sumber: twitter.com/muslimculture


Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar terhadap seluruh elemen kehidupan, yang mana ia adalah perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Malam-malamnya dimuliakan oleh Allah untuk memperbanyak dzikir dan muhasabah, dan amalan-amalan pada siang harinya dimuliakan posisinya saat tengah menjalankan puasa. Kini Romadon telah berakhir, penulis berhemat bahwa perlu dilakukan muhasabah terkait sepak terjang kita sebagai umat muslim sebagai entitas sosial-politik di Indonesia kini, untuk menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Hampir dua-tiga tahun belakangan, tanah air senantiasa diguncangkan dengan blunder-blunder besar dalam ranah sosial politik yang tak bisa dilepaskan dengan identitas umat muslim di dalamnya. Betapa seringnya klaim muslimin dicaplok oleh berbagai jenis kelompok; baik kanan, liberal, bahkan kiri, dan betapa reaktifnya masyarakat muslimin terhadap berbagai isu yang beririsan dengan identitas muslim sehingga merendahkan martabatnya sendiri, meninggalkan renungan besar bagi para pemerhati dunia Islam di Indonesia : mengapa umat muslimin kini kian rapuh? Bagaimana masa depan gerakan Islam dan agenda-agenda dakwah Islam dapat terwujud kelak? Setidaknya ada beberapa hal yang penulis rasa perlu menjadi perhatian besar:


Polarisasi Kekuatan Politik Nasional

Presidential Treshold 20% kian kuat dalam menyebabkan benturan besar baik antara muslim dan non-muslim maupun antara gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Hal ini nampak dengan terbatasnya capres-cawapres menjadi hanya dua pasang yang menyebabkan gerakan-gerakan Islam yang berbeda ijtihad prioritas harus berhadapan satu dan lainnya secara langsung. Dalam perebutan angka elektoral dan konstituen muslimin, maka akhirnya terbuktilah hadits nabi bahwa umat muslim kelak bagai hidangan makanan yang diperebutkan dalam aspek pemikiran maupun politik (HR. Ahmad), oleh umat muslimin sendiri.

Perebutan klaim identitas Islam tersebut kian nampak dengan elit partisan yang tiap hari mengklaim siapa yang paling ‘islami’, dengan berkutat pada hal-hal dangkal yang bersifat simbolis, seperti bagus-bagusan sorban sampai puasa sunnah pribadi calon diumbar-umbar ke ranah pubik sebagai dagangan. Terbeli dengan dagangan politik seperti ini, tidak  hanya ia akan memecah belah kesatuan muslimin sebagai kelompok (akibat polarisasi gerakan-gerakan Islam), ia juga akan membentuk pemahaman baru akan konsepsi Islam dalam dimensi politik yang dangkal dan tidak akurat, hingga berdampak besar menjadi fenomena pembodohan politik Islam nasional. Maka sekalipun kita memiliki sikap politik yang tegas, jangan sampai kita menjadi memusuhi kelompok Islam yang berlainan dengan diri kita hanya karena beberapa blunder elit dan ijtihad sikap yang berbeda. Toh, seberapa hebat kita hingga mampu untuk menilai isi hati orang lain?

Dengan paket degradasi nilai yang amat tajam dan lengkap tersebut, maka selamanya muslimin akan senantiasa kalah dalam perjuangan agenda-agenda dakwah yang besar dan semakin diragukan untuk menjadi Ustadziatul Alam (guru peradaban dunia) dalam tingkat nasional maupun internasional.
Kendati kerugian muslimin dari polarisasi kekuatan politik nasional amat besar, ia bukan berarti bahwa upaya advokasi nilai perjuangan dakwah Islam harus dilakukan di luar institusi politik saja. Perjuangan dakwah Islam harus senantiasa menyertakan kanal politik modern, sebagai upaya bertahan dan menyerang nilai yang bertentangan dengan nilai agenda dakwah Islam. Muslimin harus semakin dewasa dan lihai dalam berpolitik praktis maupun politik nilai, tidak repulsif, dan mampu membawa kedamaian terhadap sekitarnya.

"Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." [HR. Bukhari]


Misrepresentasi Nilai Perjuangan

Yang menjadi pelik adalah saat elit politik/tokoh besar/'ustadz-yang-sering-bicara-politik secara partisan tetapi tak pernah mau mengakui menjadi politisi’ mengenakan jubah identitas islami namun menyuarakan nilai-nilai yang tidak berasal dari kerangka pikir Islam, padahal nilai-nilai perjuangan Islam adalah transenden dari spektrum politik ‘kiri-kanan’. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Islam bersikap dengan sikap yang berbeda-beda untuk isu yang berbeda, seperti bagaimana Islam melihat persoalan gender dan tatanan keluarga yang cukup konservatif, sedang di sisi lain melihat persoalan bentuk pemerintahan dan hidup bersama masyarakat berbeda keyakinan dengan cukup liberal (sebagaimana produk piagam Madinah dan perjanjian Hudaibiyah). Dengan demikian, untuk mengklaim agama Islam adalah milik dari salah satu poros spektrum politik ‘kiri-kanan’ adalah bentuk pendangkalan pemahaman nilai perjuangan Islam.

“Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan  wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi  saksi atas (perbuatan) kamu…” [al-Baqarah:143].

Dalam kehidupan kita, betapa seringnya ‘elit muslim’ Indonesia yang mencampuradukkan narasi Islam dengan paradigma dunia kanan yang berlebihan sehingga melahirkan narasi ultra-nasionalis yang rentan dengan pemahaman kebangsaan yang diskriminatif, dan bahkan rasis. Lahirnya pikiran-pikiran ‘memaksa’ dari mulut ‘elit muslim’ akan mendangkalkan pemahaman pengikut elit tersebut bahwa nilai perjuangan dakwah Islam bersifat global, dan senantiasa berpangku kembali terlebih dahulu kepada Quran dan Sunnah dengan tradisi Ishlah-Tajdid.

Di sisi lain, kelompok muslimin yang memposisikan diri sebagai ‘kelompok toleran’ tidak kalah juga dalam mengecewakan konstituen muslimin dengan sangat akomodatif terhadap kelompok dan pikiran-pikiran yang seringkali secara vulgar maupun implisit menyerang apa yang menjadi advokasi mendasar dari perjuangan dakwah, seperti persatuan sekte-sekte gerakan, independensi pikiran dari pengaruh arus pemikiran yang ‘mengobok-obok’ aqidah muslimin yang tsawabit (tetap). Kebanyakan darinya mengaku sebagai reformis, namun narasi yang dibangun seringkali menyerang kelompok Islam lainnya di depan umum, sehingga firman Allah ‘serulah menuju jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah dengan baik..’ [an-Naml:125] tidak terimplementasikan. Alih-alih penyadaran—bila apa yang dianut adalah benar—yang ada hanyalah perpecahan.

Dengan demikian, mendudukkan representasi nilai muslimin yang tepat menjadi sangat penting. Misrepresentasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Amerika kini pula menghadapi persoalan serupa. Banyak sekali politisi muslim Amerika seperti Ilhan Omar, Linda Sarsour, Abdul el-Sayed, hingga Rashida Tlaeb terjebak dalam narasi politik identitas dan mengadvokasi agenda-agenda feminis radikal seperti akomodasi LGBTQ+ dan advokasi hukum pro aborsi bebas.

Akhirnya, para aktivis muslimin senantiasa bergerak sendiri-sendiri, gerakan tidak terorganisir dengan rapi hingga representasi advokasi agenda juga berselisih, hingga memunculkan dai-dai yang terkadang problematik. Muslimin dan muslimat harus selektif mengurai pesan dan kata dari para representatif muslim di panggung nasional dan internasional, agar tidak mudah terperangkap dalam kerangka pikir yang bermasalah sebagai muslim, dan tetap mendukung kerangka pikiran dan agenda strategis yang mendukung keberlangsungan dakwah.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Penguatan Adab, Tsaqafah, dan Wajihah Dakwah

Untuk menghadapi goncangan-goncangan dari dalam dan dari luar, maka umat muslimin harus memiliki pertahanan yang kuat. Pertahanan yang perlu diperkuat meliputi penguatan pemahaman Islam, pemahaman politik Islam, dan institusi-institusi berbasis Islam, baik institusi sosial maupun politik. Den gan membedakan pemahaman Islam dan politik Islam, muslimin dan muslimat akan semakin berhati-hati dan lihai dalam berdakwah dan berpolitik, hingga akhirnya muslimin memiliki marwah dan mampu mengemban risalah peradaban untuk Indonesia, dan dunia.

Betapa adab dakwah menjadi titik nadir integritas para dai, saat kini sebagian besar umat muslim berusaha mencari alternatif dakwah yang mampu memberikan rasa tenang, hingga membersamai gelombang hijrah yang kian besar di Indonesia. Bahwa adab dakwah ialah hal yang sangat fundamen bukan saja dalam aspek ruhiyah, namun politik sebagai sarana dakwah juga. Adab dakwah amat dipegang teguh oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, saat para ulama dan asatidz dakwah mesir ‘dibredel’ oleh Gamal Abdul Naseer dan dieksekusi massal dengan biadab, Hasan al-Banna tetap menekankan bahwa Gamal Abdul Naseer tetap seorang muslim, dan tetap mendoakannya agar mampu bertaubat, saat murid-murid dari Imam Syahid sudah geram bukan main, dan melarangnya untuk bertindak sporadis yang mampu menciptakan mudharat yang jauh lebih besar.

Pembumian Nilai Politik Islam

Untuk mampu mendudukkan apa yang perlu diserukan pada umat manusia, maka dai wajib menyelami kembali khazanah dan sumber keilmuan yang meliputi nilai-nilai advokasi Islam. Ia bisa dimulai dari buku-buku ringan seperti ‘Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku’ karya Ust. Salim A Fillah, hingga khazanah-khazanah pergerakan seperti ‘Risalah Ta’lim’ karya Hasan al-Banna, ‘Islam Jalan Tengah’ karya DR. Yusuf al-Qardhawi, dan khittah pergerakan Islam nasional seperti Masyumi, Muhammadiyah, NU, dan lainnya.

 Bahwa berdakwah bukan hanya menyeru pada solat dan zakat, apalagi dakwah dalam ranah politik. Dengan menguasai kerangka pikir Islam (Islamic Worldview), maka muslimin mampu menilik nilai-nilai Islam yang perlu diperjuangkan dalam segala aspek. Menggunakan ranah politik hanya untuk memformalkan ibadah yang bersifat ritual kepada masyarakat tidak hanya merupakan pendangkalan pemahaman politk Islam—seperti masjid Illuminati dan kristenisasi alun-alun solo--, namun menyalahi konsep Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (Konsensus Nasional), terlebih bila ia mengabaikan advokasi yang lebih fundamental, seperti penolakan terhadap penggusuran paksa, konservasi lingkungan, dan mendukung liberalisasi penyelenggaraan pendidikan.

Mandiri dalam Bersikap

Maka setelah umat muslimin mampu membumikan nilai-nilai Politik Islam, disertakan dengan kapabilitas akhlak dan wawasan yang mumpuni, maka pergerakan umat muslimin akan kian lebih dewasa, mandiri, tidak reaktif, dan terukur tujuan-tujuannya. Kemandirian ini menjadi renungan bersama kini di saat umat muslim menjadi kian reaktif terhadap satu isu yang belum tentu benar, kemudian membesar-besarkannya dengan ketidakbenaran pula. Saat umat muslimin mampu independen dalam berpikir, umat muslimin pula mampu menyaring informasi dengan bijak, hingga akhirnya sikap-sikap politiknya tidak diayun-ayun bagai buih dan kemudian diselancari oleh kaum berkepentingan.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [al-Hujurat:6].

