Sang Juara Yang Kalah

Mei 12, 2012 Forum Tarbiyah 1 Komentar

"Al waqtu kassaifi fain lam taqtho’uhu qotho’aka.  Waktu itu bagaikan pedang jika kamu tidakm memotongnya (memanfaatkannya) maka ia akan memotongmu"


Semua dimensi masalah bisa teratasi dengan baik jika kita mahir dalam mengatur waktu. Ya, dengan menghargai waktulah kita akan menang. Semua kita sudah tahu bahkan memahami secara mendalam bahwa kita punya jatah waktu yang sama 1440 menit per hari, meskipun begitu tetap saja kita sang juara yang kalah. Orang muslim dan kafir memiliki waktu yang sama, orang sukses dan orang yang gagal juga punya waktu yang sama, begitu juga orang yang mampu meraih cita-cita dalam satu tahun maupun yang tidak mempunyai jatah waktu mereka sama, sama-sama 24 jam sehari. Namun kenapa kita masih banyak yang kalah dengan waktu?

Pernah terpikir oleh kita tidak, bahwa waktu tidak akan terputar kembali untuk kedua kalinya misalnya solat subuh yang terlalaikan tidak akan kembali lagi sepanjang hayat kita. Lihat juga ketika kita pernah duduk dengan kawan-kawan kita di bangku kuliah menunggu dosen tiba, di antara kita ada yang membaca buku, main HP, ada yang sibuk berbual dan bercanda, waktunya memang sama tapi hasilnya pasti beda. Semua itu tergantung pada kita dalam memanfaatkan momentum waktu yang ada. Bicara soal waktu tokoh nomor wahid dunia Rasulullah Saw telah dahulu berbicara tentang ini, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang diberi panjang umurnya dan baik amalannya. Dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi umur yang panjang dan jelek amalannya (HR. Ahmad)”.

Dalam masalah ini, pertama yang harus dicurigai adalah bagaimana komitmen kita terhadap waktu dan memaknai umur panjang yang Allah anugerahkan. Jejak-jejak kebaikan apa yang sudah dilangkahkan dan bagaimana kita menghindari waktu yang sia-sia. Jika kita tak mau evaluasi diri, jangan salahkan jika kita kalah dalam kancah arena pertarungan ini.

KARAKTER SANG JUARA YANG HILANG

Kendati masalah karakter juga menjadi masalah inti menyebabkan umat ini banyak tertinggal dalam menjalankan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi ini. Karakter pribadi yang lemah, mudah tergoda, pasrah, minder, tidak mandiri, dan malas yang menyebabkan potensi-potensi yang ada tidak berkembang. Sering terpengaruh dan mencontohi kebiasaan-kebiasaan ‘kaum jahiliyah’ lihat saja perayaan tahun baru yang sia-sia, menjadikan selebritis idola (berhala) mereka dan ihwal yang tidak bermanfaat lainnya. Mereka tidak sadar bahwa mereka itu sedang ‘dihipnotis’ oleh orang-orang yang membenci Islam.

Tiap manusia sudah dinobatkan menjadi sang juara dari 500 ribu juta sel yang ingin masuk ke ovum, namun cuma satu sel yang mampu menembusnya itulah kita, sang juara. Maka jika potensi itu digunakan sebaik-baiknya dengan memanfaatkan untuk agenda-agenda yang baik maka akan berdampak positif bagi perubahan perilaku seseorang. Berikut ini tentukan karakter pribadi kita, penulis coba mendefinisikan tipe-tipe manusia zaman kini itu ada empat dimensi, pertama adalah karakter lemah, misalnya penakut tidak berani mengambil resiko, pemalas, cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah dan sebagainya. Kedua, karakter kuat, contoh tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi atau pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek, licik, egois, serakah, pamer dan lain sebagainya. Karakter keempat, karakter baik, jujur, terpecaya, rendah hati, dan lainnya. Hari ini yang kita rindukan adalah negeri ini bangkit dengan karakter kedua dan keempat untuk kesejahteraan bangsa ini kedepannya. Harap karakter kedua dan keempat sudah engkau miliki.

BELAJAR DARI HIKAYAT SI FULAN

Pada suatu malam, ketika hendak belajar si Fulan memutuskan untuk belajar Matematika. Akan tetapi karena ingat guru Matematika yang judes itu akhirnya ia pindah ke pelajaran Fisika. Tidak bertahan lama, si Fulan resah dengan huruf dan angka yang membosankan dan membuatnya pusing. Akhirnya ia memilih pelajaran menggambar.

