“Setiap kebaikan itu nasehat, untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dan usahakan untuk setiap nasehat itu tidak melukai yang lain, maka jika kamu menegur jangan sampai menghina, mendidik jangan sampai memaki, dan memberi jangan sampai mengungkit.”

Memaksa dan dipaksa itu sama-sama tidak enak, apalagi yang kamu paksa adalah hati. Tapi tidak mengapa jika yang dituju itu suatu kebaikan, untukmu dan untuknya. Semisal memaksa untuk menjaga diri dari berkomunikasi dengan lawan jenis pada perihal yang tidak penting. Menghindari fitnah dan pintu-pintu jatuh hati sebelum masanya.

Ada yang mengatakan naluri wanita itu lebih nyaman curhat dengan laki-laki, dan naluri laki-laki yang lebih nyaman curhat dengan wanita. Sob, yang benar adalah naluri setiap hamba untuk curhat pada Rabbnya, tapi jarang disadari karena memang yang lebih diutamakan kedekatan dengan manusia ketimbang Allah, benarkan ? Yang menghidupkanmu Allah, maka Allah pula yang akan menghidupimu, tapi semua akan buram jika yang dicari bukan Dia, tapi hati manusia yang tidak pernah mungkin kamu dapatkan selamanya.

Jika setiap hasil harus ada harga perjuangannya, maka untuk berhasil menjadi wanita yang terjaga izzahnya dan laki-laki yang terjaga pendiriannya apa tidak ada harganya? Harga itu adalah perjuanganmu menjaga izzahmu, harga dirimu.

Selamat dan semangat menjaga hati juga harga diri.

@jndmmsyhd

“Setiap kebaikan itu nasehat, untuk dirinya sendiri dan orang lain. Dan usahakan untuk setiap nasehat itu tidak melukai yang lain, mak...

Saya percaya cinta tumbuh karna sering bertemu. Bukan, bukan cinta pada pandangan pertama. Kalimat "Cinta tumbuh karna sering bertemu" saya dapatkan dari guru SMA saya dulu. Entah kenapa saat itu kata-kata itu seperti tidak bisa lepas dari pikiran saya. Sampai sekarang pun juga. Dulu saya pikir kata-kata itu cuma berlaku untuk perasaan dengan lawan jenis. Nyata nya, kata-kata itu bisa ditafsirkan lebih luas lagi.

Persepsi “Cinta pada pandangan pertama” kayanya udah ga jaman lagi, alih-alih kata-kata ini bisa jadi salah. Kita sepakat kata Cinta dan Suka mempunyai makna yang berbeda. Menurut KBBI cinta diartikan (suka sekali; sayang benar) sedangkan suka diartikan (girang hati; senang hati). Perbedaan nya adalah definisi cinta selalu diartikan dengan sesuatu yang lebih dan jangka panjang.

Rasa yang tumbuh dari pandangan sering kita jumpai, contoh sederhana nya ketika melihat barang baru yang menarik di sebuah toko, langsung terpikat, tapi setelah melihat barang lain rasa ketertarikan pada barang pertama pindah ke barang kedua. Apakah rasa ini pantas dikatakan ‘cinta pada pandangan pertama’ atau ‘suka pada pandangan pertama’? Jawaban nya cukup dijawab dalam hati.

Melihat fenomena fan girling zaman sekarang yang masih suka bikin geleng-geleng kepala jadi cerita kenapa saya mau nulis ini. Mulai dari pertanyaan “Kenapa banyak anak sekarang yang cenderung hedon?” “Kenapa lagu anak zaman sekarang udah ga ‘sekanak-anak’ dulu?” atau “Kenapa trend hijab sekarang kayak gini dan gitu dan diikutin banyak orang?”

Jawaban nya se-simple “Yang dilihat ya itu”. Pernah dalam satu acara Talk tentang Bedah Film Ayat-ayat Cinta 2, yang pasti nya menghadirkan langsung Penulis nya yaitu Kang Abik, beliau pernah ditanya soal karakter tokoh Fahri yang sangat sempurna dalam novel tersebut, mengapa seolah-olah Fahri ini tidak ada cacat nya sama sekali, beliau menjawab “Kalau sosok Fahri ini ada nya pada saat zaman sahabat dulu, dia pasti jadi rangking ke seratus sekian” itu artinya sosok panutan seperti seorang Fahri ini begitu sedikit dizaman sekarang, kita lebih banyak diperlihatkan yang sebaliknya, maka sosok Fahri ini seolah-olah sangat sempurna padahal nyata nya jika dibanding sahabat zaman dahulu dia belum tentu dianggap sempurna. Sampai disini paham?

Faktor terbesar yang membuat rasa cinta tumbuh adalah seringnya perjumpaan. Sebetulnya sederhana, tidak banyak usaha yang dilakukan. Hanya tentang pembiasaan saja. Dulu sebelum memutuskan belajar ke negeri jiran ini saya ga pernah membayangkan akan suka dengan Nasi Lemak, mendengar nya saja sudah terbayang kalori nya banyak. Tapi lama kelamaan, karna tiap pagi yang dimakan itu ya mau gamau jadi bilang suka.

Kalau mendengar kisah sahabat-sahabat Rasul SAW pada jaman dahulu, mendengar keteguhan dan ke-istiqomahan mereka saat beribadah ya jangan heran, yang mereka lihat contoh nya langsung depan mata yaitu Baginda Rasulullah SAW. Pembiasaan itu bisa kok kita bangun sendiri, lagi-lagi ‘better said than done’ sih, tapi ya kodrat nya begitu, surga hanya milik orang-orang yang sabar.

Kalau mau kecintaan kita terhadap Al-Qur’an bertambah, maka kita harus sering-sering menjumpai surat cinta dari Allah ini setiap habis solat, lagi nunggu bus, lagi nunggu orderan makan, atau nunggu dosen datang. Kalau mau menumbuhkan rasa cinta pada satu mata kuliah ya harus sering-sering bergelut dengan buku-buku, berdiskusi yang berkaitan dengan mata kuliah itu, ataupun sering berkonsultasi dengan dosen pengajar mata kuliah itu. Bukan kah Allah lebih menyukai amalan yang kecil namun berterusan daripada amalan yang besar tapi terputus?

Maka mendefinisikan cinta bukan lagi soal sekejapan pandangan pertama, tapi soal menumbuhkan nya dengan banyak nya perjumpaan.

Penulis : Anonymus

Saya percaya cinta tumbuh karna sering bertemu. Bukan, bukan cinta pada pandangan pertama. Kalimat "Cinta tumbuh karna sering bertemu...

source : Pinterest 


Last summer break, I spent one of the night staying at villa along with my family. It was my parents anniversary, and we had a great time. I was so fascinated with the private pool that the villa offers, moreover the food, the view, everything was so perfect. To me, it was kind of too good to be true. I thought I was the happiest, I thought I was the blessed one, but I was wrong. After spending 1 night and 2 days of having fun, I feel like that was not enough.

I realized although it was one of the best moment, I did not feel content. I don't feel tranquillity, I felt sad, and I was not in a good mood, at all.

This reminds me of the so-called, hedonic treadmill— it is when we achieve or get something, we'll feel happy for awhile. But after some time, the feeling of happiness will slowly fade away, and eventually, we demand a higher or bigger expectation for the future. Our expectations become bigger and bigger. This thing will never make us feel content —a feeling of not wanting more or anything else. It won't bring us peace. We often stumble upon this hedonic treadmill when we are too busy and too fascinated with this temporary world.

I could say I was too fascinated with the treats and I should admit that I was negligent remembering Him. I may do prayer, normal ibadah that we do everyday, but I only took that as an obligation, not as a something to facilitates me to remember Allah, to be grateful and to contemplate. I realized only by remembrance of Him, our hearts will be nourished.

I remember my lecturer once said that you know in life after we graduate, we'll ask to ourselves "now what?", after getting a job we'll ask again "now what?" even after marriage, having a child, and so on we keep on asking. This worldly life is indeed tiring. But you know what? There is this beautiful garden with rivers flowing beneath, and it is the end of the end, not to mention it is the best end that you could ever ask for. It is a supreme success, it is the best ending you could ever ask for. It is His Jannah.

I was holding back my tears remembering how limited this nikmat Dunya is, and how life is actually so tiring if we are too mesmerized by (limited) nikmat that this life offers. Thus, if we think clearly, isn't such a loss if we are fooled by nikmat in Dunya yet we know that His Jannah is waaaaaay better than life in Dunya?

It may sound classic but here's something to ponder upon; this-worldly nikmat won't bring contentment without remembrance of Allah. And those whose heart filled with contentment by the remembrance of Allah are truly the ones who are blessed.

Writer: Anonymous

source : Pinterest  Last summer break, I spent one of the night staying at villa along with my family. It was my parents anniversary, ...

Sesuai dengan judulnya yang begitu syarat makna, novel garapan Tere Liye yang berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu"  layak dinobatkan sebagai karya masterpiece, yang bahkan menurut saya, belum bisa ditandingi oleh karya super beliau yang lainnya.

Novel bergenre spiritual ini terasa begitu universal namun di saat yang sama juga menyentuh. Jujur, karya ini berhasil buat saya mewek ketika skimming nyari quote buat postingan di IG. Makanya, "RTdW" masuk salah satu buku favorit yang bakal dibaca terus tanpa bosen.

Berkisah tentang Ray, seorang pengusaha multinasional yang diajak berpetualang dalam komanya untuk menjenguk masa lalu. Setidaknya ada 5 pertanyaan yang dimiliki Ray dalam hidupnya. Berbagai tanya, yang mungkin juga selama ini kita cari-cari jawabannya.

Apakah hidup ini adil?
Kenapa beberapa takdir terasa menyakitkan?
Kenapa masih saja ada hampa padahal telah memiliki semuanya?
Ungkapan pertanyaan ini, lantas dijawab dengan paham jernih tentang kehidupan.

Bahwa betapa sesungguhnya, setiap kejadian, peristiwa, dan takdir yang terjadi di antara setiap makhluk adalah jalan yang berkelidan dan saling terhubung satu sama lain. Kita mungkin tak suka jalan takdir yang kita alami suatu waktu, namun ternyata ada rahasia lain di balik terpaksanya kita menjalani hal itu. Begitu juga dengan kehilangan, kebahagiaan, dan kebencian.

Saat membaca buku ini, kita akan tersadar, betapa kita, sebagai hamba, tidak ada hak sama sekali untuk menyalahkan garis takdir yang telah mutlak Allah SWT tetapkan. Yakin dan bersabarlah, karna semua akan terbayar setelah rahasia kehidupan bernilai berhasil ditemukan. Dan tentunya, do'a juga dapat merubah takdir!

Bagi kalian yang lagi nyari novel dengan pembahasan agak deep namun pembawaannya ringan, novel ini recomended BANGET! Oh iya, filmnya sudah rilis Desember ini.

Sekian. Semoga resensi ini dapat bermanfaat:)

Rembulan Tenggelam di Wajahmu | Tere Liye | Mahaka Publishing: Republika Penerbit | Februari 2009 | 427 halaman | Peresensi : Alya Adzkya

#ResensiNovember

Sesuai dengan judulnya yang begitu syarat makna, novel garapan Tere Liye yang berjudul "Rembulan Tenggelam di Wajahmu"  layak dino...



Bismillahirahmanirrahim,
Sering kali kita mengeluh dan mempertanyakan “Ya Allah kok bisa kita dapet cobaan kayak gini”, “Ya Allah apa ana doang yang ngerasain kayak gini?”.

Ya, ana pun juga kadang melakukan hal yang sama. Padahal, setiap manusia senantiasa akan diberi musibah atau ujian yang berbeda-beda. Walaupun berbeda-beda, Allah menguji seseorang, karena Allah SWT ingin menguji sejauh mana keimanan dan kesabaran kita. Dan dari ujian yang Allah berikan itu, kita menjadi matang, dan juga kita akan masuk dalam golongan orang-orang yang sabar, dan tentunya yang dicintai oleh Allah SWT.

Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang yang baik maka dia akan diberi-Nya cobaan.” (H.R.Bukhari).

Jadikanlah ujian Allah menjadi motivasi kita dalam memanen pahala, tapi perlu diingat setiap masalah diselesaikan dengan cara yang diajarkan oleh Islam tentunya. Jangan sampai karena ingin cepat selesai masalahnya justru kita menggunakan cara-cara yang dilarang oleh Allah SWT. Terus kita harus bagaimana kalau ada cobaan datang menimpa kita?

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, ‎sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.‎ (Al Baqarah: 153)

Sholat dan sabar adalah kunci untuk mengatasi ujian hidup yang kita hadapi. Dari sholatlah ketenangan itu datang, sehingga berpikir akan lebih jernih. Dan dengan sabarlah, tidak akan ada emosi, dan hal negatif lain yang ikut campur dalam menyelesaikan masalah kita. Yakinlah, bahwa ujian yang diberikan nantinya akan menghapuskan dosa-dosa kita.

Menyelesaikan masalah juga tidak cukup hanya dengan usaha kita, berdo’alah kepada Allah SWT karena Allah SWT yang memberikan ujian maka Allah swt juga yang mampu menyelesaikan. Kita juga harus cepet move on ketika satu masalah sudah terselesaikan dengan baik. Terlalu lama terlarut-larut dalam masalah yang lampau juga tidak baik yang ada nanti kita malah stuck dan tidak dapat melalukan hal positif lainnya.

“Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S. Al Insyirah :7 – 8)

Jadi, yuk! ubah pola pikir dan attitude kita saat mendapat ujian. Ucapkanlah “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah” karena kita tahu, bahwa selain Allah menunjukkan tanda cintanya, juga banyak hal baik yang akan Allah berikan setelah ujian itu sendiri. Apapun perkara yang menimpa diri kita, Insya Allah, akan menjadi kebaikan kalau dihadapi dengan sikap positif dan optimis, ikhtiar yang maksimum dan diikuti dengan doa. Sesungguhnya pertolongan Allah akan selalu ada untuk hambanya.

Penulis: Muhammad Yaqzhan

Bismillahirahmanirrahim, Sering kali kita mengeluh dan mempertanyakan “Ya Allah kok bisa kita dapet cobaan kayak gini”, “Ya Allah apa a...