” Ia coba menenangkan keduanya.

“Ya terus apa?” jawab Ayah dan Ibu serentak

“Waktu itu Ayu pernah bernadzar, kalau ketika hari wisuda Ayu tidak menjadi wisudawan terbaik maka, setelah lulus akan menikah dengan mahasiswa Indonesia juga di UIA,” jelasnya

“ Yu, yu, nadzar kok ya kayak gitu. Bagi sedekah atau puasa gitu loh,” timpal Ayah

“Nduk, nadzar harus ditepatin loh. Bukan untuk main-main,” nasihat ibu

Sepanjang perjalanan Ayu dan kedua orantuganya mencari jalan untuk menepati nadzar tersebut.

Sesampainya di hotel, Ayu hendak beristirahat. Ia menyempatkan melihat hp nya terlebih dahulu sebelum tertidur lelap. Dillihatnya banyak pesan masuk di whatsapp. Kebanyakan dari pesan tersebut mengucapkan selamat atas kelulusannya. Tapi, ada satu pesan yang menarik perhatiannya.


Assalamu’alaikum. Barakallah Ayu atas kelulusannya. Maaf ya kaka tidak bisa hadir acara tadi, si kecil lagi sakit. Oh iya tadi jadi dinobatkan wisudawan terbaik kah? ☺ Kaka masih inget waktu itu kamu terobsesi banget mau jadi yang terbaik.

Ayu, ada yang mau kaka sampaikan. Hal serius berkaitan dengan kamu. Nanti kalau kamu ada waktu bilang ya dan bales pesan ini segera. Karena kaka mau telpon.

Sebuah pesan dari mantan mentor Ayu yang sampai sekarang kedekatannya seperti adik-kakak. Langsung saja Ayu membalas pesan tersebut lalu, ia yang berinisiatif untuk menelepon Kak Raudha terlebih dahulu. Kurang lebih percakapan mereka terhenti selang satu jam kemudian. Ayu menarik nafas panjang dan terlihat gundah memikirkan sesuatu.

Dalam percakapan ditelepon tadi, Kak Raudha menyampaikan pesan dari seorang Ikhwan. Ikhwan ini berniat untuk melamar Ayu. Kak Raudha sangat kenal dengan lelaki ini dan menyarankan Ayu untuk berkenalan saja terlebih dahulu. “Ikhwan ini sudah lama memperhatikan kamu Yu,” jelas kak Raudha. Ayu pun menceritakan berkaitan dengan nadzarnya. Mendengar hal tersebut, Kak Raudha berinisiatif untuk mempercepat proses ta’aruf ini. Kebetulan, masih ada kedua orangtua Ayu disini.

Malam itu Ayu mengirim biodata ke si Ikhwan. Tak lama, selang 30 menit, ia mendapat balasan biodata dari ikhwan. Awal membaca perkenalan si Ikhwan, Ayu merasa tidak pernah mengenalnya. “Padahal kan kita satu kampus ya. Tapi kok kayaknya ngga pernah liat dia,” batin Ayu. Ikhwan ini juga mengikuti acara wisuda yang digelar di UIA siang tadi. Ia dinobatkan wisudawan terbaik dari Fakultas Ekonomi untuk jenjang S2. Terperangah Ayu membaca deretan-deretan prestasi si Ikhwan. Beberapa diantaranya ialah impian- impian yang ada pada list impian Ayu yang belum terlaksanakan. Mata Ayu tiba-tiba tersorot pada satu tulisan. Ada satu paragraf yang membuat Ayu sangat tersentuh.

Tipe istri yang saya inginkan, ia berprestasi dalam akademik dan juga aktif dalam organisasi. Muslimah pastinya. Ini ialah sebuah bekal untuk mendidik anak-anak kami nanti. Tapi tak perlu sosok seorang yang sangat alim. Karena saya punya misi untuk berdakwah dalam keluarga saya sendiri. Termasuk istri saya nanti. Apabila memang pribadinya masih belum di jalan syar’I, saya siap untuk mengubahnya.
Sungguh sangat mulia niat ikhwan ini. Begitulah pikir Ayu. Karena ketika mebaca paragraf tersebut, ia merasa tertegur. Ia menjalani sholat, tilawah, sedekah, dan lain-lain tapi, pribadinya masih belum mencerminkan seorang muslimah kaffah.

Setelah bertukar biodata, berta’aruf, dan menjalani sholat istikharah demi memantapkan pilihan, akhirnya Ayu memutuskan untuk menerima pinangan si Ikhwan tersebut. Dan ia berharap dengan kedatangan sosok lelaki tersebut, dapat mengubah pribadinya lebih baik.

“Kalau bukan karena nadzar waktu itu, aku ngga bakal nerima ikhwan ini kali ya. Malah ketika dibilang kak Raudha ada anak UIA yang mau melamar, aku langsung lari kali.” celetuk Ayu

“Iya yu, segala sesuatu itu ada hikmahnya. Dan sudah diatur oleh Allah.” Jawab kak Raudha ketika perjalanan pulang ke rumah setelah menemani Ayu seharian mengirim barang-barang yang mau dipulangkan ke Indonesia.  
***
Hikmah yang bisa diambil dari kisah tersebut ialah:

Nadzar ialah sebuah janji yang harus ditepati. Buatlah sebuah nadzar yang sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Karena ini adalah salah satu syarat melakukan nadzar.

Syarat-syarat nadzir (orang yang nadzar) :
- Beragama islam (khusus untuk nadzar tabarrur, sedangkan nadzar lajaj tidak disyaratkan muslim).
- Atas kehendak sendiri (bukan terpaksa).
- Baligh dan berakal
- Memungkinkan untuk melaksanakan nadzarnya.

Segala sesuatu sudah diatur oleh Allah. Ambillah hikmah dibalik segala kejadian, baik maupun buruk. Karena baik dan buruk itu Allah yang menilai. Sesuatu yang buruk bisa jadi sebenarnya baik untuk kita, begitu juga sebaliknya

Wallahu’alam. Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Semoga ada hikmah yang bisa diambil.

Penulis: Siti Hanifah Muslikhah

Engkaukah itu? Semester ini adalah awal semester tahun terakhir Ayu di kampus biru, UIA. Hari yang ia tunggu-tunggu selama tahun pe...

0 Komentar: