Makna

Januari 26, 2014 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Keheningan malam di pedesaan adalah pembunuh bagi seorang seperti Septi. Hanya malam yang mengetahui rahasia tersembunyinya.  Septi yang liar berimajinasi, Septi yang giat dan mandiri, yang berani berbeda, yang menganggap mendapat bantuan sebagai gangguan baginya, tidak pernah peduli ucap nyinyir warga desa. mereka baginya hanya manusia bodoh yang konservatif, kolot, tak mengerti dan tak peduli dengan perubahan. Ia bukan orang yang suka membual, tapi kebenaranlah bahwa hanya dia yang berbeda di desa itu, dan malam dengan sunyinya yang dusta menampiknya,  dengan keras. Pengalih perhatiannya dari kejamnya malam hanya satu.

Sedari kecil ia terpesona pada buku. Ia bergelimang diantara buku dan menciumi mereka. Buku adalah gudang metafora baginya. Merekalah teman, sahabat, saudara, tetangga dan orangtua baginya. Mereka adalah bunga yang memberikan ketenangan jiwa. Sayangnya,  di pedesaan kecil yang ia tinggali bunga ini adalah benda asing, yang hanya bermekaran pada pagi hari di Pasar Senin. Maka buku-buku yang paling sering ia cumbu ada di perpustakaan kecil sekolah, pustaka desa dan segelintir yang dihadiahi paman dan bibi dari kota. Dibacanya berulang-ulang. Buku agama ada pula dibaca. Saudara sepupu jauhnya yang di Jawa pernah berlibur kembali ke kampung halamannya dan membawa beberapa buku kisah para nabi, kisah motivasi dan kata-kata hikmah, kumpulan buku yang berukuran besar dan tipis lengkap dengan gambar. Di salah satu buku itu ada kalimat yang membekas diingatannya, petuah klise yang membuatnya selalu mampu bangkit menghadapi dunia, siapa yang berusaha maka ia akan berhasil, selalu Septi junjung,  karena cita-citanya tinggi.

Keluarganya terpandang di desa. Pada mulanya, keluarga mereka keluarga konglomerat yang bermukim di Jakarta, namun, ayahnya yang seorang pengusaha mengidap kanker hati, mengambil pensiun, perusahaan diambil alih kakak-kakaknya dan jadilah ia si anak bungsu tinggal bersama kedua orang tua di desa kampung halaman. "Ayahmu pingin menikmati kehidupan yang tenang di kampung halaman, nak". Jawaban ibu padanya yang pada saat itu masih berumur empat tahun ketika dengan lugu bertanya masalah kepindahan mereka. Pada umur itu pulalah saat mereka melihat perbedaan Septi dari anak yang lain. Septi yang beda dan mimpinya yang luar biasa. Orangtuanya tak pernah mengerti akan impiannya yang dianggap mereka menyalahi aturan kehidupan, tapi mereka beberapa waktu tak keras  lagi membendung mimpi itu. Peraturan telah lelah termakan usia. Mereka rupanya telah berdamai dengan waktu.

Ia mempunyai beberapa teman yang takjub pada keberaniannya menjadi istimewa dan berbeda. Sering diumbarnya pada mereka berkata malam hanya pelipur lara bagi manusia yang banyak omong, manusia munafik, ada yang bertopeng dan ada yang berwajah dua. Sadar bahwa ialah yang banyak dusta, bahwa malam adalah penembak jitu yang selalu mengintainya dari kejauhan tersembunyi di ujung langit gelap, tak pernah diungkapnya. Teman-temannya ini suka berada disampingnya untuk hal yang sama sekali tidak dimengerti, intimidasi yang menantang, ucap mereka, yang baru tahu arti kata intimidasi darinya.

