Api Kecil Untuk Sahabat

Oktober 24, 2011 Forum Tarbiyah 0 Komentar



"Nyalakan Api semangat kita, membakar ragu yang ada, agar terlihat apakah kita setia hingga akhirnya"

Sahabat, ada sedikit cerita..Hidungnya pesek. Kulitnya legam. Dia keturunan budak. Dan yang teraneh, umurnya masih 18 tahun! Tapi ABG satu ini berhasil membuat Kaisar Heraklius Sang Maharaja Imperium Romawi  ketakutan dan takjub. Disaat ia memimpin para sahabat yang sudah garansi kualitasnya seperti As Shiddiq ra dan Umar Al Faruq ra mengobrakabrik keperkasaan Romawi di perbatasan Syiria dan membawa pulang kembali pasukannya tanpa korban jiwa satu pun!

Dalam detik-detik terakhirnya, sang kekasih Muhammad saw mempercayakan panji pasukan Tauhid kepada anak sahayanya yang masih remaja ini. Hati si pemuda teriris. Begitu berat ia meninggalkan kondisi Nabi yang sudah sangat dekat dengan ajalnya. Dia mengorbankan perasaannya demi ketaatan dan bukti cintanya kepada Allah dan RasulNya. Dan dengan keimanan, tekad baja, tanggung jawab dan kemampuan leadershipnya, dia berhasil membuktikan bahwa dialah Jendral "ABG" Rasulullah saw." Sungguh, Usamah bin Zaid adalah manusia yang paling kusayangi. Dan kuharap, kiranya ia akan bersama shalihin diantara kalian. Dan terimalah nasihatnya yang baik"

Sementara  14 abad setelahnya, pada tanggal 14 Agustus 1941 seorang penyandang cacat berkursi roda berhasil menghentikan  jatuhnya ratusan ribu korban jiwa hasil keganasan Perang Dunia II. Ia membangun kerjasama dengan  PM Inggris Winston Churchill untuk melawan rezim Nazi Hitler dan menghasilkan yang kita kenal  sebagai Atlantic Charter. Ia membasmi pejabat2 korup di negaranya dan bertekad membangun perdamaian dunia. Franklin Delano Roosevelt si lumpuh yang dianggap dewa Pulau Pelew dan disetarakan dengan Abraham Lincoln yang menyerahkan hidupnya   untuk rakyat.

Kawan, itulah mereka..

Dua sosok pengukir sejarah. Remaja mukmin perindu surga jendral Rasulullah saw. Dan pemimpin barat non muslim pewujud perdamaian. Meski ia tidak beriman, ternyata kita dapat mengambil harta karun kita yang justru ia wariskan untuk dunia. Keduanya menjadi  the best di masanya. Keduanya berhasil mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Potret manusia bintang yang dilahirkan dengan penuh kekurangan. Takdir yang membangun tembok raksasa penghalang antara mereka dengan kesuksesan mereka. Namun apakah mereka menyerahkan cita2 mereka pada nasib yang telah digariskan? Hidupkah mereka dalam segala keterbatasan mereka? Faktanya, yang ada mereka mengubah kekurangan mereka menjadi kelebihan yang berlipat ganda. Mereka hanya menganggap bahwa tuhan telah memberikan dan tahu yang terbaik buat mereka .

“Dan sungguh telah kami ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS At -Tiin : 4).

Keyakinan bahwa semua manusia diciptakan untuk sukses dan dapat meraih apa yang dicita-citakanlah menjadi kelebihan dan kekuatan mereka.  Kemudian, lumpuhkah kedua kaki kita? Apakah dengan menyedihkan kita terlahir sebagai  anak seorang budak?

Sahabat, inilah warisan mereka..

Ketika seseorang bertanya kepada Imam Ahmad Allahuyarham “Kapan seorang hamba merasakan kesenangan?” beliau berkata “ Ketika ia menapakkan kakinya di Surga”
Abdullah bin Mu’awiyyah bin Abdullah bin Ja’far bersyair :
“Aku melihat jiwaku ingin menjelajahi segala sesuatu”
“Dan tidak akan berhenti sebelum sampai”
“Dan aku tak kan tunduk pada kekerdilan”
“Karena apa yang ku punya tak akan memuliakanku tanpa tingginya cita-cita”

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata “ Semua orang berilmu di setiap umat sepakat bahwa kenikmatan tak kan dapat direngkuh dengan kenikmatan”

Penulis kitab terotentik ke-3 setelah Al-Qur’an Imam Muslim rahimahullah berkata “Yahya bin Abu Katsir berkata : Ilmu tak akan dapat diperoleh dengan menyamankan badan”

Amirul Mukminin Mu’awiyyah ra bersyair :
“Biarkanlah diriku kepayahan mengarungi gelombang zaman”
“Karena setelah itu aku pastikan terdampar di pulau kebahagiaan”
Ka’ab bin Zuhair berkata : “ Orang yang tidak mau menempuh gelombang kesulitan adalah orang yang tidak punya tujuan”

Pedang Allah yang Terhunus Khalid bin Walid ra, disaat pembaringan terakhirnya setelah memimpin ribuan invasi, memenuhi tubuhnya dengan ribuan tusukan tombak, tebasan pedang, goresan anak panah,  namun ia wafat di atas kasur. Ia berkata “ Ini hanya patut dialami oleh orang-orang pengecut”

Kawan, dimanakah kita??

Sahabatku yang mulia..
Sebegitu jauhkah mimpi-mimpi kita sehingga kita berpikir untuk meninggalkannya?
Sedemikian laparnyakah kita sehingga berat untuk sekedar membuka buku pelajaran di malam hari?
Sebegitu sibuknyakah kita sampai mengorbankan waktu untuk sekedar mengulang hafalan pagi tadi?
Dimanakah janji manis kita untuk membahagiakan ibu bapak kita?
Apakah begitu membosankan  suasana hidup kita sampai menjerumuskan kita kepada kebencian Allah swt? Padahal bosan dengan hidup adalah tanda keringnya ruhiyyah kita..
Berapa banyak langkah dan berapa liter peluh yang telah kita korbankan untuk prestasi dan kebahagiaan kita di masa depan?
Dapatkah kita tunjukkan, berapa banyak ayat yang sudah kita hafal? Berapa banyak rumus dan teorema yang kita kuasai? Seberapa mahirkah kita berbahasa asing? Istiqomah kah kita mengkhusyu’kan sholat dan menahan lapar setiap hari senin atau kamis?
Sahabatku Pemenang Sejati, inilah asa kita..
Sahabatku Pahlawan Peradaban Islam, tidak lain inilah jalan kita..
Sahabatku Calon Pemuda Surga, selamat  berjuang dan berprestasi!
“Wa man ahsanu qaulan min man da’aa ilallahi wa ‘amila shalihan..”

Penulis: Ahmad Rasikh Ilmi

"Nyalakan Api semangat kita, membakar ragu yang ada, agar terlihat apakah kita setia hingga akhirnya" Sahabat, ada sedikit ...

0 Komentar: