source: Pinterest

Pernah mendengar atau membaca hadits berikut :

“Sungguh yang paling kucintai diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya”  (Shahih Bukhari) 

Hadits tersebut menyatakan siapa saja manusia yang menanamkan akhlak mulia pada dirinya maka menjadi manusia yang dicintai Rasul dan akan bersamanya di surga Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Lalu bagaimana dengan kita? Apa kita sudah menjadikan akhlak mulia sebagai kebiasaan dalam diri kita? Tidak tergiurkah dengan ajakan bersama Rasulullah di surga? Bukankah tujuan kita dalam beribadah adalah dapat menempati salah satu tempat di surga Allah? 

Di zaman milenial seperti sekarang ini, sulit sekali menemukan sosok berakhlak mulia namun bukan berarti tidak ada. Gejolak muda yang mudah membara hanya karena kesalahpahaman, kurang teliti dalam menyebar informasi, dan saling mengagungkan kebenaran. Hal tersebut menjadikan kita mudah tersulut emosi. Hingga saling melempar umpatan dengan bahasa yang kasar, tidak layak, bahkan sampai gontok-gontokan. Lebih parahnya itu tidak hanya terjadi pada kaum muda tetapi juga pada yang sudah berumur.

Tidak terlambat, kita masih bisa menanamkan akhlak mulia sesuai dengan yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan syarat terlebih dahulu menanamkan kesungguhan dalam diri untuk meraihnya.
Akhlak mulia berarti segala sikap, prilaku, adab seseorang yang sesuai dengan tuntunan hadits dan Al-Qur’an. Akhlak mulia telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni terdapat dalam Al-Qur’an. 

Secara garis besar akhlak mulia dibagi menjadi dua:

1. Akhlak mulia kepada Allah (Habluminallah)
Meliputi sikap dan prilaku kita dalam menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Memperkuat tauhid dalam diri sebagai benteng utama seorang mukmin. 

2. Akhlak mulia terhadap sesama manusia (Habluminannas)
Seperti yang telah nabi contohkan di antaranya adalah:  rasa kasih sayang, pribadi pemaaf, menjaga silaturrahim, menjenguk orang sakit, menjaga lisan agar tidak mudah menyakiti dan masih banyak lagi. 

Dalam satu riwayat mengkisahkan seorang yang bernama Jariyah bin Qudamah Radhiyallahu anhu, ia meminta wasiat kepada nabi agar ia bisa menghapal dan mengamalkannya, wasiat itu mewakili seluruh kebaikan. Wasiat yang singkat namun sarat makna. 

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam “Berilah aku wasiat.” Nabi menjawab, “Engkau jangan marah.” Orang itu mengulangi lagi permintaanya terus menerus, kemudian Nabi Bersabda “Engkau jangan marah!” (HR. Bukhari)
Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun pernah bersabda, “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk surga.”

Itu hanya sebagian dari banyak akhlak mulia yang Rasul ajarkan. Betapa sayangnya Rasul pada kita. Dengan meniru akhlak nabi yang mulia, insyaa Allah akan menghantarkan kita meraih surga yang menjadi harapan setiap makhluk.

Dari Abu Hurairah, ia berkata:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab “taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya juga mengenai perkara yang banyak memasukkan orang ke dalam neraka, beliau menjawab “perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR Tirmidzi no. 2004 dan Ibnu Majah no. 4246)

Kita hanya sebatas hamba penuh kekhilafan dalam diri, kita sangat perlu koreksi diri, lemahnya iman telah merenggut sekian banyak waktu yang menjadi sia-sia. Dengan waktu sebentar ini, dengan semampu kita memperbaiki diri, kembali pada kebenaran yang hakiki, membersihkan diri dengan akhlak mulia, semoga dengan begitu mampu menghantarkan kita ke surga Allah subhana wata’ala bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Penulis: Umma Khaula 

source: Pinterest Pernah mendengar atau membaca hadits berikut : “Sungguh yang paling kucintai diantara kalian adalah yang paling...

source: unsplash

Banyak yang menafsirkan bahwa manusia, dari segi Bahasa, adalah makhluk pelupa. Betul saja, kalau merujuk ke Bahasa Arab, terdapat empat kalimat asli dari manusia, yaitu mim, nun, sin, dan ya’. Namun mim terpisah dengan tiga kalimat asli setelahnya (nun, sin, ya) yang bisa membentuk sebuah kata kerja sehingga menjadi nasiya-yansa yang berarti lupa. Adapun nusiya adalah kalimat pasifnya yang berarti terlupa atau dilupakan. Sedangkan mim yang di awal itu adalah sebuah kalimat keterangan yang menunjukkan keberadaan sesuatu setelahnya. Maka apabila diartikan secara gamblang, manusia bisa bermakna sebagai ‘apa-apa yang terlupa’.

Arti dari manusia itu sendiri sebenarnya telah menunjukkan betapa manusia itu adalah makhluk yang lemah, karena lupa merupakan sebuah simbol kelemahan. Lupa, tidak mampu mengingat dengan baik, ceroboh, gegabah, lalai, semuanya mengandung konotasi yang tidak baik, negatif. Contoh yang sangat jelasnya adalah seperti apa yang disampaikan Rasulullah SAW dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, “dua nikmat yang sering dilupakan dan dilalaikan oleh manusia adalah nikmat sehat dan waktu luang”. Namun ternyata ada dimensi lain yang juga sering terlupa oleh kebanyakan manusia, yaitu kapasitas diri sebagai individu dan bagian dari masyarakat kolektif, beserta pertanggungjawabannya. Karena pada faktanya, kapasitas yang dimiliki sebanding lurus dengan besarnya tanggung jawab yang harus diemban. Ibaratkan barang dagangan, maka kualitas barang tersebut menjadi penentu berapa harga yang harus dibayar.

Kapasitas adalah ukuran kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu. Sebagai individu, manusia tentunya memiliki kapasitas yang besar untuk melakukan apapun yang ia mau. Akal yang sehat dan berfungsi dengan baik, serta waktu yang dianugerahkan merupakan indikasi nyata adanya kapasitas tersebut. Namun tetaplah harus diingat bahwa itu semua ada pertanggungjawabannya.

Sebagaimana Hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh imam at-Tirmidzi, “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” Dilihat dari hadits ini, maka sungguh setiap apa saja yang dimiliki dan dikerjakan oleh manusia akan diminta pertanggungjawabannya. Bahkan ketika kita mendapat IP 3,9 dalam skala 4 pun Allah akan tetap menanyakan, kemana pergi sisa 0,1 lainnya? Karena bukankah kita telah diberikan akal dan waktu untuk berusaha mendapatkan yang terbaik?

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Allah SWT Tuhan semesta alam telah menganugerahkan kepada kita sebuah negeri yang memiliki beragam kekayaan alam. Laut, tanah bahkan udara kita menyimpan berjuta-juta potensi kekayaan. Benar saja kata Koes Plus dalam lirik lagu lawasnya ‘Kolam Susu’, “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”.

Namun sayang beribu sayang, kemiskinan masih merupakan suatu hal yang sangat mudah untuk dilihat dan dirasakan. Lautan kita yang luasnya 2/3 dari wilayah teritori negara ternyata belum mampu menjamin adanya seekor ikan dalam rumah kita. Tanah, yang katanya membentang luas dari sabang hingga merauke itu juga belum bisa memastikan mudahnya tiap orang di negeri ini mendapatkan satu suap nasi. Tidak perlu melihat terlalu jauh, daerah seperti Papua yang sudah jelas memiliki ladang emas saja, masih banyak rakyatnya yang hidup dalam garis kemiskinan. Jauh dari kata sejahtera. Melarat, semelarat-laratnya. Kebutuhan pokok saja masih sulit didapatkan apalagi kebutuhan sekunder. Itu adalah Papua, tanah ladang emas. Lantas bagaimana dengan rakyat di tanah yang hanya memiliki sayur kangkung?

Kalau sudah seperti ini, lantas siapa yang ingin kita salahkan? Tuhan? Tidak! Kita semua telah sepakat bahwa negeri kita memiliki segalanya. Itulah karunia Tuhan. Kita semua telah sepakat bahwa tanah kita tanah syurga. Itulah anugerah Tuhan. Itulah kapasitas negeri kita yang Tuhan berikan. Kapasitas itu sangat besar, begitu besar. Karenanya, KITALAH yang patut disalahkan. KITALAH yang belum mampu mengelola semua kapasitas itu untuk kemaslahatan bersama. Atau mungkin kita sudah mampu, tapi ada sebagian kita yang rakus yang hanya mementingkan dirinya saja sehingga lupa nasib saudara sebangsa dan setanah air. Kalau memang itu yang terjadi, hancurlah kita.

Kapasitas negeri kita yang begitu besar ini, adalah amanah kolektif bagi setiap orang. Kita memiliki amanah untuk memastikan bahwa setiap anak negeri bisa menikmati semua kapasitas itu. Kalau kita gagal, bersiap-siaplah dengan pertanggungjawabannya, itu resiko kita.


Berkaitan dengan hal ini, sebentar lagi akan datang pemilihan legislatif atau pemilihan umum, kemudian diikuti oleh pemilihan presiden. Itu tahun depan. Tapi hanya beberapa bulan lagi saja, tidak sampai setahun. Kita sebagai rakyat tentunya berharap banyak agar pemimpin-pemimpin kita di negeri ini mampu mengemban tanggungjawab besar dalam menghadirkan kesejahteraan. Para pemimpin kita harus selalu diingatkan bahwa kita adalah negara yang memiliki potensi serta kapasitas besar, maka tanggungjawabnyapun dalam menjamin bahwa setiap orang bisa menikmati kapasitas tersebut juga besar. Sekali lagi, harus selalu kita ingatkan. Karena kapasitas dan tanggungjawab adalah dimensi yang sering terlupa.

Penulis: Rivaldy Sandika Putro 

source: unsplash Banyak yang menafsirkan bahwa manusia, dari segi Bahasa, adalah makhluk pelupa. Betul saja, kalau merujuk ke Bahasa Ar...

Get to Know Your Purpose
By: Mirrah fairuzsilmi Aliah


Bismillahirrahmanirrahim,
We wake up every morning, we go to the class, we do our works everyday, simply because we have a purpose. Everyone who lives in this world has a purpose even though we do not know our purpose yet, or we still cannot define our purpose or our purpose is keep changing throughout the time. Everyone has a purpose, if a person does not have a purpose to live, then she or he will commit suicide. So we live our life by having a purpose because that what makes you keep striving for excellence, to never give up on life. That is the fundamental thing.

But now, how we do know our purpose?

We begin by, questioning why there is such thing as this universe, why this thing is created, why we exist in here. If you ever learned probability, if you count a probability of why sun is in that exact position, why moon keep orbiting the earth, why plants produce an oxygen and all of the other bizarre things that happened, why are they in the precise place, precise amount, you will find a very very small number of that probability happened. Do you think it is happened by a random chance? By random circumstances? now those questions lead us to, rational thinking of; There must be someone whom The Greatest that taking care of these kinds of stuff, there must be a something big, something we can not imagine, There must be a Creator.

Then we get the next question, Who is the Creator? 

The most possible position of our creator is definitely our God. Because who else will be greater than our God? who else will be greater than our Creator? Then we can conclude that our Creator is simply our God. And our God is Allah, The one that has no equals, The Greatest, The God of the entire world.
Then why do Allah create us?

Allah does mention in the book of islam, Al-Quran that He did not created a jinn and mankind except to worship him. Except to worship Him. Allah did not create us because he needs a companions, but Allah created us to glorify His glorious.

Now, we are back to the first question, what is our purpose?

As it is mentioned in our manual book of life which is Quran, our purpose is simply to worship Allah swt. Now there is another basic thing that i wanted to emphasize, that is a meaning of Islam. Islam comes form the arabic words which means a submission, sincerity, obediance and peaceful. In other words islam means, a submission with sincerity followed by obediance to reaches a peaceful life in dunya and hereafter. So the muslim means the doer of islam which means, a person who submited their life to the God with sincerity by obeying His regulation to reaches a peaceful life now and hereafter. 

Why do we have to submit ourselves to Allah? The reason it is because this is a transaction between us and God, our aim is to reach a peaceful life after this. Because Allah simply does not need any companions, He do not need us at all. But we need Allah, we need Allah in order for us to survive in this dunya and to reach peace in life and hereafter.

The beauty of islam concept is that our purpose became as one, as a submission to our God. So Islam centralized our purpose as one fundamental principle it is to submitted ourselves to our God. But with obeying His rules does it means that we have to pray 24/7? The answer is no. We still can do our works, our goals, and achivements but there are several conditions. First is by be a believer. By believing that Allah exist and we have to worship Allah. Second is by putting our intention as worshiping Allah, in other words by doing all of our works because of Allah, all of them because of Allah. Third one is by corresponding with  syariah which we will discuss it further on the next paragraph.

How do we know of our works it is because of Allah? How do we know if it is corresponding with Allah’s way? 

There is this thing called syariah, which means a path that will leads to benefit, a path that will maximaze to fulfil our purpose as a muslim, and syariah means a regulations from our God. Hence, in order for our ‘amal to be a good deeds it has to be based on syariah. Imagine if someone is a believer, and he do his exams, he do it because of Allah, but he cheat during his exams. While cheating is forbidden during exams and as a muslim we definitely shouldn’t cheat during exams. So does it make any sense that what he did is a good deeds? That is why ibadah is always based on syariah, by Allah’s regulations.

Now, live as a muslim. Talk, walk, learn, eat as a muslim, by muslim means a doer of islam. Do not waste your time by wondering of your existence, by having no purpose. Live your life by having the right purpose.

Get to Know Your Purpose By: Mirrah fairuzsilmi Aliah Bismillahirrahmanirrahim, We wake up every morning, we go to the cl...

Oh, Mother Earth!
By: Rachmat Arriz Saputra

Pict: pinterest

“Save Mother Earth” has been a very popular and well known saying around the world of late. Created by people who are concern over the state of earth and nature, this notion slowly affects the individuals who all this while never put their attention to earth and mother nature before. 

People who fight for mother earth have witnessed various incidents and accidents happening in the past few years and how it affected and disrupted the environment, ecosystem and etc. The life of not only human but animals, plants, environment and the earth itself are in danger. In other words, the earth, a planet where human being have been living in is slowly dying which ironically caused by the human itself.  Furthermore, the seriousness of this problem is being discussed by so many world leaders in many conferences and international level discussions to solve and tackle the issues that are slowly destroying the earth. 

The study concerning the relationship between the human being and the earth, together with its environment is environmental ethics. Since ethics is the study of moral conduct which determines whether an action is morally good or not, then it indirectly also determines whether an action can improve the quality or prosperity of the society or not. To put it in words, there are certain actions that the human being has been doing since time immemorial up to this very point are ironically unethical toward the environment and lastly, the earth. 

Even though the actions can be legally right, but it does not necessarily mean that actions are ethically right. For instance, buying mineral water in a plastic bottle is easier or more practical in everyone’s daily life or even in certain circumstances.  Doing it constantly for the sake of its easiness is not the right thing to do though. It is a public secret that plastic will take a much longer time to degrade since it is made from synthetic and other poisonous chemicals. It eventually will bring harm to the environment, including the plants and animals. As the citizen of the earth, everyone should act ethically right towards the environment. 

The word “Mother” suitably conforms with the role of the earth since time immemorial. Human beings have been facilitated by earth in every possible way to ensure that we can live in peace and harmony every day. A mother (the earth) has already given us a lot of things and made many sacrifices to the children (human being). Now it’s time for us to repay back. We in return should now take care of the earth, make her happy. Just as how we should take care of our own mother and parents.   

There are so many world forums, conferences, organizations, and even actions related to conserving and saving the earth. All these are pointless if the human, each and every one of us, didn't take any action upon it. Everyone is responsible to mother earth. As the people who are indebted to the earth, we are obligated to make the world a better place to live in for the next generation.  

Oh, Mother Earth! By: Rachmat Arriz Saputra Pict: pinterest “Save Mother Earth” has been a very popular and well known saying a...

source: pinterest

Ketika berlangsung Baiat Aqobah pertama di tahun ke -12 kenabian, Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu 13 (ada juga yang berpendapat 12) orang yang menjabat tangan Rasulullah Muhammad shallahu alahi wasallam untuk berjanji setia. Ia salah satu dari beberapa orang yang ikut menyebarkan syiar Islam di Bumi Madinah, sekaligus mempersiapkan tempat hijrah untuk kejayaan Islam.

Ketika datang musim haji di tahun ke-13 kenabian, sekelompok kaum muslimin Madinah dalam jumlah besar  datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ibnu Ishak meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik, sebanyak 73 mukminin dan dua mukminah berbaiat kepada Rasul. Termasuk pula Abdullah bin Rawahah

Ia adalah seorang penulis yang tinggal di lingkungan yang langka akan kepandaian baca-tulis. Ia juga seorang ahli syair yang mempesona. Setelah keimanan tertancap kuat di dadanya, ia jadikan keahliannya dalam bersyair untuk membela Islam dan menjadi penyemangat kaum muslimin. Rasulullah pun sangat suka dengan syair-syairnya.

Ia teramat sedih ketika turun firman  Allah dalam Q.s As Syu’ara (26) : 224, (Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat) di dalam syair-syair mereka, lalu mereka mengatakannya dan meriwayatkannya dari orang-orang yang sesat itu, maka mereka adalah orang-orang yang tercela).

Namun kesedihannya tak berlangsung lama karena segera terobati dengan turunnya wahyu pada surat yang sama di ayat ke-227, kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Ketika ada seruan untuk berjihad, ia menyambutnya dengan suka cita. Ia lantunkan syair,

 "Duhai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga."

Dan panggilan jihad pun datang kembali. Kali ini dari arah Mu’tah. Sebuah desa di daerah Balqa, Syam. Ghazwatu Jaisyil Umara’ perang pasukan para pemimpin, begitu ulama sirah menyebutnya. Terjadi pada bulan Jumadil Awwal tahun 8 Hijriah.

Iring-iringan pasukan dari pihak musuh berjumlah 200 ribu tentara terlihat tiada habisnya barisan tersebut. Sedangkan di pihak kaum muslimin hanya 3000 pasukan. Tentu saja dengan perbandingan yang begitu besar ini membuat kaum muslimin merasa was-was, khawatir akan kekalahan.

Beberapa sahabat berkata, "Sebaiknya kita kirim utusan kepada Rosululloh, memberitaukan jumlah musuh, mungkin kita dapat tambahan pasukan. Jika diperintahkan tetap maju, kita patuhi."

Namun Abdulloh ibnu Rawahah radhiyallahu anhu tampil dengan ucapannya,

"Wahai kaum muslimin, apa yang kalian takutkan adalah sesuatu yang kalian kejar selama ini, yaitu mati syahid. Kita memerangi mereka bukan karena jumlah maupun kekuatan kita. Namun kita memerangi mereka karena agama Islam yang dengannya Allah memuliakan kita. Berangkatlah! Yang ada hanyalah satu dari dua kebaikan; kemenangan atau mati syahid!"

Maka semangat kembali tumbuh di hati kaum muslimin. Dan menjadikan mereka berperang dengan tangguh.
Perang pun  terjadi dengan begitu sengit karena lawan yang tak seimbang dalam jumlah.

Panglima pertama atau pemegang bendera pasukan yang ditunjuk Rosul yaitu Zaid bin Haritsah radhiyallahu anhu  tewas.
Panglima kedua atau pemegang bendera pasukan yang ditunjuk oleh Rosul pun menyusul saudaranya ke Surga dengan dengan kedua tangan yang telah terputus dan wajah ceria.

Kini tiba giliran pemegang bendera pasukan yang ketiga yang telah ditunjuk oleh Rasul. Tak lain tak bukan adalah Abdullah bin Rawahah sendiri. Sempat ada keraguan dalam hatinya, karena ia merasa bertanggung jawab atas hidup-mati pasukannya namun keraguan itu segera ia lenyapkan dengan semangat yang ia senandungkan dalam syair,

"Duhai jiwa, aku telah bersumpah ke medan laga
Tapi engkau, seakan menolak Surga
Duhai jiwa, jika tidak terbunuh, kau akan mati juga
Inilah kematian yang kau damba
Telah datang apa yang kau minta
Jejak keduanya (Zaid dan Ja’far) telah terbuka."

Ia maju dan memporak porandakan pasukan Romawi dengan gagah berani. Di tengah perang yang begitu hebatnya, datang seorang saudara memberikan sepotong tulang yang masih tersisa sedikit daging dan menyodorkannya kepada Abdulloh bin Rawahah dengan berkata, "makanlah agar kekuatanmu pulih."

Namun ketika hendak menggigit terdengar seruan dari arah tertentu,  "engkau masih di dunia!" Ibnu Rawahah segera melemparnya. Ia terus maju dan sabetan pedang pun menewaskan sang penyemangat yg sempat ragu-ragu.
Ucapan salam untukmu wahai Abdullah ibnu Rawahah.

Klaten, 28 Shafar 1440 H


Penulis: Halimah As Sa


source: pinterest Ketika berlangsung Baiat Aqobah pertama di tahun ke -12 kenabian, Abdullah bin Rawahah merupakan salah satu 13 (ada j...