Septi ingin pindah dari suasana pedesaan yang lugunya memuakkan. Maka rencananya adalah sederhana, yaitu pergi ke kota. Di kota malam-malam tak pernah sepi, ia bisa menghindar sepenuhnya dari hening malam. Ia tak berniat dan tak perlu menunjukkan apapun kepada siapapun yang pernah menggunjingnya, biarlah mereka sendiri yang sadar. Ia baik-baik saja. Tapi untuk kesekian kali malam menyeringai kepadanya, ia butuh pengakuan.
Mengikuti jejak saudara-saudaranya yang telah sukses dan menikah, selepas SMA ia melanjutkan kuliah di salah satu universitas bergengsi di kota Bandung, beruntung bahwa orangtuanya memiliki uang yang lebih dari cukup untuk sekadar membiayainya kuliah. Hanya segelintir temannya yang kuliah, dan kampus politeknik terdekat di kecamatan sebelah adalah yang terbaik yang bisa dipilih oleh orangtua mereka. Orangtua Septi berbeda, pendidikan yang terbaik harus dibayar dengan layak. Mereka merasa Septi layak dan Septi merasa ia layak,  Mereka dan Septi mempunyai pemahaman berbeda tentang mengenyam pendidikan di kota.
Semasa kuliah inilah ia bertemu dengan Direl. Seseorang yang paten luar dalam dan mampu menyaingi daya imajinasinya yang tinggi. Pertemuan mereka bermula dari organisasi kesenian, lalu sebagaimana hal yang lumrah bagi manusia lain, pertemuan tersebut berlanjut menjadi pertemuan-pertemuan dalam kesepakatan setelah menyadari kecocokan mereka.

Berbeda darinya, Direl adalah seorang mahasiswa yang hidupnya bergantung dari beasiswa, kedua orangtuanya telah tiada. Namun mereka saling mengisi, Direl membahagiakan Septi dengan kejenakaan dan hadirnya, dan Septi meringankan beban hidup  Direl dengan kayanya pengertian. Mereka sering berjumpa dengan sengaja dan berkisah tentang apa saja. Tempat pertemuan favoritnya adalah pantai, di mana mereka dapat dengan bebas menikmati kesempurnaan langit yang bercumbu dengan lautan luas tanpa kenal lelah. Deburan ombak yang menghentakkan berbutir-butir pasir adalah hiburan mereka, mereka senang merasa bahwa mereka mungkin adalah salah satu dari butiran pasir yang terombang ambing itu, tidak perlu ikut jalur, biar air yang menuntun kemana saja mereka mau. Begitulah Septi sadar ia menikmati perjumpaan demi perjumpaan itu dan ia yakin Direl pun demikian. Kepada Direl ia tak menyembunyikan apapun. Ya, apapun. Septi adalah dirinya sepenuhnya di depan Direl, dan Direl membanggakannya, karena mereka serupa. Mereka sempurna dengan kehadiran satu sama lain dan tidak butuh apapun lagi. Dan impian Septi pun tak muluk-muluk lagi, ia ingin selamanya berada dalam kesempurnaan ini.

Septi dan Direl adalah kumparan kisah demi kisah yang mereka ciptakan. Mereka adalah guru yang banyak ilmu, insiyur yang teliti dan cakap, ilmuan yang menguji dan mencipta, dokter yang menyelamatkan jiwa, astronot yang menginjakkan kaki di ratusan planet raya. "Aku pilot dan kau co-pilotnya" ucap septi, tatkala bercerita betapa takjubnya ia pada pesawat, pada kemampuan manusia mencipta hanya dengan didasari mimpi. Maka khayalannya saat itu adalah mengudarakan pesawat. "Dan dalam masa yang lama saling bekerja sama di langit, kuanggap kita cocok hidup bersama". Lanjutnya sambil tertawa. Direl pun ikut  tertawa, "baik perbedaan maupun persamaan kita sama-sama mendukung kalimat aku akan menikahimu  adalah tidak mungkin." Apa maksudnya ini? kenapa Direl harus berpikir negatif seperti itu? Septi tersadar, ia tak perlu bertanya, makna tawa yang sungguh berbeda, ucapnya dalam hati sambil menelan air liur, pahit. Tapi kalimat itu masih nyata di benaknya, siapa yang berusaha, pasti akan berhasil. Bukan Septi kalau tak mampu dan berhasil. Lagi pula siapa Direl? Apa dia harus menghilangkan perbedaan kecil itu untuk menjadi layak bersamanya? dia harus sadar bahwa mereka cocok, itu tidak menghalangi dan merubah apapun, hanya ia yang tahu siapa Direl seutuhnya, mereka mengerti dan memahami satu sama lain.