Apakah dia mahir dalam membuat gambar? Ternyata belum terbukti kemahirannya, ketika harus berjam-jam mencari pensil gambar miliknya yang hilang, dia menjadi kesal. Pensil yang dicari itu memang tidak bisa ditemukan, ia memilih untuk membelinya di toko terdekat. Pergilah ia ke toko yang menjual alat-alat tulis, karena ada uang lebih, ia beli cemilan untuk menemaninya ketika belajar. Sesampainya di rumah dia berpikir kalau cemilan tanpa minuman nampaknya kurang sempurna sepertinya kopi adalah pilihan tepat untuk menghilangkan kantuk. Sayang, air panas dan gula tidak tersedia, terpaksa ia merebus air panas dan kembali ke toko membeli gula. Tanpa sengaja matanya menatap jam dinding di toko itu, yang jarum pendeknya menunjukkan angka 10 sedangkan yang panjangnya mengarah angka 6, dia pun lari pontang-panting.

Malam telah larut, cemilan habis, kopi pun tak tersisa. Pensil gambar tercecer dan kertas gambar pun bersih tanpa coretan. Keampuhan kopi pun belum mampu mengalahkan kantuk, akhirnya ia tertidur dengan tenang. Orang seperti Fulan ini sebenarnya tidak memiliki perencanaan yang baik. Banyak waktu yang terbuang sia-sia, walaupun terlihat sibuk namun tidak efektif dan efesien. Hikayat singkat yang dipopulerkan Aa Gym di atas mengharapkan kita untuk kembali menata niat, agar eksistensi kesalehan dan kualitas potensi diri menunjang daya guna kemaslahatan dan peradaban umat Islam. Serta menjauhkan diri dari pelanggaran terhadap rambu-rambu hidup dan meninggalkan gaya hidup yang tidak teratur, karena itu semua akan menghipnotismu pada kejahatan secara diam-diam.

HIJRAHLAH KE LINGKARAN KEBENARAN

Usaha untuk perbaikan diri akan selalu ada dan terbuka lebar untuk kita. Jika kita ingin berubah sama artinya kita sudah berniat hijrah dari suatu lingkaran kekalahan kepada lingkaran kebaikan, karena kalimat hijrah berarti berpindah dari satu perilaku kepada perbuatan yang lebih baik lagi. Jika kita tetap seperti sebelumnya tidak ada nilai perubahan maka kita termasuk yang merugi.

Berikut ini Anis Matta membuat sistem lingkaran yang agar kita berada di sekeliling orang yang berazam untuk berubah. Yaitu sistem lingkaran kebenaran, siapapun yang berbicara dengan dia, mendengarkan dan melihat tingkah lakunya akan mendapatkan pancaran kebenaran. Setiap kali orang masuk dalam lingkaran ini, dia akan menemukan pancaran kebenaran darinya artinya sebagai muslim beberapa diameter dalam jarak kita ini adalah lingkaran kebenaran. Setiap kali orang masuk ke dalamnya dia akan mendapat pancaran kebenaran, ketika dia berbicara dengan anda, mendengar, dan menatap langsung anda, juga ketika anda berjalan ia merasakan dalam sebuah siklus lingkaran kebenaran. Maka mulailah saat ini ciptakan lingkaran kebenaran itu pada diri kita.

Maka tanamkan lagi fitrahmu sebagai sang juara, lalu hijrah ke dalam lingkaran kebenaran yang berlandaskan Allah dan Rasul-Nya, ambillah hikmah tiap momentum yang ada serta hindari dirimu dari hal yang sia-sia, maka dengan itu kita semua sudah mulai menghargai waktu ini dengan baik. Karena ingat, kita ini telah dan akan senantiasa berkompetisi dengan waktu, satu desah nafas adalah satu langkah kita menuju maut. Selamat menyeduh air kebaikan di lembah peradaban!

Penulis: Muhammad Hadi

"Al waqtu kassaifi fain lam taqtho’uhu qotho’aka.   Waktu itu bagaikan pedang jika kamu tidakm memotongnya (memanfaatkannya)  maka i...

1 komentar:

  1. Subhanallah, begitu mendalam tulisannya. Akh Hadi memang juara dalam mengukir kata..:)

    BalasHapus