Mengintip Pelangi di Waktu Hujan

Maret 26, 2012 Forum Tarbiyah 8 Komentar

Oleh Sukanto
Setelah hujan terburai, giliran pelangi bersurai
Bismillah Tawakkaltu Alallah, Laa haula wala kuwata Illa billahiladzim.

Ku langkahkan kaki mengharap ridhonya, moga briefing EPT (Tes Masuk Bahasa Inggris) dan APT (Tes Masuk Bahasa Arab) yang diadakan PPI-IIUM membantu saya untuk ujian besok. Kampus ini begitu luas, dengan beratapkan warna biru langit, moga nian ilmu yang kudapatkan lebih luas dari apa yang ku harapkan dan bisa menggapai cita-cita yang masih bernada dalam setiap munajatku.

Briefing APT dan EPT nya berlangsung dengan singkat, karena waktunya memang tidak kondusif yang dimulai setelah solat Ashar.

“Syukron atas kehadiran antum semua, semoga ujian EPT dan APT-nya berjalan lancar dan semua anak baru angkatan 2010 semester dua exit”, pembawa acara mengakhiri briefing tersebut. Kulihat wajah anak-anak seangkatanku yang mulai berhembus dari ruangan ini, pada umumnya masih berwajahkan keragu-raguan untuk ujian besok.

“Assalamu’alaikum, antum syafiq kan?” Tanya pembawa acara tadi.
“Iya, benar. Ada apa akh?” Tanyaku balik.
“Antum sudah ikut halaqoh? Kalau belum, biar ana carikan.” Katanya.
“Boleh akh. Kebetulan ana belum dapat informasi halaqah di kampus ini.” Jawabku.
“Ok, nanti ana kabari antum, nama murabby antum Ustadz Yusron“ jelasnya.

Alhamdulillah, setidaknya ada yang mengoreksi dan memperingatiku ketika aku salah dan jauh dari orang tua. Jadi ingat keluarga di kampung, sejenak ku lihat perbukitan yang mengelilingi kampus dengan pandangan kosong, berharap semua keluargaku yang jauh disana tetap dalam keridhoannya. Hufff, sambil melepaskan nafas panjang aku mulai berwudhu untuk solat maghrib.

Usai sudah ujian EPT dan APT hari ini, moga hasilnya tidak mengecewakan. Setidaknya sesuai dengan kemampuanku. Enam jam dalam ruangan yang begitu dingin, membuatku terkadang tidak fokus dalam ujian. Perkiraanku salah, kukira habis hujan reduplah petir. Ternyata ada juga gerimis. Setelah berhadapan dengan EPT dan APT dilanjutkan dengan Ta’aruf week atau di Indonesia dikenal dengan Ospek, dimana selama seminggu 80% semua anak baru akan dikomandoi dengan aturan-aturan yang melelahkan. Hand phone bututku bergetar, ada pesan dari nomor baru.

“Assalamualaikum, akh. Rabu malam kita akan memulai Halaqah pertama dan sangat diharapkan kedatangannya. Syukron”. Tersenyum melihat gerimis, karena harapan pelangi setelahnya sudah mulai nampak, moga nanti dengan halaqah ini menambah warna hari–hariku di kampus ini. Kenalan di kampus ini memang belum seberapa, hanya si Dias dan Vita yang ku kenal. Itupun karena satu sekolah di waktu Madrasah dulu. Walaupun namanya Ta’aruf Week, tapi kenalanku tetap juga sama seperti adakalanya aku pertama-tama masuk ke kampus ini.

Baju putih lengan panjang dengan celana hitam, gayanya pas seperti anak SMK yang Praktek Lapangan di daerahku. Berjalan menyusuri kampus dari ujung ke ujung untuk sampai ke CAC, tempat diadakannya Ta’aruf Week. Sebenarnya bus kampus ada. Tapi karena masih baru, masih malu-malu dan lebih semangat menyusuri kampus sambil melihat gedung-gedungnya.

“Anyone here? “ sambil menunjuk bangku aku bertanya pada mahasiswa disampingku.
“No, Please ! “ jawabnya, dengan berlogatkan Arab.

Sambil duduk, ku perhatikan dari sudut ke sudut ruangan itu. Yang kulihat hanyalah keberagaman Warga Negara mahasiswa baru, mulai dari benua Eropa, Afrika dan Asia. Namun keberagaman itu disatukan dalam satu wadah dan ideologis, yakni Islam.

Lelah, ngantuk dan pegal-pegal, itulah yang ku rasakan selama diruangan ini. Namun akhirnya acara ini selesai sudah setelah menjelang adzan maghrib, dan akan dilanjutkan halaqah pertamaku malam ini setelah solat isya di mesjid besar kampus lantai tiga sebelah kanan.

Bismillahirrohmanirrohim, kubuka pintu masuk lantai tiga sebelah kanan, Mataku tertuju pada sebuah lingkaran halaqah yang masih tilawah.

“Assalamualaikum, ini halaqah yang disarankan Akh Hidayat ya ?” Tanyaku.

“Benar, silahkan duduk. Nanti kita ta’arufnya.” Jawab salah seorang peserta halaqah yana mengenakan baju kemeja kotak-kotak warna hitam. Tilawah mereka begitu sempurna, sehingga membuatku nervous untuk memulai giliranku. Namun Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar.

Ustadz yang kelihatan masih muda itu memulai halaqah dengan salam. Kata-katanya begitu santun dan penjelasannya mudah dimengerti tentang perbedaan hadiah dan shadaqah. Di mulai dari cerita Rasulullah yang tidak mau menerima sedekah, dan hanya menerima hadiah. 

Dan diakhir halawah, kami diminta saling memperkenalkan diri, ternyata murabby-ku sedang mengambil S2 fakultas Fiqh dan Ushul Fiqh dan di kampus yang sama. Tanpa terasa aku mulai dekat dengan seorang mahasiswa yang berbaju kemeja kotak-kotak warna hitam tadi, namanya Hidayatullah. Hhmmm, nama yang bagus dan sempurna. Ia berasal dari Aceh. Persaudaraan itu memang indah, bila datangnya dari Allah. Baru beberapa menit yang lalu kami berkenalan, tapi pembicaraan kami bagaikan sudah berkawan lama.

“Untuk sekedar Informasi, kamis malam ada qiyamul lail yang diadakan Organisasi IMMA (Ikatan Mahasiswa Muslim Indonesia). Yang bisa hadir silahkan datang. Bahkan ana sangat mengharapkan antum semua menghadiri program ini.” Jelas Ustadz Yusron sambil memotong pembicaraan kami.

Qiyamul Lail??? Wahhh pasti seru ni, dan harus ikut dong, gagasku dalam hati sambil tersenyum kepada ikhwan yang duduk disampingku. Sekarang pelangi itu bukan lagi harapan dan hasil prediksi belaka, tapi memang sudah di depan mata.

Subuh yang disambut hujan deras membuat diriku malas untuk menghela selimut dari tubuh ini, apalagi hari ini masih ada agenda ta’aruf week. Aghhhh… malas sekali harus duduk untuk mendengarkan briefing dan briefing. Walau pulau Sumatera masih bisa disebut dekat dengan pulaunya Malaysia, namun tubuhku masih harus bisa beradaptasi dengan cuaca di Kuala Lumpur ini. Tengah malam yang begitu gerah namun dinginnya dipagi hari sampai menusuk tulang.

Tiba-tiba pikiranku fresh, dan mataku langsung terbuka hanya karena mengingat kata-kata ustad Yusron tentang kehebatan syetan menipu daya manusia untuk keluar dari jalan-Nya. Selimut yang tadi merapat langsung ku singgirkan dan segera menuju kamar mandi untuk berwudhu’.

Baju kaos IIUM yang dipakai serentak anak baru dan celana olahraga semasa di MAN dulu mengcover penampilanku hari ini untuk ta’aruf week. Dengan do’a, ku langkahkan kaki ini dan berharap keluargaku dilindungi dan semua urusan ummat dimudahkan oleh-Nya.

Wahhhh orang-orang pada naik Bus kampus tuh, lanjuuuuttttt. Aku pun ikut naik lalu duduk di bangku nomor 4 dari belakang dengan seseorang yang berparaskan Indonesia, namun aku hanya bisa diam tanpa kata sambil membaca Al-ma’surat yang belum kubaca tadi pagi.

“Assalamualaikum, orang Indonesia?” Tanya teman sebangku yang berparaskan wajah Indonesia tadi.
“Waalaikum salam, ww. Iya, ana Orang Indonesia dari Padang.” Jawabku sambil menutup al ma’surat.
“Ana mau tanya, bangunan Kulliyah Of Economic and Management Science. Dimana ya? “ dengan wajah keragu-raguan sambil melihat keluar.
“Ohh.. Bangunannya tempat ana naik Bus ini tadi, mas. Tapi ngga apa-apa. Ini kan one way, ntar kesana juga kok.” Jawabku.
“Syukron ya, soalnya baru pertama kesini.” Jelasnya balik.

Begitulah perbincangan kami diatas Bus, hingga aku tahu kalau dia anggota IMMA namun sudah bekerja di Petronas Malaysia, berizajahkan S1 ITB dan S2 di Amerika. Wahhh… hebat banget, walau dia tamatan Amerika tapi Islamnya tetap bisa diacungin jempol.

Keringatan, lelah, gerah menyatu semua sesampainya di kamar setelah satu hari penuh Ta’aruf week di CAC. Melihat tempat tidur dengan godaan yang sangat menggiurkan untuk berbaring dan tidur. Opsss…hapir lupa, kalau malam ini ada qiyamul lail IMMA. Segera ku beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersiap-siap qiyamul lail nanti malam.

Setelah solat isya, dan solat sunnah dua rakaat aku langsung menuju lantai tiga sebelah kanan. Di depan pintu lantai tiga, aku disambut oleh beberapa akhwat untuk registrasi dan disuguhkan beberapa bungkus snack plus air mineral. Persiapannya bagus dan mesjid lantai tiga sudah dimodifikasi laksana kelas. Dibarisan depan terlihat orang-orang yang sepertinya pernah bertemu sebelumnya.

“Assalamualaikum..” Menyapa orang-orang disekelilingku.
“Waalaikum salam. Silahkan duduk akh.” Jawab salah satu panitia.
“Syafiq!” Sahut orang yang sudah familiar bagiku.
“Hidayat?? Antum sudah sampai toh??” Tanyaku balik. Dikala aku menyapa Hidayat, ikhwan yang disampingnya menatapku. Keningku berkerut untuk mengingat wajah itu. Ya, dia adalah orang yang sama, yang bertemu di Bus kampus dua hari yang lalu.
“Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi ya.” Sahutnya yang ku kenal namanya Syarif.
“Iya akh. Antum ikut juga ya???” Tanyaku balik.

Setelah beberapa menit saling tanya jawab, akh Syarif ternyata seorang Murabbi dan akan mengisi taujih malam ini, sangat mengejutkan bagiku ketika dia menjelaskan manfaat qiyamul lail dan kisah Rasulullah diwaktu melaksanakan qiyamullail dengan ringkas, jelas dan rasanya lebih semangat lagi untuk melaksanakan qiyamul lail.

Malam itu qiyamul lailnya di imami ustad Yusron, dan dilanjutkan dengan ibadah-ibadah lainnya hingga waktu subuh datang. Kemudian kami langsung turun ke bawah untuk solat subuh berjama’ah. Ngantuk dan sedikit pusing tidak terlalu menghalangiku dan para ikhwan yang lain untuk melakukan rentetan acara selanjutnya, yakni membaca al-ma’tsurat. Tetap semangat. Dan akhwat juga tidak kalah semangatnya dengan yang ikhwannya. Saling berlomba-lomba dalam Ibadah dan kebaikan.

Satu malam telah selesai, kembali ke kamar dan istirahat sejenak, untung ta’aruf weeknya mulai jam 11.20 jadi bisa istirahat. Di sepanjang perjalanan menuju asrama, aku trus bertanya tentang Ustad Syarif yang konon katanya juga pernah jadi murabbinya si Hidayat.

“Apa? Ustad Syarif pernah jadi murabbi antum???” Tanyaku terkejut.
“Iya, kenapa??? Bukannya kau sudah tau kalau dia salah satu murabbi di halaqah-nya IMMA?”
“Iya, akh. Aku tahu tadi malam, bahkan aku sangat kagum melihatnya dari fakultas non-Islamic Studies dan kulliyah S2 di Amerika, agamanya tetap jalan juga.” Jelasku.
“Trus, apa masalahnya Fiq???” Tanya Hidayat balik.
“Ya… agak heran juga sih Mat, antum kan student IRK, ambil Ushul Fiqh lagi, masak Murabbinya tamatan S2 tekhnik Elektro di Amerika sih???” Jelasku sambil mengangkat tangan meminta jawaban Hidayat.
“Apa salahnya? Antum pernah dengar kata-kata ini ngga?! ‘jangan melihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang disampaikannya.” Pungkas Hidayat sambil merapikan Kaca matanya. Aku hanya bisa diam, sambil menyusuri persimpangan ke asramaku.
“Syukron akh atas penjelasannya. Aku berharap ustad Syarif bisa jadi Murabbiku, karna aku belum pernah merasakan gimana rasanya mempunyai seorang Murabbi lulusan S2 Tekhnik Elektro di Amerika.” Jelasku sambil menatapnya di persimpangan ke kamarnya.
“Sama-sama Fiq, insyaallah Asyik kok.” Sahutnya dari kejauhan.

Pucuk dicinta Ulam pun tiba. Pas banget apa yang ku inginkan. Baru dua hari yang lalu berdebat dengan Hidayat tentang sosok Ust. Syarif. Sekarang dapat sms kalau yang ngisi halaqah malam ini ust. Syarif, walau ada rasa kecewa karena ngga lulus EPT dan APT, setidaknya terobati dengan murobby baruku ini.

Tabas!!! Sahutku sambil menghembuskan nafas dengan lega.

Setelah dua hari ke kampus, dosen yang mengajar tidak ada juga. Katanya karena masih waktu add and drop subject. Jadi kesal nih liat kampus. Sambil goyang lutut balik ke asrama aku bertemu dengan Dias dan Vita dipersimpangan jalan ke pustaka.

“Syafiq! Lamo ndak Nampak. Ba a carito ?” Lama tak jumpa, apa kabar, tanya Vita.
“Ehh. Vita. Iyo Vita. Ambo indak lulus bahaso doh. Ba a lai ko?” Aku ngga lulus tes bahasa. Kalian gimana? Tanyaku balik dengan gaya putus asa.
“Inda a do Fiq, kami indak juo lulus, kato kakak kelas wak, tu biasonyo memang umum e urang baraja di CELPAD luh. Kami juga ngga lulus. Kata kakak kelasku, itu sih biasa. Kita belajar di CELPAD dulu." Jawabnya.
“Ok,, lah. Ambo kabalik lu dih, indak ado karajo dikampus doh” Aku balik kamar ya. Di kampus ngga ada kerjaan nih, jelasku sambil memulai langkah.

Kampus ini begitu ramai. Tidak seperti pertama kali aku sampai, laksana kota mati yang ditinggalkan para penghuninya. Sambil melihat gedung-gedung kampus, mataku tertuju pada menara mesjid yang sudah mulai hilang ditutupi bangunan lain. Jadi teringat nanti malam ada halaqah di tempat yang sama dengan ust yang berbeda.

Waktu yang sama setelah solat isya berjama’ah di mesjid aku menuju lantai tiga, tepat pada sasaran. Ust Syarif dan beberapa anggota yang lainnya sudah sampai duluan. Halaqah yang dimulai seperti biasa dengan tema ‘Menyeimbangkan kebutuhan Jasmani dan Rohani’, penjelasan mengenai pandangan islam terhadap kesehatan dan kebersihan yang sangat mendalam yang belum pernah aku dapatkan di halaqah sebelumnya. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bahwa kebutuhan rohani harus dipupuk agar hati, jiwa dan pemikiran tidak terinfeksi dari segala sifat-sifat mazmumah. 

Perfect! Itulah yang bisa ku ungkapkan pada murobby-ku ini, yang tidak membeda-bedakan ilmu sehingga membuatnya seperti ini. Setelah meraih gelar S2 di Amerika dan mendapatkan pekerjaan yang layak di Petronas, tidak membuatnya puas dengan ilmu pengetahuan hingga ia melanjutkan S3 di Universitas yang sama denganku. 

Iri pada kebaikan itu bagus, kata Asma Nadia disalah satu bukunya. Maka tidak ada salahnya aku iri pada Murabby-ku yang semangat dan istiqomah terhadap ilmu pengetahuan ini. Sambil jalan menuju balik ke asrama aku tak sadar kalau Hidayat di sampingku sudah lama memperhatikanku ketika aku berhayal seperti Murobby-ku yang keilmuannya tidak seperti yang kubayangkan.


“Ana tau ni, pasti antum heran kan lihat ustadz Syarif?” Tanya Hidayat.
“Iya akh, antum benar. Ternyata aku salah menilai ustadz Syarif tentang keilmuannya.” Jelasku
“Jadi mulai sekarang ingat, jangan lihat siapa yang bicara tapi, lihatlah apa yang disampaikannya.” Pungkas Hidayat.
“Heheeh, iya akh” jawabku balik sambil garuk-garuk kepala.

Kujejaki satu persatu tangga menuju kamarku di lantai empat sambil mengingat-ingat pesan ust Budi, dan bersyukur pada-Nya karena dipertemukan dengan akh Rahim dan Hidayat yang akan menambah sejarah dalam perjalanan hidupku. Pelangi yang Ku intip diwaktu hujan kini telah menampakkan warna, moga nian pelangi ini tetap memberi warna dalam setiap lembaran yang kujalani nantinya.

Oleh Sukanto Setelah hujan terburai, giliran pelangi bersurai Bismillah Tawakkaltu Alallah, Laa haula wala kuwata Illa billahiladzim. ...

8 komentar:

  1. the rainbow circle is just beautiful, it brings all colors together after the rain.

    teman2, mari berkaca, sudah sejauh mana simpul lingkaran pelangi ini terjalin. sesering apa kita menyebut nama saudara kita dalam lantunan doa rabithah?
    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan kecintaan kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam dakwah-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah, kuatkanlah kasih sayangnya, tunjukanlah jalannya dan penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya, limpahkan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu dan matikanlah dalam keadaan yahid dijalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik penolong dan pelindung. Aamiin…

    BalasHapus
  2. sungguh, bersaudara atas nama iman adalah sebaik-baik ikatan. Sekalipun jiwa sempat layu akibat terpaan topan, Hangatnya ukhuwah menegakkan kembali kuncup keimanan

    BalasHapus
  3. masha Allah,,,,,IIUM banget!!,
    semoga kita istiqomah dalam mentarbiyah diri, keluarga dan umamh...
    SADDAM, syukran cerpennya...terus semangat ya ^_^

    BalasHapus
  4. selain ukhuwah, cerpen ini juga ternyata membawa pesan tentang kejujuran nurani. Kejujuran bahwa Ruhani tidak boleh diabaikan

    BalasHapus
  5. baarakallaahufiikum ikhwah...

    smga dkuatkan kelemahan, dkokohkan kerapuhan, dteguhkan langkah yg goyah...
    :)

    BalasHapus
  6. Wafiikum Jami'an Barokallah ^_^

    BalasHapus