Berlalu waktu memasuki semester enam Direl berubah. Benar-benar berubah. Ia masih jenaka, tapi Septi menyadari perubahan yang kuat di Direl. Direl tidak terlalu menanggapi lagi ocehan-ocehan kecilnya dan, aduhai! Kemana Direl si pemimpi dan pembangkit suasana?  Kata dan kalimatnya sekarang adalah teratur dan baik, tidak ada lagi kata-kata kasar, nasehat demi nasehat mengucur dari mulutnya. Ia tidak tahu Direl berteman dengan siapa akhir-akhir ini, tapi ia mulai jengah, nasehat-nasehatnya adalah petuah orang kampung kemarin dan ia berusaha tetap tersenyum, di desa Septi acuh, di depannya ia tersenyum. Betapa menakjubkannya apa yang diperbuat perasaan terhadap perbuatan. Septi bertanya-tanya tidak sadarkah Direl bahwa itu juga menyakiti dirinya sendiri?. "karena skripsikah ini?" Septi bertanya masalah perubahannya. Lalu jawabnya tak disangka, "nanti lah aku bilang," singkat dan bukan jawaban, hanya janji tak berwaktu. Direl tidak ada waktu karena skripsinya, pikir Septi geli.

Hingga datanglah suatu sore yang petaka. Pertemuannya dengan Direl kali ini hanya di gazebo depan taman asrama, membuatnya lebih menyakitkan. "aku akan kawin." tuturnya ringkas. Bahkan kalimat yang jelas, ringkas disertai wajah yang serius itu masih membuatnya tertawa. "kalau kau kawin aku akan jadi buddhist". Candanya. Namun ia belum berhenti."perempuan itu anak pendidikan kimia semester empat, lugu, tidak menarik, kaku, sangat jauh berbeda denganmu." Ini mulai tidak lucu, Direl meracau, ujarnya. "Kau..." "ya,  aku...". Nanar mata Septi menatapnya. "kenapa kau mau!" "karena dia berbeda dariku...". Tidak logis, cercanya. "karena menikah adalah separuh agama" ia berhujjah. Septi mulai mual "kalau kau takut aku yang akan mengajukan lamaran ke saudaramu, kau tau, aku yang memahamimu." Septi menantangnya untuk jujur pada diri sendiri. Namun Direl dengan amarah meluap berkata. "kau yang berpikir begitu! Kau yang mau dan aku perbuat! Kau sebenarnya tidak memahami sama sekali karena kau berusaha untuk tidak peduli! Sa.." Direl belum menyelesaikan kalimatnya  ketika Septi bangkit berdiri dan berjalan cepat sambil menahan air matanya, meninggalkan Direl yang menatapnya dan kemudian tertunduk di bangkunya. Namun kemudian Direl bangkit dan berteriak "kau tahu? Aku belajar dari kalimat itu! Darimu, hanya tujuan kita berbeda. Aku berusaha mengarahkanmu..." samar... kemudian Septi hanya mendengar sayup kalimat terakhir, kalimat selanjutnya yang diucapkan oleh Direl yang membuat kehidupannya berubah. "Karena aku berusaha!..." jalannya terhenti. "kau tau, kesalahanmu selama ini adalah kau tak pernah benar-benar berusaha, kau dengar? Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap usaha hambanya yang beriman". kini tahulah ia perbedaan makna usaha  baginya  dan bagi Direl. Jauh, amat jauh berbeda.

Septi tertegun, selama ini ia berkeras dengan hatinya, selama ini ia sombong. Kesombongan yang mengeluarkan Iblis dari syurga, kesombongan yang menenggelamkan Firaun beserta bala tentaranya, kesombongan yang membuat dua malaikat menjadi terhina. Selama ini ia membutakan diri, buta yang membuat kaum Nabi Luth binasa. Ia bukan siapa-siapa.

***

"Pak Septiono" ia terbangun dari lamunannya.
"iya, saya... "
"silahkan bapak tanda tangan di sini." Perempuan di depannya menunjukkan ke arah yang di maksud dengan sopan.
Ia menandatangani kertas di depannya tersebut disertai ribuan rasa syukur, ia menatap lekat lembaran yang menjadi bukti bahwa ia adalah seorang suami dari wanitanya. Dan pada ketika itu hatinya mengingat satu orang ini. Sahabat sejatinya.

Siapa yang berusaha dia pasti akan berhasil. Kalimat hikmah ini sekarang bukan hanya membuatnya mampu bangkit menghadapi dunia, tapi juga membuatnya bangkit dan bersiap-siap menghadapi alam yang kekal abadi. Akhirat.

Ya, diapun akan berusaha.


Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya di luar dari kemampuannya.

Cerpen by: icha

Keheningan malam di pedesaan adalah pembunuh bagi seorang seperti Septi. Hanya malam yang mengetahui rahasia tersembunyinya.  Septi yang li...

0 Komentar: