(CHAPTER 1) "ADAKALANYA"
Ajari aku menggunakan pena
akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun daun gugur..

Adakalanya,
dalam sibuknya aktivitas kita 
kita merasa kosong lantas bertanya, untuk apa semua ini kita lakukan ?

Adakalanya dalam sepinya hari yang kita jalani
Kita merasa lelah lantas bertanya,
kemana perginya orang orang ?

Adakalanya kita ingin sendiri..
Adakalanya kita ingin berteman..
Sayangnya tidak semua orang mampu mengerti dengan keadaan kita..
Terutama keadaan hati.

Adakalanya kita ingin di biarkan tidak ditanyai bahkan tidak ingin di perdulikan, kita hanya ingin demikian meski tanpa ada alasan...

Adakalanya....
Senja itu pun tak berartikan apa apa..
Terasa hampa dan tak lagi nirwana..


(CHAPTER 2) "KENAPA HARUS MATI DULU ?"
Pada umumnya, kebanyakan dari kita mendatangi seseorang  ketika seseorang itu telah tiada,
Berkata selamat jalan dengan air mata yang sebenarnya sudah tidak lagi berguna,
Tak peduli itu teman,sahabat,pasangan bahkan keluarga.
Kenapa harus mati dulu ?
baru kamu mendatanginya dengan  penyesalan
Kenapa harus mati dulu ?
baru kamu datang membawa bunga untuknya 
Kenapa harus menunggu mati dulu ?
baru kamu mengatakan yang sebenarnya bahwa kamu sayang padanya 
Lebih tepatnya di saat saat seperti itu
Ia tidak butuh lagi air mata meski air mata mu mengeluarkan darah sambil berkata cinta

J
ika kamu benar benar menyayanginya
Kenapa kamu tidak mendatanginya sekarang ?
mengapa kamu tidak membawa bunga untuknya sekarang ?
mengapa kamu tidak mengatakan kata kata cintamu itu sekarang ?
mengapa harus menunggu ia mati dulu ?
kamu harus lebih bijak dalam memahami isi hatimu.
jika kamu benar benar menyayangi teman ibumu itu ayahmu  itu, keluargamu sahabatmu ataupun pasangan itu
Datangilah mereka sekarang
dengan rasa cinta berpadu senyuman sebelum mereka pergi lalu meninggalkan penyesalan.. 
#Jejak_Lentera
#penaSantri



Penulis : Alwinsyah Almahendra



(CHAPTER 1) "ADAKALANYA" Ajari aku menggunakan pena akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun daun gug...

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan seluruh cabangnya.

Baru selesai saya tuntaskan membaca tentang kehidupan Al-Kindi. Nama asli beliau adalah Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi. Terlahir dari suku yang terdapat di dataran timur tengah bernama Kindah. Kindah ialah suku yang cukup berpengaruh dalam bidang kebudayaan dan politik. Salah satu penyair yang cukup piawai di dunia arab yang datang sebelum islam ialah Imru Al-Qais, salah satu warga suku Kindah. Yang membawa peradaban kebahasaan arab maju saat itu lewat syair-syairnya. Karena peranannya, suku Kindah berkutat seputar bidang kebahasaan. Maka, suku Kindah menggagaskan bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan di kawasan sekitar dataran timur tengah.

Al-Kindi hidup setelah masa khulafaur rasyidin. Artinya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada masa tabi’in. Al-Kindi menjadi inspirasi bagi ilmuwan setelahnya untuk mengembangkan keilmuwan. Ia sendiri dalam hal pemikirannya merujuk ke para filsuf yunani. Diantaranya yang paling dikaguminya ialah Plato. Hal ini terbukti dari beberapa karya filosofisnya. Namun secara khusus diantara banyak filsuf yunani, Aritoteles menjadi inspirasinya dalam mengembangkan pemikirannya.

Manusia melihat dunia ini yang menghasilkan berbagai macam keilmuan melalui dua cara, melalui panca indera dan akal. Panca indera menghasilkan pengetahuan yang sifatnya dapat dicerna oleh indera yang dimiliki manusia. Sedangkan akal berujung pada pengetahuan yang logikalis dan berbau filsafat.

Al-Kindi membagi  pengetahuan menjadi umum dan pengetahuan detail. Kemudian memberi nilai lebih pada pengetahuan umum ketimbang pengetahuan detail. Menurutnya lebih berharga pengetahuan umum untuk memotivasi dan memahami permasalahan yang dihadapi sehari-hari.

Sebagai contoh,”Antara A dan B. Kalau bukan A, ya pasti B.”

Dalam praktik kehidupannya, ”Jika saya seorang santri pesantren tahfizh qur’an. Maka, pilihan saya hanya dua kemungkinan. Berjuang menghafal sampai hafizh atau keluar dari pesantren ini.”



Praktik lainnya yang saya dapatkan dari Abi (Dosen UNIDA sekaligus pimpinan pesantrenku), ”Saya mengemudi mobil. Kemungkinannya hanya dua. Menabrak atau ditabrak.”

Satu hal lagi yang menarik menurut saya dari Al-Kindi. Dalam berbagai disiplin ilmu yang saat ini kita enyam di bangku sekolah. Menurutnya setiap bidang membutuhkan metode belajar yang berbeda-beda. Seperti halnya, jangan mengharapkan kemungkinan dalam ilmu matematika karena isinya adalah kepastian nilai. Jangan mengharapkan cukup dengan pemahaman dalam ilmu biologi  karena isinya berupa nama-nama partikular yang harus dihafal. Jangan mengharapkan kesudahan dalam menghafal al-qur’an karena dalam menjaganya dibutuhkan waktu seumur hidup. Dan pendekatan yang berbeda lainnya pada bidang yang berbeda pula. Jadi jangan hanya menggunakan satu metode dalam mempelajari suatu hal. Melainkan memahami terlebih dahulu apa tujuan ilmu tersebut dan mengapa kita harus mempelajarinya.
Metode diatas memungkinkan kita menampung berbagai bidang ilmu dalam waktu yang bersamaan. Seandainya metode pendekatan diatas kita gunakan dalam menuntut ilmu atau menggapai asa. Maka, pencarian atas ilmu yang dikehendaki akan dipermudah. Sebaliknya, jika tidak dipatuhi, kita akan kehilangan tujuan dari pencarian ilmu.

Nama Al-Kindi memang tidak semasyhur tokoh lain seperti Avicenna, Averroes, Al-Biruni, dsb. Namun pemikirannya dan segala karyanya turut serta memajukan keilmuan dalam peradaban Islam. Dan yang perlu diingat dan dijadikan motivasi adalah bahwa Al-Kindi hidup pada masa dimana teknologi belum lagi terlihat pucuk hidungnya. Bahkan untuk memahami karya-karya guru pemikirannya, ia seringkali harus mencari tahu arti dari sebuah tulisan dengan bahasa asing. Pemuda masa kini bisa dengan mudahnya menemukan banyak buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa yang mereka mengerti. Sungguh Al-Kindi tidak seberuntung kita yang hidup saat ini. Maka pesan saya adalah, dengan segala kelebihan dan kecanggihan teknologi yang kita miliki, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin.

أوصيكم و إياي نفسي 

Penulis : Rahmat Akbar

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan ...

source: onedayonejuz.org

Pada suatu hari, saya merasakan ada hal aneh di hari saya. Saya melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan seperti biasa, bangun tepat waktu -Alhamdulillah, sedikit olahraga, dan bermain dengan kawan-kawan se-asrama (ya, hari ini hari libur karena Public Holiday Chinese New Year dan juga di kampus saya, hari Jum'at memang hari libur). Setelah itu saya sarapan, lalu lanjut bermain sebentar, dan langsung bergegas menuju masjid untuk sholat Jum'at.

Setelah sholat Jum'at, seperti biasa Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di kampus saya mengadakan halaqah. Karena saya tidak berhalangan, jadi saya mengikuti kajian halaqah tersebut. Setelah kajian Halaqah tersebut selesai, kami melanjutkan aktivitas masing-masing, dan kebanyakan melanjutkan agendanya dengan makan siang bersama. Karena saya sudah makan pagi yang dirapel dengan makan siang, saya kembali ke kamar untuk menjalankan agenda saya sendiri.

Tetapi, saya merasakan ada yang aneh dari diri saya. Sayapun bertanya-tanya, apa yang salah dari diri saya? Apakah dari sikap buruk saya hari ini? Ataukah ada tanggung jawab yang belum saya laksanakan? Padahal, pagi hari tadi, saya sangat merasa segar dan nyaman, karena mungkin saya melakukan olahraga sehingga badan saya terasa fresh, dan merasa nyaman karena bisa berjumpa dan bermain dengan kawan-kawan.

