Image result for ilustrasi hijrah
Gambar : oasemuslim.com

سافر تجد عوضا عن ما تفارقه  . فانصب تصب فان لذيذ العيش في النصب


Fitrahnya manusia adalah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi orang benar yang selalu bemanfaat untuk orang lain dan tentunya menjadi orang yang sukses, akan tetapi titik permasalahannya yang sering terjadi malah sebaliknya. Terkadang masih banyak orang yang berniat untuk berbuat baik tapi berhenti ditengah angan, dan krisisnya pemahaman tentang pandangan hidup yang sejati terkalahkan dengan keadaan. Hanya kesadaran akan pentingnya kesempatan dan peluang yang akan membantu untuk memacukan diri menjadi manusia pilihan, bukan lantaran haus akan pujian, bukan dahaga akan sanjungan. Semua yang diusahakan karena kebaikan dipenghujung kehidupan.

“Hijrah” mendengar kata ini mungkin terbenak dipikiran seseorang untuk berpindah dari suatu tempat ketempat lainya. Tapi, hijrah seperti apa yang diinginkan manusia? tentunya hijrah demi meraih tujuanya. Bukan hanya sekedar untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya, atau untuk membanggakan dirinya. Hijrah seperti apa yang yang bisa memuaskan keinginan hati? Jawabannya hijrah yang mengantarkan manusia pada fitrahnya. Yakni, cita-cita yang dia impikan yang belum tercampur, diubah, dicemari, dan dirusak lingkungannya. Itulah hijrah menurut islam.

Jika seseorang telah berhijrah dari tempat asalnya, maka sudah pasti dia akan mendapatkan pengalaman yang baru yang terbebas dari penjara kebodohan dan sempitnya pandangan hidup. Namun, jika manusia meninggalkan fitrahnya untuk berhijrah, maka sudah pasti pikirannya terbelenggu dengan satu pandangan yang tidak akan berkembang, ilmunya tidak akan berkembang, tidak memiliki teman yang baru dan tindakannya hanya mengikuti hawa nafsunya yang sudah terpengaruh pada lingkungannya. Ilustrasi sederhananya begini, jika ada sungai yang tidak mengalir, maka seiring berjalannya waktu air itu akan dicemari polusi, kejernihannya hilang tak bisa dimanfaatkan, dan bahkan keterhambatanya itu bisa menimbulkan dampak yang negatif seperti banjir dan penyakit. Contoh lain pada hewan, seperti singa, hewan ini tidak akan bisa bertahan hidup jika hanya menetap di hutan saja, terkadang dia harus keluar dari hutan untuk mencari mangsa, dan dari kebiasaan memburulah hewan ini bisa dikatakan buas dan mendapat julukan raja hutan.

Jadi, orang yang berhijrah adalah mereka yang hidupnya berusaha menyelaraskan dengan fitrahnya, mengejar mimpi untuk mendapatkan apa yang telah menjadi tujuan hidupnya dan bisa memberikan apa yang telah didapatkan menjadi manfaat untuk orang lain, sebaliknya orang yang hanya terpenjara dalam lingkungannya adalah mereka yang tidak mau berusaha untuk mengejar harapanya dan hanya berjalan pada poros kehidupan yang terbelenggu. Allah SWT telah mempersilahkan manusia untuk memilih salah satu diantara dua jalan tersebut. Jalan untuk berhijrah atau menetap. Buruknya, kebanyakan manusia saat ini takut akan berhijrah. Mereka lebih memilih menetap ditempat asal mereka dan merasa khawatir untuk meninggalkan apa yang sudah jadi dimilikinya, karna sudah terpengaruh dengan situasi lingkungan mereka.

Misalnya, dalam menuntut ilmu. Seorang pelajar yang menganggap bahwasanya dirinya sudah cukup pintar, tapi kepintarannya hanya sekilas dalam lingkup lokal dan tidak memandang diranah luar lokal, sehingga dari pandangannya tesebut, ilmunya tidak berkembang, hanya sebatas ilmu lokal, dan terlabihnya dengan lingkungannya. Lain hal nya dengan teman-temannya yang kurang motivasi dalam belajar, berfikir bahwasanya sekolah itu hanya formalitas berkala, dampaknya, seiring jalannya pergaulan, akhirnya terpengaruh dan mengikuti kebiasaan buruk itu.

Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan Sahabat Rasulullah dan orang-orang muslim terdahulu, yang mana usaha dan jihad mereka untuk mendapatkan ilmu dan mengembangkannya sangatlah gigih dan penuh idealisme. Contohnya orang-orang yang mengeluarkan hadist Rasulullah seperti Imam Bukhori, Muslim Ibnu Majjah dan lain lainya, dibutuhkan ratusan kiloan meter dan kelamnya hari yang ditempuh demi mendapatkan kepastian satu hadist, dan masih banyak  lagi tokoh-tokoh muslim yang hijrah demi mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka yang harus kita teladani.

Memang tidak menutup kemungkinan untuk orang diluar sana yang memegang semangat idealisme dalam menuntut ilmu sehingga mereka berhijrah untuk mengembangkannya dan berharap agar menjadi manfaat bagi orang sekitar. Hal ini terbukti dengan masih banyaknya orang yang sudah berhasil berprestasi dalam menuntut ilmu di luar negri dan kembali kedaerahnya untuk menyalurkan ilmunya yang diraih sehingga bisa menjadi amal jariah dikehidupan kedua mereka. Seperti syair yang diungkapkan sang gerbang kota ilmu, Ali ibn Abu Tholib bahwasanya ilmu berbisik kepada amal, dan amal menjawabnya, jika tidak, maka ilmu akan sia sia.  

Rasullullah SAW bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan dibalas bedasarkan apa yang dia niatkan, siapa hijrahnya demi mendapatkan keridhoan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karna dunia yang dikehendakinya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya bernilai sebagaimana yang dia niatkannya.”(HR.Bukhori dan Muslim) 

Pada hakikatnya orang yang berhijah memiliki tujuan tersendiri, tergantung bagaimana seseorang itu menata niatnya. Lebih baik jika kita berhijrah untuk menghilangkan rasa kemalasan menuju semangat, akhlak buruk menuju akhlak yang baik, pergaulan yang buruk menuju pergaulan yang baik, kebiasaan yang buruk menuju kebiasaan yang baik, kebodohan menuju keilmuan, dan kecintaan terhadap dunia yang berlebih menuju kecintaan terhadap akherat yang tiada henti.

Pada saat ini berhijrah adalah jalan yang baik untuk orang yang masih prematur dalam ilmu pengetahuan dan agama dengan mengubah segi pandang yang hakikatnya luas ternoda dengan kebiasaan lingkungan yang sempit. Yakni dengan memperdalam, mengembangkan dan memperluas ajaran Allah SWT. 


Penulis : Ridho Ardiansyah

Gambar : oasemuslim.com سافر تجد عوضا عن ما تفارقه  . فانصب تصب فان لذيذ العيش في النصب Fitrahnya manusia adalah berusaha menjadi ...

Gambar : videoblocks.com

Ingin hati sebenarnya menuangkan semua ini dalam sebuah puisi.  Namun sayangnya, sudah terlalu lama tangan ini tak berlatih lagi dalam menguntai sajak sajak puitis begitu. Hingga akhirnya, ku putuskan untuk menulisnya dalam bentuk seperti ini. Terserah mau kau beri nama apa ia.

Mungkin, diari?

Ini adalah cerita tentang seorang anak remaja hampir dewasa, yang sedang berusaha sebisa dirinya mengambil arti benar bagaimana seharusnya hidup yang diperintahkan Tuhannya.

Ini adalah cerita tentang seorang anak remaja hampir dewasa, yang namun tertatih-tatih sebab dihadapkan dengan jenis permainan hidup yang serba tak berujung. Rumit.

Sebabnya, tengah sangat-sangat mendalam ia rindukan sesosok paling sempurna tanpa cela pujaannya.

Yang paling mulia dan sempurna akhlaqnya, pintar nan lembut, bijaksana semua keputusannya dan penyayang pribadinya. Tiada duanya. Sosok yang namanya ia sebut berkali-kali setiap hari, yang ia tangisi lumayan kerap karna teramat ingin bersua. Karna ia tau, jikalah sosok itu ada disini, saat ini, terjawab sudah semua kegundahan dan kebimbangan hidupnya.

Karna ia tau, jikalah dia ada disini, terselesaikan semua peliknya masalah dunia ini.

Tapi karna imannya, dia harus percaya. Percaya bahwa Tuhan pasti punya alasan terbaik kenapa ia dihidupkan di zaman yang berbeda dengan sang Nabi. Dan walaupun sekarang sudah tiada, namun takkan mati namanya diagung-agungkan di seluruh penjuru dunia. Dan peninggalannya jua, takkan lekang oleh zaman.

Ya Rasulullaah.
Ya Habiballaah.
Jikalah hati ini sudah sedamai itu mendengar cerita-cerita tentangmu.
Apalagi kalau sampai mata ini benar-benar langsung menjadi saksi hadirnya sosokmu.

Ya Rasulullaah.
Ya Habiballaah.
Rindu ini terus terpatri.
Mengharap pertemuan denganmu di suatu hari.
Berharap berkumpul bersamamu nanti.

Ya Rasulullaah.
Ya Habiballaah.
Khawatirmu kepada umatmu, membuat sesak hati ini.
Tertampar kenyataan bahwa kami memang masih layak dikhawatirkan.
Maafkan kami ya Rasul.
Janji kami, untuk selalu berusaha menjadi umat kebangganmu.

Allaah.
Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
Wa’ala ‘ali wa ashhabihi ajma’in.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
Wa’ala ‘ali wa ashhabihi ajma’in.

Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad.
Wa’ala ‘ali wa ashhabihi ajma’in.

Pinta hamba, mohon kirimkan shalawat ini pada kekasihmu itu ya Allah, pada pujaan kami itu. Mohon sampaikan, bahwa tiada rindu yang securam ini, melainkan rindu kami. Rindu umat yang banyak dosa ini, untuk bertemu dengannya. Dan juga, beribu mohon kami, untuk dipertemukan dengannya nanti di padang mahsyar, di taman surgamu ya Allah.

Aamin Allahumma aamin


Penulis : Arini Diyah Fadhila

Gambar : videoblocks.com Ingin hati sebenarnya menuangkan semua ini dalam sebuah puisi.  Namun sayangnya, sudah terlalu lama tangan ini...

Gambar : yovizag.com

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Setiap individu sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk menyambung kehidupan sehari-hari. Kecil kemungkinan seorang manusia untuk tidak berhubungan dengan orang lain. 

Kesendirian merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Seseorang yang sedang sendirian akan mudah terpicu untuk melakukan kemaksiatan. Kecenderungan melakukan maksiat sangat besar ketika seorang diri dibandingkan saat bersama orang lain. Karena tidak ada yang mengingatkan kita kalau sesuatu itu salah, dan mengajak kita kepada kebenaran. Allah berfirman:

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS: Al ‘Asr 2-3) 

Dewasa kini, banyak sekali masalah sosial yang menimpa umat Islam. Baik individu maupun melibatkan kelompok tertentu. Sebagai seorang Muslim sudah seharusnya kita memilih lingkungan yang kondusif dalam arti lingkungan yang menyeru kepada kebaikan, bukan sebaliknya. Karena seiring berjalannya waktu, masalah – masalah yang dihadapi semakin rumit dan kompleks. 

