Jilbaber itu eksklusif, katanya…

Juni 22, 2013 Forum Tarbiyah 0 Komentar

Jilbab dan kita
Perkembangan hijab di Ibu Pertiwi mempunyai rangkaian epsiode tersendiri. Dulu pada era 80an masih sedikit muslimah yang berjilbab. Bahkan di sekolah saat kelulusan muslimah yang berjilbab harus berfoto memperlihatkan telinganya.

Seiring waktu berjalan dan atas izinNya, pemakaian jilbab diperbolehkan bukan hanya di sekolah, tapi juga di tingkat perkantoran. Hingga isu hangat baru-baru ini, yaitu mengenai Polwan yang berjuang agar mereka diperbolehkan berhijab ketika bertugas. Alhamdulillah perjuangan mereka membuahkan hasil dengan diperolehnya ijin dari Kapolri.

Btw, kenapa ya mereka sangat berusaha memperjuangkan hijab? karena trend jilbab yang tengah ‘in’ kah? Bukan, tentu tidak sesederhana itu alasannya, justru karena mereka memahami bahwa hijab adalah wajib dan salah satu bentuk kasih sayang Sang Pencipta pada wanita.

Segala puji bagi-Nya karena pada saat ini jilbab tidak lagi menjadi pemandangan yang langka. Dimana-mana mudah kita jumpai saudari yang manis dengan hijabnya. Hijab yang sesuai tuntunan syari’at akan menambah kecantikan wanita lho. Di tengah ramainya yang memakai jilbab kita pun perlu memperhatikan sudah sesuai syar’iat kah hijab kita?. Alur cerita hijab diikuti pula dengan perkembangan di dunia bisnis, berbagai trend hijab marak mewarnai pasar. Pada tahun 2010 muncul istilah hijab modis dan ada juga yang melabel hijabers community dengan beragam kreativitasnya mereka membuat beragam gaya hijab dan kadang hukum syar’i diketepikan. 

Bukankan Rasulullah berpesan agar kita menyampaikan walaupun satu ayat dan Allah pun berfirman agar kita saling dalam menasihati dalam kebaikan dan kesabaran?. Maka, belakangan ini terdengar dengung hijab syar’i, komunitas para muslimah yang mungkin mulai gerah dengan fashion yang meraja lela berkreasi sesukanya namun menghilangkan nilai-nilai syar'i dari hijab tersebut, sehingga mereka berusaha mengingatkan dan meng-counter arus mode ini agar alirannya sejalan dengan syariat.

Sudah tidak asing lagi bahwa perintah mengenai hijab untuk muslimah dan ketentuannya terdapat dalam ayat-ayat cinta-Nya QS. Al-Ahzab:59 dan QS. An-Nur:31. Hijab adalah wajib untuk muslimah dan harus menutup dada, Rasul pun berpesan bahwa jilbab tidak boleh membentuk seperti punuk unta (sebagaimana trend sanggul saat ini). Selain itu pakaian tidak boleh tipis serta tidak menampakkan bentuk tubuh karena muslimah diperintahkan untuk menutup aurat bukan membalut aurat (ketat).  

Banyak juga dari mereka yang berusaha menutup aurat sesuai syari’at, namun terkadang timbul kegalauan “aku kan belum baik-baik amat, ilmuku masih sedikit,  sikapku juga gak kemayu, hafalan qur’an masih sedikit, nanti merusak citra muslimah yang berjilbab rapi gak ya? tapi yaa aku nyaman berpakaian rapi karena aku merasa telah memenuhi syari’at Illahi.

Tidak dinafikan bahwa kebanyakan orang menilai seolah muslimah tersebut harus baik, lemah lembut, ilmunya dalam, hafalan qur’an dan hadisnya banyak serta gak boleh salah. Wah bagus banget ya doanya. Penilaian ini bisa jadi menimbulkan kegalauan ketika seorang muslimah ingin berbusana rapi sesuai tuntutan syar’i. 

 Di sisi lain, ada juga yang berkomentar bahwa para hijabers gede itu kesannya eksklusif,  bukan hanya karena mereka menjaga sikap dan laku tetapi, ada juga yang menganggap mereka selalu berkumpul sesama hijabers gede saja. Di bawah ini beberapa komentar yang pernah terdengar:

“aku takut ahh deket sama mbak2 yang jilbaban gede, ngomongnya agama melulu trus ya mereka mainnya ama yang jilbab gede-gede aja”

“matanya itu lho kalo ngeliatin seolah-olah kita gimanaa gitu, mentang-mentang kita belum jilbaban”

“aku pernah ketemu lho sama mbak2 yang ketus bener ngomongnya, padahal gayanya ustazah”

Skenario di atas pernah didapat dari cerita beberapa rekan, mungkin pembaca pun ada pengalaman serupa. Bahkan mengutip tulisan di kompasiana yang berbunyi “Hijab Modis adalah sebagai terdakwa, sedangkan Hijab Besar sebagai si pendakwa. artinya, pihak Hijab Besar selalu bersikap represif (memojokkan) terhadap kelompok Hijab Modis dengan berbagai alasan” atau yang inimereka menganggap jilbab-nya lah yang paling syar’i, bahkan mereka menamai dirinya dengan “Komunitas Hijab Syar’I” (http://media.kompasiana.com/new-media/2013/04/19/jilbab-besar-belum-tentu-syari-552604.html#).

Astaghfirullahaladzim, semoga kita sesama muslim tidak disibukkan untuk saling menyalahkan apalagi menghujat. Mengenai eksklusif, pertama yang ditujukan kepada muslimah yang berjilbab lebar bahwa mereka seolah tidak boleh salah. Terkadang jika judge positif yang terlalu berlebihan dalam membawa kekecewaan bahkan celaan ketika realita tak sejalan dengan harapan. Poin terpenting dalam memakai hijab adalah seorang muslimah memenuhi kewajibannya, menjalankan perintah RobbNya.

Pada dasarnya kita menyadari setiap manusia pasti memiliki kekurangan, hanya saja stigma yang saklek mengenai image harus selalu baik kadang dapat menjadi beban tersendiri. Namun hal ini dapat menjadi eustress (stress positive) yang menjadi motivasi dan doa dalam usaha untuk terus memperbaiki diri. Apabila ada ukhti yang bersikap ‘salah’ maka adalah kurang bijak jika kita justru menghakimi jilbabnya, bisa jadi ia lupa atau bahkan tidak menyadari dan tidak bermaksud berbuat demikian.

Eksklusif seterusnya mengenai para muslimah yang berjilbab besar yang dianggap biasanya bergaul sesama jilbab besar saja. Sepengetahuan saya mayoritas ukhti yang berjilbab lebar atau jilbaber, welcome kok berinteraksi sama siapa pun karena Islam menekankan bahwa yang menjadi pembeda di mata Allah adalah ketaqwaan. Tentunya untuk memilih sahabat kita harus berpedoman pada sang teladan sepanjang jaman, Rasulullah, bahwa pilihlah sahabat yang mengingatkan kita pada Illahi sebagaimana hadis beliau bahwa berteman dengan penjual minyak wangi maka akan tercium wanginya.

Rasulullah sudah mencontohkan adab bergaul dan menyebarkan kebaikan pun mencegah kemungkaran dengan cara yang ihsan. Ajaran Islam adalah sempurna, muslim sebagai manusia tentu tidak sempurna. Oleh karena itu mari kita kembali kepada pemahaman dan ajaran sebenarnya, yaitu Islam yang sumbernya Alqur’an dan Sunah. Bukan men-judge dari kekurangan manusia apalagi dari hijab yang sesuai syari’at dan sudah jelas itu merupakan kewajiban seorang muslimah menjalankannya, mengenai kekurangan yang ada dalam diri tentu diperlukan proses perbaikan yang berlanjutan. Sebaik-baik pakaian adalah pakaian taqwa, muncul dari iman yang teguh padaNya dan terpancar menjadi akhlaq mulia. So, yuk jadi muslimah yang eksklusif di hadapan Allah.

Wallahua’lam

Penulis: Khansa Azzahra

Jilbab dan kita Perkembangan hijab di Ibu Pertiwi mempunyai rangkaian epsiod e tersendiri. Dulu pada era 80an masih sedikit muslimah y...

0 Komentar: