Gambar: wallpaperswide.com

Ini tentang cinta yang terus tumbuh dan menguat tanpa rasa ingin memiliki. Cinta yang mendarah daging, akarnya kuat menancap pada hati seorang perempuan di zaman keemasan. Ummu Umarah namanya, seorang ksatria perempuan pada zaman Rasulullah SAW. Rasa cintanya kepada Allah dan Rasulullah begitu besar hingga ia rela mengorbankan nyawa di medan perang.
Begitu kuat cintanya itu hingga ia rela menjadikan tubuhnya sebagai perisai, menahan tebasan-tebasan musuh di perang Uhud. Semata-mata untuk melindungi Rasulullah SAW. 
Cinta memang biasanya berjalan lurus dengan keinginan memiliki yang kuat. Tetapi tidak untuk Ummu Umarah. Pengorbanan dan cintanya yang begitu besar untuk Allah, Rasul dan agama-Nya rela ia berikan tanpa mengharapkan balasan apapun di dunia.
Hingga disebutkanlah dalam sejarah, setelah perang Uhud dan ia mendapat luka tebasan begitu banyak di badannya hingga lebih dari 20 luka. Rasulullah mengahampiri tendanya saat sedang dirawat. Maka dengan spontan Ummu Umarah berdiri. bergegas menutupi aurat dan lukanya yang belum selesai diobati. Ia tak ingin Rasul tahu luka dan keadaanya yang begitu parah. Rasulullah pun sedih melihat ada darah yang menetes dari kain yang menutupi luka itu.
“Ya Rasulullah bagaimana keadaan engkau, wahai Rasulullah?” tanya Ummu Umrah tanpa sedikitpun memperihatkan bahwa ia sedang kesakitan.
“Ya Ummu Umarah apa yang engkau harapkan atas semua pengorbanan ini? tanya Rasulullah SAW
“Wahai Rasulullah hanya satu yang saya harapkan, doakanlah agar saya menjadi tetanggamu di dalam surga.”
Ummu Umarah, seorang sahabat perempuan berhati baja. Yang mempunyai nama panggilan begitu melekat pada dirinya yaitu, Hamro Asad (Singa Merah). Ia telah mengajarkan kepada setiap muslimah bahwa cinta tak melulu tentang rasa ingin memiliki. Tak selalu dibumbui oleh rasa cemburu. Mencinta tak selalu melemahkan. Rasa cinta yang ada pada seorang Ummu Umarah membuktikan kelembutan hati yang dibalut keberanian tak tertandingi. Dari cintanya lahir kekuatan zohir dan batin.
Dari beliau kita belajar hakikat ketulusan. Ketulusan hati, pikiran dan perbuatan demi yang dicinta. Yang mungkin di mata mereka yang melihat semua itu adalah sebuah pengorbanan. Tapi di mata Ummu Umarah semua itu hanyalah cinta.

 Penulis : Syahidah Azzahra

Gambar: wallpaperswide.com Ini tentang cinta yang terus tumbuh dan menguat tanpa rasa ingin memiliki. Cinta yang mendarah daging,...

Gambar : negaraislam.net

"Surga itu... tempat yang indah, tempat yang tentram, dan tempat yang memberi kebahagiaan yang  abadi"

Itu lah jawaban yang selalu diucapkan kebanyakan orang dalam mendefinisikan arti surga. Dalam dunia yang  kian merapuh,  banyak perubahan yang terjadi dalam hidup ini. Banyak manusia yang terlalu mementingkan harta, tahta, serta rela mengikuti hawa nafsu mereka dengan beralasan sunnahnya. Bukan itu saja, bahkan banyak dari mereka membawa nama surga sebagai perantara, agar hati sang hawa pun luluh untuk membagi cintanya. Namun bukan surga itu yang ingin aku bahas kali ini.

Tapi,  surgaku mengarah kepada dia. Dia yang selalu aku rindukan semenjak aku di negeri Rantau. Sosoknya memang tak kan pernah terganti, ditambah lagi dengan jarak yang memisahkan kami. Aku rindu dengan omelannya di tiap pagi, rindu dengan senyum serta tawanya dan yang pasti aku rindu berada dalam dekapannya.

Dulu aku tak menyadari, bahwa ternyata surgaku teramat dekat denganku. Namun setelah tahun silih berganti, aku rindu dan selalu rindu dengan surgaku.

Pertambahan usia, membuatku semakin mengerti bahwa hidup tak selalu bercerita tentang keindahan dan kebahagiaan. Setidaknya, kini aku mampu melihat perjalanan kehidupan yang telah dia tempuh. Bagaimana surgaku menyemangatiku dari jauh. Bagaimana dia memberiku bekal untuk masa depanku. Raut wajah yang selalu terbayang kala diri ini mulai lengah untuk belajar di tanah perantauan. Karna aku dan dia tahu, jika kami tak akan selamanya hidup bersama, berdua, berdampingan di dunia ini.

Sungguh diri ini amat malu, jika dibandingkan dengan Uwais al-qorni (salah satu sahabat Rasul SAW). Bagaimana tidak, tanpa gelar dan tahta dia mampu mewujudkan mimpi ibunya untuk ketanah suci. Sedang kan aku? Kita? Yang mungkin sudah bergelar saja belum mampu mewujudkan mimpi sang ibunda.

Kehidupan di zaman sekarang memang membuat orang tua semakin terbengkalai. Manusia lebih banyak mementingkan dunia, mengagungkan materi dan rela menitipkan sang Ibu ke sebuah Panti hanya karna kesibukan yang tiada batasnya, tanpa memikirkan nasib  seseorang yang memiliki surga ditelapak kakinya.


Penulis : Maya Ratna Sari

Gambar : negaraislam.net "Surga itu... tempat yang indah, tempat yang tentram, dan tempat yang memberi kebahagiaan yang  abadi&q...

Gambar: kisahikmah.com

Secara tidak sadar, hati kita sering berbisik tentang Dia. Dia yang tak terlihat oleh mata, tak bisa diraba oleh tangan, bahkan suara-Nya saja tak dapat didengar oleh telinga. Kewujudan-Nya yang tak terlihat oleh pandangan membuat hati-hati kita ragu akan keberadaan-Nya. Padahal apa yang ada dilangit dan dibumi adalah bukti kekuasaan-Nya yang tak dapat dibantah kebenaran kewujudan-Nya. Bahwasanya Dia wujud, Dia ada, dan bahkan Dia dekat. 
Dalam surah Al- Baqarah ayat 186 Allah berfirman: 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada- Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Begitu jelas makna tutur kata-Nya dalam Al-Quran bahwa Allah itu dekat dengan kita. Tapi mengapa kita masih ragu untuk meminta pertolongan-Nya? Mengapa kita masih berlari untuk meminta pertolongan dan berharap kepada selain-Nya? Bukankah Dia adalah pemberi harapan yang pasti? Mengapa kita meminta kepada yang tidak pasti? Mengapa kita takut dengan segala ujian yang menimpa kita? Mengapa kita harus takut sedangkan kita memiliki Allah sang pencipta. Dia Maha segalanya, Maha mengetahui yang tersembunyi, Maha mendengar segala rintihan hamba-Nya, Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Maka berdoalah dengan sungguh-sungguh apa jua yang kau pinta, dan yakinlah rabb-Mu mendegar segala rintihan mu. 

Terkadang sudah begitu lama sebuah harapan dan keinginan agar segera terwujudkan, waktu terus menanti dan menanti, namun tak jua impian itu datang. Sampai terkadang keputusasa'an itu menghampiri kita dalam senyap. Sehingga kita hidup dalam ratusan pertanyaan yang kenapa dan kenapa doaku tidak didengar? Kenapa ya Rabb engkau tidak mengabulkan permintaanku? Kenapa aku yang bernasib begini dan kenapa bukan orang lain? Mengapa hidup ini tidak adil ya Rabb? Banyak pertayaan terkadang terlintas dibenak kita secara tidak kita sadari. Apalagi disaat sebuah ujian menyapa kita, banyak hal-hal yang tak pernah terfikir menjadi terfikir, tanpa mengikhlaskan hati dan mengingat bahwa ujian adalah bentuk kasih sayangnya Allah kepada kita. Hanya saja Allah cemburu kepada kita sehingga Ia ingin memanggil kita kembali untuk bermesra dengan-Nya. 

Maka dari itu, ada satu hal yang sangat berharga di dunia ini yang jika kamu mendapatkannya maka itu lebih berharga dari segala hal, Semua beban dan keinginan akan baik-baik saja jika kamu memiliki yang satu ini, dan itu adalah kedekatanmu kepada Rabbmu, hubunganmu dengan-Nya. Jika kamu dekat dengan-Nya maka semua kesusahan menjadi mudah, semua yang kau cita-citakan tercapai dan kalaupun pun tidak, maka ketahuilah Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagimu.  Maka kita berdoa lah dan bersabarlah karena dalam firman-Nya Allah berkata: 

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”  (Qs.Al-Baqarah:216).

Hikmah nya, periksa kembali hubungan kita dengan Sang pencipta kita. Jika kita jauh mendekatlah, jika kita lalai maka bangunlah dan bermesralah kembali dengan-Nya. Jika kita sibuk maka ingatlah bahwa tanpa-Nya kita tidak memiliki apa-apa. Seperti apa yang telah kita dapatkan hari ini karena kita adalah hamba yang terlahir tanpa membawa apa-apa. Maka dari itu, perbaikilah hubungan kita dengan Allah agar semua urusan dunia dan akhirat kita  Allah permudahkan. Wallahu a'lam. 


Penulis : Yuliyanti

Gambar: kisahikmah.com Secara tidak sadar, hati kita sering berbisik tentang Dia. Dia yang tak terlihat oleh mata, tak bisa diraba ol...

Gambar: kompasiana.com

Hilang arah sangat bisa (dan hanya bisa) dialami sama orang yang terus bergerak. Walaupun dia punya tujuan akhir dan tau pasti di mana tujuan akhir itu, bisa saja ia kehilangan arah di tengah jalan, dan bahkan berjalan menjauh dari tujuannya tanpa sadar. Tidak bisa di pungkiri, dalam hidup ini kemungkinan untuk hilang arah selalu ada tiap detik-nya. Karena itu Allah perintahkan kita untuk meminta petunjuk minimal 17 kali dalam sehari tiap kita baca Al Fathihah, lirih dalam shalat kita.

Kebanyakan dari kita sudah paham sekali bahwa Al Quran itu kompas kehidupan, yang menuntun kita agar bisa jalan lurus ke garis kesudahan kita di napas terakhir. Ada ribuan arahan praktis dalam al Quran yang bisa kita terapkan dalam kehidupan keseharian kita, lagi dan lagi agar kita sampai ke tujuan awal kehidupan kita. Salah satu dari ribuan arahan praktis itu adalah dengan mempunyai seorang panutan, atau seorang role model. Allah meletakkan hint ini di surat Al Ahzab ketika Ia berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. 33: 21)

Allah menunjukkan kita langsung bahwa panutan terbaik yang bisa kita punya adalah Rasulullah SAW, tidak perlu mencari-cari lagi siapa yang harus dijadikan panutan. Ah, andai saja setiap waktu kita sadar bahwa al Qur’an itu contekan dalam hidup. Kita harus meluangkan waktu lebih, mengeluarkan tenaga lebih, dan menambah usaha lebih untuk mempelajari Al Qur’an dan panutan kita, Nabi Muhammad SAW, sehingga kita bisa mengikuti jejaknya, sang manusia paling mulia shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tapi terkadang ada situasi-situasi spesifik yang kita susah untuk mengaitkannya ke Rasulullah, misalnya bagaimana seharusnya kita hidup di era yang tidak bisa lepas dari media sosial? Bagaimana cara kita memaksimalkan penggunaan media sosial? Siapa teladan kita di penggunaan sosial media? Pun dalam kasus seperti ini, Rasulullah SAW tetap menjadi panutan kita, ketika beliau bersabda:

"Ulama adalah pewaris para nabi"
(HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu 'anhu)

Ya, Jawabannya adalah ulama, mereka yang meneladani Nabi SAW. Melalui ilmu dan pemahaman mereka tentang Nabi SAW mereka mengaplikasikan ajaran-ajaran Nabi SAW di situasi kita pada zaman ini. Inti dari para ulama, yang kita cari adalah Ilmu dan Taqwa yang mereka miliki. Tapi bagaimana bisa para ulama jadi panutan kita jika mengingat beliau-beliau semua aja langsung teringat ngantuk di pengajian. Tak apa, semuanya berproses kan? Asal tidak bohongi diri sendiri saja.

Sebenarnya, ketika kita berbicara tentang panutan, sering kali kita tidak sadar bahwa kita menjadikan seseorang sebagai panutan kita. Kita kerap kali mencontoh hal kecil dari orang orang di sekitar kita. Ayah ibu kita, kakak dan senior kita, sampai orang tidak jelas di Instagram atau di Youtube, tanpa sadar bahwa kita sebenarnya menjadikan mereka teladan kita. Proses peniruan ini dijelaskan dalam teori pembelajaran sosial yang diperkenalkan oleh Albert Bandura, teori yang diterima banyak orang karena memadukan faktor kognitif dan sosial. Intinya, sadar ataupun tidak kita adalah hasil dari apa yang kita amati dari sekitar kita.

Ini tentang pengaruh orang-orang di sekitar kita. Bukan hanya di lingkungan fisik, di lingkungan maya pun pengaruhnya ada, bahkan bisa lebih besar. Kalau boleh cerita, saya pernah terkejut dengan reaksi orang-orang terdekat saya ketika saya berbagi pikiran dengan mereka. Atau, saya beberapa kali merenung kenapa saya tidak berfikir setulus orang orang terdekat saya. Akhirnya saya dapat suatu penjelasan, mungkin saya terpengaruh cara berpikir orang-orang yang saya ikuti di media sosial. Bisa dibilang fikrah mereka tidak jelas. Padahal, ketika mengikuti akun-akun itu alasan saya adalah karena mereka membawa perubahan ke lingkungan mereka, akun mereka punya estetika yang enak dipandang, atau karena mereka sering berbagi buku yang mereka baca. Saya akhirnya sadar bahwa cara berpikir mereka ‘agak’ tertular ke pengikut akun mereka, termasuk saya. Dan pengaruh itu membuat saya merasa tidak nyaman dengan pikiran saya sendiri.

Masih tentang akun media sosial yang saya ikuti, saya begitu lega ketika akhirnya menemukan akun seorang akhwat yang betul-betul bisa jadi panutan, terlebih lagi foto fotonya enak dipandang. Akun begini yang seharusnya banyak diikuti, walaupun memang jumlahnya bisa dihitung jari. Dari panutan seperti ini, saya berusaha meluruskan cara berfikir saya yang sempat melengkung. Seharusnya dari awal saya ingat kalau Rasulullah juga sudah menasihati kita:

“Seseorang itu dengan agama sahabatnya, maka hendaklah kalian melihat orang yang akan kalian bersahabat.” (Hadis Hasan Sahih oleh Tirmizi, Abu Daud , Ahmad)

Mungkin sahabat yang dimaksud dalam hadits diatas juga mencakup sahabat media sosial, orang-orang yang tulisan dan unggahannya jadi santapan keseharian kita. Apalagi sahabat di dunia nyata. Saya ingat, saya pernah terpesona (lol, maaf saya kekurangan kosakata) ketika teman dekat saya yang pernah dianggap ‘bermasalah’ di sekolah dulu, dengan tidak sengaja kasih tahu saya kalau shalat sunnah sebelum dan sesudah zuhur adalah paket yang ngga pernah dia tinggalkan. Ada seorang teman yang jiwa altruismenya masih jadi motivasi saya untuk terus beramal, walaupun sudah pisah tahunan lamanya. Ada juga orang-orang yang melihat mereka aja bikin saya malu untuk bersantai-santai. Pengaruh positif ataupun negatif yang kita dapat dari orang-orang sekitar bisa aja terserap secara tidak sadar, tapi ketika kita tau pengaruh itu positif kita harus secara sadar bersemangat untuk mengambil pengaruh itu. Nabi kita, SAW, bersabda:

“Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi)

Hikmah, yang bisa juga diartikan sebagai manfaat atau pengaruh positif, adalah sesuatu milik kita yang hilang! Jadi, proses mengambil manfaat itu sebenarnya untuk mengutuhkan apa yang kita punya. Coba renungi hadits ini, mashaaAllah sebenarnya artinya dalam banget. “Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah”, berarti memang ia terpencar. Bisa kita dapat dari tukang sapu, teman kuliah, supir bus, ibu-ibu yang lewat, unggahan video di instagram, siapa pun dan apa pun. Bahkan, dari novel dan film pun kita bisa menemukan teladan kita. Kita bisa mengubah standar kita dengan melihat kualitas para tokoh di novel dan film tersebut. Novel Kang Habiburrahman misalnya, tokohnya yang ideal selalu membuat saya merasa kerdil dan lalu memperbaiki diri. Ketika melihat hal yang baik untuk dicontohi, ambillah! Karena sejatinya ia bagian dari kita juga.

Ada satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya dengan mencontoh, yaitu mencontohkan. Apakah ada hikmah yang bisa diambil dari kita? Apakah orang lain ada yang menjadikan kita teladan? Jangan lupa hadits ini:

“Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim)

MasyaAllah, betapa pemurahnya Allah. Bahkan kita yang masih begini diberi kesempatan untuk mengubah arah hidup orang lain, yang dengan itu juga kita meluruskan arah hidup kita. Ayo sama-sama kita pelajari Al Qur’an lebih dalam lagi, belajar sirah nabi lebih serius lagi, kelilingi diri kita dengan orang shalih, dan ikuti hal-hal yang jelas manfaatnya saja. Wallahu a’lam, semoga Allah menguatkan kita untuk selalu merujuk ke kompas-Nya di tiap fase hidup kita. Karena hanya dengan izin-Nya lah kita tidak akan hilang arah.


Penulis : Fadhilah Assaadah Abdul Aziz


Gambar: kompasiana.com Hilang arah sangat bisa (dan hanya bisa) dialami sama orang yang terus bergerak. Walaupun dia punya tujuan akh...

Gambar : harianterbit.com
Tinggal menghitung detik sebelum umat Islam kembali berpisah dengan bulan Ramadhan. Berbahagialah bagi mereka yang telah berbuat kebaikan dan menutupnya dengan sempurna. Adapun bagi mereka yang telah menyia-nyiakan, sungguh mereka tidak sadar betapa berharganya waktu dan peluang yang terbuang, namun berusahalah untuk menutupnya dengan kebaikan pula, karena setiap amalan dinilai dari penutupnya.

Hati orang-orang yang bertaqwa pasti akan merindukan bulan Ramadhan, hati mereka sedih karena harus berpisah darinya. Bagaimana tidak? Bulan Ramadhan yang penuh keistimewaan itu hanya bisa dirasakan oleh umat Islam sebulan sekali dalam 1 tahun. Dan apakah mereka mengetahui  akan bertemu dengan bulan Ramadhan lagi atau tidak? Deraian air mata mulai membasahi pipi mereka karena rasa takut tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan, umat Islam tentunya diharapkan menjadi sosok yang lebih baik, termasuk dalam kesabaran. Karena bulan Ramadhan itu sendiri mengajarkan kita makna kesabaran. Sabar adalah akhlak yang mulia, dan Allah SWT bersama dengan orang-orang yang sabar.

Rasululah bersabda: Puasa adalah separuh kesabaran (HR. Tirmidzi) Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata, Sabar ada tiga macam: sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT, dan sabar terhadap takdir Allah SWT yang memberatkan.

Ketiga macam sabar ini terhimpun dalam puasa, terdapat kesabaran dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT, Kesabaran dalam meninggalkan keinginan dan syahwat yang diharamkan Allah SWT, dan sabar terhadap penderitaan yang dialami oleh orang berpuasa seperti lapar, dahaga, kelemahan fisik dan jiwa.

Nah, apakah kita dapat mempertahankan kesabaran kita selain di bulan Ramadhan? Perlu diingat bahwa hidup ini seperti roda yang berputar. Kadang kita berada diatas dan kadang pula kita berada dibawah. Tergantung bagaimana kita  memposisikannya, musibah ‎adalah sebuah ujian dan cobaan yang datang dari Allah SWT untuk menguji hamba-Nya sebagai pembersih dan penghapus dosa-dosanya serta menjadikannya dalam timbangan ‎kebaikan mereka apabila bersabar.

Bagaimana dengan amalan-amalan yang sudah kita lakukan selama bulan Ramadhan? Apakah amalan-amalan itu akan tetap terjaga selama 11 bulan ke depan? Janganlah kita menjadi lupa terhadap apa yang sudah kita amalkan di bulan Ramadhan.

Bisa dilihat bagaimana umat Islam yang memperbanyak ibadahnya seperti membaca Al-Quran di bulan Ramadhan. Untuk mengkhatamkan Al-Qur’an, mereka sudah mempersiapkan jadwal dan strategi dalam membacanya. Namun apakah itu hanya di bulan Ramadhan saja? Dan jika Ramadhan sudah berakhir, apakah Al-Quran akan kita simpan? Sungguh rugi bagi mereka yang jauh dari lantunan dan bacaan Al-Quran.

Rasulullah
bersabda:
Sesungguhnya barang siapa yang dalam dirinya tiada bacaan Al-Quran maka ia seperti halnya rumah yang roboh
Sesibuk apapun kita di dunia, jangan biarkan Al-Quran itu tertutup oleh debu, sediakanlah waktu untuk senantiasa membaca Al-Quran. Layaknya manusia yang memerlukan makanan sebagai gizi tubuh untuk kehidupan sehari-hari. Maka jadikanlah Al-Quran sebagai salah satu gizi hati kita dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun selain mengkhatamkan Al-Quran, umat Islam juga memperbanyak sholatnya di bulan Ramadhan. Yang dimaksud adalah sholat Sunnah, seperti sholat Tarawih, sholat Tahajud, sholat Dhuha, Sholat Qabliyah dan Ba’diyah, dan lainnya. Mereka tidak lupa untuk melakukan sholat Sunnah selain  sholat wajib. Mereka bisa menjaga konsistensi pada saat itu. Namun apakah konsistensi itu akan berhenti setelah selesainya bulan Ramadhan? Tidak salah bukan untuk merutinkan yang Sunnah? Bayangkan jika setiap sholat kita tidak bisa khusyu', berapa banyak sholat wajib yang tidak sempurna? Maka, pentingnya kita melakukan sholat Sunnah, sebagai penyempurna sholat wajib kita yang tidak sempurna.
Sebagaimana hadits berikut ini, dari Abu Hurairah ra, berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah  bersabda,
إِنَّأَوَّلَمَايُحَاسَبُبِهِالْعَبْدُيَوْمَالْقِيَامَةِمِنْعَمَلِهِصَلاَتُهُ،فَإِنْصَلَحَتْفَقَدْأَفْلَحَوَأَنْجَحَ،وَإِنْفَسَدَتْفَقَدْخَـابَوَخَسِرَ،فَإِنِانْتَقَصَمِنْفَرِيْضَةٍشَيْئًا،قَـالَالرَّبُّتَبَـارَكَوَتَعَالَى: اُنْظُرُوْاهَلْلِعَبْدِيمِنْتَطَوُّعٍ،فَيُكَمَّلُبِهِمَاانْتَقَصَمِنَالْفَرِيْضَةِثُمَّيَكُوْنُسَائِرُعَمَلِهِعَلَىنَحْوِذَلِكَ.
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka beruntung dan selamatlah dia. namun, jika (sholatnya) rusak, maka merugi dan celakalah dia. Apabila dalam sholat wajibnya ada yang kurang, maka Tuhan Yang Mahacusi lagi Mahamulia berfirman, " Lihatlah, apakah hamba-Ku ini memiliki amalan sholat-sholat Sunnah, yang bisa dijadikan penyempurna untuk sholat wajibnya yang kurang tadi!" Kemudian amalannya yang lain juga akan dihisab dengan cara seperti itu." (Sunan At-Tirmidzi, no 413, Ahmad, no. 9494 dishahihkan oleh Al-Arnauth).

Masih banyak amalan-amalan lainnya yang bisa dilakukan selain di bulan Ramadhan. Dan alangkah baiknya jika kita dapat menjaga konsistensi  dalam beribadah di sepanjang waktu, tidak hanya di bulan Ramadhan saja. Karena pada dasarnya manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya, tidak ada pernyataan “hanya disaat bulan Ramadhan” disitu.

Dengan berakhirnya bulan Ramadhan kali ini, semoga apa-apa yang sudah kita amalkan sebulan yang lalu diterima disisi Allah SWT, dan kita menjadi hamba-hamba yang pandai bersabar dalam menghadapi musibah dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya, serta tetap senantiasa beribadah kepada-Nya. Dan juga semoga umur kita disampaikan ke bulan Ramadhan yang akan datang. Amin ya rabbal'alamin

Semua yang tertulis menjadi pelajaran dan pengingat untuk para pembaca dan penulis sendiri. Semoga bermanfaat.


Penulis : Muhammad Ihsan




Gambar : harianterbit.com Tinggal menghitung detik sebelum umat Islam kembali berpisah dengan bulan Ramadhan. Berbahagialah bagi merek...