source: pinterest

“Rofiq!”

Panggilan itu mengusik Rofiq yang baru saja akan terlelap. Siapa pula malam-malam begini usil mengganggunya?

“Rofiq … bangun!” Suara itu kembali mengusiknya. Kali ini seberkas cahaya juga menimpa wajahnya. Membuat Rofiq mau tak mau membuka mata. Silau. Cahaya lampu sorot dari lapangan depan tenda menyelinap masuk lewat jendela di dekat tempat tidurnya. Sesosok pejuang yang amat ia kenal berdiri di sana. Menyibak jendela itu dengan tangannya.

“Kenapa, Kak?”

“Bangun, Fiq! Siapkan pakaianmu. Mobil pertama berangkat sebentar lagi.’

Rofiq mengernyitkan dahi. “Bukannya yang mengungsi akan berangkat besok pagi?”

“Anggap saja ada perubahan jadwal. Bersiaplah, Rofiq! Umi sudah menunggumu dari tadi.”

Mau tak mau Rofiq memasukkan beberapa pakaiannya ke dalam tas miliknya. Saat ia telah siap meninggalkan tenda, lampu tenda dinyalakan oleh salah seorang petugas. Petugas itu membangunkan anak-anak yang lain dan menyuruh mereka bersiap. Semuanya harus segera mengungsi sebelum fajar terbit. Rofiq bergegas menuju mobil yang telah terparkir di depan tenda. Tampak Umi berbincang dengan Abi dari atas mobil. Kak Hafizh tampak tergopoh membawa ranselnya.

“Kak Hafizh ikut?” tanya Rofiq. Ia sendiri sudah duduk di samping Umi.

Sosok dengan rambut sedikit keriting itu menggeleng. Lalu menyerahkan ransel yang dibawanya pada Rofiq.

“Kakak titip kitab dan mushaf dalam ransel ini ya, Fiq. Setelah situasi terkendali, Kakak dan pejuang lainnya akan menyusul ke perbatasan,” jelas Kak Hafizh. Rofiq mengangguk. Ia tahu betul, betapa kitab dan mushaf ini amat berarti bagi kakaknya.

Salah satu pejuang memberikan kode untuk segera bersiap. Rombongan pertama pengungi akan segera berangkat. Ada sekitar lima mobil dalam rombongan pertama ini.

“Hati-hati Bi, Hafizh,” ucap Umi lirih. Bulir bening menetes perlahan dari pelupuk matanya.

“Kami akan segera menyusul setelah kondisi aman,” ujar Abi menenangkan.

Kak Hafizh menyeringai tipis sambil berujar, “Jaga Umi, Fiq. Ransel Kakak juga.”

Rofiq membalas seringai Kakaknya dengan tatapan sebal.

Rombongan mulai berjalan pelan. Rofiq menatap tenda-tenda di belakangnya dengan tatapan pilu. Lihatlah! Kotanya yang indah hanya tinggal puing. Bangunan-bangunan yang dulunya berdiri megah, kini hanya seperti remahan roti yang tak lagi berbentuk. Dan kini, ia harus terusir dari tanah kelahirannya sendiri.

Suara deru helikopter membuat Rofiq tersadar dari lamunannya. Ia mengernyit heran melihat beberapa pesawat tempur dan helikopter beriringan mendekati langit kotanya. Bukankah seharusnya malam ini gencatan senjata? Kenapa pesawat-pesawat itu ada di sini?

Rombongan mereka mempercepat laju kendaraan. Tak sampai satu menit, kilatan cahaya seperti ditumpahkan dari pesawat-pesawat kejam itu. Suara dentuman susul menyusul memenuhi cakrawala. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan penuh. Mereka harus segera sampai ke perbatasan. Jika tidak, nyawa semua rombongan akan lenyap dalam sekejap.

Rofiq masih belum mengalihkan pandangan matanya dari gumpalan asap yang tertinggal di belakang mereka. Meskipun yang terlihat hanya gumpalan asap dan cahaya dari bom yang jatuh bak hujan dari pesawat di atas sana. Apa itu? Rofiq menajamkan pandangan kembali ke letak kotanya. Ada sebuah cahaya yang melesat ke atas! Disusul cahaya-cahaya lain yang seolah sambung menyambung menuju pesawat-pesawat itu. Apa itu senjata anti roket milik para pejuang? Rofiq berspekulasi dalam benaknya. Tidak mungkin, pejuang di kotanya belum memiliki alat anti roket atau semacamnya. Lantas, apa itu?

Dentuman lebih besar terdengar. Salah satu pesawat yang mengudara di langit kota tampak kehilangan kendali lalu jatuh. Suara dentuman lain menyusul bertubi-tubi. Nasib yang sama pun dialami oleh pesawat lain dalam batalion penyerang itu. Suara takbir terdengar dari para pejuang dan anak-anak yang ikut menyaksikan peristiwa tadi. Rofiq menghela napas. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin di tangan-Nya.

Bumi Allah, 11 September 2016 

Penulis: Chairiza Ulya 

source: pinterest “Rofiq!” Panggilan itu mengusik Rofiq yang baru saja akan terlelap. Siapa pula malam-malam begini usil mengganggun...

“The philosophy of the poor and the rich is: The poor invest what is left after spending, but the rich spend what is left after investing -Rich Dad Poor Dad-


Menjadi suatu kebiasaan dalam keuangan mahasiswa perantauan khususnya, saat mendapatkan uang bulanan langsung makan mewah tapi diakhir bulan makannya promah (prom*ag.red). Padahal sebenarnya meski status masih mahasiswa, harusnya bisa makan enak tiap bulan juga bisa jalan-jalan bahkan investasi dunia akhirat berbarengan.

How come? Jadi pada prinsipnya, manusia itu mudah menghabiskan. Mau diberi anggaran berapapun, pasti akan habis. Dengan sifat itu,  Maka, setiap individu perlu mengenali kebutuhan finansialnya masing-masing agar tahu arah kemana uangnya akan digunakan. Berikut beberapa tips yang terinspirasi dari buku "Habiskan Saja Gajimu" yang ditulis oleh Ahmad Ghozali.

1. Membuat list keperluan bulanan. Catat dan kelompokkan apa saja kebutuhan yang harus dipenuhi (primary needs), kemudian yang opsional dibeli (secondary and tertiary needs).

2. Alokasi kan untuk infaq atau zakat. 
Saat uang baru mendarat direkening, lebih baik langsung potong untuk infaq atau zakat. 2.5% cukup buat zakat bagi yang telah sampai nisab, dan kalo belum bisa ikut kadar 2.5%. Ini harus dilakukan agar rezeki yang kita peroleh juga berkah.

3. Bayar hutang dulu yuk!
Mending bayar sekarang pake uang daripada nanti bayarnya pake kebaikan di akhirat nanti. Poin ketiga ini digunakan untuk membayar kewajiban seperti hutang, asuransi kesehatan, ngirim buat yang dirumah, atau bayar cicilan rumah misalnya.

4. Sisihkan untuk menabung dan atau investasi.
Cukup 5-10% asal istiqomah. Jangan diembat ditengah bulan ya. Ini bisa buat jaga-jaga kalo ada emergency needs atau bisa juga buat tabungan haji.

5. Selamat menghabiskan sisanya!
Nah, jumlah uang yang tersisa setelah tahap keempat inilah yang bisa bahkan harus dihabiskan. Pastikan semua kewajiban kamu sudah terpenuhi sebelum sampai di poin kelima. Karena sifat konsumtif itu ga bisa dibatasi, maka berapapun jumlah uang yang tersedia pasti akan habis. Oleh karena itu, alokasi konsumtif ada di akhir untuk dihabiskan. Pada bagian ini, pastikan membagi dengan jumlah hari yang kan dilewati. Dengan begitu, kita tahu berapa jumlah yang bisa kita habiskan setiap harinya. 

6. Catat semua pengeluaran.
Ini hal simpel tapi penting. Karena dengan mencatat, kita bisa tau kemana uang telah kita habiskan. Mahasiswa jaman now pun bisa memaksimalkan aplikasi di playstore kalau malas untuk menulis di buku catatan pengeluaran. Ada aplikasi money manager buat bantu kamu ngerekap pengeluaran.

Keenam tips diatas harus dilakukan berurutan dari poin 1 ke poin 6. Mengurangi dengan kewajiban sebelum menghabiskan untuk jajan. Pastikan untuk mengalokasikan uang yang diterima ke infak, zakat, atau wakaf tunai dulu, kemudian bayar hutang karena ini juga kewajiban. Khusus poin 2 dan 3 bisa diurutkan sesuai madzhab yang dianut, yang penting jangan terlewat. Dengan tips ini diharapkan generasi muda jaman now juga melek dengan perencanaan keuangan. Jadi nasib tiap akhir bulan ga selalu tragis karena kehabisan uang ditengah atau awal bulan.

Selanjutnya untuk menabung jangan nunggu uangnya tersisa. Tapi, alokasikan sejak awal. Dengan begitu, prinsip spend what left after saving perlu dilakukan untuk mengelola dompet agar tidak cepat habis tanpa jejak. Insyaallah tidak sulit.
Selamat memulai 😊

Penulis: Yekti Mahanani

“The philosophy of the poor and the rich is: The poor invest what is left after spending , but the rich spend what is left after investin...

source:pinterest

Bagaimana kami mengetahui para pemilik kebenaran di zaman penuh fitnah? 
Imam Syafi’i berkata, Lihatlah panah-panah musuh diarahkan kepada siapa, maka akan kalian temukan para pemilik kebenaran. 

Matahari sore mulai condong ke ufuk barat. Seperti hari-hari yang lalu, masjid Al-Barkah selalu dipenuhi anak-anak hingga remaja. Mereka terbiasa berkumpul dalam halaqoh untuk menyetorkan hapalan yang mereka punya. Rofiq mengedarkan pandangan ke sekeliling. Suara-suara lembut dan tegas mengambang memenuhi langit-langit masjid.

Ia menghela napas kesal. Sudah sedari tadi ia selesai menyetorkan hapalan. Seharusnya saat ini ia dan teman-temannya tengah bermain bola di lapangan seberang masjid. Seharusnya ia dan teman-teman yang telah selesai setoran diperbolehkan pulang. Tapi nyatanya? Jarum panjang jam telah kembali tegak di angka dua belas, namun Rofiq tak sedikitpun bisa melangkah ke luar masjid.

Kebosanan benar-benar melanda pikirannya. Duduknya pun tak lagi tenang seperti lima belas menit yang lalu. Rofiq tahu diam-diam Ustadz Hisyam mengawasi dari meja guru, tapi apa yang bisa ia perbuat? Ia malah berharap Ustadz Hisyam menyuruhnya ke luar dari masjid. Tak peduli jika itu memang benar-benar suruhan untuk sebuah hukuman. Rofiq lagi-lagi menghembuskan napas sebal. Bocah berusia duabelas tahun itu mencoba kembali fokus pada lembaran mushaf di hadapan.

“Rofiq!”

Belum lagi Rofiq menoleh ke asal suara, sebuah suara lain yang lebih besar berdentum-dentum menyentuh kubah masjid. Lantas, semuanya berubah gelap. Amat sangat gelap.

*---*---*
Perih. Rofiq mencoba mengusap mata yang terasa perih. Serbuk-serbuk putih bertebaran di sekitar. Ia terbatuk. Kesadarannya telah pulih seutuhnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Ah, di mana ini? Tubuh Rofiq terjepit di antara potongan-potongan dinding yang tak lagi jelas berbentuk. Apa yang telah terjadi? Ia mencoba mencari potongan memori terakhir yang tersisa di benak. Halaqoh. Panggilan Ustadz Hisyam. Suara berdentum di kubah masjid.

Rofiq kembali terbatuk. Napasnya mulai sesak. Bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini? Seberkas cahaya menyeruak dari celah dinding di depannya. Cahaya itu membuat Rofiq harus sedikit memicingkan mata karena silau. Sekarang Rofiq tahu persis apa yang harus ia lakukan. Ia mulai berteriak. Benar saja, regu penyelamat yang ada di permukaan segera menyingkirkan potongan dinding dari tempat suara teriakan berasal.

“Kau tak apa, Nak? “ Salah seorang petugas berseragam membawanya dalam dekapan. Rofiq menggeleng lemah. Setelah itu, pandangannya kembali gelap.

*---*---*

Angin bertiup lembut, membawa beribu pesan di balik ketenangan yang ia hadirkan malam ini di bumi Syam. Rofiq diam-diam mengintip batalion yang berjaga di sekitar pemukiman dengan senjata lengkap. Sudah hampir seminggu dari kejadian waktu itu. Dan sudah selama itu pula Rofiq mendengar suara bising senjata atau bom dari kejauhan.

Tapi anehnya, tak ada suara apapun di luar sana saat ini. Apa perang sudah berakhir? Bisik-bisik para pejuang mulai terdengar seperti dengungan. Apa yang terjadi?

“Gencatan senjata! Anak-anak dan wanita akan mengungsi saat matahari dhuha naik ! Semuanya bersiap!” Itu suara Paman Ahmad, pimpinan pejuang di sektor wilayah kami.

Rofiq terlonjak senang. Itu artinya, ia bisa melewati malam ini dengan tenang.  Beberapa Pejuang tampak meninggalkan pos jaga mereka. Anak-anak yang lain bergegas memasuki tenda. Rofiq justru menghampiri seorang pejuang yang tengah berjaga di bawah salah satu reruntuhan di dekat tenda. Usia pejuang itu hanya terpaut empat tahun darinya. Tapi perbedaan empat tahun itu dapat membuat sosok di hadapannya diizinkan menjadi pejuang. Sedangkan dirinya tidak.

“Tidur, Rofiq. Kau bisa tidur nyenyak malam ini. Kenapa malah berkeliaran di luar tenda?” Sederet kalimat tadi menyambut Rofiq saat berada di samping Kak Hafizh.

Rofiq terdiam. Ia menatap gugusan bintang yang bertahta di langit malam.
“Kak, apa umat Islam masih menjadi umat terbesar di dunia?” 

Kak Hafizh mengalihkan pandangan ke wajah adik kesayangannya itu. Ia tersenyum tipis. “Tentu saja, Rofiq. Meski hanya kedua terbesar di dunia, umat Islam masih termasuk umat yang besar.”

“Kalau memang umat Islam itu besar … kenapa tidak ada satu pun yang menolong kita, Kak?”

Kak Hafizh terdiam. Helaan napasnya terdengar gusar. Ia tahu, cepat atau lambat adiknya yang amat kritis ini pasti akan mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang juga selalu memenuhi benaknya sejak bom pertama dijatuhkan di kota mereka.

“Mereka membantu kita, Rofiq. Lihat! Tenda, obat-obatan, ambulan, bahkan makanan dan pakaian. Mereka membantu kita saat kita tertimpa kesusahan,” tutur Kak Hafizh pelan.

Rofiq menggeleng cepat. Bukan bantuan seperti itu yang ia maksud.
“Maksudku … apa tak ada satu pun pemimpin muslim yang mampu membantu kita mengakhiri semua peperangan ini?” Suara Rofiq bergetar. Segala resah dalam benaknya keluar sudah.

Kak Hafizh kembali menghela napas,” Mereka punya urusan yang jauh lebih penting, Rofiq.”

“Jadi … mereka membiarkan kita dibantai begitu saja?”

“Kita tak pernah berjuang sendirian, Rofiq. Allah selalu bersama kita.”

Rofiq menunduk. Ia melupakan satu hal. Meski seluruh dunia memalingkan wajah dari tanahnya, mereka tak pernah benar-benar berjuang sendirian. Mungkin para pemimpin muslim di luar sana tak bisa melakukan apa-apa karena keterbatasan mereka. Tapi ada yang jauh lebih berkuasa melakukan apapun. Dan Ia, takkan pernah meninggalkan umat-Nya.

Bersambung ... 


Written by: Chairiza Ulya

source:pinterest Bagaimana kami mengetahui para pemilik kebenaran di zaman penuh fitnah?  Imam Syafi’i berkata, Lihatlah panah-panah m...


Serial Parenting dengan Kak Wina Risman

Pernahkah kamu memeluk ibu atau ayahmu dari kecil hingga sekarang?
Pernahkah kamu memeluk sahabatmu dalam keadaan suka maupun duka?
Atau bahkan memeluk kakak dan adikmu secara tiba-tiba?

Jika Iya, berbahagialah..
Bahwa kamu insan yang paling beruntung karena bisa memberi kekuatan dari sebuah pelukanmu. Apa yang kamu rasakan saat dipeluk? Tentu saja jiwamu akan terasa lebih tenang, tentram dan luas meski terkadang sebelumya jiwamu merasa sesak dan terhimpit, dan pasti mendapati ukhuwah akan terjalin lebih erat, begitu juga perasaan mereka yang dipeluk olehmu. Bukan hanya anak kecil saja, sampai dewasa pun semua orang memerlukan sebuah pelukan.

Jika belum, beri pelukan terbaikmu!
Tahukah kamu? fakta membuktikan bahwa berpelukan dalam waktu 20 detik, otak akan mengeluarkan hormon oxytosin, yakni hormon bahagia yang dapat menambahkan rasa kasih sayang dan kepercayaan terhadap dua belah pihak yang berpelukan.

Hormon tersebut juga yang dapat merangsang ibu agar asinya keluar, jika terdapat ibu yang mendapati masalah pada asinya yang tidak keluar pasca melahirkan, maka kemungkinan terbesar adalah karena sang ibu terbebani pikiran sesuatu dan kurangnya pelukan dari suami.

Begitu jugacara menghadapi temper tantrum (emosi yang meledak) pada anak, adik, saudara, keponakan, atau anak kecil di sekitar kita. Tak jarang kita temui anak yang begitu mudah amarahnya memuncak, bahkan meraung-raung jika keinginannya tidak terpenuhi oleh orang tuanya, dan biasanya orang tua yang sudah kewalahan menghadapi anak yg temper tantrum ini menuruti semua permintaannya.

Terkadang ada pula yang mengunci si anak di kamar hingga ia diam, atau ikut marah-marah pada anak. Sebenarnya jalan yang terbaik ialah dengan mencoba memeluk mereka. Mungkin pertama kali memeluknya ia tak langsung diam dan masih memberontak, tapi pelukan yang lama dan pelukan yang seterusnya dapat menentramkan jiwa sang anak dan perlahan-lahan hatinya pun luluh.

Cara mencegah terjadinya temper tantrum pada anak adalah dengan menjelaskan kepada anak peraturan yang jelas saat ia mulai berumur 3 tahun, apa yang boleh dilakukannya, apa yang tidak boleh, menghormati yang lebih tua, dan menyayangi yang lebih muda, serta peraturan lain yang telah disepakati ayah dan ibu kepada anaknya, dalam kata lain sang ayah dan ibu harus seiya sekata, hingga anak tidak bingung. Misalnya ibunya tidak membolehkan anak membeli makanan yang dapat merusak gigi, ayahnya juga harus melarang anaknya makan permen misalnya. Jangan ada salah satu yang membolehkan hingga anak mempermasalahkan bahkan tidak mentaati peraturan dari orangtuanya. Oleh sebab itu juga, diperlukannya satu visi misi dari pihak ayah dan ibu sebelum menikah, apa yang calon istri mau dan tidak mau setelah menikah, ingin membesarkan anak dengan bagaimana, begitu pula dengan calon suami.

Membiasakan berpelukan dengan anak atau saudara kita dari kecil akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang begitu dalam dan dapat menghindarkan dari butuhnya ‘pelukan dari lawan jenis yang bukan mahramnya’ saat ia dewasa. Mengapa? Karena ia sudah terbiasa mendapatkan pelukan dan tercukupi kasih sayangnya.

Survey membuktikan bahwa anak yang mudah sekali terperdaya oleh rayuan dan pelukan dari lawan jenis karena kurangnya kasih sayang dan pelukandari keluarganya, terutama dari ayahnya. Hormon bahagia (oxytosin) yang keluar dari berpelukan ini juga menimbulkan kecanduan.

 Jika si kecil tidak mendapatkan hormon bahagia tersebut dari orang tuanya, tentu dia akan mencari kenyamanan dan kehangatan dari seseorang yang bukan mahramnya. Jadi, bagaimana  Ayah, Bunda? Masih mau mengabaikan pelukan untuk si kecil?



Serial Parenting dengan Kak Wina Risman Pernahkah kamu memeluk ibu atau ayahmu dari kecil hingga sekarang? Pernahkah kamu memeluk sa...


source: unsplash.com




Pernahkah kamu merasa sudah sangat lelah menjalani keseharian? Rasanya, ingin berhenti saja. Rasanya, kalau bisa melarikan diri dan menghilang kamu mungkin akan memilih kemungkinan tersebut. Penat. Lelah. Tak hanya fisik, keadaan emosional pun sama labilnya. Lelah yang mendera benar-benar menguji batas akhirmu.

Saat-saat di mana kita merasa apa yang dilakukan seolah tak ada yang benar. Saat-saat kita merasa ingin berhenti saja dari apapun yang sedang dijalani saat ini. Saat-saat rasanya ingin menangis saja karena luapan emosi yang tak lagi terbendung.

Tenang, Kawan. Kamu tidak sendirian. Aku, kamu dan banyak orang di luar sana juga pernah mengalaminya. Jangan merasa begitu pecundang karena ingin menyerah saja pada apapun itu yang sedang kamu coba jalani saat ini. It’s okay. It’s okay to feel not okay.

Yang kamu perlukan saat ini hanyalah jeda. Ambil jeda sejenak. Coba beri reward pada dirimu atas semua pencapaianmu sejauh ini. Coba istirahat dari apapun yang membuat kamu merasa se-hectic ini. Tarik napas yang dalam, lakukan hal-hal yang sekiranya mampu membuat mood kamu kembali membaik.

Kita sangat perlu mengambil jeda sejenak. Tidak harus untuk me-review apa-apa saja yang akan dan telah kamu lakukan sebelumnya. Cukup ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri. lakukan hal-hal positif yang akan membuat kamu bahagia. Menonton film misalnya, membaca buku penulis favorit, atau sekadar hangout bersama teman-teman.

Seperti juga tulisan yang memerlukan spasi dalam porsi yang tepat agar bisa dibaca dan dimengerti, kita juga butuh spasi dalam hidup kita. ‘Spasi’ tadi kita butuhkan tak hanya untuk menenangkan diri, namun juga untuk lebih mengenali diri sendiri.

Barangkali karena terlalu sibuk, kamu jadi lupa melakukan hal-hal kecil yang membuatmu bahagia. Barangkali karena terlalu padat, jadwal ibadahmu jadi tidak tersusun rapi seperti sedia kala. It’s okay. Take a rest. Ambil jeda sejenak untuk menyusun kembali hidupmu, untuk memastikan dirimu menjalani hari-hari dengan menyenangkan nantinya.

Selama jeda tersebut, coba telusuri apa-apa saja yang terasa hilang atau tertinggal. Mungkinkah karena kesibukan selama ini ibadah-ibadahmu jadi sering terbengkalai? Mungkinkah target-target harian seperti tilawah Al-Quran sering ter-skip begitu saja? Ambil jeda sejenak. Tenangkan dirimu, lakukan hal-hal yang menyenangkan, lalu susun kembali rutinitas harianmu.

Mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuatmu merasa enjoy seperti dulu. Tak apa, take your time. Ambil jeda sebanyak yang kamu butuhkan. Lalu mulai kembali semuanya dengan senyuman.

Ditulis oleh : Annisa Alya Adzkya 

source: unsplash.com Pernahkah kamu merasa sudah sangat lelah menjalani keseharian? Rasanya, ingin berhenti saja. Rasanya, kalau bi...