Akhlak Seorang Pemimpin

Mei 11, 2011 Forum Tarbiyah 1 Komentar


Tentu terbit rindu di ufuk hati. Saat merindukan sang pemimpin yang jika lembut, seteguh Abu Bakar. Jika keras, sepengasih 'Umar. Jika pemalu, sepemurah 'Utsman. Jika periang, sepemberani 'Ali. Sedangkan pada hari ini, budaya kerja di negeri kita telah lama sakitnya, jiwa-jiwa yang terganggu oleh sikap pemimpin semakin bertambah jumlahnya, rasanya kita memerlukan nasihat dari keempat sahabat tersebut. Dan kali ini perkenankanlah diri kita tercenung kembali pada nasihat Imam Ali R.A.

Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin akan apa saja yang kaubanggakan tentang dirimu. Jangan menjadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menhancur-luluhkan hasil kebajikan orang-orang yang berbuat baik.

Jangan mengungkit-ngungkit kebaikan yang telah kau lakukan untuk rakyatmu atau membesar-besarkan jasa yang pernah kau buat, atau menjanjikan sesuatu kepada mereka lalu kau tidak memenuhinya. Perbuatan mengungkit-ngungkit suatu kebajikan, memusnahkan pahalanya. Membesar-besarkan kebaikan diri, menghilangkan sinar (nur) kebenarannya. Dan menyalahi janji, menghasilkan kebencian di sisi Allah dan di sisi manusia. Allah Berfirman : Sungguh besar kemurkaan Allah dalam hal kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. (QS 61 : 3). 

Jangan tergesa-gesa melakukan sesuatu sebelum waktunya, atau melalaikan di saat kamu mempu melakukannya. Jangan pula memaksakan diri ketika masih diliputi keraguan, atau kehilangan semangat bila telah selayaknya dan kerjakanlah segala sesuatu pada waktunya. 

Jangan mengkhusukan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak. Jangan berpura-pura tidak mengetahui sesuatu yang sudah jelas bagi setiap penglihatan. Hal itu pasti akan diambil kembali darimu untuk mereka yang lebih berhak. Dan sebentar lagi akan tersingkap penutup segala yang bersangkutan denganmu, dan setiap orang yang kaulanggar haknya pasti akan direnggutkan kembali haknya itu darimu. Kendalikan luapan amarahmu, kekerasan tindakanmu, kekejaman tanganmu, dan ketajaman lidahmu. Jagalah keselamatan dirimu dengan menahan gejolak emosimu dan menangguhkan hukumanmu sampai reda kembali amarahmu. Sehingga dengan begitu kau mampu memilih yang paling bijaksana. Bahkan tidak memutuskan sesuatu kecuali setelah cukup menyibukkan hatimu dengan mengingat saat kau dikembalikan kepada Tuhanmu kelak.

Adalah kewajibanmu untuk mengingat kebaikan yang telah dilakukan orang-orang pendahulumu. Baik yang berupa pemerintahan yang adil atau tradisi yang mulia. Rendahkanlah sayapmu bagi rakyatmu, lunakkan sikapmu untuk mereka, cerahkan wajahmu di hadapan mereka dan jangan membeda-bedakan perlakuanmu terhadap mereka walaupun dalam lirikan dan pandangan mata. 

Sedemikian sehingga “orang-orang penting” tidak timbul keserakahannya mengharapkan penyelewengan demi kepentingan mereka, dan kamu lemah tidak menjadi putus asa akan keadilanmu demi membela nasib mereka. Allah akan menuntut pertanggungjawabanmu atas segala perbuatanmu, yang besar maupun yang kecil, yang tampak maupun yang sembunyi. 

Waspadalah terhadap maut yang segera tiba. Bersiaplah menyambut kedatangannya dengan sebaik persiapan. Sunggu ia akan datng membawa perkara amat besar dan peristiwa amat dasyat. Yaitu kebaikan yang sempurna tak diiringi keburukan untuk selamanya, atau keburukan tak akan bercamput dengan kebaikan sepanjang masa. Maka siap gerangan yang lebih dekat kepada surge daripada orang yang bekerja untuknya?! Dan siapa gerangan yang lebih dekat kepada neraka daripada orang yang bekerja untuknya?!

Sungguh kita semua adalah buronan maut. Bila kita berdiam diri niscaya ia akan menagkapmu, dan bila kamu menjauh, niscaya ia akan menggapaimu. Ia mengikutimu lebih dekat daripada bayangmu sendiri. 

Memilih Kader Dakwah
Perhatikan para penggantimu, jangan mempercayakan suatu jabatan sebelum mereka diuji. Jangan mengangkat mereka karena ingin mengambil hati mereka ataupun demi kepentingan dirimu semata. Sebab yang demikian itu sumber penghianatan dan kezaliman.

Utamakan orang-orang berpengalaman, yang memiliki rasa malu, berasal dari keluarga baik-baik, dan selalu mantab dalam keislamannya. Mereka itulah yang mulia akhlaknya, lebih menjaga kehormatan dirinya, lebih terhindar dari kerakusan, dan lebih jauh pandangannya akan akibat segala sesuatu.

Barangsiapa menelantarkan amanah, membenamkan diri dalam perbuatan khianat, tidak memelihara dirinya sendiri ataupun agamanya, niscaya akan terkungkung dalam kehinaan dan penderitaan di dunia. Dan diakhirat, akan lebih hina dan menderita. Sesungguhnya khianat terbesat ialah yang ditujukan kepada rakyat, dan penipuan paling keji ialah yang dilakukan oleh para pemmpin umat.

Penulis: Dimas Bagus Wiranata Kusuma
Disadur dari buku Mutiara Nahjul Balaghah, karya Muhammad Al Baqir

Tentu terbit rindu di ufuk hati. Saat merindukan sang pemimpin yang jika lembut, seteguh Abu Bakar. Jika keras, sepengasih 'Umar....

1 komentar: