Jangan Lupa Sejarah Tamadun Islam

Maret 23, 2013 Forum Tarbiyah 1 Komentar

"Apa tanda Melayu jati bersama Islam hidup dan mati, dan apa tanda melayu jati Islam melekat di dalam hati "
Kepulauan Melayu
“Dimana kakimu berpijak di situ langit dijunjung”, itulah ungkapan yang layak dinoktahkan pada awal tulisan singkat ini. Karena saat ini kita bermastautin di negeri Melayu, sedikitnya kita harus tahu tentang ke-Melayu-an karena akan menjadi bukti bahwa kita pernah berlabuh di negeri yang berasaskan Melayu berlandaskan kitabullah (Al Qur’an) ini.

Tulisan ini lebih dominan pada kata ‘Melayu’ yang ada di negeri Lancang Kuning Riau, namun tetap ada keterkaitan dari denyutan nadi dan jantung yang sama tentang Melayu Malaysia dan negara-negara yang pernah tersentuh kata ‘nusantara’. Kenapa harus Melayu karena Melayu memberikan pengaruh besar pada peradaban Indonesia, Malaysia dan negara-negara Nusantara dahulu.

Pernah pada tarikh 6 Desember 2012 lalu, BJ Habibie berkunjung ke Selangor Darul Ihsan-Malaysia dan ungkapkan, “Ada 8 suku yang paling berpengaruh dalam perkembangan Indonesia yaitu: suku Jawa, Sunda, Tiong Hoa, Melayu, Batak, Minangkabau, Madura dan Bugis. Jadi, Melayu miliki peran penting dalam tamadun Indonesia karena di dalam Melayu ada nilai Islam. Maka tidak salah kita belajar atau sedikit tahu tentang negeri yang kita injak saat ini, ini yang disebut dengan ma’rifatul maidan dalam tarbiyah.

Namun tulisan ini ditekankan pada fenomena saat ini yang tampak mulai mengusik nilai-nilai keislaman yang ada di tubuh Melayu tesebut. Maka diajukanlah satu pertanyaan, mengapa membuat seni budaya dan tamadun Melayu berdiri tegap sampai saat ini? Meskipun pergeseran nilai-nilai budaya itu terlihat jelas dengan masuknya budaya asing dalam lini masyarakat, serta orang lebih memilih pangsa pasar yang menjanjikan ketimbang melestarikan nilai budaya yang dianggap berdiri di tempat. Namun bisa dijawab masih adanya peminat dan pemerhati seni budaya, serta adanya tingkat apresiasi masyarakat terhadap karya-karya dan khazanah budaya tersebut baik berbentuk tulisan dan lafazan.

Kini kebudayaan asing telah menyatu dalam tingkat hidup manusia melalui media modern dan globalisasi, memang tidak secara keseluruhan kita menolak secara mentah-mentah seperti ungkapan Melayu, kalau hidup hendak senonoh banyaklah mencontoh, kalau hidup hendak terpandang ambillah ilmu orang.

Namun sikap keterbukaan galib dilandasi kehati-hatian dalam diri kita, apa tanda melayu budiman tunjuk ajar dijadikan pakaian, apa tanda melayu terpilih memegang tunjuk ajar tiada beralih. Sekarang, saatnya melihat relita kehidupan sosial, banyak misal-misal yang menghancurkan dan merasuk secara perlahan-lahan nilai kebudayaan Melayu, walaupun bertenggek di bumi Melayu tapi masyarakat sebahagian lupa ke-melayu-annya.

Bersama-sama menghadang lautan samudra luas dengan ombak tanpa selat, carilah kesempatan untuk berhenti sejenak menepi sembari melakukan terapi (muhasabah) untuk hidup budaya yang rapi agar tidak tenggelam dengan kapal yang karam.

Kita tidak hendak seperti hikayat ini yang dimetaforkan pada anai-anai, semut putih yang melekat di kapal budaya. Nampak bagian bawah kapal mengkilat dengan polesan minyak tunjuk ajar, adat istiadat dan petuah amanah namun selubang anai-anai beranak di dinding kapal budaya tersebut. Ketika kapal budaya berlayar menjunjungkan bendera merah kuning hijau berkibar melawan arah angin. Selamatkah kapal ini dari hewan kecil tersebut? Pelan-pelan anai-anai yang dianggap sepele menjelma dalam kayu yang mengkilat, menyusup, memakan, menyirip, dan menusuk kayu-kayu landasan kapal landasan asas kebudayaan. Kalau tidak berhemat cermat, tidak banyak usaha untuk menghindari atau menghilangkan anai-anai perusak citra budaya, alamat takkan selamat.

Sebelum karam di laut sesat di darat berhentilah, periksa yang harus diselamatkan, evaluasi dan koreksi dengan solusi untuk menyumbat lubang penghancur kebudayaan Melayu yang bernilai Islam tersebut, karena satu tambalan untuk lubang anai-anai akan menyelamatkan penumpang yang ada di dalam kapal, penumpangnya adalah kita semua.

Mengenal Lebih Dekat Melayu


Sebelum mencari solusi dan berlayar jauh, sedikit kita tingkatkan alfahmu kita tentang Melayu. Melayu tidak lepas dari kayanya akan khazanah budaya. Semua suku yang ada di Nusantara mempunyai kebudayaan masing-masing, mulai dari seni musik, seni tari, seni berpakaian, seni membangun rumah, seni berpantun. Namun untuk segi ungkapan, tidak ada yang sekental syair suku Melayu.

Agar tidak lekang tentang segi ungkapan kita ingat kembali apa itu tunjuk ajar Melayu, yang mana berarti segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan contoh teladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti luas. Namun orang tua Melayu pernah berpendapat, bahwa tunjuk ajar Melayu dari petuah, amanah, suri tauladan dan nasihat yang membawa manusia kejalan yang lurus dan diridhoi Allah SWT, yang berkahnya menyelamatkan manusia dalam kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Dari sisi ini tampak, bagaimana budaya Melayu mengatur tata cara dimensi hidup manusia agar tetap amanat, tetap menjadi qudwah, tetap berpetuah agar bahagia saat ini maupun akhirat kelak.

Sedikit solusi untuk menjaga tatanan kebudayaan ini dengan cara menulis. Sedikit mengenal sosok Tenas Effendy seorang penulis senior Nusantara yang begitu masyhur di Malaysia karena buku beliau Tunjuk Ajar Melayu. Buku ini menjadi sebuah karya yang menggambarkan kekayaan khazanah budaya Melayu Nusantara. Bagaimana ungkapan keindahan dan kedalaman maknanya terungkap dari syair kental yang disajikannya. Tidak hanya pilihan kata yang sinergi, namun memiliki makna dan filosofi yang mendalam.

Bagaimana tidak, karya Tenas Effendy yang termasuk budayawan gelombang kedua yang bermula pada sejak tahun 1950-an sampai tahun 1970-an, dari perjalanan karya sastra di Riau yang diisi nama seperti Yong Dolah tokoh cerita jenaka Melayu, Idrus Tintin, Sutardji Colzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Ediruslan Pe Amriza, Wunulde Shaffinal, BM Syamsuddin, Hasan Junus, Sudarno Mahyuddin, Taufik Effendi Aria, Syamsul Bachri Judin, dan Rida K Liamsi.

Yang perlu diperrhatikan, karya para pengarang Melayu lebih dekat pada Islam. Sesuai yang dikemukakan UU Hamidy, bahwa para pengarang Melayu dengan ilmu yang memadai tentang agama Islam, menyadari bahwa karyanya sebagai salah satu bentuk  amal jariah yang diharapkan pahalanya di sisi Tuhan. Karangan juga lazim ditulis dengan niat menyampaikan kebenaran pada khalayak, dalam rangka mengabdi menyerahkan hidup dan mati hanya kepada Allah semata.

Dengan itu agama Islam sangat mewarnai dalam titik tingkah orang Melayu, apa tanda Melayu jati bersama Islam hidup dan mati, dan apa tanda melayu jati Islam melekat di dalam hati. Selanjutnya yang mana dari tunjuk ajar Melayu ini selalu mengatur yang berhubung dengan kehidupan manusia baik hablum minanallah yakni hubungan manusia pada Allah Swt dan hablumminnanas yang berarti hubungan manusia dengan sesama insan itu sendiri.

Walhasil, tamadun Melayu tetap harus selalu dijaga karena di dalam tubuhnya ada nadi-nadi nilai keislaman yang kental dan ketika kita mampu menjaga sejarah tamadun kita maka kita sudah menjaga dengan baik negeri dan agama kita untuk kemenangan yang Allah janjikan pada kita.

Akhir kalam, apapun peradaban dari suku dan kufu anda saat ini, tetaplah harus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, pastinya suku dan kufu yang berasaskan nilai Islam. Dengan apa menjaganya, dengan menuliskan sejarahnya, mengamalkan nilai-nilai kebaikan darinya di aktifitas kita sehari-haari dan menatanya dengan baik dan teratur agar ia bercahaya. Mari menjaga sejarah tamadun Islam, karena sejarah Islam-lah anda ada sampai saat ini.

Penulis: Muhammad Hadi

"Apa tanda Melayu jati bersama Islam hidup dan mati, dan apa tanda melayu jati Islam melekat di dalam hati " Kepulauan Mela...

1 komentar: