sources:islampos
“Look beyond the eyes can see”
and “See the world for what it could be”

“Janganlah menyerah dalam memecahkan satu situasi. Namun, lihatlah pada apa yg kau mampu
lakukan lebih” inilah gaya berfikir seorang pemimpin, Muhammad Al-Fatih.

Nama aslinya Sultan Mehmed II. Ia dididik oleh para ulama sejak kecil. Ayahnya, Murad II
adalah seorang Sultan Empayar Turki yang keenam dan sudah punya misi tersendiri yang ia
rancangkan untuk anak laki-lakinya.

Jauh sebelum Murad II naik menjadi sultan negara Turki, ia telah menaruh perhatian besar
pada pendidikan anak-anaknya dalam ilmu agama dan akhlak. Ia pilih ulama-ulama terkemuka yang
ahli dibidangnya untuk membimbing anak-anak nya sedini mungkin. Jangan salah sangka, ulama-
ulama dizaman kesultanan dan kekhalifahan Islam adalah ulama polymath. Tidak sedikit dari
mereka yang pengetahuannya tidak terbatas pada satu bidang saja. Namun, pandai di bidang agama,
hafal alquran, bahkan, ahli di bidang ilmu lainnya. Yang menarik perhatian saya adalah, ilmu yang
mampu dikuasai para ulama saat itu adalah ilmu-ilmu rumit science, history, dan sastra. Beberapa
diantaranya: astronomi, kimia, teknik perang, dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari dari kitab-
kitab bahasa asing dan mampu meneliti bagaimana ilmu-ilmu ini diterapkan dimasa sebelum-
sebelumnya. Tak heran, taktik peperangan Islam dizaman itu sangatlah mengesankan. Dan, ulama-
ulama inilah yang menjadi guru privat anak sultan Murad II saat itu.

Ada yang mengajar hanya untuk beberapa jam dan ada ulama khusus yang membersamai
mereka ke mana pun anak itu pergi. Mengajarkan ia berfikir akan arti dunia ini, dan apa misi terbesar
dalam hidupnya. Memotivasinya dengan cerita hebat rasulullah, serta, menanamkan jiwa ksatria
muslim pada dirinya. Kebiasaan inilah yang membangkitkan semangat sultan Mehmed II agar selalu
melihat kedepan dan merasa butuh untuk melakukan sesuatu, dan mempelajari ilmu-ilmu baru.
Sehingga, setiap waktu yang ia habiskan sangatlah produktif. Ia lebih dewasa menghadapi suatu
situasi dibanding anak seumurannya. Ia berani mengungkapkan opini dan ide. Matanya selalu
melihat kedepan dan berfikir, “apa yang mampu ia lakukan selanjutnya?”
Waktu berjalan dan hubungan sang ayah dengan sang anak sangat baik. Sultan Murad II
kerap mengunjungi anak-anaknya untuk mendidiknya secara langsung dan bertukar fikiran untuk membentuk pandangan hidup yang jelas bagi mereka. Sekaligus menanamkan semangat pada
anak-anaknya untuk menjadi panglima penakluk Konstatinopel terbaik, sebagaimana yang telah
dikatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Sultan Murad II pun kerap memberi ujian menantang
untuk anaknya ini. Ilmu tak cukup maksimal jika tak dicoba di medan lapang. Diumur 8 tahun,
Mehmed II berhasil menghafal seluruh Al-Quran. Setelah baligh, ia tak pernah meninggalkan shalat
tahajjud dan shalat berjamaah awal waktu. Shalat rawatib pun sudah menjadi kebiasaan hingga tak
pernah lupa mengerjakannya. Seringkali Mehmed II kecil diajak bertempur di medan perang. Diumur 6 tahun, ia telah diangkat menjadi gubernur. Dan diumur 12, ia diuji menjadi sultan
pemimpin negara.

Rasanya belum stabil ketika ia memerintah Turki di umur yang sangat muda. Tiba-tiba,
pemerintahan menghadapi situasi mencekam ketika musuh mendengar kabar terlantiknya seorang
bocah menjadi pemimpin negara, dan hubungan Mehmed II dengan para prajurit dan pemimpin
istana pun saat itu belum terlalu intens baik dan sehat.
Pada dasarnya kepribadian Mehmed II sudah sangat bagus. Ia berani dan punya misi, dan ia
meneladani sifat Rasulullah. Gurunya juga sudah menjamin keahliannya. Walaupun ia berumur 12
tahun, ia mampu mengontrol diri: visinya besar dan fikirannya matang. Namun, skill eksternalnya
nampak belum terasah se-profesional mungkin. Maka, setelah 2 tahun menjabat sebagai sultan,
ia diturunkan dan digantikan lagi dengan ayahnya.

Kegagalan ini ia jadikan sebagai langkah awal yang besar untuk melompat tinggi sukses dalam
memimpin. Maka, selama beberapa tahun ia habiskan waktunya membangun jaringan, koneksi
dengan para prajurit, penasihat, jenderal dan masyarakat. Memahami cerita Umar bin Khottob yang
selalu melakukan errands berpatroli ke rumah-rumah disaat malam hari, ia pun terinspirasi dan
melakukan hal yang sama. In disguise, ia melihat keadaan rakyat dan bertukar pikiran dengan
mereka. Interaksi dengan lingkungan adalah target self improvement eksternal nya saat itu.
Betapa keren dan terstrukturnya hidup Mehmed II, didikan pada self internalnya sudah
diasah sejak dini, keberanian dan teladan Rasulullah dan kesatria islam lainnya pun ada dalam
dirinya. Sejarah, bahasa, dan sastra pun adalah sumber ilmu komunikasi dan informasi berfikirnya.
Digabungkan dengan kemauan kerasnya, dalam umur kurang dari 17 tahun, Mehmed dapat
menguasai bahasa musuh dan Persia. Pun, dengan dalih bahwa sebagai Muslim kita wajib mempelajari agama dengan maksimal, ia kuasai Bahasa Arab dengan fasih, bagaikan bahasa ibunya
yang ia cakap sehari-hari.

Di tahap selanjutnya pun ia pelajari hubungan eksternal, bagaimana bernegosiasi dan
meyakinkan orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya. Hingga pada akhirnya ia diangkat menjadi Sultan tetap, di saat umurnya yang ke 19 tahun. Di umur 21 ia lancarkan project besarnya
menaklukkan Konstatinopel dan disitulah ia ingin melihat, seberapa dekat ia dengan hadits Rasulullah:

كنا عند عبدِ اللهِ بنِ عمرو بنِ العاصِ، وسُئِلَ أيُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فدعا
عبدُ اللهِ بصندوقٍ له حِلَقٌ، قال: فأخرج منه كتابًا قال: فقال عبدُ اللهِ: بينما نحنُ حولَ رسولِ اللهِ
نكتبُ، إذ سُئِلَ رسولُ اللهِ: أىُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فقال رسولُ اللهِ: مدينةُ
هرقلَ تُفتحُ أولًا: يعني قسطنطينيةَ
“Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana
kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau
meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu
berkata: ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud: Tatkala kami bersama Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang
terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’. Maka beliau
menjawab: ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius’. YaituKonstantinopel“.

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah
yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.

Kemenangannya di Konstatinopel disambut dengan banyak pujian dan rasa syukur
kepada Allah, itulah kemenangan yang telah dinanti-nantikan oleh umat Islam bertahun-tahun lamanya. Sekarang, kita akan lihat siapa yang mampu menjadi the next Ghazi
menaklukkan Roma.

Disarikan dari buku “Muhammad Al-Fatih 1453”


Penulis : Ursila Husnul Ridho

sources:islampos “Look beyond the eyes can see” and “See the world for what it could be” “Janganlah menyerah dalam memecahkan satu si...


Setiap manusia di hidupnya pasti pernah sukses dalam suatu hal, sekecil apapun hal itu. Kita juga pernah merasa puas/bangga karena suatu pencapaian yang dapat kita raih. Tapi, pernahkah kita bertanya-tanya dan berfikir  darimanakah kunci kesuksesan kita berasal?

Di artikel ini kita perlu ingat, bahwa sekecil apapun keberhasilan yang kita dapat dan seberapa banyak impian kita yang telah terwujud semua itu datang dari restu kedua orangtua terutama seorang ibu dan juga doa seorang ibu yang telah dikabulkan oleh-Nya. Terkadang banyak dari kita merasa hebat dengan apa yang ia telah capai, bangga dengan kemampuan yang ia miliki sampai lupa bahwa semua itu berasal dari restu dan doa dari beliau, tanpa restu beliau belum tentu hal-hal dalam hidup kita bisa terwujud. Kitapun sering lupa untuk berterimakasih kepada beliau, jangankan untuk berterimakasih kepada beliau, berterimakasih/bersyukur kepada Tuhan pemilik semesta alam saja masih sering kita lupakan, bukankah begitu?

Banyak orang sukses di dunia ini memiliki hubungan baik dengan kedua orangtua mereka karena mereka tau sesungguhnya ridha Allah ialah ridha orangtua. Dan perlu kita ketahui bahwa doa seorang ibu itu tanpa batasan di hadapan Allah S.W.T. Menembus langit. Sehingga doa ibu untuk anaknya itu sangat mudah dikabulkan oleh-Nya. Tetapi masih banyak anak yang tidak percaya dengan hal ini, padahal  seorang ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya tanpa diminta. Jika boleh berbagi sedikit cerita, dahulu aku sempat belajar Bahasa Arab dan berbicara dengan Bahasa tersebut sehari-hari dan itu  bukanlah hal yang mudah. Aku bukanlah anak yang pandai dalam bidang bahasa. Jangankan mahir, saat itu, rajin dalam mendalami bahasa arab pun aku tidak terlalu. Tapi entah bagaimana, setiap ujian, yang notabene berbahasa arab, yang ku hadapi untuk kenaikan kelas, Alhamdulillaah Allah selalu mudahkan. Hingga aku bisa lulus dengan hasil yang bisa dibilang baik. Aku sempat bertanya-tanya tentang keberhasilan yang ku dapat ini. Setelah mencoba flashback, akhirnya akupun tersadar akan suatu hal yang pernah ku lakukan. Seringkali aku menelpon ibuku, berbicara dan meminta doa dari beliau. Saking seringnya sampai aku tidak menganggap itu suatu hal yang serius ataupun berat. Aku selalu bilang “Ibu doakan ya, semoga semua urusanku dimudahkan oleh Allah dan diberikan yang terbaik” ibu selalu menjawab “pasti nak” dan dilanjutkan oleh nasehatnya yang selalu menenangkan hati. Itu sering terjadi hingga saatnya aku paham bahwa apa yang Allah berikan dan kabulkan untukku tidak lain karena doa dan restu dari seorang ibu. Dengan doa dan restu dari beliau-lah segala sesuatu yang ku takutkan hilang dan terasa mudah dijalani.  

Dari cerita diatas semoga kita bisa lebih bersyukur atas apa saja yang telah kita capai hingga detik ini dan lebih berterimakasih kepada orangtua kita, terutama ibu, sebelum semuanya terlambat. Biasakan dari sekarang untuk tidak segan meminta doa dan restu mereka untuk segala langkah yang akan kita ambil kedepan. Insyaallah jika mereka tau apa yang ingin kita capai dan merestuinya, beliau pasti mendoakan untuk kelancaran & kesuksesan kita. Jadi jangan pernah lupa ya kawan, di balik keberhasilan kita terdapat doa tulus dari sang ibunda (yang barangkali kita tidak sadar) mendoakan kita di setiap nafas, kala bermunajat kepada-Nya .

Syukron ala kulli haalin

Penulis : Ami Dila Peruri



Setiap manusia di hidupnya pasti pernah sukses dalam suatu hal, sekecil apapun hal itu. Kita juga pernah merasa puas/bangga karena suatu...




https://images.app.goo.gl/sKjFDDRVJcpTFSHN9


Apapun pilihan yang dilakukan manusia, tidak terlepas dari ketentuan Allah. Termasuk soal jodoh, ketentuan Allah ini disebut qada dan qadar. Atau istilah lainnya, takdir. Sebelum kita jauh membahas tentang jodoh, kita perlu memahami apa yang di maksud dengan qadar dan takdir. Secara singkat qadar adalah ketetapan yang di berikan oleh Allah sebelum kita terlahir ke muka bumi ini dan tidak bisa diinterfensi dan dirubah sampai kita wafat. Mau kita update status di sosial media beribu-ribu kali juga tidak akan bisa merubahnya. Sedangkan takdir adalah ketetapan Allah yang dikukuhkan atas ikhtiar makhluk jadi ada usaha dulu baru Allah tetapkan.

Dengan kata lain jodoh bisa dikategorikan kedalam takdir, dikarenakan ia memerlukan usaha dari makhluk. Teruntuk kawan-kawan kita yang jomblo jangan bersedih, kalian tidak dilahirankan untuk jomblo kok, tenang saja. Kalian bisa mengubah kejombloan kalian dengan contoh nge-dm gebetan, stalking mantan siapa tau udah siap untuk dinikahin. Nah itu bisa di kategorikan sebagai usaha.

Terus muncul pertanyaan "Bagaimana sih kita tau kalau si doi ini jodoh kita atau bukan?". Mengutip dari perkataan salah satu ustadz, Allah akan memberikan sinyal jodoh ke setiap orang. Bisa jadi kita punya kecenderungan ke orang lain atau orang lain punya kecenderungkan ke kita. Tinggal kita nya aja isthikhorah, patokanya ya dari agama -apakah dia baik- akan tetapi kita punya free will atau pilihan untuk menerima atau menolak.

Kalau sudah ada signal jodoh itu saya harus gimana? pacaran? jangan, pacaran bukan solusinya. Terus gimana saya bisa mengenali pasangan kita? kalau ikut gaya pacaran zaman now kan saya bisa tahu semua tentang dirinya, kemudian bisa tau cocok atau engga?. Tenang ada solusinya, jadi ada 3 cara untuk kita bisa mengenali calon pasangan tanpa pacaran.

Pertama adalah menilai sesuatu yang menarik dari calon pasangan kita, tolak ukurnya muka dan telapak tangan saja. Contohnya, kita bisa lihat wajah calon pasangan kita nanti, "oh matanya cantik" gitu cukup. Kedua mengenali pihak keluarga. Mengenali keluarga, ini caranya, keluarga ayah akan mewariskan fisik kepada anak keturunan. Masa sih?
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, berkata “Seorang lelaki dari Bani Fazarah mendatangi Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata, "Istriku telah melahirkan anak yang berkulit hitam" Nabi berkata, “Apakah kamu punya unta?” “Ya” jawab laki-laki itu. “Apa warnanya?” tanya Nabi. “Merah”, jawabnya. “Apakah di antara anaknya ada yang berwarna hitam?” tanya Rasulullah. “Ya ada”, jawabnya. “Dari mana datangnya? Tanya Nabi. “Mungkin mirip dengan kakeknya atau pamannya.” (HR Bukhori 684 dan Muslim 1500).
Dari hadist di atas diceritakan seorang lelaki dari bani fazarah mendatangi ke Nabi Shallahu‘Alaihi Wasallam karena anaknya memiliki warna kulit yang berbeda dari kedua orang tua dan umumnya sifat-sifat dilihat dari keluarga ibunya. Dan yang terakhir adalah mengenali lingkungannya. Gimana kita tahu lingkungannya? ya bertanya, misalnya hobi kamu apa? Setiap weekend kamu kemana? “oh saya biasanya weekend jalan-jalan ke mall malamnya biasanya party di club deket ancol” dari situ kita bisa tau lingkunganya dan itu bisa jadi tolak ukurnya. Setiap orang punya kekurangan masing-masing tapi diri kitalah yang harus menerima kekurangan tersebut.

Tulisan ini akan ditutup dengan Sebuah kata kata mutiara
مَنْ طَلَبَ أَخًا بِلاَ عَيْبٍ بَقِيَ بَلاَ أَخ
Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai
teman. Siapa yang mencari istri yang tak bercacat seumur hidup tidak akan beristri

Penulis: Ukydsn

https://images.app.goo.gl/sKjFDDRVJcpTFSHN9 Apapun pilihan yang dilakukan manusia, tidak terlepas dari ketentuan Allah. Termasuk so...

(CHAPTER 1) "ADAKALANYA"
Ajari aku menggunakan pena
akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun daun gugur..

Adakalanya,
dalam sibuknya aktivitas kita 
kita merasa kosong lantas bertanya, untuk apa semua ini kita lakukan ?

Adakalanya dalam sepinya hari yang kita jalani
Kita merasa lelah lantas bertanya,
kemana perginya orang orang ?

Adakalanya kita ingin sendiri..
Adakalanya kita ingin berteman..
Sayangnya tidak semua orang mampu mengerti dengan keadaan kita..
Terutama keadaan hati.

Adakalanya kita ingin di biarkan tidak ditanyai bahkan tidak ingin di perdulikan, kita hanya ingin demikian meski tanpa ada alasan...

Adakalanya....
Senja itu pun tak berartikan apa apa..
Terasa hampa dan tak lagi nirwana..


(CHAPTER 2) "KENAPA HARUS MATI DULU ?"
Pada umumnya, kebanyakan dari kita mendatangi seseorang  ketika seseorang itu telah tiada,
Berkata selamat jalan dengan air mata yang sebenarnya sudah tidak lagi berguna,
Tak peduli itu teman,sahabat,pasangan bahkan keluarga.
Kenapa harus mati dulu ?
baru kamu mendatanginya dengan  penyesalan
Kenapa harus mati dulu ?
baru kamu datang membawa bunga untuknya 
Kenapa harus menunggu mati dulu ?
baru kamu mengatakan yang sebenarnya bahwa kamu sayang padanya 
Lebih tepatnya di saat saat seperti itu
Ia tidak butuh lagi air mata meski air mata mu mengeluarkan darah sambil berkata cinta

J
ika kamu benar benar menyayanginya
Kenapa kamu tidak mendatanginya sekarang ?
mengapa kamu tidak membawa bunga untuknya sekarang ?
mengapa kamu tidak mengatakan kata kata cintamu itu sekarang ?
mengapa harus menunggu ia mati dulu ?
kamu harus lebih bijak dalam memahami isi hatimu.
jika kamu benar benar menyayangi teman ibumu itu ayahmu  itu, keluargamu sahabatmu ataupun pasangan itu
Datangilah mereka sekarang
dengan rasa cinta berpadu senyuman sebelum mereka pergi lalu meninggalkan penyesalan.. 
#Jejak_Lentera
#penaSantri



Penulis : Alwinsyah Almahendra



(CHAPTER 1) "ADAKALANYA" Ajari aku menggunakan pena akan kutulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun daun gug...

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan seluruh cabangnya.

Baru selesai saya tuntaskan membaca tentang kehidupan Al-Kindi. Nama asli beliau adalah Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi. Terlahir dari suku yang terdapat di dataran timur tengah bernama Kindah. Kindah ialah suku yang cukup berpengaruh dalam bidang kebudayaan dan politik. Salah satu penyair yang cukup piawai di dunia arab yang datang sebelum islam ialah Imru Al-Qais, salah satu warga suku Kindah. Yang membawa peradaban kebahasaan arab maju saat itu lewat syair-syairnya. Karena peranannya, suku Kindah berkutat seputar bidang kebahasaan. Maka, suku Kindah menggagaskan bahasa arab sebagai bahasa yang digunakan di kawasan sekitar dataran timur tengah.

