https://www.hlb.com.my


Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian

Dalam pepatah yang sudah sering kita dengar sejak kecil ini di sampaikan bahwa  kita harus berani dan kuat untuk memperjuangkan kebahagian meskipun dengan rasa sakit diawal. Seperti layaknya seseorang traveller, untuk mencapai tempat tujuan yang diimpikan, kita harus menempuh jarak, meluangkan waktu, serta hambatan yang mungkin hadir di tengah perjalanan.

Banyak orang ingin menjadi kaya karena ingin mendapatkan kemudahan dalam beberapa aspek kehidupan. Ya, hal itu boleh saja. Sebagai seorang muslim bahkan dianjurkan untuk mencari harta yang halal untuk digunakan kepada hal yang baik. Namun, kemudahan ini seringkali melenakan dan menjatuhkan pelaku ke dalam jurang keterpurukan.

Kita bisa ambil dari sisi kehidupan pengusaha sebagai contoh. Tahukah kalian, bahwa tantangan terbesar pengusaha bukanlah saat-saat sulit ketika awal merintis bisnis? melainkan ketika ia mencapai puncak kejayaan bisnisnya. Karena pada masa itu, seseorang akan merasa pada posisi yang cukup aman, sehingga dirinya tidak merasa terpacu untuk melakukan berbagai hal produktif seperti pada awal dia mati-matian membangun usaha. Ketika itu, gaya hidup konsumtif bisa saja muncul jika si pengusaha tidak dibentengi iman yang kuat. Lantas apa yang terjadi? Bisnisnya kemungkinan besar terancam hancur karena benar-benar terlena. Kalaupun tidak, kualitas dirinya-lah yang hancur dikarenakan skill yang dengan lelah ia raih tak lagi diasah.

Untuk itu, mari kita nikmati setiap proses challenging yang tak jarang menguras hati dan pikiran ini dengan penuh tekad dan keyakinan! Insya Allah ketika sudah dapat survive dan berusaha untuk terus tersenyum ditengah kesulitan, kita akan menjadi pribadi yang mudah bahagia disetiap keadaan. Yang terpenting, jangan lupa untuk selalu yakin bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya mendapat ujian melebihi batas kemampuan dan ingatlah bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. 


Penulis : Shofa Karimah

https://www.hlb.com.my Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian Dal...


"Hafiz Al-Quran itu mulia, bukan saja karena terbawa kemuliaan Al-Quran. Tetapi lebih dipengaruhi rasa cinta, cita-cita, niat tulus dan kesungguhan menghafal yang teruji."

Dari sekian banyak buku-buku motivasi menghafal Al-Quran yang pernah saya baca, buku ini adalah yang paling berkesan dan tak jenuh dibaca berkali-kali. Buku ini selalu ampuh jadi moodbooster setiap kali terasa berat saat mengulang hafalan. Gaya penulisan Ustad Deden memang terbilang sedikit sastra, tapi tidak mengurangi keasikan pembaca dalam menyimak tulisan yang beliau sajikan.

Pada bagian prolog, penulis menceritakan kisah perjuangan beliau menghafal Al-Quran selama 56 hari. Berdasarkan pengalaman penulis, ditulislah buku ini yang dibagi menjadi tiga bagian.

I'dad (Persiapan)
Bagian ini berisi tentang bekal-bekal yang harus dipersiapkan oleh para penghafal Al-Quran sebelum mulai menghafal. Bagaimana cara agar kita bisa jatuh cinta pada Al-Quran, cara-cara tepat membaguskan bacaan hingga manajemen waktu dan pemilihan tempat yang tepat untuk menghafal.

Kayfiyyah (Metode)
Berbeda dengan buku bertema sama yang menekankan cepatnya menghafal, dalam buku ini penulis mengajak para pembaca untuk memaknai lebih dalam hakikat dari menghafal Al-Quran itu sendiri. Bagaimana proses menghafal ayat demi ayat itu tak terasa seperti beban, namun sebuah kenikmatan. Dalam bagian ini juga dijabarkan perlunya mujahadah atau kesungguhan dalam menghafal, pentingnya doa dan ibadah serta berbagai ujian yang mungkin saja mengiringi perjalanan seorang Penghafal Al-Quran. Dan yang paling penting dari semuanya, tawakal kepada Allah semata.

Muhafazhah (Penjagaan Sepanjang Hayat)
Tahapan terakhir ini sesungguhnya bukanlah akhir. Karena saat seorang penghafal Al-Quran menyelesaikan setoran hafalannya, sejatinya ia sedang memulai penjagaan ayat-ayat cahaya itu hingga akhir hayatnya. Penulis memberi metode bagaimana belajar memelihara hafalan Al Quran, periode waktu mengulang hafalan sesuai dengan daya ingat hingga mencapai puncak kenikmatan menghafal.

Ada banyak quote menohok yang akan menyentil di setiap paragraf buku ini. Salah satunya adalah, "Jika membaca buku ini mengurangi waktu Anda murojaah (mengulang hafalan) segera tinggalkan!" Buku ini sangat direkomendasikan bagi siapa saja yang ingin menghafal Al-Quran, sedang menghafal ataupun bagi yang sudah menyelesaikan hafalan.



Rahasia Nikmatnya Menghafal Al Quran | Deden Muhammad Makhyaruddin | Noura Books (lini Mizan) | 2013 | 287 halaman |

Peresensi: Alya Adzkya

"Hafiz Al-Quran itu mulia, bukan saja karena terbawa kemuliaan Al-Quran. Tetapi lebih dipengaruhi rasa cinta, cita-cita, niat tulus ...


 Source: Snapshot from islamic history

Indonesia adalah negara besar sekaligus bangsa yang kaya, baik dari segi SDA maupun SDM
yang dimiliki. Indonesia juga merupakan negara muslim terbesar di dunia, sekitar 80% penduduk
Indonesia adalah muslim. Sehingga banyak yang menggadang-gadangkan Indonesia akan menjadi
sumber kekuatan terbesar yang dimiliki islam di masa yang akan datang. Namun, seperti yang
digambarkan Rasulullah SAW akan datang suatu masa dimana kalian umat muslim akan digempur
dan diserang dari segala sisi ibarat hidangan makanan yang dihadapkan kepada orang banyak.
Kemudian salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW, ”Apakah pada zaman itu umat
muslim amat sedikit jumlahnya ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, ”Justru jumlah kita sangat
banyak, namun itu tak lebih sekedar buih dilautan"

Sabda Rasulullah SAW sangat menggambarkan kondisi umat islam zaman ini. Betapa banyak
umat muslim di dunia terlebih lagi di Indonesia namun tak dapat bergerak bebas dan selalu
mengikuti arus zaman layaknya buih yang selalu mengikuti arus gelombang tanpa memiliki tujuan
yang jelas.

Seseorang yang tak memiliki tujuan yang jelas dan motivasi hidup untuk melangkah,
sudah dipastikan dia akan terseret gelombang-gelombang yang ada disekitarnya, tak peduli apakah
itu membawanya kepada kebaikan atau malah membawanya kepada lubang kehancuraan yang
bertentangan dengan tuntunan yang diajarkan Rasulullah SAW.

Kira kira apakah penyebab dari semua itu?
Kebanyakan kita umat muslim masih belum mengerti atau menolak untuk mengerti akan ke-
syuumul-an islam dan masih mengotak-kotakan suatu hukum sehingga tanpa sadar sudah
menciptakan kerenggangan antar umat islam itu sendiri yang cepat atau lambat menimbulkan
perpecahan. Perpecahan inilah yang menyebabkan kita gagal paham akan siapa sebenarnya musuh-
musuh islam dan malah menjadikan islam sebagai ajang siapakah yang paling benar.

Penulis : Abdullah Rasyidi

  Source: Snapshot from islamic history Indonesia adalah negara besar sekaligus bangsa yang kaya, baik dari segi SDA maupun SDM yang ...

source: wallhere.com


Mengingat orang tua dahulu berkata  kalau sudah berpendidikan ke jenjang yang tinggi, maka orang itu akan mempunyai status di lingkungan sosialnya”. Kini kita sudah mulai memasuki abad ke 21, orang-orang sudah berlomba-lomba menghiasi namanya dengan berbagai gelar yang didapat dari bangku perkuliahan. Seperti tidak ada batas kalangan, gelar sarjana apapun bisa melekat ke nama kalian dengan mudah. Berbagai berita dikoran maupun ditelevisi pun menceritakan bahwa angka kebodohan bergerak kebawah dengan tajam disetiap tahunnya. Sungguh, ini adalah kemajuan yang pesat dalam SDM (Sumber Daya Manusia) di negeri ini.

Bukan kedamaian atau ketenteraman seperti apa yang diharapkan orang dahulu datang ke negeri ini. Malah berbagai persoalan dan permasalahan baru menghiasi disetiap sudut penjuru negeri ini. Semua orang merasa diatas, orang pintar membodohi orang pintar, semua kepala merasa bahwa isinya telah benar.

Lampu etika dan adab meredup dihati manusia perlahan-lahan, anak muda sudah tidak lagi menghormati yang lebih tua darinya. Tidak ada lagi keharmonisan dalam masyarakat, tidak ada lagi kehangatan dilingkungan sosial. Kini hati rakyat sudah terbuai gelar pendidikan tinggi mereka sendiri.

Pelita hati berteriak memohon bantuan agar ia tak padam di negeri tersebut. Namun seluruh manusia di negeri itu sudah terlanjur menutup mata dan telinga, hingga tidak mendengar jeritan lampu pelita mereka. Berbagai perang akhirnya muncul menghujani rakyat. Memporak-porandakan negeri dan seisinya. Bukan letusan perang antar Negara lain, melainkan perperangan melawan ego masing-masing yang hampir menghilangkan separuh populasi Negara tersebut.

Ini adalah persoalan yang rumit dan kompleks dibandingkan era pada sebelumnya. Pemimpin dan para petinggi negeri tersebut panik saat tersadar bahwa lampu pelita hendak meninggalkan negeri itu selama-lamanya. Mereka tersadar, bahwa jika pelita hati mati, ia akan membawa pergi lampu pendidikan dan akan menyisakan kegelapan sepekat-pekatnya di negeri tersebut.

Akhirnya, penduduk negeri tersebut tersadar bahwa pelita hati harus dijemput kembali. Bahkan sepanjang apapun gelar melekat pada diri, bukan berarti ia bisa menerangi negeri ini. Tetap, kembali kepada etika dan adab yang pemegang kendali nilai bangsa ini.

 By Anonymus

source: wallhere.com Mengingat orang tua dahulu berkata   “ kalau sudah berpendidikan ke jenjang yang tinggi, maka orang itu akan me...



"Jalan Allah ini sangat panjang. Untunglah kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanyasanya kita diperintahkan untuk mati di atasnya." (Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani)

Judul buku ini diambil dari tajuk tabligh akbar yang diadakan di Islamic Book Fair setahun sebelumnya. Ditulis oleh kedua ustadz penulis kondang, jadilah buku bergizi ini kolaborasi apik dari beliau berdua. Bagi yang sudah akrab dengan buku-buku terbitan Pro-U Media, tentu tak lagi asing dengan konsep 'dua wajah' dari buku ini. Sisi pertama ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah yang menulis tentang dakwah. Sedangkan sisi kedua ditulis oleh Ustadz Felix Y. Siauw yang bercerita tentang ukhuwah.

Ustadz Salim memberikan penjelasan tentang dakwah secara singkat, melalui garis besar tafsir Qur'an Surah Yusuf ayat 108. Kata per kata, kalimat per kalimat dijelaskan dengan amat apik. Mulai dari jalan dakwah yang panjang tempuhannya, sedikit kawanannya, juga banyak timpaannya hingga sampai pada titik dimana kita menentukan posisi diri. Kita akan diajak menelusuri kisah-kisah dakwah Rasulullah S.A.W juga para sahabat, tabi'in dan ulama-ulama sesudahnya dalam memperjuangkan agama ini.

Bab yang paling menyentuh dari bagian ini adalah saat sampai ke akhir ayat. Pada titik di mana kita mungkin mempertanyakan diri sendiri; Kemana ilmu akan membawa kita? Lebih dekat dengan Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Sudahkah niat kita lurus dalam berdakwah dan menuntut ilmu?

Sisi lainnya yang berkisah tentang ukhuwah, juga dituliskan dengan begitu indah. Menelaah sebab-sebab kenapa kita sekarang ini mudah berpecah, padahal doa-doa yang kita langitkan masih sama. Kenapa kita mudah sekali berselisih paham pada sesama, namun mudah pula bertenggang rasa pada yang tak seharusnya.

Ah, mungkin kita terlalu sibuk pada diri sendiri, hingga tak sempat bersilaturahmi. Padahal jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu untuk saling melihat, betapa sesama kita memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Ustadz Felix menuliskan bagian ini dengan halaman yang tidak terlalu tebal, namun sarat makna.

Dengan total halaman berkisar 250-an, buku kecil ini sungguh sarat makna dan begitu berkesan. Bagi Anda yang sedang ingin mendalami makna tentang dakwah dan ukhuwah dengan gaya bahasa yang ringan, ‘Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku’ adalah pilihan yang tepat.

Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku | Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw | Pro-U Media | 2016 | 256 halaman |

Peresensi: Alya Adzkya 



"Jalan Allah ini sangat panjang. Untunglah kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanyasanya kita diperintahkan untuk ma...