https://r1.ilikewallpaper.net/pic/201211/Battlefield_3_Action_Game__2_640.jpg

Ada tubuh yang lelah dengan beban menahun. Rasanya, ingin sekali membuang jauh-jauh beban yang memberatkan tubuh ini. Biar saja terapung jauh. Jika bisa, sampai mata ini tak lagi melihatnya.

Kita pasti pernah memiliki masalah yang berat. Walaupun, tentu ukuran berat persoalan manusia berbeda-beda. Menurutku, masalah mu tak seberapa. Begitupun mungkin kau, melihat masalah ku tak sebanding dengan yang kau miliki. Karena itu semua persoalan individu. Berat atau tidaknya tergantung dari pada level kita masing-masing. Hal ini sesuai dengan kutipan firman Allah SWT. 
وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا                                      
 "Dan kami tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya…" (QS. Al – Mu’minun : 62)

Mungkin, saat kita sedang menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya cukup kencang kerap kali mengeluhkan cobaan yang kita miliki.

Namun, jika kita percaya pada ayat ini, it is supposed to be relieved. Kita hanya akan dibebankan problem yang sesuai dengan kapasitas kita. Ini adalah salah satu dari sekian banyak rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya.

Jika kita berpikir sedikit lebih dalam lagi, bahwa segala ujian yang melanda kita adalah tentang kita. Tentang pengalaman yang belum pernah kita alami. Sesuatu yang terasa berat adalah hal yang belum kita ketahui cara menyelesaikannya.

Masalah adalah sarana untuk meningkatkan level manusia. Semakin berat semakin tinggi levelnya. Kita boleh ambil analogi sederhana dari game Mobile Legend yang sedang trending di tahun ini. Pasalnya, ada tujuh tingkatan yang menunjukan kemampuan si pemain. Dari tingkat ter-rendah yaitu warrior,   elite,  kemudian naik pada tingkatan master, grand master, epic, legend hingga pencapaian level yang tertinggi yaitu Mythic.

Disaat bermain game, kita akan menemukan kesulitan, kegagalan, turun tingkatan, kejenuhan, dll. Those are the problems. Itu semua sangat lumrah dalam permainan.

Bagi epic, sulit sekali naik pangkat menjadi legend. Begitupun legend, tentunya butuh usaha untuk bisa mencapai mythic. Namun, saat kita mampu memahami game dengan baik, berpikir effective dan terus berusaha. Akhirnya, kita sampai juga pada tujuan.

Mengutip salah satu kesimpulan tulisan  dari laman ScienceDaily yang berjudul "New Studies Illustrate How Gamers Get Good". Salah satu cara yang paling efektif untuk menguasai game adalah dengan menjadi moderat. Tidak perlu bermain sampai berkali-kali bahkan begadang sampai malam. Namun seperlunya saja. Berikan jeda waktu untuk berisitirahat.

Bagaimana mereka menemukan kesimpulan yang efektif untuk menguasai game? Tentu dengan terjun kedalam game tersebut. Mereka tidak menghindari permainan. Namun mencoba menguasainya dengan menganalisa kemungkinan yang ada. Akhirnya, permainan sulit terasa lebih ringan.

Salah satu penceramah TED Talks juga menyampaikan pemikirannya tentang bagaimana berbicara dengan bahasa asing layaknya bermain game. Ia mengambil sample game bergenre FPS (First Person Shooter) yang dimainkan muridnya dulu saat mengajar Bahasa Inggris di Malaysia. Ia mengakui bahwa muridnya memiliki kemampuan berbahasa yang standar. Tetapi, muridnya tersebut mampu menyampaikan pesannya dengan efektif, tanpa bertele-tele, and to the point. Tepat sasaran. Sebagaimana tembakan yang mengenai musuh di game bergenre FPS tersebut.

Jika kita renungkan. Cobaan ternyata adalah alat pemantik manusia agar lebih baik. Sehingga dirinya sudah cukup mampu dan matang untuk naik ke tingkatan level hidup selanjutnya . Masalah hidup yang biasa kita keluh-keluhkan, tenyata kunci gerbang wawasan dan pengalaman.

