LGBT. Be Aware, Beware!

April 09, 2012 Forum Tarbiyah 4 Komentar

LGBT itu epidemic. Menular. Ia menyebar bagai virus. 

L . G . B . T .
RUU KKG tengah marak dibincangkan. Salah satu golongan yang gigih menuntut pengesahan RUU ini adalah komunitas LGBT. Siapakah mereka? Inilah kaum yang terdiri dari para Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender. Bagaimanakah mereka ini? Benarkah mereka terlahir demikian? Mari kita telusuri bersama.

Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang berprilaku, berfikir, dan terlihat berbeda dengan jenis kelamin yang ditetapkan saat lahir. Mereka inilah yang biasa disebut waria. Pria yang berprilaku seperti wanita, dan memiliki ketertarikan seksual kepada, tentu saja, siapa lagi kalau bukan pria.

Sahabat, pernah dengar istilah hermaprodit, kan? Yups, ini adalah istilah untuk makhluk yang memiliki alat kelamin ganda. Ditemukan tidak hanya pada hewan, namun pada manusia juga. Konon, dari setiap 2000 bayi yang lahir, satu diantaranya adalah hermaprodit. Yang lazim terjadi, penyebab hermaprodit adalah disebabkan oleh ketidaknormalan susunan kromosom atau ketidakseimbangan hormon. Orang yang hermaprodit bisa memiliki dua organ seksual pria dan wanita secara bersamaan. Namun biasanya, salah satu lebih mendominasi. Maka, genital surgery dilegalkan untuk kasus seperti ini.

Melihat keterangan tadi, jelas sekali bahwa transgender berbeda dengan hermaprodit. Karena faktor perubahan identitas jenis kelamin kaum transgender biasanya lebih disebabkan oleh dorongan jiwa (hawa nafsu).

Sementara itu, status biseksual biasanya ditujukan untuk orang normal (bukan hermaprodit) yang memiliki ketertarikan seksual baik terhadap pria maupun wanita. Pendeknya, heteroseksual iya, homoseksual juga. Jelas sekali disini, faktor psikologi yang menjadi pemicu.

Lalu bagaimanakah dengan kaum homoseksual? 

"Jangan salahkan kami kalau kami ini gay. Ini keturunan. Genetik!” Ah, ya. Kalimat seperti ini tentu seringkali terlontar dari mulut mereka. Tapi benarkah faktor genetik yang menjadikan seseorang berstatus gay?

Sebuah riset pernah dilakukan berkenaan dengan hal ini oleh Simon Lavey. Partisipan adalah para homoseksual dan heteroseksual (normal) pengidap AIDS. Ditemukan bahwa ada perbedaan ukuran otak di hyphothalamus, tepatnya di bagian tengah daerah preoptik. Otak kaum homoseksual ini, ukurannya 2-3 kali lebih kecil dari pada ukuran otak lelaki normal. Maka disimpulkan bahwa homoseksual itu terjadi karena memang ada penyebab alaminya. Ih, bahagia deh mereka.

Weitts, sebentar. Memang benar ada perbedaan size otak antara heteroseksual dan homoseksual. Namun ada penjelasannya. Apa yang terjadi dalam otak manusia tersebut sebenarnya adalah Brain plasticity atau Neuroplasticity. Yaitu dimana fungsi/fisik otak akan mengalami perubahan akibat adaptasi lingkungan. Jadi, karena mereka berprilaku gay, maka organ otak dan fungsinya pun ikut berubah. 

Contoh simpelnya seperti para binaragawan. Apakah ketika lahir dulu mereka sudah berotot gitu? Tidak, kan?! Dan ingat, gay couple itu tidak bisa memiliki keturunan biologis. Maka teramat sangat tidak mungkin sekali (panjang bener taukid-nya) ‘penyakit’ mereka menurun ke generasi selanjutnya. Selain itu, ditemukan pula bahwa penyebab mengecilnya ukuran otak kaum homoseksual tadi sebenarnya adalah akibat keganasan penyakit AIDS itu sendiri.

Mengenai dalil genetik ini, sebuah argumen menarik disampaikan oleh Prof. Malik Badri, seorang psikolog muslim besar abad ini. Dalam bukunya The Aids Crisis beliau mengatakan bahwa sekiranya homoseksual benar disebabkan oleh faktor genetik, maka tentu seluruh umat manusia memiliki kecenderungan berprilaku demikian tanpa terkecuali.

Beliau pun menambahkan. Saat mereka menyebutkan faktor keturunan (gen) sebagai alasan, maka itu sama saja artinya mereka menuduh Tuhan sebagai penyebab. "Kami diciptakan begini. Cek saja DNA ini". Menyalahkan Tuhan atas prilaku amoral pribadi? MasyaAllah. 

Maka jelas sudah, faktor lingkungan memiliki andil besar disini. Diantaranya adalah pendidikan yang salah pada masa kecil, seperti membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, atau sebaliknya. Disamping faktor ekonomi (kemiskinan) dan sosial (pergaulan), trauma akibat kekerasan fisik, verbal, mental bahkan seksual juga dapat menjadi pemicu prilaku amoral ini. 

LGBT itu epidemic. Menular. Ia menyebar bagai virus. Lantas berapakah kiranya besar populasi mereka saat ini? Tidak ada yang tahu berapa jumlah pastinya. Namun, survey di Amerika tahun 2000 menyebutkan bahwa bilangan LGBT terus meningkat setiap tahunnya. Dan menurut kesimpulan sementara, besar ratio adalah 1:5. Artinya, dalam setiap 5 orang, 1 diantaranya berstatus LGBT. 

Di Inggris, sensus sekitar tahun 2005 mengatakan bahwa jumlah populasi homoseksual adalah sebesar 6%, atau setara 3.6 juta dari total penduduknya. Sementara di Indonesia, menurut data IGAMA, sebuah komunitas gay di indonesia, jumlah populasi LGBT saat ini adalah sekitar 800.000 orang dan tersebar di berbagai wilayah. Tidak menutup kemungkinan, kaum ini juga exist di negara-negara muslim lainnya. Hanya saja tidak tertangkap oleh radar.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Media massa memainkan perannya! Propaganda LGBT salah satunya adalah lewat entertainmanet. Dalam serial GLEE yang kini tengah populer, siapa sih yang tidak kenal dengan karakter Kurt Hammel (Chris Colfer)?! Mirisnya, ia kini menjadi idola kaum muda. Queer Eye For The Straight Guy, justru mengusung pesan yang lebih tajam. Dalam film ini, laki-laki gay dicitrakan lebih ‘superior’ dalam beberapa hal dibanding pria normal. Pesan tersiratnya, cowok normal itu ternyata ngga becus. Sopan sekali! 

Netralisasi konsep homoseksual pun semakin gencar.

"Gay itu bukan penyakit. Hanya variasi seks”. Wahh, kalau dianalogikan, ini sama saja seperti kita mau makan, pilih lauk ikan, ayam atau tempe, apapun sah saja. Tidak ada yang salah. Homoseksual, yang awalnya dianggap sebagai penyimpangan seksual (sexual deviant) kini menjadi lebih positif, hanya variasi seksual (sexual variant).

Bahkan sekarang muncul pula istilah homophobia, sebutan bagi orang-orang yang masih bersikukuh menentang homoseksual. Kalau kita cermati lebih dalam, penggunaan kata ini justru menunjukkan bahwa kita-lah yang abnormal.

Apa akibat dari propaganda media ini? Fatal sekali! Secara tidak sadar, masyarakat perlahan akan menerima bahwa LGBT itu bukan lagi suatu aib, dosa. Kerusakan moral tentu akan terjadi dimana-mana. Perkawinan sesama jenis, kerancuan nasab keturunan, hingga penyebaran penyakit seperti AIDS akan semakin tidak terbendung. DAn satu hal yang pasti, ras manusia diambang kemusnahan. 

So, beware of LGBT! 

Wallahu a'lam

Penulis: Ratih Febrian

Referensi:

  1. Badri, M. (2000). The aids crisis: a natural product of modernity’s sexual revolution, Kuala Lumpur: Madeena books
  2. Juwilda. (2010). Transgender: manusia keragaman dan kesetaraannya.
  3. Larsen, R. J. (2002). Personality psychology: domain of knowledge about human nature, New York: McGraw-hill.  
  4. Robison, J (2000). What percentage of the population is gay? Retrieved from http://www.gallup.com  
  5. Kusno, G (2011). Isu ‘ gay’: topic tabu di indonesia. Retrieved from http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi
  6. Ziz. (2011). Dibanding hetero, jumlah kasus hiv aids pada gay tergolong kecil. Retrieved from http://www.igama.or.id

LGBT itu epidemic. Menular. Ia menyebar bagai virus.  L . G . B . T . RUU KKG tengah marak dibincangkan. Salah satu golongan ya...

4 komentar:

  1. astaghfirullah..mengerikan !

    BalasHapus
  2. dan sedihnya.. banyak remaja2 muslim yang menggandrungi film2 semacam Glee. Gak sadar kl nilai2 didalamnya sedikit demi sedikit mempengaruhi perilaku. GF yang halus, tersusun sangat rapi :'(

    kak izin share ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. @tami. Silahkan neng.

      adalah tugas kita semua untuk mencegah kemungkaran, bukan?!

      Hapus
    2. jangankan Glee.. klo inget komik anak2 spt Card Captor Sakura jg ternyata ada unsur promote LGBT juga... astaghfirullah...

      Hapus