Al-Kindi hidup setelah masa khulafaur rasyidin. Artinya setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada masa tabi’in. Al-Kindi menjadi inspirasi bagi ilmuwan setelahnya untuk mengembangkan keilmuwan. Ia sendiri dalam hal pemikirannya merujuk ke para filsuf yunani. Diantaranya yang paling dikaguminya ialah Plato. Hal ini terbukti dari beberapa karya filosofisnya. Namun secara khusus diantara banyak filsuf yunani, Aritoteles menjadi inspirasinya dalam mengembangkan pemikirannya.

Manusia melihat dunia ini yang menghasilkan berbagai macam keilmuan melalui dua cara, melalui panca indera dan akal. Panca indera menghasilkan pengetahuan yang sifatnya dapat dicerna oleh indera yang dimiliki manusia. Sedangkan akal berujung pada pengetahuan yang logikalis dan berbau filsafat.

Al-Kindi membagi  pengetahuan menjadi umum dan pengetahuan detail. Kemudian memberi nilai lebih pada pengetahuan umum ketimbang pengetahuan detail. Menurutnya lebih berharga pengetahuan umum untuk memotivasi dan memahami permasalahan yang dihadapi sehari-hari.

Sebagai contoh,”Antara A dan B. Kalau bukan A, ya pasti B.”

Dalam praktik kehidupannya, ”Jika saya seorang santri pesantren tahfizh qur’an. Maka, pilihan saya hanya dua kemungkinan. Berjuang menghafal sampai hafizh atau keluar dari pesantren ini.”



Praktik lainnya yang saya dapatkan dari Abi (Dosen UNIDA sekaligus pimpinan pesantrenku), ”Saya mengemudi mobil. Kemungkinannya hanya dua. Menabrak atau ditabrak.”

Satu hal lagi yang menarik menurut saya dari Al-Kindi. Dalam berbagai disiplin ilmu yang saat ini kita enyam di bangku sekolah. Menurutnya setiap bidang membutuhkan metode belajar yang berbeda-beda. Seperti halnya, jangan mengharapkan kemungkinan dalam ilmu matematika karena isinya adalah kepastian nilai. Jangan mengharapkan cukup dengan pemahaman dalam ilmu biologi  karena isinya berupa nama-nama partikular yang harus dihafal. Jangan mengharapkan kesudahan dalam menghafal al-qur’an karena dalam menjaganya dibutuhkan waktu seumur hidup. Dan pendekatan yang berbeda lainnya pada bidang yang berbeda pula. Jadi jangan hanya menggunakan satu metode dalam mempelajari suatu hal. Melainkan memahami terlebih dahulu apa tujuan ilmu tersebut dan mengapa kita harus mempelajarinya.
Metode diatas memungkinkan kita menampung berbagai bidang ilmu dalam waktu yang bersamaan. Seandainya metode pendekatan diatas kita gunakan dalam menuntut ilmu atau menggapai asa. Maka, pencarian atas ilmu yang dikehendaki akan dipermudah. Sebaliknya, jika tidak dipatuhi, kita akan kehilangan tujuan dari pencarian ilmu.

Nama Al-Kindi memang tidak semasyhur tokoh lain seperti Avicenna, Averroes, Al-Biruni, dsb. Namun pemikirannya dan segala karyanya turut serta memajukan keilmuan dalam peradaban Islam. Dan yang perlu diingat dan dijadikan motivasi adalah bahwa Al-Kindi hidup pada masa dimana teknologi belum lagi terlihat pucuk hidungnya. Bahkan untuk memahami karya-karya guru pemikirannya, ia seringkali harus mencari tahu arti dari sebuah tulisan dengan bahasa asing. Pemuda masa kini bisa dengan mudahnya menemukan banyak buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa yang mereka mengerti. Sungguh Al-Kindi tidak seberuntung kita yang hidup saat ini. Maka pesan saya adalah, dengan segala kelebihan dan kecanggihan teknologi yang kita miliki, manfaatkanlah dengan semaksimal mungkin.

أوصيكم و إياي نفسي 

Penulis : Rahmat Akbar

Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq As-Shabbah Al-Kindi ialah ilmuwan pertama yang menjadi terkenal diantara Muslim lainnya di bidang filosofi dan ...