Kepribadian seseorang atau individu sedikit banyak selaras dengan lingkungan sekitarnya. Apabila dalam lingkungannya terdapat orang- orang soleh yang selalu mengajak kepada kebaikan maka secara alami individu tersebut akan tergugah atau terketuk hatinya untuk mengarah kepada kebaikan. Minimal menjadi satu komunitas yang baik dan menjauh dari kemaksiatan. Dan hal ini berlaku sebaliknya dengan konsekuensi yang berbeda.

Setiap individu pasti memiliki sekumpulan atau seorang teman dalam hidupnya. Teman merupakan salah satu aspek penentu kepribadian seseorang. Apabila temannya itu adalah seorang yang sangat cerdas dalam hal akademik misalnya, maka setidaknya dia akan dibantu setiap kali mendapatkan kesulitan dalam belajar. Ketika seorang Muslim mendapatkan teman yang sholeh, sekurang-kurangnya  ia akan menasihati, mengajak menjauhi hal yang dilarang oleh Allah dan saling mendoakan satu sama lain sehingga mereka menjadi sebuah kumpulan yang baik. 

Maka dari itu pastikan kita memliki teman yang dapat mengajak kita ke surga di akhirat kelak. pastikan teman-teman di kantor kita adalah teman yang selalu mengingatkan akan kewajiban kita sebagai Muslim. Pastikan teman hidup kita di rumah adalah pasangan hidup yang mampu mengingatkan kita disaat kita tengah futhur. Sudahkah kita memiliki teman yang seperti itu? Kalau belum, segeralah cari selama kita masih hidup, karena setelah kematian tiada lagi yang mampu menolong diri kita selain kita sendiri. Oleh karena itu mencari teman adalah salah satu yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

“Serigala akan memangsa domba – domba yang yang lepas dari kawanannya. Domba yang lepas dari kawananya itu akan menjadi santapan empuk untuk para pemangsa.”

Akan tetapi ada yang perlu diingat bahwa ketika kita bergabung kepada salah satu kelompok tertentu, janganlah serta merta kita menjelekkan kelompok lain dengan alasan kelompok kita yang paling benar. Jangan mudah mengkafir-kafirkan seseorang atau kelompok tertentu sebelum kita bertabayyun (periksa) kembali. 

Sebagai Muslim, kita tidak diwajibkan untuk menjadi seorang ustadz ataupun penceramah kepada khalayak ramai untuk menyeru kepada kebaikan. Namun bukan berarti tugas kita untuk menyerukan  kebaikan dan melawan kemungkaran terlepas begitu saja. Karna apapun profesi kita, baik itu pelajar, guru, pegawai kantor, ibu rumah tangga dan sebagainya, kewajiban kita untuk menyerukan  kebaikan dan melawan kemungkaran tetap ada. Perbanyak doa untuk setiap saudara kita agar setiap hati kita terpaut satu sama lain sehingga Allah memberi syafaat kepada kita melalui teman-teman kita yang sholeh.

“Bukan diri kita yang hebat, tetapi Allah yang memudahkan urusan kita. Bukan pula diri kita yang baik, tapi Allah lah yang menutub aib-aib kita. Lantas apa yang perlu kita sombongkan?”

Penulis: Tsabat Rabbani


Gambar : yovizag.com Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Setiap individu sangat membutuhkan kehadiran orang lain untuk men...

Image result for ilustrasi orang solat
Gambar : fimadani.com

Sholat itu adalah zona nyaman. Karena itu Allah SWT memerintahkan dengan bahasa "Aqim" ( Jadikan ia tempat bermuqim ), bukan "Addi" (tunaikan).

Tempat bermukim yang paling nyaman adalah rumah, tempat kembali di kala resah, tempat bercerita tentang keluh dan kesah, tempat istirahat jika jiwa mulai lelah. Karena itu Rasulullah SAW memerintahkan sahabat mulia Bilal "Duhai Bilal, bawalah kita istirahat sejenak dengan sholat". Bawa kita istirahat ke rumah kita duhai Bilal dari letihnya fisik dan jiwa.

Allah memuji tatkala seseorang bisa khusyu' dalam sholatnya. Syarat awal kekhusyu'an dalam sholat adalah "tuma'ninah" (ketenangan). Duhai apalagi yang dicari oleh orang-orang hari ini??? Tak semua orang bisa merasa tenang dan bahagia. Bahkan walau berada di rumahnya. Tak sedikit akhirnya berusaha mencari ketenangan dan kebahagiaan sesaat, melalui hal-hal yang Allah SWT tak pernah redho dengannya.

Duhai bersyukurlah jiwa yang bisa menjadikan sholatnya tempat bermukim. Jiwa yang bisa nyaman dan nyenyak ketika berada di rumahnya. Yang sama sekali tak pernah malu mengadukan aib serta keluh kesahnya. Celakalah orang-orang yang hanya menjadikan sholatnya layaknya hutang. Karena itu Allah SWT tidak memerintahkan dengan kata "Addi" (tunaikan). Ketika kewajibannya tertunai, ia enggan untuk kembali. Dan ia ingin bagaimana secepatnya bisa pergi.

Karena itu, sholat didalam Al-quran tak selalu memiliki konotasi positif. Ketika ia berdiri sendiri terkadang bermakna negatif. Wailun lil mushallin ( Celakalah orang-orang yang sholat). Orang-orang yang melalaikan sholatnya. Ia enggan menjadikannya rumah, tempat kembali dikala gundah. Ia lebih suka menganggapnya hutang, yang bisa diulur waktu ketika menunaikan. 

Ya Allah jadikanlah kami beserta keturunan kami, termasuk golongan orang-orang yang menjadikan sholatnya tempat bermukim.


Penulis : Moe Azz

Gambar : fimadani.com Sholat itu adalah zona nyaman. Karena itu Allah SWT memerintahkan dengan bahasa "Aqim" ( Jadikan ia te...


Image result for photoghraphy bendera indonesia
Gambar : bobo.grid.id
Sepatutnya sebagai seorang muslim yang ditakdirkan Allah SWT untuk lahir dan bertumbuh kembang di Indonesia, menjadikan kita sebagai seseorang muslim yang banyak bersyukur atas limpahan karunia-Nya ini. Sebab apa? Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim yang terbesar tidak hanya di Asia melainkan juga terbesar di dunia, negara yang memiliki iklim sangat kondusif untuk beribadah, beraktifitas dan bekerja. Juga di tambah lagi akan kekayaan alamnya yang sangat-sangat melimpah. Sungguh segala potensi yang Indonesia miliki ini, jika kita bandingkan dengan negara lain akan membuat negara lain pun iri.  Ditambah lagi dengan rakyatnya yang suka gotong-royong, cinta damai, saling menghargai perbedaan menambah besarnya karunia Allah SWT terhadap negara tercinta kita Indonesia.

Kita semua seharusnya bersyukur kepada Allah, atas segala rahmat dan limpahan karunia kepada negara kita Indonesia yang MasyaAllah. Salah seorang wartawan Al-Jazeera memberi kesaksian, “Indonesia ajib! tidak ada yang seperti Indonesia”, beliau melanjutkan, “Ikatan batin, ikatan ukhuwah, ikatan gotong royongnya juara Indonesia itu.” Dari pernyataanya ini kita sudah bisa melihat bukti nyatanya. Contohnya saat aksi bela islam 212, 411, atau aksi yang ada di Borobudur . Makanan melimpah ruah disana karena “The power of emak-emaknya”. Mereka bersatu padu, saling bergotong royong untuk masak berbagai macam makanan. Juga banyak para pedagang yang meng-gratiskan makanan sudah menjadi bukti bahwa budaya gotong-royong negara kita sungguh luar biasa.

Wartawan Al-Jazeera itu sempat memberi contoh dari negara tetangga kita, atau bisa dibilang negara dimana tempat kita menuntut ilmu sekarang, Malaysia. Dia bercerita saat beliau meliput tentang banjir di Kelantan, saat bulan ketiga setelah peristiwa itu beliau masih menyaksikan ada nenek-nenek yang masih membersihkan sendiri lumpur yang masuk ke rumahnya setinggi lutut. Kata dia, “Ini di Indonesia haram! Gak mungkin terjadi di Indonesia yang seperti ini.” Kenapa?, Karena sudah menjadi kebiasaan orang Indonesia pada saat kerja bakti hari pertama pasti sasarannya adalah rumah orang yang paling lemah seperti nenek-nenek itu.

Kemudian wartawan Al-Jazeera itu marah-marah terhadap pemerintahan federal Malaysia gara-gara Kelantan itu diperintah oleh Partai Islam Se-Malaysia (PAS) yang dimana itu adalah partai pembangkang atau oposisi bukan di pimpin oleh UMNO maka bantuan dari pemerintahan pusat sangat lambat. Apa kata wartawan itu, “Tau ga apa yang saya lihat di Aceh? 40 tahun GAM dan TNI tembak-tembakan tanpa henti, tapi begitu tsunami terjadi, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri mereka ngangkutin mayat, yang depan pakai seragam TNI yang belakang gerilyawan GAM. Itu hanya di Indonesia!.”

Cerita selanjutnya datang dari salah seorang ustadz dari Jogjakarta yang bertugas mengantar para donatur-donatur dari Qatar dan Kuwait untuk membantu para korban gempa di Jogjakarta. Para donatur dari Qatar dan Kuwait itu malah stress dan shock saat mau memberikan bantuan kepada para korban, lah kenapa? Yang para donatur itu bayangkan adalah ketika memberi bantuan kepada para korban akan seperti saat mereka memberi bantuan di Bam, Iran saat terjadi gempa tahun 2003. Rumah para korban gempa disana hancur lebur, para korban menangis-nangis di dekat rumah mereka itu, kemudian diberi bantuan dan difoto. Bagus untuk laporan mereka dengan menyertakan bukti foto itu.

Tapi saat ke Jogja pada saat mau menyerahkan bantuan ke Bantul, MasyaAllah para donatur itu malah dibuatkan panggung, dekorasinya bagus, dan disambut hadrah. Semua para korban itu tersenyum tertawa-tawa, menggunakan seragam, dan juga memberikan suguhan kepada para donatur itu makanan-makanan yang sangat banyak seperti lemper, wajik, jadah, tempe bacem, dll. Wajah para korban itu tidak ada yang bersedih dari anak-anak sampai para dewasa mereka semua tertawa-tawa dan tersenyum-senyum. Maka para donatur itu tanya ke ustadz yang mengantarkan mereka itu, “Ya ustadz, aina musibah?.”, “Wahai ustadz, mana musibahnya?.” Sang donatur itu melanjutkan, “Ini kalau ditempat saya namanya walimah, bukan musibah.”

Sungguh kekuatan ikhuwah Islam apa yang dimiliki oleh Indonesia sehingga menjadikan orang-orangnya cinta akan kebersamaan. Dan ini mustahil terjadi atas ajaran orang-orang yang di kitab suci mereka mengajarkan tentang kasta-kasta. Ini semua pasti berasal dari ajaran Nabi tercinta kita Nabi Muhammad SAW yang dibawa oleh para dai berabad-abad tahun lalu. Semoga Allah SWT merahmati mereka para dai-dai terdahulu yang mampu menjadikan negara kita menjadi negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia ini. Dan semoga Allah memberikan kecintaan untuk berdakwah di dalam hati kita seperti halnya nenek moyang kita terdahulu. Sehingga kita mampu untuk meneruskan jalan dakwah mereka, jalan dakwah para pejuang untuk menyebar luaskan agama rahmat ini ke segala penjuru dunia. Aamiin.


Penulis : Athariq Faisal

Gambar : bobo.grid.id Sepatutnya sebagai seorang muslim yang ditakdirkan Allah SWT untuk lahir dan bertumbuh kembang di Indonesia, men...