Indonesia (Belum) Kehabisan Pahlawan

November 11, 2011 Forum Tarbiyah 2 Komentar


Gelora kepahlawanan menyambung haru negeri ini. Tinggal di negeri sakit memang menyesakkan. Tanyalah kepada anak-anak usia sekolah kita, masihkah mereka mengikuti upacara bendera? Meresapi lagu-lagu nasional yang dinyanyikannya? Mengetahui para pahlawan kemerdekaan dan mengidolakan kisah heroik perjuangannya?

Cukup, kita memang galau pada kondisi lara negeri ini, meski seakan-akan sepenuh tanah air telah rata dikangkangi kerakusan, tapi berhentilah mengatakan bangsa ini busuk lagi terpuruk. “Bangsa ini,” seperti penuturan Anies Baswedan “sedang bangkit dan akan makin menjulang berdirinya.” 

Membenahi Prasangka Kolektif Bangsa

Hari ini, kita tanamkan prasangka yang dalam bahwa pemimpin negara sukses membangun kekesalan kolektif, menyuburkan bibit pesimisme. Hasilnya, kita dan mereka menuai ribuan kekecewaan, kegalauan politik yang semestinya mengiringi langkah sukses negara malah meleset tanpa target, atau maaf –tidak becus-.

Disisi lain, masyarakat republik pekerja keras ini rupanya masih keras kepala. Rakyat kebanyakan, jangankan untuk memikirkan negara, berjuang sendiri untuk dapat bertahan hidup pun terasa berat. Mereka lebih terbiasa mencari kesalahan dibandingkan memilih langkah penyelesaian, mengumpat dari pada berbuat, membandingkan ketimbang menyempurnakan.

Tidak bijak rasanya seluruh permasalahan ditumpahkan ke pundak pemimpin. Mengingat rakyat turut andil dan berperan penuh ditengah posisinya sebagai pemegang kedaulatan. Saat rakyat adalah barisan pahlawan maka presiden seharusnya seperti panglima perang.

Keluarga Sebagai Sekolah Para Pahlawan

“Orang besar tidak keluar dari rahim sundal”  (Mustafa Kamal)

Apakah ini ketidaksengajaan? Kita rindukan sosok-sosok teladan yang pernah mengisi cerita kepahlawanan di seantero negeri, namun terlupa bahwa sang teladan itu lahir dari rumah-rumah sendiri. Proses seleksi pahlawan bermula dari keluarga. Madrasatul Ula. Keluarga memberikan andil bagi calon pahlawan untuk menemukan siapa dirinya (character building).. 

Lenyapnya moralitas dan spiritualitas ini membuat pembangunan kehilangan jiwanya bahkan manusia menjadi mesin belaka. Umar bin Abdul Azis, sosok pemimpin pencapai tertinggi peradaban manusia di bidang spiritual, religius, sosial, politik dan ekonomi itu pernah berkata "Jika engkau bisa, jadilah seorang memiliki banyak ilmu. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka."

Pahlawan Itu

Nusantara kita ini perlu pahlawan. Membongkar yang buntu. Memangkas yang berbenalu. Pahlawan yang siap untuk “lecet-lecet”, membersamai masyarakat, yang turut berani bertarung memperjuangkan Timika lepas dari kuasa asing, yang mengeluarkan mereka dari jeratan lumpur Sidoarjo, yang berani bersuara lantang mengawasi perkembangan kasus korupsi hingga kasus Century. 

Mengenai siapakah dia, pahlawan yang mempesona itu dekat dan tidak perlu dicari sampai jauh. Dia lebih mempesona di saat kerja bersama. “Pahlawan,“ sebut Anis Matta, “jangan menanti kedatangannya. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. 

Sebagai janji ia mengikat, bisa mengajak semua ikut melunasinya. Kita mesti keluar dari kenyamanan kita masing-masing untuk bertemu pada suatu lapangan yang luas meneriakkan satu kata yang sama tentang masa depan Indonesia. Dan biarlah di lapangan besar itu, kita menggunakan baju kita masing-masing dengan warna yang berbeda-beda tapi dengan semangat yang sama, karena ada satu kata : INDONESIA.

Penulis: Fauzul Fahmi Zen

Gelora kepahlawanan menyambung haru negeri ini. Tinggal di negeri sakit memang menyesakkan. Tanyalah kepada anak-anak usia sekolah k...

2 komentar:

  1. pahlawan..itu bisa sapa aja. Namun,apakah pahlawan identik dg orang-orang yg berprestasi saja??
    Kalau iya..wahhhh..harus mengukir prestasi nih. Bismillah...

    BalasHapus
  2. Pahlawan itu siapa saja, bisa jadi kita
    dia manusia selayaknya, namun dilahirkan untuk meneteramkan bangsanya
    bahkan tidurnya, tengah lelapnya, isi mimpinya pun tentang Indonesia.

    Lagi-lagi ia memang biasa.
    Namun saripati energinya untuk negerinya.
    Sampai tulang belulangnya.
    Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentanya..:)

    BalasHapus