Ramu Tulisanmu, Lahirkan Bukumu!

Maret 27, 2012 Forum Tarbiyah 1 Komentar

oleh Tami Astie Ulhiza

"Menerbitkan sebuah buku, memang bukan perkara yang mudah. Ditolak sekali atau dua kali, itu hal yang biasa bagi penulis, apalagi penulis yang masih terbilang hijau".

Forum Tarbiyah kembali menggelar bengkel penulisan untuk yang ketiga kalinya. Acara yang akrab dengan sebutan BPF ini dilaksanakan pada Sabtu, 24 Maret 2012 kemarin di Econs LR 3.9. Kali ini, BPF mengangkat tema “How to publish our book” yang disampaikan langsung oleh seorang penulis senior, Alwi Alatas. Lewat presentasi dan diskusi interaktif ini, pembicara menjabarkan gambaran umum serta kiat-kiat bagaimana caranya ‘menelurkan’ sebuah buku dengan sukses. Penasaran? Yuk kita intip hasil rangkuman kami dibawah ini.

Menerbitkan sebuah buku, memang bukan perkara yang mudah. Ditolak sekali atau dua kali, itu hal yang biasa bagi penulis, apalagi penulis yang masih terbilang hijau. Bahkan, naskah dari penulis sekaliber Alwi Alatas pun, pernah ditolak oleh beberapa penerbit. Agar naskah kita bisa menembus penerbit dengan sukses, secara umum, ada beberapa elemen dasar yang perlu diperhatikan.

Pertama, writer atau penulis. Sebagai seorang penulis, ketahuilah kekuatan dan kelemahan kita. Pahami bagaimana kecenderuangan warna tulisan kita. Ada orang yang memiliki kecenderungan menulis artikel non-fiksi. Ia bisa menganalisis suatu fenomena masyarakat dengan tajam dan akurat. Tetapi ketika diminta untuk membuat sebuah puisi, cerpen, atau tulisan sejenisnya (yang notabene memerlukan kalimat-kalimat puitis dan indah bak seorang pujangga), pusing bukan kepalang.

Memang agak sulit dan perlu belajar lebih dalam, untuk menemukan dimana karakter tulisan sendiri. Tapi kita bisa memulai dengan mencoba semua jenis tulisan: agama, novel, sejarah, cerita anak, psikologi, edu-teen, motivasi spiritual, cerpen, dll. Selanjutnya, ketika kita sudah menemukan karakter tulisan, fokuslah pada bidang itu. Dalami dan jangan berhenti belajar. Perbanyak juga membaca buku-buku best seller, lihat bagaimana cara si penulis merangkai kata demi kata didalamnya. Cari keunikan dari buku itu yang menyebabkan bukunya bisa menembus publisher.


Kedua, publisher atau penerbit. Biasanya, penerbit juga fokus pada bidang tulisan tertentu. Penerbit besar Gramedia mempunyai sub-sub penerbit sesuai genre-nya. Sebut saja PT Elex Media Komputindo yang biasa menerbitkan buku yang berkaitan dengan komputer. Contoh lain, Mizan menerbitkan buku-buku mengenai ‘how to-‘ dibawah penerbit Kaifaa. Maka sebagai seorang penulis, kita perlu tahu kemana naskah ini harus ditujukan. Jangan sampai salah alamat, bisa-bisa langsung direject.

Proses dari sebuah naskah menjadi sebuah buku, tidak serta merta dari penulis langsung ke pihak penerbit. Di Indonesia, biasanya melewati sebuah agen. Agen inilah yang akan mencarikan penerbit mana yang cocok dengan naskah tersebut. Ketika dirasa sudah klik, tinggal menunggu pemberitahuan dari pihak penerbit. Kalau diterima, bisa langsung tanda-tangan kontrak dan diskusi lebih jauh sistem royalti antara kedua belah pihak.

Ketiga, market atau pasar. Permintaan pasar ternyata ikut mempengaruhi penerbitan sebuah buku, karena penerbit juga mempertimbangkan sisi komersil dari buku tersebut. Dengan kata lain, kita harus pintar-pintar menganalisa motif seorang konsumen membeli buku. Pada umumnya, kualitas adalah pertimbangan pertama mengapa konsumen mau membeli buku tertentu. Selain itu faktor siapakah penulisnya biasanya juga menjadi pertimbangan. Buku ‘Melukis Pelangi’ bisa menjadi best seller seketika, padahal, buku itu adalah buku pertama si penulis. Kalau kata Asma Nadia: Optimalkan self marketing. Ciptakan penokohan dan citramu sebagai seorang penulis. Nah, catet ya!

Keempat, moment. Tahukah anda mengapa buku ‘Laskar Pelangi’ bisa diterbitkan dan laku keras bahkan menjadi best seller, padahal penerbitnya masih terbilang kecil? Ini karena Andrea Hirata berhasil memotret kondisi pendidikan di Indonesia dan mambahasakannya dalam bentuk novel sehingga buku ini seakan menyuarakan kritik sosial pembaca terhadap pendidikan di Indonesia pada saat itu. Kemudian disusul dengan kesuksesan Ahmad Fuadi dengan ‘Negeri 5 Menara’-nya yang masih bergenre sama. Maka, dalam menerbitkan sebuah buku, momen yang tepat perlu dipertimbangkan. Perhatikanlah kesesuaian antara konten buku dengan kondisi pasar. Ketika isu teroris sedang menghangat, tidak ada salahnya mencoba menulis tentang ini. Hmm.. kalau sekarang, menulis tentang Tomcat kira-kira bisa dipublish dan laku keras ngga ya?

Dari keempat point tadi, penting untuk digarisbawahi, bahwa untuk membukukan sebuah naskah memerlukan kesabaran dan keuletan yang besar. Jangan pesimis meskipun naskah kita ditolak berkali-kali. Justru jadikan itu sebagai pembelajaran bagi kita untuk melihat dimana letak kesalahannya. Jangan sungkan pula untuk meminta kritik dan saran dari teman-teman, penulis senior, bahkan penerbit sekalipun. Dengan demikian, kita bisa terus memperbaiki dan mengembangkan potensi ini. 

Jadi, berani terima tantangan 1 buku sebelum mati??

oleh Tami Astie Ulhiza "Menerbitkan sebuah buku, memang bukan perkara yang mudah. Ditolak sekali atau dua kali, itu hal yang biasa bag...

1 komentar:

  1. bisa jadi juga karakter tulisan ada hubungannya dengan karakter pribadi.

    BalasHapus