Dengan memahami persoalan dan memahami jalan keluarnya, penulis berharap kita sebagai umat muslimin mampu berdamai dengan diri kita sendiri, hingga umat muslimin secara kultural mampu menyelesaikan mafsadat di sekitar kita dalam tiap mihwar-nya. Semoga tulisan ini mampu menjadi kontemplasi bersama kita pada momentum Idul Fitri 1440H kali ini, dan mampu kita realisasikan perbaikannya bersama-sama.

Tabik.

Penulis : Ahmad Shidqi Mukhtasor

sumber: twitter.com/muslimculture Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar ...


 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, hati ini rasanya sulit untuk diajak seirama. Ia menjerit, meronta merasa takut kehilangan. Ia baru saja tersadar, bahwa ternyata hawa nafsu itu lebih menyeramkan daripada yang ia duga. Ia malu, ternyata selama ini bukan bisikan syaithan yang menjerumuskannya, melainkan dirinya sendiri.
   Pada akhirnya ia paham, Allah menghadirkan Ramadhan untuk membiasakannya berbuat baik, berprasangka baik. Namun bagaimana jika sampai akhir ia belum juga terbiasa? Ia masih saja kesulitan untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
  Lagi lagi ia basah menangis. Beruntung sekali ia memiliki Tuhan sebaik Allah. Yang  selalu memberi ruang untuk hambaNya bertaubat. Bahkan dengan seluruh cintaNya Ia dengan hebatnya sudi memberi limpah kasihNya pada sang lalai. Diakhir kesempatan ini Ia pun dengan baiknya menyadarkan sang hati untuk bangkit, "ayo, jangan sia-siakan aku, masih ada waktu".
   Ia malu. Ia si pendosa, tapi ketika berdoa dan doa doanya tidak dikabulkan oleh Sang Maha, ia merasa amat kecewa. Padahal ia yang lebih dulu mengecewakan Sang Pemilik Semesta
  Ia malu. Ia si yang sering lalai dari jalanNya, tapi ketika jalan hidup tak sesuai dengan yang diinginkan, ia sibuk menyalahkan sekitar, mengutuk semesta dan mencari pembelaan akan hal itu. Padahal, menjadi hambaNya saja ia belum tuntas memenuhi hak-hak Tuhannya.
  Ia malu. Hijrah yang ia lakukan tak menambah kebaikannya. Ia hanya berhijrah dari satu dosa ke dosa lainnya. Padahal ia paham betul bahwa tak ada garansi pada umurnya sebagai jaminan.
  Hati semakin menjerit. Ia merindu akan manisnya iman. Terperangkap dalam sebuah pertanyaan, apakah amalanku diterima? Apakah sudah sempurna?
  Puasaku,
  Tarawih ku,
  Apa diterima?
  Hai diri, sadarkah? Ramadhan sebentar lagi beranjak. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali beberapa waktu lagi.
  Dengan bintang ke dua puluh tujuh malam ini, akan hati sempurnakan amalan yang belum sempurna.
  Mengharap belai kasih sang bulan melalui derai air mata yang terurai. Hati ini lunglai, dengan pedihnya perpisahan ia terbuai.
  Rindu yang kemarin terobati kini mulai ditanam kembali. Membara tiap- tiap detik terlewati. Dalam sunyi berharap taubat akan melengkapi.
  Semoga waktu berbaik hati untuk membersamai. Memberi kesempatan sedikit saja lagi untuk meminta ridha sang ilahi.
  Semoga tawanan dosa dilepaskan. Semoga bara neraka dibebaskan. Selamat jalan ramadhan. Aku kembali memupuk rindu. Berharap tahun depan masih bisa bertemu

I'm leaving soon, take care of your Iman -Ramadhan

Penulis : Nyayu Siti Salma

 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tah...






Sore itu, di salah satu pasar swalayan modern di Jakarta. Kulihat sebuah figura bergambar kapal kecil yang sedang berlayar dan di atas kapal tersebut bertuliskan kalimat berbahasa Inggris.
Lalu, kubaca dan kupahami tulisan itu, tapi tak kunjung paham apa maksudnya.

"Tuh kak, pentingnya gak nunda-nunda waktu..", celetuk Ummi secara tiba-tiba.

"Oh ya, paham-paham", sahutku.

Entahlah, kalimat tersebut sebenarnya biasa saja, bahkan sering diulang oleh para pemateri dalam forum diskusi ataupun dipajang di gedung-gedung sekolah dan universitas. Tapi kali ini beda, tulisan tersebut membuatku jleb seketika setelah Ummi memperingatkanku. Mungkin, karena kelalaianku selama ini, membuatku merasa tercyduk dengan kalimat itu. Dan tidak bisa dipungkiri lagi, menunda waktu sudah menjadi hal yang lumrah bagiku.

Kalimat tersebut sudah teraplikasikan dalam aktifitas kita setiap hari. Banyak beberapa contoh yang sering kita jumpai, misalnya: saat ada diskon besar-besaran di pasar dengan waktu yang ditentukan. Jika kita menunda atau tidak segera untuk beli barang berdiskon tersebut, barang itu akan habis dibeli oleh para pembeli lainnya. Atau contoh lainnya jika kita tidak sengaja datang terlambat ke bandara, lalu tertinggal oleh pesawat yang ingin dinaiki dan tiket yang sudah dibeli 'hangus' begitu saja, tidak bisa dibatalkan. Kalau sudah seperti itu, sayang bukan?

Sempat saat awal SMA saya bertanya-tanya, bagaimana caranya agar tidak menunda-nunda waktu lagi? Dan pada akhirnya saya menemukan jawabannya, 
"Kalau kita masih merasa suka telat ngapa-ngapain, lihat shalat kita, shalatnya udah tepat waktu belum? Karena semua aktifitas tergantung shalat kita", begitulah kata kakak panitia MOS kala itu. Memang benar, sebab hakikat kita hidup hanya untuk Allah 
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ)
[Surat Adh-Dhariyat 56]

Kalau masih merasa telat juga, mungkin ada satu aktifitas yang menghambat sehingga cara kerja kita yang mesti diubah. Untuk mengubahnya butuh proses. Menurut pengalaman orang-orang sukses, suatu kebiasaan baru akan terbentuk biasanya dalam kurun 40 hari dan paling cepat 21 hari. Jadi, bersabarlah dan teruslah konsisten untuk melakukannya.
Do it now. Sometimes later become never

Penulis : Fika Amani

Sore itu, di salah satu pasar swalayan modern di Jakarta. Kulihat sebuah figura bergambar kapal kecil yang sedang berlayar da...




Lahir di lingkungan Istana tepi sungai Eufrat sebagai keturunan walikota Abilah, satu kota yang berada di bawah kekuasaan Persia menjadikan seorang anak tumbuh dalam kesenangan dan kemewahan. Suatu hari wilayah tersebut diserang oleh Romawi dan anak walikota pun menjadi salah satu tahanannya. Hingga datang seorang saudagar Mekkah membelinya untuk dijadikan budak, namun ketika sang saudagar melihat kecerdasan, keuletan, kerajinan serta kejujuran si budak kecil, ia pun dibebaskan.

Ketika cahaya Islam datang dari rumah Arqam, si mantan budak ini pun datang  bersama sahabatnya; Ammar bin Yasir dengan sembunyi-sembunyi untuk menyatakan keIslamannya di hadapan Rosululloh صلى الله عليه وسلام .

Sejak pertama menerima cahaya Ilahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rosululloh,  ia layak mendapatkan keimanan yang begitu istimewa.

Perjuangan dan kesetiaannya dimulai saat peristiwa hijrah. Ketika terdengar olehnya bahwa Rosul akan berhijrah ke Madinah, ia semestinya menjadi orang ketiga yang ikut bersama Rosul dan Abu Bakar. Namun rupanya orang Quraisy mengetahui dan menahan Shuhaib bin Sinan.

Ketika orang kafir Quraisy lengah, ia pergi dengan cepat mengarungi sahara yang luas. Namun orang kafir Quraisy tak tinggal diam, mereka segera menyadari bahwa Shuhaib akan menyusul Rosul. Maka diutuslah pasukan dari kalangan kafir Quraisy untuk mengejar Shuhaib.

Ketika Shuhaib melihat kedatangan para pengejar, ia berkata,"hai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu bahwa aku jago memanah. Demi Alloh,  sebelum kalian mendekatiku, aku akan membidik kalian dengan semua anak panah yang aku bawa. Setelah itu, aku akan melawan kalian dengan pedang sampai titik darah penghabisan. Sekerang terserah kalian, jika kalian ingin mendekat, mendekatlah. Atau, aku tunjukkan di mana harta kekayaanku, dan kalian biarkan aku pergi."

Menariknya, orang-orang kafir Quraisy langsung pergi saat itu juga dan berbalik ke Mekkah setelah Shuhaib menunjukkan tempat penyimpanan hartanya. Mereka tidak meminta bukti atau sumpah. Artinya, selama ini mereka sudah mengenal Shuhaib sebagai orang yang jujur.

Ketika perjalanan Shuhaib sampai bertemu dengan Rosululloh di Quba yang saat itu sedang duduk dikelilingi oleh beberapa sahabat, Rosul bersabda,"Perdaganganmu sungguh mendapatkan laba yang besar hai Abu Yahya (Shuhaib). Perdaganganmu sungguh mendapatkan laba yang besar, hai Abu Yahya (Shuhaib)."

Dan saat itu turun pula wahyu dari الله
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan الله dan الله Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (Q.s Al Baqoroh (2) : 207)

Ucapan salam untukmu wahai Shuhaib Bin Sinan رضي الله عنه


📝 Disarikan dari 60 Sirah Sahabat Rosululloh-Khalid Muhammad Khalid
21 Rabiul Akhir 1440 H/28 Desember 2018

Penulis : Halimah Sa'diyah

Lahir di lingkungan Istana tepi sungai Eufrat sebagai keturunan walikota Abilah, satu kota yang berada di bawah kekuasaan Persia menjad...

source: bundanyacinta.files.wordpress.com


     Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi para penikmat malam. Seperti seorang wanita berambut sepunggung yang kini tengah memandangi temaram rembulan. Namun ia lebih suka akan benda yang kini ada di genggamannya.
     Bunga mawar. Bunga yang kerap ia irikan karena memiliki pesona yang indah. Apalagi bunga yang ia sukai itu memiliki pelindung sendiri. Meski kerap sekali orang-orang mudah memetiknya. Tapi ia tetap suka dengan pesona mawar, apalagi mawar merah.
     Terkadang ia berpikir untuk bisa jadi mawar. Bukan tanpa alasan dia berkeinginan seperti demikian. Baginya, mawar jika diibaratkan seperti manusia, maka nasibnya penuh keberuntungan. Disukai banyak orang, sejuk dipandang, bernilai mahal, dijaga, dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan ia? Masih bisa menghirup nafas gratis saja ia sudah beruntung.
     Bagaimana tidak? Gadis pecinta mawar itu hidup sebatang kara. Makan saja harus bekerja keras dahulu. Bukan bekerja keras dengan cara benar maksudnya. Tapi mencuri adalah hal menegangkan yang ia sebut sebagai kerja keras. Uang yang biasa ia pakai untuk jajan, untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk pergi ke klub dan iuran-iuran lain saja hasil mencuri. Untung saja ia termasuk kalangan anak berotak cerdas sehingga mendapatkan beasiswa dan tidak usah membayar SPP selama prestasinya tidak turun.
     Makadari itu ia membenci hidupnya. Hidupnya serasa tidak adil. Tuhan memang tidak memperbolehkannya untuk bahagia.
     “Gue benci hidup gue,” lirihnya dengan hati tersayat.
     “Allah menciptakanmu bukan untuk membenci hidupmu sendiri, Syahna.” Seseorang dibelakangnya menyahut.
    Syahna membalikkan badannya. Ternyata ada Bu Dara. Beliau adalah guru di sekolahnya. Atau lebih tepat sebagai wali kelasnya.
    “Ibu ngapain di sini?”
    “Nyamperin gadis pecinta mawar yang membenci hidupnya.”
    “Basi!”
     Bu Dara hanya tersenyum saat mendengar kata ketus dari muridnya itu. Bukannya ia membiarkan Syahna terus-terusan kasar seperti itu. Hanya saja ia akan pakai cara halus untuk melunakkannya.
     “Ibu tau kamu pecinta mawar. Bahkan sampai kamu ingin menjadi sepertinya. Tapi ibu lebih pengen kamu jadi kaya mutiara.”
     “Maksudnya?”
     “Itu pesan dari Ibu, Na. Ibu pamit.”
     Syahna hanya memandang punggung Bu Dara yang semakin mengecil. Jujur saja, ia bingung dengan kata-kata bu Dara. Itu kata perumpaan, iapun faham.
     “Ah, persetan,” umpatnya.
     Syahna memutuskan untuk pulang karena ini sudah cukupp malam untuk ukuran perempuan sepertinya.
     Selama diperjalan menuju rumah reyotnya, ia masih kepikiran dengan ucapan gurunya. Ia yakin, itu bukan sekedar permintaan biasa. Seperti memberi pengaruh besar untuk hidupnya.
     Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Tapi Syahna tidak akan membalikkan badannya. Hal bodoh jika ia harus melakukan itu.
     “Neng,” ucap seorang lelaki dibelakangnya dengan nada menggoda.
     Syahna mempercepat langkahnya tanpa menggubris lelaki dibelakangnya. Namun sayang, belum lama kemudian tangannya sudah berhasil dicekal.
     “Lepas!”
     “Neng mau kemana? Mending sama abang aja yuk!”
     “Gak! Lepas! Gue jijik sama lo.”
     “Ah pura-pura. Kita main bentar yuk,” ajak lelaki itu seraya menyeret tangan Syahna.
     Syahna ingin memberontak. Tapi kekuatannya tak sebanding lelaki itu. Hingga sampai di jalan buntu dengan tembok-temboknya yang penuh sekali akan coretan, lelaki itu memojokkannya.
     Syahna benar-benar ketakutan saat ini. Separah-parahnya ia saat mabuk di klub, ia tidak pernah bermain bersama pria hidung belang. Sekedar dirabapun ia tak sudi.
     “Neng cantik mau kemana sih tadi?”
     “Minggir! Gue mau pulang.”
     “Entar abang anterin deh, tapi kita main dulu, gimana?”
Syahna terdiam. Hanya air mata yang berlinang menjadi jawabannya. Ia jijik, sunggung. Kini matanya malah terpejam, bukan karena membolehkan lelaki itu mengapa-apakannya. Tapi ia tak kuat berada jarak sedekat itu dengan seorang lelaki.
     Tiba-tiba sebuah ide muncul di tengah-tengah ketegangan hatinya.
DUK!
     Syahna menendang benda rawan milik lelaki bejat itu. Lalu sekeras mungkin ia melarikan diri. Sesekali Syahna menoleh kebelakang untuk memastikan pria itu masih mengikutinya atau tidak. Jika masih ia akan melajukan kekencangan larinya. Hingga dirasa lelaki itu jauh dengannya, Syahna melambatkan laju larinya.
     Nafasnya tersenggal-senggal. Dan ia butuh minum. Jika ia mencuri maka ia akan kembali berlari-lari barangkali ada yang melihat aksinya.
     Namun ide itu hilang dikala seorang wanita berhijab pink menjadi pusat pandangannya.
     “Ziva,” panggilnya.
     Wanita berhijab itu menoleh lalu menebarkan senyum manisnya. Ziva adalah putri dari bu Dara yang memang sekelas dengannya.
    “Ada apa?”
    “Gue haus banget Ziv. Pinjamin gue duit dong!”
    “Duh maaf banget ya Na, uangku habis. Gimana kalau kamu ke rumahku saja?”
     Tanpa pikir panjang Syahna menyetujui tawaran itu. Lagipun ia takut untuk pulang sendirian.
    “Lo sendirian?” Ziva hanya berdehem.
    “Gak takut?”
    “Aku punya Allah.”
    “Tapi Allah gak bisa bantuin lo kan kalau lo tiba-tiba dicegat lelaki bejat.”
    Ziva tersenyum. “Lelaki bejat kaya gitu gak akan mungkin ngerusak nilai harganya mutiara. Karena hanya sekedar melirikpun mereka butuh perjuangan. Beda lagi sama mawar, yang meskipun cantik dan punya duri, ngambilnya gak butuh perjuangan. Apalagi orang-orang gak akan sayang kalau bunga itu layu lalu dibuang.”
    “Lo gak usah sok perumpamaan kaya ibu lo deh!”
    Ziva hanya tersenyum mendengar nada kesal itu. “Ayo masuk, kita sudah sampai.”
    Memasuki rumah Ziva yang artinya rumah bu Dara juga, Syahna dipersilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Ia memandangi rumah megah itu. Ia jadi iri dengan Ziva. Hidup   Ziva benar-benar beruntung.
    “Lho Syahna,” kaget Bu Dara. Syahna sedikit aneh dengan gurunya itu. Di dalam rumah saja masih mengenakan hijab.
“Kok sudah di sini?”
“Saya tadi ketemu Ziva.”
“Sekarang Ziva mana?”
“Ke kamarnya.”
     Bu Dara hanya manggut-manggut. Sedang Syahna jadi kembali memikirkan maslaah dua perumpaan itu.
    “Bu, Saya gak faham masalah perumpaan yang diucapka Ibu dan anak Ibu.”
    “Lalu?”
    “Gak usah basa-basi deh bu. Jelasin aja apa susahnya sih!”
    “Apa kamu pernah hampir dilecehkan?” Syahna mengangguk. Baru saja hal itu menimpanya.   “saya mengajarkan Ziva untuk menutup tubuhnya karena saya tau, dia itu berharga. Ibu nggak mau lelaki dengan mudah memandangnya. Dia harus jadi seperti mutiara yang untuk dipandangpun susah karena tertutup bermili-mili air laut. Ibu nggak pernah mau dia jadi kaya mawar yang emang cantik dan punya duri untuk melindungi tubuhnya. Tapi bagaimanapun memetik mawar tidak sulit dan tidak sayang untuk dibuang.”
     Syahna diam membeku. Kini ia faham. Dirinyapun berharga, tapi mengapa ia tak menyadarinya?
     “Ibu sayang sama kamu, makanya ibu mau kamu jadi kaya mutiara yang berharga.”
Syahna tersenyum. “Makasih Bu.”
     Sejak hari itu, entah mengapa ia ingin menutup segala kecantikan tubuhnya. Dan benar seperti yang diucapkan Ziva. Semenjak ia berhijab, ia tidak pernah digoda lelaki bejat lagi.
     Dalam hati ia bersyukur dapat bertemu dengan Bu Dara yang penyayang itu. Andai kata Bu Dara tak menyadarkannya, mungkin saja ia tak sadar akan berharganya dirinya dan iapun akan mengekspos kecantikannya terus menerus. Mungkin saja akan ada lelaki bejat yang mengambil aset berharganya.
     “Makasih Bu Dara. Berkat ibu, Syahna faham akan berharganya diri Syahna. Dengan itupun Syahna mulai mengurangi kebiasaan buruk Syahna. Ibu emang Pahlawan di hidup Syahna,” ucap Syahna ketika ia pulang bersama bu Dara.
     Sedang Bu Dara hanya tersenyum. Sudah tugasnya sebagai guru untuk mengayomi dan membimbing muridnya ke jalan yang benar.

Penulis : Rosi Azizah

source: bundanyacinta.files.wordpress.com      Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi par...