Photo by Kevin Gent on Unsplash

“Kita harus meruntuhkan persepsi kalau belajar parenting itu harus setelah menikah atau punya anak. Itu salah besar. Seharusnya kita mempelajari parenting sedini mungkin agar tidak kewalahan saat sudah benar-benar menjadi orang tua.” 


Kira-kira seperti itulah kutipan dari pembicara kita Rosalina Awaina Risman dalam kelas Parenting yang diadakan Forum Tarbiyah pada 21 April 2018 yang lalu. Kelas parenting ini adalah yang pertama kali diadakan dan mendapatkan respon yang cukup positif dari banyak pihak.

Dengan tema ‘Parenting Values and Goals’ di sesi pertama kali ini, Kak Wina membahas tentang nilai dan tujuan dari parenting itu sendiri. Sebelum lebih jauh membahas tentang parenting, beliau mengungkapkan beberapa hal yang penting yang harus kita persiapkan sebelum pernikahan.

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah tentang memilih pasangan hidup yang tepat. Memilih pasangan berarti memilih partner untuk bekerja sama mendidik dan membesarkan anak-anak. Sebelumnya kita harus memiliki visi dan misi bagaimana kita ingin mendidik dan membesarkan anak kita.

Rasulullah mewasiatkan untuk memilih pasangan yang baik agamanya. Maka pilihlah yang baik agamanya. Selain memiliki pandangan hidup serta visi misi yang sama dengan pasangan, kita juga harus menyesuaikan visi misi kita dengan keluarga. Usahakan komunikasi yang baik dengan mertua agar tidak terjadi konflik
setelah pernikahan nanti.

Selain itu kita juga harus memperhatikan latar belakang calon pasangan kita. Bagaimana keluarganya, bagaimana interaksinya dengan sesama, orang yang lebih tua juga dengan anak-anak. Juga perhatikan riwayat kesehatannya serta lingkungan ia dibesarkan. Bagaimana kultur dalam keluarganya dalam mendidik anak juga termasuk hal yang harus dipertimbangkan.

Jika kita ingin memiliki anak seorang Hafizh Qur’an misalnya, maka usahakan untuk mengkondisikan anak sedini mungkin. Lima tahun pertama, otak anak seperti spons, menyerap semua hal yg di rasakan. Itulah yang disebut ‘Golden Age’, bentuklah anak kita seperti apa yang kita inginkan. Tapi jangan sampai kita menginginkan anak menjadi penghafal Al-Quran tapi kita sendiri tidak hafal walau juz 30 atau 29.

Dan urusan parenting ini bukan hanya tugas ibu saja. Ayah harus ambil bagian sama besarnya. Jangan sampai menjadi ayah yang sibuk bekerja terus menerus, tidak pernah punya waktu dengan anak-anak. Sehingga alih-alih punya bonding yang kuat dengan anak, Ayah justru jadi sosok yang menakutkan dan membuat anak merasa asing dan menjaga jarak. Ayah harus punya waktu khusus untuk memeluk anak, menyapa, bermain dan membelai dengan penuh kasih sayang. Banyak anak perempuan yang begitu mudah luluh dengan gombalan lelaki lain, salah satu faktornya adalah karena kurangnya mendapat perhatian dan kasih sayang seorang ayah. Kehadiran seorang ayah diperlukan untuk memperkuat karakter anak.

Hal kedua yang harus diperhatikan adalah kita harus mempunyai tujuan pengasuhan anak. Tujuan paling awal adalah membuat anak menjadi anak yang bertaqwa. Bisa diawali dengan memperkenalkan konsep tauhid dan mengajarkan agama sejak dini pada anak. Setelahnya kita bisa lanjut pada tahap membentuk anak menjadi anak yang sholeh. Seiring dengan pertambahan usia, kita bisa mendidik anak untuk menaati Allah dan Rosul-Nya. Mengenalkan kewajiban anak sebagai hamba Allah sejak dini, hingga saat tiba usia akil baligh-nya kita tidak lagi bersusah payah mengarahkan anak.

Tahap selanjutnya adalah mendidik anak menjadi suami atau istri yang baik. Memasuki usia remaja, kita bisa mengenalkan anak bagaimana menjadi suami atau istri yang baik. Apa-apa saja hal yang harus diperhatikan jika kelak memiliki pasangan juga hal lainnya. Setelahnya, kita harus mendidik anak-anak kita menjadi seorang pemimpin. Bagi anak laki-laki untuk menjadi pemimpin di keluarganya kelak, untuk anak perempuan menjadi pemimpin di rumahnya kelak.

 Photo by Kevin Gent on Unsplash “Kita harus meruntuhkan persepsi kalau belajar parenting itu harus setelah menikah atau punya ana...

Sister Gathering Forum Tarbiyah.IIUM , 6 mei 2018.
“If you feel inadequate, then you are successful, but if you feel adequate, then you are failed!”
Itu pesan yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Mira Kartiwi kepada para mahasiswi postgraduate dalam acara “Sisters Gathering” yang diadakan pada hari Minggu kemarin (6/5/2018) oleh FOTAR (Forum Tarbiyah) IIUM. 

Teh Mira, begitu sapaan akrab beliau, menyampaikan beberapa tips untuk sukses bertahan sebagai mahasiswa postgraduate,  yang beliau rumuskan sendiri dari akumulasi perjalanan beliau ketika dulu berjuang sejak strata satu sampai -dengan izin Allah- mendapatkan gelar doktor pada usia belum genap 30 tahun, di Wollongong University, Australia. 

Teh Mira yang sekarang merupakan dosen di Kulliyah of ICT IIUM, membagikan tiga kunci sukses kepada 30-an peserta “Sister Gathering” yang hadir, yaitu Start Right, Work Right dan End Right.

1.    Start Right

Titik awal ini sangat fundamental dan menentukan keberhasilan selama fase menjadi mahasiswa postgraduate. Sebagai seorang muslim kita tahu bahwa “إنما الأعمال بالنيات” –sesungguhnya perbuatan seseorang itu tergantung pada niat-. Memulai dengan benar, dimaknai oleh Teh Mira sebagai meluruskan niat belajar hanya karena Allah Swt.

Niat ini sangat penting untuk diinternalisasi karena di tengah perjalanan studi pasti mahasiswa akan menemui banyak sekali tantangan.  

“Mungkin bagi yang mengambil mode ‘course work only’ lebih mudah untuk merencanakan masa studi, agak berbeda dengan yang mengambil ‘mix mode’ (course work dan research) yang banyak factor X –nya,” ujarTeh Mira, “seperti supervisor masuk rumah sakit, penelitian yang terhambat, belum lagi konflik dengan supervisor, masalah administrasi, dan sebagainya.” tambah beliau.

Tanpa niat yang lurus karena Allah Swt, akan mudah untuk putus asa bahkan menyerah di tengah perjalanan. Awal yang diniatkan karena Allah ini yang dapat memberikan kekuatan kepada para mahasiswa untuk sungguh-sungguh memang menuntut ilmu, tidak hanya sekedar mengejar gelar akademis yang dapat menghalalkan segala cara, seperti plagiarisme.

2.    Work Right

Teh Mira membagi kunci ini menjadi tiga poin: Process, Tools dan Skills. Di dalam elemen proses. Teh Mira menekankan pentingnya perencanaan (planning) sebelum dan selama melakukan studi. Selain itu, beliau juga mengingatkan semua peserta untuk tidak malas membaca. Menjadi seorang PG student berarti telah mampu mewajibkan diri untuk membaca setiap hari. Apakah membaca topik-topik yang berkaitan dengan domain kita atau bacaan yang menyokong pengetahuan kita sebagai seorang akademisi. Teh Mira kemudian menyarankan untuk merencakan hari-hari sebagai mahasiswa PG dengan fokus dan sesuai prioritas. Saat membaca, fokuskan membaca tidak usah menulis. Saat menulis, fokuskan menulis. Bahkan jika suatu hari sangat sibuk, sempatkan untuk membaca abstrak dari satu artikel saja.

Poin yang kedua adalah tools. Untuk membuat proses penelitian dan menulis semakin efektif, Teh Mira mendorong para peserta untuk mempelajari beberapa tools yang bisa meningkatkan produktivitas sebagai seorang akademisi. Beliau memberi contoh beberapa fitur di Microsoft Word yang ternyata belum banyak diketahui dan digunakan oleh para mahasiswa; seperti linking documents dan fitur-fitur lain yang bisa dilakukan untuk menghemat waktu dibandingkan dengan melakukannya secara manual.

Poin yang ketiga adalah skills. Teh Mira menyayangkan fenomena di mana hanya sedikit sekali mahasiswa yang mau meluangkan waktu dan materinya untuk berinvestasi pada dirinya sendiri untuk meningkatkan kapasitas sebagai PG student. Ada dua skills penting di sini;

Pertama, skill yang berkaitan dengan produktivitas. Teh Mira memberikan contoh; skill membaca cepat dan skill untuk formatting yang sangat membantu dalam menulis tesis, disertasi atau tulisan-tulisan ilmiah lainnya. Dengan skill membaca cepat tersebut, target membaca artikel dan literatur tidak akan lagi menjadi aktivitas yang menguras waktu. Begitu juga formatting skill, selain dapat menulis dengan lebih sistematis serta meminimalisir koreksian dari penguji, skill ini juga dapat mengurangi biaya-biaya yang sebenarnya bisa dipangkas.

Kedua, skill dalam berpikir kritis. Dalam hal ini, Teh Mira mengutip perkataan supervisor beliau dulu, “You are not a PhD student if you can’t critize an article.” Teh Mira mendorong semua peserta untuk memulainya dengan membaca artikel secara kritis dan agar tidak takut untuk mengkritisi pendapat seorang professor sekalipun. Untuk itu beliau membagi tips untuk dapat berfikir kritis dengan membiasakan membaca buku-buku filosofi yang berkaitan dengan bidang expertise masing-masing, terkhususnya bagi mahasiswa PhD yang memang merupakan Doctor of Philosophy.

3.      End Right

Ketika akan mengakhiri perjalanan sebagai PG students, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi kembali untuk memastikan proses belajar yang panjang itu tidak sia-sia.Menurut Teh Mira perlu ditanyakan kepada diri sendiri hal berikut ini:

Pertama, apakah pengetahuan kita telah bertambah? Idealnya, ketika lulus seorang mahasiswa postgraduate harus sudah menjadi ahli (expert) dalam bidang yang ia tekuni.

“Jika bertahun-tahun menyelesaikan studi tapi merasa tidak ada yang bertambah, berarti ada yang salah dalam proses belajar kita,” 

Kedua, apakah managerial skills kita berkembang? Tentu dengan tantangan selama masa belajar, seharusnya seorang mahasiswa postgraduate memiliki kemampuan problem solving (dan skill lain) yang jauh lebih matang dari pelajar undergraduate. 

Ketiga, apakah soft skill kita menjadi lebih baik? Salah satu soft skill yang penting adalah keterampilan komunikasi. Teh Mira mencontohkan, idealnya seorang Master atau Doktor yang notabene telah banyak tahu, mampu menyampaikan ilmunya kepada masyarakat dengan gaya komukasi yang baik. Jika kekuatannya pada public speaking, maka sampaikan secara verbal. Tapi jika lebih nyaman dengan menulis, tulis dan sebarkan ilmu yang sudah didapatkan melalui tulisan-tulisan dan terus asah skill tersebut. Beliau memberikan sebuah nasehat, “Perlu terus diingat bahwa ada hak orang lain dari ilmu yang kita miliki.”

Terakhir, tanyakan kepada diri. Apakah semakin belajar kita semakin merasa tidak tahu, atau malah merasa yang paling tahu. Proses belajar dengan segala tantangannya sejatinya mampu membuat seseorang memiliki humbleness atau kerendahan hati. Merasa, bahwa ternyata banyak yang masih harus diketahui, merasa kecil tanpa pertolongan Allah Swt, dan tidak cepat puas terhadap pencapaian diri.

Teh Mira berpesan “if you feel inadequate, then you are successful. But if you feel adequate, then you are failed!” Sehingga, jika ternyata humbleness itu tidak ada, maka perlu kembali kepada kunci pertama: memeriksa niat apakah memang tujuan belajar kita untuk mengejar ridha-Nya?

Sister Gathering Forum Tarbiyah.IIUM , 6 mei 2018. “If you feel inadequate, then you are successful, but if you feel adequate, then you...

Gambar: http://unsplash.com

Sahabat, pernahkah merasa hafalan Qur’an kita jalan di tempat? Jangankan menambah hafalan, terkadang yang sudah dihafal pun terasa susah mengulangnya. Iya, hafalan kita macet. Terkadang lancar satu baris, kata selanjutnya terlupa. Setengah halaman awal lancar bebas hambatan, eh makin ke tengah semakin hilang arah. Ujung-ujungnya mood jadi buruk dan akhirnya, bukan bergegas mengulang adanya kita malah justru hopeless dan menyerah pada keadaan. Pernah mengalami hal seperti ini?  Tenang saja, Sahabat. Kamu tidak sendirian. Eits, tapi ‘ketidak sendirian’ yang satu ini jangan dijadikan pembenaran, ya. 

Oh, iya kamu pernah kejebak macet? Ya, yang namanya macet berapa lama pun durasinya tetap saja bikin jengkel ya, Sahabat. Menguras waktu dan tenaga. Tapi, sepanjang-panjangnya macet, selama-lamanya kita terjebak dalam kemacetan, pada akhirnya kita berhasil sampe ke tujuan juga, kan?
Nah, kira-kira seperti itulah perumpamaan hafalan kita. Persis jalanan macet tadi. Coba deh, kalo misalnya kita malah menyerah dan mematikan mesin sewaktu terjebak macet. Apa kita akan sampai ke tempat yang kita tuju? Nggak, kan? Yang ada kita malah didemo orang-orang karena nggak mau jalan.

Begitu juga dengan hafalan yang kita punya, Sahabat. Hafalan kita yang macet, nggak akan selamanya macet selagi kita masih mau berusaha untuk melancarkannya. Selama kita nggak menyerah, hafalan yang macet tadi akan lancar seiring dengan pengulangan-pengulangan yang kita lakukan. 

Lantas, Kenapa Hafalan Kita Macet?

Karena itu adalah tanda dari Allah untuk kita agar lebih bersungguh-sungguh. Karena itu adalah sinyal dari Allah bahwa sebentar lagi hafalan kita akan lancar. Selama kita berusaha terus melancarkan, hafalan kita akan lancar. Ingat, Sahabat. Setiap kemacetan pasti ada akhirnya. Begitu pula dengan kemacetan hafalan kita. Pasti akan berakhir lancar. Dengan usaha yang terus-menerus tentunya.


Penulis : Annisa Alya Adzkya

Gambar: http://unsplash.com Sahabat, pernahkah merasa hafalan Qur’an kita jalan di tempat? Jangankan menambah hafalan, terkadang yang...



Gambar: http://unsplash.com

Guys, apa sih yang terbetik di benak kalian saat mendengar kata gaul? Stylish? Up to date sama perkembangan berita artis-artis? Atau sekadar nongki-nongki bareng teman sampai larut malam? 

Ya, mungkin apa yang penulis jabarkan di atas tentang definisi ‘Gaul’ tadi hanya sekelumit kecil dari apa yang tampak. Dan mungkin juga … kesannya terlalu positif ya? Sedangkan sudah jadi rahasia umum kalau pengertian ‘gaul’ saat ini juga bisa berarti pergaulan bebas beserta dunia malam yang kelam. Nah, karena kata ini mengalami pergeseran makna yang amat jauh hingga berkonotasi negatif. Mari kita jenguk sebentar; apa sih pengertian kata gaul itu sendiri? 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata gaul/ga•ul/, bergaul/ber•ga•ul/ v hidup berteman (bersahabat). Jadi, sebenarnya kata gaul itu merujuk pada hubungan pertemanan atau singkatnya bila merujuk pada seseorang, pengertian gaul adalah orang yang mudah berteman. Apakah gaul itu penting buat remaja-remaja seusia kita? Jelas, karena karakter seseorang, caranya berinteraksi dalam lingkup sosial itu dipengaruhi dengan siapa ia bergaul. Makin banyak kita ketemu orang-orang dengan berbagai latar belakang dan sifat. Makin mudah kita mengatasi dan menentukan sikap. 

Sebuah syair arab mengatakan 
عن المرء لا تسئل و سل عن قرينه

Penjelasannya kira-kira begini, jika ingin mengetahui kepribadian seseorang maka lihatlah dengan siapa ia bergaul. Peribahasa ini secara tersirat mengarahkan kita agar selektif memilih teman. Tapi, apa itu artinya kita benar-benar membatasi pertemanan dalam lingkup yang aman saja? Hingga kita merasa eksklusif dan cenderung menjauhi teman-teman yang tampak terjerumus jauh dalam arus zaman?

Tentu saja tidak, Sahabat. Kita memang harus selektif memilih teman, tapi bukan berarti kita menarik diri dari pergaulan. Boleh saja kita ikut nongkrong genjrang-genjreng gitar di perempatan, tapi saat azan berkumandang tetap sholat diutamakan. Boleh saja kita ikut bergaya dengan trend fashion masa kini, tapi pastikan masih tetap berada di koridor yang syar’i. Boleh saja kita asik diskusi paham-paham kekinian, tapi pastikan Al-Qur’an dan sunnah jadi rujukan. Benar, arus pergaulan beserta hedonisme dan sekularisme saat ini begitu deras menerjang. Karena itulah, kita sebagai remaja membutuhkan prinsip dan ideologi yang kita pegang erat. 

Gimana sih, caranya agar kita bisa tetap asik bergaul dengan siapa saja, tanpa takut terpengaruh? Hal yang pertama kali kita jadikan rujukan adalah : selalu kembali pada Qur’an dan sunnah. Jangan gengsi untuk terus belajar, memperkuat pemahaman keislaman milik kita. Ketika kita sudah benar-benar paham dan jatuh cinta pada agama ini, ideologi-ideologi lain takkan mempengaruhi kita. Di saat kita menjadikan islam sebagai tolok ukur kebenaran,  segala macam kesenangan semu di luar sana takkan membuat kita tergoda. 

Kita bisa tetap asik bergaul, menambah teman, memperbanyak koneksi tanpa harus takut terwarnai. Ya, kita tetap bisa gaul asalkan tetap dalam koridor syar’i. Dan saat itulah kita tak perlu khawatir terpengaruh hal-hal negatif, tapi justru kitalah yang membawa teman-teman ke arah yang positif. 


Gambar: http://unsplash.com Guys, apa sih yang terbetik di benak kalian saat mendengar kata gaul? Stylish? Up to date sama pe...

Image result for ilustrasi fokus muslim
Gambar: http://csms.lexington1.net
Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didengar, mungkin karena ramai orang yang mengamininya, termasuk saya. Walaupun ada penggalan lain yang menyangkal "We are not what we think, or what we say, we are what we do", sepertinya sangkalan ini tidak terlalu signifikan karena pikiran, perkataan dan perbuatan kita bukannya tidak bisa berkoeksis, melainkan mereka masing-masing membentuk siapa diri kita. Ya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa pemikiran kita adalah salah satu komponen utama dalam hidup kita.

Oke, terus apa?

Terus mari kita bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk mengarahkan pemikiran kita? Apa usaha kita untuk menjadikan pemikiran kita produktif? Atau apakah kita membiarkan pikiran kita menjadi produk dari apa saja yang tersaji di hadapan kita?

Tunggu. Kenapa ini ko terlalu bertele tele. Sebelum semua itu, apakah pikiran kita akan dipertanggung jawabkan nanti? Wallahu a'lam. Mungkin hadits berikut bisa bantu menjawab:

"...Jika ia ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan)." [HR Bukhari, no. 7501]

Keinginan, yang hanya ada di pikiran saja bisa menjadi sumber pahala untuk pemiliknya.Terlepas dari bagaimana hitung-hitungan tentang pikiran kita, kita tahu bahwa pikiran kita adalah salah satu penyebab utama perbuatan kita. Hal lain yang harus sama-sama kita sadari juga adalah kita hidup di periode waktu di mana ledakan informasi telah terjadi, yang membuat kita bisa mengakses informasi jauh lebih banyak dari orang sebelum kita. Belum lagi kita juga dibombardir sana sini oleh media (seperti billboard misalnya) yang bahkan tidak meminta izin untuk membuat kita melihat apa yang kita lihat. Juga berlebihnya stimulasi dalam kehidupan sehari hari yang menuntut kita untuk bermultitask, contohnya berjalan sambil main telepon genggam. 

Mau tidak mau, kita mempunyai tantangan yang berbeda untuk berpikir jernih di zaman ini. Jika dulu ayah kita punya waktu untuk berpikir ketika ia di perjalanan pulang dari kantor, sekarang kita sibuk dengan menggulir foto-foto di instagram ketika kita dalam kendaraan. Coba tanya, kapan waktu yang paling pas untuk berpikir tenang bagi diri kita? Mungkin sebagian kita bahkan tidak sadar bahwa ada waktu yang 'lebih tenang' dari waktu lainnya. 

Sebenarnya, inti dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan diri saya untuk kembali melatih fokus pemikiran saya. Untuk tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang sebenarnya bukan urusan saya. Untuk meningkatkan usaha dalam menjadikan pikiran saya sebagai sumber keridhaan yang Maha Mengetahui segala isi pikiran. Tentang hal ini, ada sebuah hadits yang sering menyentil saya:

"Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya ". [HR at-Tirmidzi, no. 2318]

Ternyata begitu simpel. Ketika kita hendak berbuat sesuatu, hadits tersebut mengajarkan sebuah tes litmus untuk dieksekusi dalam pikiran kita: apakah ini bermanfaat buat saya? Mungkin kita terlalu lama berjibaku dalam maraton film sehingga tidak ada waktu tersisa untuk berdialog secara jujur dengan diri kita. 

Pikiran kita adalah salah satu sumber utama perbuatan kita, untuk itu kita harus mengambil kembali tali kendali pikiran kita sepenuhnya. Kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kita pikirkan ketika kita mempunyai kesempatan luang untuk berpikir. Mari ingatkan diri kita bahwa pikiran yang paling mulia dan bermanfaat adalah yang ditujukan untuk Allah dan kehidupan setelah kehidupan ini. Ibnu Qayyim rahimahumullah telah memaparkan secara lugas 5 macam 'pikiran yang ditujukan untuk Allah'. Saya rasa macam macam pikiran ini seperti hierarki, dengan macam pertama yang paling menantang dan macam terakhir yang lumayan mudah untuk langsung dieksekusi. Bagaimanakah pikiran yang ditujukan untuk Allah?

1. Merenungi Ayat-ayat di Al-Qur'an, Memahami dan Mengamalkannya. 
Sudah ramai diketahui bahwa al-Qur'an adalah buku petunjuk, dan semoga tidak hanya itu. Semoga kita juga sudah memperlakukannya sebagai sumber petunjuk. Ulama terdahulu ramai berkata: "Allah menurunkan al-Qur'an untuk diamalkan, tetapi orang-orang malah menjadikan bacaan al-Qur'an sebagai bentuk pengamalan." Jika kita belum mengamalkan apa yang kita baca dari al-Qur’an, maka mari berbenah untuk hal itu.

2. Memikirkan Ayat-ayat Kauniyyah, Mengambil Pelajaran dan Menjadikannya Hujjah.
Ayat kauniyyah yang berupa ciptaannya yang terbentang di alam semesta dan bahkan di dalam diri kita sepatutnya menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya dan lebih merasakan keberadaan-Nya. Memperhatikan, memikirkan dan merenungkan ciptaan-Nya adalah salah satu hal yang bisa didapatkan ketika kita mengurangi eksposur dari hal-hal yang jika berlebihan bisa melalaikan, sosial media contohnya. Ekhm.

3. Memikirkan karunia-Nya, nikmat-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, serta kesabaran-Nya.
Menghitung dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah adalah hal selalu kita usahakan, inshaaAllah. Berfikir lebih jauh tentang bagaimana cara nikmat itu bisa sampai kepada kita juga akan membantu kita lebih bersyukur kepada-Nya. Bahkan, kalau kita bandingkan nikmat itu dengan 'nakal' dan lalainya kita, kita bisa memaknai lebih dalam arti dari Sang Maha Pemurah, Sang Maha Pemaaf, Sang Maha Penyabar.

4. Memikirkan Aib dan Kerusakan Yang Terdapat Pada Diri dan Perbuatan Kita.
Hal yang menarik disini adalah imam Ibnu Qayyim mengikutsertakan hal ini sebagai suatu bentuk pikiran yang ditujukan untuk Allah. Tapi memang dengan memikirkan hal ini kita bisa mengetahui hal yang perlu kita perbaiki pada diri kita, sehingga pada akhirnya kita hanya peduli dengan bagaimana Allah akan selalu ridha pada kita. Terkadang, aib saudara kita lebih terlihat jelas karena kita tidak berpikir lama untuk hal ini.

5. Memikirkan Pentingnya Waktu dan Penggunaannya.
Imam Ibnu Qayyim selanjutnya menjelaskan bahwa ini bisa dicapai dengan mencatat seluruh kegiatan beserta waktunya, karena siapa yang menjadikan waktunya untuk Allah dan untuk mengerjakan perintah-Nya, maka itulah kehidupan dan umurnya. Bukan berarti waktu yang bermanfaat hanya shalat dan ibadah ibadah lainnya, melainkan juga setiap kegiatan yang tidak bertentangan dengan agama kita dan diniatkan untuk mencari ridha Allah.
Begitulah salah satu kiat praktis dari ulama besar kita, yang bisa langsung dipraktikan dalam kehidupan keseharian sehingga kita bisa mendapatkan ridha-Nya dengan mengarahkan pikiran kita. Terkadang kita cemburu melihat kawan yang begitu produktif dan proaktif, bagaimana mereka melakukan itu? Mungkin, salah satu kiatnya adalah dengan terus berpikir ‘Apalagi yang saya bisa lakukan untuk menjadi lebih baik di mata-Nya?’. Sehingga dari pertanyaan-pertanyaan seperti itulah muncul ide cemerlang untuk menginisiasi sebuah proyek untuk makcik-makcik cleaner, membuat kegiatan di mushalah sekitar, menentukan target baru Hafalan Qur’an untuk bulan ini, atau bahkan ide untuk melakukan inovasi bisnis sederhana, dll. 

Fokus, adalah 1 kata yang perlu kita ulang untuk diri kita ketika aib orang lain terasa menarik untuk jadi bahan pembicaraan, ketika kita bisa menghabiskan waktu 1 jam hanya untuk melihat foto terkini kawan di instagram, ketika tidak ada ide baru selama 1 bulan, ketika dalam 1 minggu kita belum mendapatkan pemaknaan baru dari bacaan Al Qur’an. 

Fokus, seperti dalam fotografi, ketika kita ingin mendapatkan suatu objek secara detail kita harus mengarahkan fokus hanya untuk objek itu, sehingga hal hal yang tidak penting disekitarnya akan menjadi bokeh yang buram. Namun buramnya lah yang membuat foto itu lebih indah.
Wallahu a’lam bishawab.


Penulis : Fadhilah Assadah Abdul Aziz

Gambar: http://csms.lexington1.net Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didenga...