Saya pun masih memikirkan hal ini hingga keluarga saya mengajak untuk video call. Ya, video call dengan keluarga saya bisa sedikit mengobati kerinduan saya dengan rumah dan keluarga saya. Kemudian saya melanjutkan kegiatan pada hari itu, saya mencoba menguatkan niat saya untuk mengerjakan tugas review tentang artikel -Memang hari libur lebih enak digunakan untuk berbaring tidur dan beristirahat, maka dari itu saya perlu menguatkan niat lagi. Disaat saya membaca artikel yang ingin saya review, tiba-tiba rasa aneh itu muncul kembali. Saya kembali memikirkan penyebab adanya rasa aneh itu. Untuk menghilangkan rasa aneh itu, saya mencoba untuk membuka YouTube, dan mungkin, karena petunjuk Allah, saya mendengar qira'ah Al-Qur'an surat Al-Kahfi yang dilantunkan oleh seorang Syaikh, yang memang ketika mendengar lantunannya bisa menyejukkan hati. Dan karena petunjuk Allah juga, saya langsung membuka terjemahan ayat dalam surat Al-Kahfi tersebut.

Di surat Al-Kahfi, terutama pada saat sampai ke ayat yang ke-7, yang artinya "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.", saya langsung merasa seperti tersentil, dan saya langsung menemukan bahwa yang salah dari diri saya adalah hilangnya Ketenangan Hati.

Mengapa saya bisa menyambungkan arti ayat tersebut dengan ketenangan hati? saya ingin menjelaskan hal ini dengan agak panjang, jadi harap bersabar. Begini, kita lihat dari makna hati itu sendiri. Hati dalam Bahasa Arab yaitu Qalbu, yaitu sesuatu yang berfluktuasi, yang bisa menjadi sangat senang dalam sekejap mata, dan menjadi sangat sedih dalam sekejap mata pula. Nah, fluktuasi ke rasa senang tersebut menjadikan diri kita merasa senang dan enerjik, sehingga kita merasa dunia ini milik kita sendiri dan kita bebas untuk melakukan apa saja, tetapi yang parah adalah ketika kita merasa sedih, dalam artian terkadang merasa tidak tenang, tidak tenteram, sehingga merasa ada yang tidak enak dan nyaman ketika melakukan hal apa saja. Rasa senang dan sedih itu, bisa diakibatkan karena kita terlalu fokus terhadap suatu hal yang semu, yaitu sesuatu yang dinamakan hal duniawi. Kita selalu fokus akan kegiatan dunia kita. Prestasi, kedudukan, kebahagiaan duniawi, dan lain sebagainya kita jadikan sebagai fokus utama kita saat hidup di dunia ini.

Padahal, pandangan tersebut merupakan pandangan yang betul-betul salah dan menyesatkan. Kita, hidup di dunia ini, hanyalah sementara, dan dunia ini hanyalah alat untuk kita mendapatkan kedudukan dan balasan yang tinggi di akhirat. Dunia hanyalah sementara dan akhirat adalah tempat tinggal kita yang sebenarnya, dimana kita akan tinggal selama-lamanya di sana. Mari kita buka surat Al-An'am ayat 32, yang artinya "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" Dalam ayat itu sudah dijelaskan secara crystal clear oleh Allah, bahwa sebenarnya tempat kita bukan di dunia ini, tetapi akhirat adalah sebenar-benarnya tempat tinggal.

Ketika kita terlalu fokus dengan dunia, rasa ketidak-tenanganpun muncul, karena memang begitulah sifat dari dunia, ia seperti tidak ada habisnya, seperti meminta kita untuk fokus lagi dan lagi kepadanya, padahal dunia ini akan berakhir juga dan perasaan senang itu adalah rasa senang yang semu, yang digembor-gembori oleh syaithan sehingga kita mengikuti hawa nafsu kita.
Rasa ketidak-tenangan itu sangat tidak nyaman, seperti orang yang sedang nyeri saat datang bulan, yang merasa selalu ada yang salah ketika melakukan sesuatu. Nah, bagaimana cara mengatasinya? Dengan mengingat Allah. Karena dengan mengingat Allah, hati kita menjadi tentram. Maksud dari mengingat Allah disini adalah mengalihkan fokus kita dari dunia, menuju kepada fokus akhirat, yang mana kita mengingat bahwa ada hari pembalasan yang menunggu kita, saat dimana seluruh perbuatan kita dinilai dan dibalas, sehingga kita bisa berhati-hati dalam tingkah laku. Juga arti mengingat Allah adalah, mengingat kebesarannya, sifat-sifatnya yang agung, mengingat 99 namanya yang mempunyai arti-arti yang sangat baik, dan Allah bersifat seperti 99 nama tersebut kepada seluruh manusia, yang kesimpulannya Allah mencintai kita dan menyayangi kita. Allah sangat menyayangi kita, Ia tidak ingin ada kesusahan pada diri kita, Ia yang menyelesaikan masalah kita dan Ia pula yang memberi kita rezeki. Sehingga, menambah kecintaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan membuat kita semakin rajin untuk mengingatnya dengan melakukan ibadah, dzikir, perbuatan yang bisa mengingatkan kita kepadanya. Memang sudah sunnatullah ketika kita mengingat Allah, hati kita menjadi tentram.

Maka, kalau ada dari pembaca tulisan ini yang merasakan hal seperti itu, cobalah untuk beristighfar, memohon ampunan terlebih dahulu, atas hal hal buruk yang telah kita lakukan, setelah itu cobalah untuk rutin berdzikir kepadanya. Mudah-mudahan, rasa ketidak-tenangan tersebut hilang dan digantikan dengan ketentraman dan kedamaian oleh Allah subhanahu Wa Ta'ala. Aamiin.

Note : Saya sendiri terkadang masih suka berlaku buruk dan belum melakukan seperti apa yang saya telah coba sampaikan. Bila saya seperti itu, mohon diingatkan. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang selalu mengingat Allah dan memfokuskan hidup kita di dunia untuk akhirat kita, serta saling mengingatkan kebaikan kepada sesama, Aamiin

Wallahu a'lam.


Penulis : Muzhaffar Ghifari Raihan

source: onedayonejuz.org Pada suatu hari, saya merasakan ada hal aneh di hari saya. Saya melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan ...



Suatu ketika di kurun awal 1700-an, tulis Allan D. Austin, seorang remaja asal daerah yang kini dikenal sebagai Gambia dan Senegal ditangkap paksa, diikat, lalu digelandang ke kapal tiang tinggi (kapal layar lintas samudera).

Sebagaimana profesi sebagian pelaut Inggris masa itu, menangkap manusia di pesisir pantai Afrika untuk kemudian menjualnya ke Amerika adalah sumber pendapatan yang menjanjikan. Bagi orang Barat 'The East is a Career' tulis Benjamin Disraeli. Bisa jadi westerners mabuk dengan wacana itu.

Mereka punya cara pandang yang aneh terhadap orang non-eropa (baca: non kulit putih). Sebutan-sebutan sub-human, jenis yang belum sempurna berevolusi, bangsa yang harus diajari peradaban, dsb. menghiasi jurnal-jurnal cendikiawan di London dan Paris. Karl Marx yang digadang-gadang pro persamaan itu pun tak kalah sadis, "Orang-orang itu gak mampu merepresentasi diri mereka sendiri, kita yang harus mengajarinya" lantangnya mengiyakan penjajahan.

Gelar mentereng mereka adalah orientalist. Selalu siap memasok dalil pembenaran untuk aksi-aksi kolonialisme. Edward Said, dalam bukunya Orientalism, menuduh mereka dengan sengit sebagai picik dan hanya mengabdi untuk kolonialis imperial, bukan untuk ilmu pengetahuan.

Sang remaja adalah anak seorang mufti. Di daerah asalnya jangankan anak mufti, anak orang awam saja biasa menjadi hafidz. Selain Al-Qur'an mereka juga menghafal kitab fiqh dasar mazhab Maliki semisal Risalah Abu Zaid al Qairawani. Mirip seperti anak pesantren kita mungkin yang menghafal kitab fiqh dasar mazhab Syafi'i, Matn Abu Syuja'.

Syahdan, tanpa tahu sebabnya anak berwajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing ini mendapati dirinya sudah di Maryland Amerika, berstatus budak. Tapi memang dasar pembelajar, ia dengan cepat belajar bahasa setempat. Bahkan ia menulis kembali Al-Qur'an dari memorinya dalam beberapa eksemplar buku. Bukan cuma itu risalah fiqh juga.

Kagum dengan bujangnya, sang tuan jadi tertanya-tanya. Pasti ini bukan sembarang orang. Perlu diingat, bahkan di Amerika pada masa itu tak banyak orang yang bisa baca tulis, konon lagi melek literasi.

Entah bagaimana kabar tentang 'budak hitam' yang intelligence akhirnya sampai juga ke telinga King George II, raja Inggris. Ia bersama tuannya kemudian diminta datang jauh melintasi atlantik ke pusat imperialis dunia itu. Setelah bertemu raja, namanya segera melegenda, jadi buah bibir dimana-mana. Singkat cerita ia akhirnya kembali berstatus sebagai orang merdeka.

Suatu waktu pada 1734 M sebelum naik kapal untuk pulang ke kampung halaman,  pelukis  istana meminta kesediaan agar wajahnya bisa diabadikan di atas kanvas.
"Dalam pakaian daerah Anda" pinta si seniman.

"Bagaimana saya bisa punya pakaian daerah? Dulu saat kalian tangkap, saya tidak sempat pulang dulu untuk ambil baju! :)
Begini saja, saya kasih deskripsi rupa kostum daerah kami lalu kalian lukis dengan itu, bagaimana?"

"Tapi kami tidak mungkin melukis sesuatu yang tidak kami lihat."

Langsung dibalas sang pemuda shalih, "Lalu bagaimana dengan tuhan kalian yang saya lihat lukisannya dimana-mana, apakah kalian pernah melihatnya?"

Ups..Powerful isn't it?

Dia adalah Ayub Sulaiman, penjaga dan pemikul Alquran pemilik wajah terang, bermata besar, berjidat lebar, dengan dagu runcing.

Further reading sila baca Austin, Allan D.. African Muslim In Antebellum America. Transatlantic Stories And Spiritual Struggle. Routledge, London, 1997).
Said, Edward. Orientalism.

Penulis : Eko Hardikubowo

Suatu ketika di kurun awal 1700-an, tulis Allan D. Austin, seorang remaja asal daerah yang kini dikenal sebagai Gambia dan Senegal di...



Tahun 2014, menjadi tahun kelulusan bagi Alsa, Ifi, dan Fiqa. Ketiga sahabat itu sama-sama anak program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan memiliki impiannya masing-masing. Alsa ingin mengambil program studi kedokteran, Ifi ingin mengambil teknik pertanian, sedangkan Fiqa ingin mengambil farmasi.

Berbagai jalur untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri sudah mereka lalui. Tapi takdir berkata lain. Mereka belum lolos. Kaget, kecewa, terpukul rasanya. Alhamdulillaah, beruntung mereka tidak larut dalam kesedihan, saling menguatkan, serta yakin pasti ada takdir terbaik yang sedang menanti mereka.

Banyak undangan dari berbagai universitas swasta dan juga luar negeri untuk mereka. Tetapi mereka lebih memilih untuk menuntaskan, melancarkan hafalan Al Qur’an mereka and trying to make such an improvement for their english ability di Kampung Inggris, Pare. Berbekal mimpi dan semangat yang sangat tinggi, disertai dukungan teman-teman, mereka bertekad mencoba PTN lagi tahun depan.

Satu tahun berlalu, Allah berkehendak lain. Hanya Ifi yang lolos seleksi pada waktu itu. Yang mengejutkannya, ia mendapatkan pilihan pertamanya yaitu Jurusan kedokteran UNPAD. Usut punya usut, Ifi sebenarnya lebih menginginkan Prodi Teknologi Pertanian tapi dia menaruhnya di pilihan kedua. Sedangkan Alsa dan Fiqa, sekali lagi, mereka gagal diterima di Perguruan Tinggi pilihannya.

Ini justru aneh, mereka tergolong anak yang pintar dan sangat rajin. “Ah, mungkin Allah ingin mennguji mereka” ujar kawan lain. Sempat Alsa dan Fiqa putus asa, sampai Ifi tak dapat menghubungi mereka dalam masa dua minggu. Yang pasti tidak ada dalam benak mereka untuk bunuh diri seperti orang-orang lain yang tak ber-Tuhan. Mereka punya prinsip untuk jangan sampai hafal Al Qur’an hanya sampai ke kerongkongan. Mereka teringat banyak orang yang mendapat cobaan lebih besar dari mereka.

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ
مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al Baqoroh: 214)

Alhamdulillah, Allah berikan semangat lagi kepada Alsa dan Fiqa lewat ortu mereka, Ifi, dan teman-teman lainnya. Ifi membantu mereka belajar untuk mengikuti seleksi-seleksi mandiri PTN maupun PTS lainnya. Mereka juga mengoreksi diri mungkin ada yang Allah belum ridho dari mereka.

“Apakah sebenarnya kami tidak berniat memperjuangkan ini?”

“Apakah kami terlalu malas dan tidak bekerja keras?”

“Apakah kami terlalu malas untuk mencari informasi?”

“Apakah kami belum mengatur strategi terbaik kami?”

Pengumuman-pengumuman seleksi mandiri PTN dan PTS pun keluar. Alhamdulillah, Alsa memutuskan untuk mengambil prodi Tata Boga UPI dan Fiqa mengambil Teknik Fisika ITB. Seindah itu takdir mereka, dipersatukan di satu kota yang sama. Alsa memutuskan untuk banting setir ke jurusan IPS, baginya tak ada yang sia-sia meskipun setahun terakhir itu dia fokus dalam pelajaran IPA. 

Suatu hari di Bandung, Fiqa mengajak Alsa dan Ifi untuk berdiskusi. Dia merindukan sahabat-sahabat penyemangatnya karena dia sedang mengalami masa galau di dunia perkuliahannya.

Fiqa menceritakan keinginannya untuk pindah ke bidang agama pada dua sahabatnya itu. Banyak hal yang belum dia ketahui, sedang ikut kajian-kajian saja belum cukup. Alsa dan Ifi mendukung apapun keputusan Fiqa, asalkan itu positif dan mendapatkan izin orangtua.

Tahun pun berganti, satu semester dunia perkuliahan sudah mereka jalani.  Dan tiba saatnya Fiqa berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Fiqa berpamitan terutama pada Alsa dan Ifi “Maaf ya, kita ngga jadi se-kota lagi kuliahnya”.

3 tahun kemudian, 2019.

Alsa masih sibuk mendalami studi masternya dalam bidang yang sama di UPI, sedangkan Ifi masih sibuk dengan program internship di kampusnya, dan Fiqa masih dalam masa hectic sebagai mahasiswa akhir semester. Tiba-tiba, Alsa dan Ifi mendapatkan kabar baik dari Fiqa yang akan menikah dengan Rafiq anak master ICT IIUM lulusan S1 ITB. Ya teman mereka juga, seperti kisahnya Ayudiac “Teman tapi Menikah”.
∞∞∞∞∞
Kisah ini diambil dari kehidupan nyata yang ditambahkan sedikit perisa oleh penulis. Nama-nama tokoh maupun lokasi kejadiannya juga disamarkan demi menjaga privasi.
Jangan pernah kalian lepas sahabat yang selalu mengingatkanmu tentang Allah, dan selalu menyebut namamu dalam doanya J
∞∞∞∞∞
Semuanya,

Yang di kepalanya diisi berjuta kecamuk pikiran

Yang hatinya dipenuhi kerusuhan tak karuan

Yang tubuhnya mulai melemah

Yang fisiknya mulai terasa sakit

Yang energinya tinggal sepersekian persen

Yang sedang bingung, Perlu sandaran, perlu pegangan

Yang tak tau mau dibawa kemana arah hidupnya

Yang merasa kurang apresiasi

Yang merasa kurang diperhatikan

Yang merasa sedang berjuang sendirian

Yang kesabarannya senantiasa diuji

Yang perasaannya sedang dikecewakan

Yang ber-ekspektasi tinggi lalu dijatuhkan

Yang rindu pelukan ayah bunda-nya


Jangan lupa mengambil napas

Jangan lupa mengambil jeda

Boleh menangis, tapi diiringi dengan doa

Juga kuberitahu kau satu hal

Allah Tuhanmu, tidak akan pernah membiarkanmu berjuang sendirian


Kenapa kau diuji? Sebab kau mampu.

Penulis : Nida Rafiqa Izzati

Tahun 2014, menjadi tahun kelulusan bagi Alsa, Ifi, dan Fiqa. Ketiga sahabat itu sama-sama anak program IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) da...