Manusia dan Binatangnya

Februari 02, 2014 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Tangan siapa yang enggan menyambut jika pesona dunia diobral gratis? Sebagian kita meronta, meminta belas kasih dunia tanpa malu berucap “Ayolah Duhai, datanglah padaku”. Namun sebagian lain menghardik wujud dunia dan hidup tanpa ikhtiar sebenar.

Bagaimana dengan kabar nafsu yang mesranya mengikuti diri? Bukankah nafsu dan dunia itu sahabat hidup dan mati?

“Nafsu itu laksana anak balita. Jika kau manjakan ia, sampai dewasa pun tak kan lepas ia dari susuan ibunya”-Imam Busyiri

Pernahkah kita merasa salah dan berdosa namun teguh berdiri dalam jebakan? Nah, tanyakan lagi. Binatang dan nafsunya mungkin sedang asyik bermain-main di dalam diri.
Ada sebuah kutipan dari Muhammad Ainun Najib:

“Muhammad, kami tentu akan datang ke acara peringatan kelahiranmu di kampung kami masing-masing, namun pada saat itu nanti wajah kami tidaklah seceria seperti tatkala kami datang ke toko-toko serba ada, ke bioskop, ke pasar malam, ke tempat-tempat rekreasi. Kami mengirim shalawat kepadamu seperti yang dianjurkan oleh Allah karena Ia sendiri beserta para malaikatNya juga memberikan shalawat kepadamu. Namun pada umumnya itu hanya karena kami membutuhkan keselamatan diri kami sendiri.Seperti juga kalau kami bersembahyang sujud kepada Allah, kebanyakan dari kami melakukannya karena kewajiban, tidak karena kebutuhan, kerinduan atau cinta yang meluap-luap. Kalau kami berdoa, doa kami berfokus pada kepentingan pribadi kami masing-masing”.

Naudzubillah min zalik. Semoga kita bukan termasuk golongan orang-orang yang disebutkan diatas. Semoga kita dimudahkanNya menggapai petunjuk dan hidayah. DiberkahkanNya dalam tiap tindakan dan dijauhkan dari perbuatan sesat merugikan.

Sedikit refleksi, pernahkah kita berdoa untuk orang lain seperti ini : “Ya Rabb, jadikan sahabatku ini lebih baik dariku”. Jika tidak pernah, tanyakan, apakah iri masih ada dalam hati? Jika belum, mari segera. Berdoa itu gratis, berdoa sesuka kita, berdoa semau kita. Kebaikan akan kembali dan pasti.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat jam dnding – dilihat orang atau tidak, ia tetap berdetak. Dihargai orang atau tidak ia tetap berputar. Diterimakasihi atau tidak ia tetap bekerja dan memberi manfaat. Jika disebutkan satu per satu mengenai nafsu kebinatangan, pasti akan ada banyak sekali versi. Tanpa perlu diceritakan pun biarlah diri yang mengetahui. Ujian hidup sejenis ini memang tidak mudah untuk dilulusi.

Dan jangan pernah bandingkan ujian orang lain dengan ujian yang kita hadapi. Setiap orang tak sama, baju, sepatu pun berbeda ukurannya. Namun tujuannya sama, ujian ialah tanda sayangNya, agar kita selalu mengingatNya.

Bagi yang pernah jatuh, Allah akan mengangkatnya jika taubat nasuha kepadaNya benar-benar diperankan. Lalu yang masih ikut menari-nari bersama kebinatangan, mari kita basmi. Munculkan sifat khouf (takut) pada Allah dan haya’ (malu) terhadap Rasulullah. Bukankah kita impikan hidup bersama Rasul? Lalu bagaimana mungkin kita tinggal didekatnya jika hati saja tidak dibersihkan dari hal-hal haram yang dibencinya? Walau sekecil dzarroh semoga kita mampu membasminya sampai ke akar. Karena terkadang yang kecil di mata kita bisa jadi besar di mata Allah atau bahkan membuat malaikat Atid kewalahan mencatat dosa di setiap ‘buku’ kita.

Allahu, Allahu Pemberi Rahmat dan Hidayah.. ihdinaa..ihdinaa.. ilaa shirootika al-mustaqiim. Aamiin ya Allah, Robbul ‘Alamiin.
Wallahu a’lam.

Penulis: Laila Setyawati Arifin

Tangan siapa yang enggan menyambut jika pesona dunia diobral gratis? Sebagian kita meronta, meminta belas kasih dunia tanpa malu berucap “A...

0 Komentar: