Do’a Farhan

Maret 14, 2012 Forum Tarbiyah 2 Komentar

Oleh Ali Rakhman

Ya Rabb...  ampunilah dosa hamba-Mu yang lalai ini.

Surah al-Baqarah ayat 25 yang baru saja Farhan baca sangat menyentuh hatinya, dia benar-benar tak kuasa menahan rasa sedihnya. Butiran air mata yang jatuh, kini deras tak terbendung menimpa dan membasahi sajadah tahajudnya.

Malam itu langit begitu indah, ditaburi cahaya bintang yang memancarkan aneka warna. Sementara itu, bulan yang tadi sore tertunduk malu, kini tak segan-segan menampakkan kesempurnaan wajahnya.

Burung-burung yang kelelahan terbang tadi siang, kini menikmati hembusan angin malam yang melewati celah-celah daun rindang.

Jam dinding menunjukkan pukul tiga malam, suara bising disekitar asrama mahasiswa kini menjadi lengang, sepi bagai negeri tanpa penghuni. Sesekali suara jengkrik memecahkan suasana.

Dikeheningan malam, terdengar sayup-sayup suara insan, seperti orang yang sedang membaca al-Qur’an, tetapi sesekali terdengar seperti suara tangisan. Semakin lama suara itu semakin jelas, suara tangisan beradu dengan lantunan ayat:

]وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ[
“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan disana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal didalamnya (al-Baqarah: 25).

[ternyata Itu adalah suara Farhan yang sedang menghayati kandungan al-Qur’an].

Farhan adalah seorang mahasiswa yang aktif dalam kegiatan dakwah, karena cintanya kepada dakwah dia pernah mengatakan:

“Jika kehidupan terletak pada nafas, maka dakwah adalah nafasku. Jika kehidupan ini adalah jasad dan ruh maka dakwah adalah ruhku. Dakwah bagai bulan yang menghiasi keindahan malam, bagai embun yang memberikan kesejukan.”

Surah al-Baqarah ayat 25 yang baru saja dia baca sangat menyentuh hatinya, Farhan benar-benar tak kuasa menahan rasa sedihnya. Butiran air mata yang jatuh, kini deras tak terbendung menimpa dan membasahi sajadah tahajudnya.

Sesekali dia menengadahkan tangan kelangit seraya berdo’a

“Ya Rabb… kuatkanlah iman hamba-Mu ini… jadikanlah hamba orang yang cinta kebaikan… agar kelak hamba bisa menikmati surgamu.

Tangisannyapun semakin menjadi-jadi, sedu sedan dibawah pengawasan yang Maha Mengetahui, ketika teringat peristiwa tadi siang yang menggoyahkan imannya. 
Ceritanya…

Siang itu, setelah selesai menunaikan sholat Zuhur berjama’ah Farhan bergegas menuju perpustakaan, seperti biasa Farhan berjalan tidak sendirian selalu bersama “gank angka 1” yang sebaya, seperjuangan, senasib dan sepenanggungan.

Sampai ditikungan merekapun berpisah, karena diantara mereka ada yang mau ke kelas, ada yang mau jaga kantin,  dan yang lainnya ada agenda rapat Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

"Jangan lupa akhi, besok halaqoh ya…, ba’da Isya dimasjid lantai dua sekalian Mabit bulanan LDK!!! Dan tolong ingatin ikhwah yang lain melalui email group halaqoh." teriak kecil Farhan pada Saiful dan Wawan yang kebetulan teman satu group halaqoh.

"Oh ya Farhan, tapi kan murobbi kita berhalangan hadir besok, karena sedang keluar kota?" Sahut Saiful seraya mengingatkan.

"Murrobbi boleh berhalangan akhi…, tapi halaqoh tetap jalan terus…! Antum ya.. jadi pematerinya, temanya manisnya iman." Jawab Farhan menyemangati Saiful.

“Bagaimana kalau temanya: “Menyempurnakan Agama” dan kita membahas hadis ini:

إِذَا تَزَوَّجَ العَبْدُ فَقَدْ كَمَّلَ نِصْفَ الدِّيْنِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ البَاقِي.

“Jika seseorang menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karenanya, bertakwalah pada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

“Bisa aja ente Ful! Beresin dulu kuliahnya”!! Tandas Farhan.

“He..he… Iya deh… bay… bay.. jumpa lagi besok, assalamualaikum.” Saiful pergi meninggalkan Farhan.

Farhanpun terlihat terburu-buru dan mempercepat langkahnya, tapi tiba-tiba… begitu sampai didepan perpustakaan.. langkahnyapun terhenti oleh seseorang yang konon merupakan bagian dari tulang rusuknya, makhluk yang tercipta sebagai pakaian kaum Adam, yang melahirkan anak manusia, yang memberi kekuatan ketika lelah, pemberi semangat ketika lemah. 

Farhan berdiri terpaku diam sejuta bahasa, sambil mengambil sapu tangan dan mengusap keringat dingin diwajahnya, pikirannya jauh dialam antah berantah, detak jantungnyapun diatas rata-rata.

Assalamualaikum akhi Farhan…! Sapa makhluk lembut yang ditakdirkan untuk menemani sang Adam. Yang ternyata mengenal Farhan.

Wa..waalaikum salam ukhti Afifah! Jawab Farhan, dalam kondisi tak stabil.

[Ternyata Farhan menyimpan sejuta perasaan pada Afifah, yang sejak lama ia kenal, namun dia tidak tau cara menyampaikannya isi hatinya, sehingga setiap kali ketemu Afifah dia merasa hilang keseimbangan. sementara Afifah biasa-biasa aja. Kasihan deh Farhan…].

Akhii.. boleh saya minta tolong? Tanya Afifah.

Boleh…boleh… ? jawab Farhan berbunga-bunga… [GR sendiri]

Saya sedang mencari buku, tapi gak ketemu. Padahal sudah muter-muter di Library? Pinta Afifah.

Emang judul bukunya apa?? Tanya Farhan Penasaran

Judulnya: “Ku siap menjadi bidadarimu” Jawab Afifah dengan santai.

[Farhan Hampir saja pingsan. Sebagai seorang yang memiliki hati pada Afifah, judul buku ini semakin membuat Farhan ke GR-an, merasa tertantang, apakah ini isyarat, ataukah ini tanda-tanda yang ia sampaikan melalui judul buku].

Gak salah judulnya itu?? ungkap Farhan penasaran.

Iya… bener… emang kenapa? Afifah balik bertanya

Engg. Engg.. gak ukthti.. Cuma untuk memastikan aja, nanti saya usahakan…? Jawab Farhan dengan gugup. [dalam hati Farhan, 100 judul bukupun akan aku carikan]

Okey.. kalau gitu…Syukron.. akhii… Afifah pergi meninggalkan Farhan.

Sama-sama ukhti! Jawab Farhan sambil memandang Afifah, pandangan diluar keperluan.

[Afifah sudah terlihat jauh, namun Farhan tidak melepaskan pandangannya, seakan-akan berat untuk berpisah. Tentu saja berlebih-lebihan dalam memandang akan menimbulkan panah syaitan. Akan merusak perasaan, dan bisa melemahkan iman].

[Karena merasa imannya lemah saat kejadian tadi siang, Farhanpun menangis ketika membaca ayat tentang kabar gembira bagi orang yang beriman dan beramal soleh].

Farhan pun menyadari kekhilafannya. Dan berdo’a:

“Ya Rabb… ampunilah dosa hamba-Mu yang lalai ini, aku tahu bahwa dunia itu indah…, tapi aku juga tahu… bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan keindahan surga-Mu…,

Apa yang terlihat indah dimataku didunia ini…, semuanya hanyalah jasad yang akan hancur dan lenyap ditelan bumi…. Sedangkan apa yang Engkau janjikan padaku, maka itu akan kekal dan abadi.

Kini aku sedang menunggu kabar gembira yang Engkau janjikan, ku ingin menikmati air sungai yang dialiri susu dan madu bertemankan bidadari-bidadari surga-Mu”

*Kisah ini hanya fiktif belaka, ditengah jutaan cerita insan, yang hidup diantara makhluk tuhan.

Oleh Ali Rakhman Ya Rabb...  ampunilah dosa hamba-Mu yang lalai ini. Surah al-Baqarah ayat 25 yang baru saja Farhan baca sanga...

2 komentar:

  1. namanya juga manusia, getar getar perasaan itu pasti ada. Namun, ketika "ia" datang bagaimana kita segera siaga, sebagaimana Farhan yang mengakui kekhilafannya dengan bijak.

    BalasHapus
  2. *ngangguk-ngangguk
    siaga terhadap virus merah saga

    BalasHapus