Beban berat atau masalah besar adalah sesuatu yang tidak betul-betul menakutkan. It is actually a game which we need to figure it out. Kita perlu mencari tahu dengan giat. No matter how long. Sekali kita menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan dan mampu menguasai ‘game’ kehidupan kita, kita akan merasa lega. Nikmati prosesnya seakan bermain game. Yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha menyelesaikan persoalan yang kita miliki dengan ikhtiar totalitas, keinginan yang kuat, dan tawakal. Insya Allah semuanya akan berakhir dengan baik.

Setiap masalah hanya meminta untuk diselesaikan, bukan untuk terus dikeluhkan. Semakin jiwa menggerutu, semakin beban memberat.  Think effectively. Agar ‘massa' yang awalnya berubah menjadi ringan.

Penulis : Point Nemo 






https://r1.ilikewallpaper.net/pic/201211/Battlefield_3_Action_Game__2_640.jpg Ada tubuh yang lelah dengan beban menahun. Rasany...




Source: Inas’s Photo Album

Bagi kamu yang sekarang berumur antara 20 sampai menjelang 30 pasti pernah mendengar istilah Quarter Life Crisis, saya tidak tau mulai kapan istilah ini muncul dan menjadi bahasa beken bagi yang sedang mengalami fase krisis dalam hidupnya. Terutama kaum-kaum milenial zaman sekarang tapi fase ini agaknya pernah dialami sebagian orang yang masih bingung dengan arah tujuan hidup nya.

Sebenarnya istilah ini bukan suatu hukum alam yang pasti terjadi, kalau orang zaman dulu alias angkatan bapak dan ibu kita ditanya istilah Quarter Life Crisis pasti jawaban nya gak tau, terlebih kehidupan zaman dulu tidak serumit kehidupan zaman sekarang, yang mana zaman sekarang dihadapkan dengan pilihan yang banyak. Contoh sederhana, stasiun TV zaman dulu cuma ada TVRI satu-satunya, acaranya cuma itu-itu aja, bahan obrolan orang-orang akan sama karna yang ditonton pun sama. Kalau sekarang, dengan teknologi yang semakin canggih dan inovasi yang semakin meningkat, kreativitas seseorangpun juga semakin terasah.

Kita tidak bisa menghindari pilihan-pilihan yang tersedia dikehidupan ini, kalau makan aja ada pilihannya mau pakai sendok atau tangan, mau pergi ke kampus pilihannya ada pakai mobil, motor, atau jalan kaki, dll. Ada seribu satu cara untuk sampai ke tujuan kita, tapi tidak semua cara itu baik dan cocok untuk kita jalani.  Sebagai seorang muslim, ada banyak wasilah yang bisa kita lakukan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup kita, salah satunya adalah tawakal, loh kok belom apa-apa udah berserah diri dulu? Eiitts, sabar dulu.. mari kita bahas pelan-pelan.
Kita sering terkecoh dengan konsep tawakkal, yang mana biasa kita dengar adalah berserah diri setelah segala ikhtiar dan usaha yang sudah kita lakukan. Saya tidak mengatakan konsep ini salah, tetapi ada hal yang harus diubah dalam konsep tersebut. Menurut saya berserah diri dimulai ketika ingin menentukan pilihan hidup kita, lagi-lagi diawali dengan bagusnya niat kita.

Manusia dianugerahi rasa kecewa, sedih, senang, marah dalam hidup nya oleh Allah. Ada yang kadar marahnya tinggi, sehingga ketika ngobrol santai aja nadanya seperti marah, ada yang kadar senang nya juga tinggi sampai-sampai sering dijuluki manusia yang gak pernah punya masalah, adapula yang kadar cengengnya tinggi sampai-sampai kalo ngeliat kakek-kakek ngemis dipinggir jalan aja air matanya sudah berderai.

Allah menciptakan rasa kecewa, sedih, senang, marah pada manusia sebenarnya ingin melihat apakah benar ketika kita diuji dengan perasaan-perasaan itu kita akan kembali kepada yang menciptakan rasa itu? Apakah benar pilihannya udah karena Allah?
Misal, kita merasa kecewa ketika karya tulis kita gak dipublish atau ditolak mentah-mentah sama penerbit, coba dicek lagi apakah kecewanya kita ini udah ikhlas untuk berbuat baik atau malah mengharapkan pujian orang lain?

Balik lagi ke konsep tawakkal, ketika kita berazam atau mengambil keputusan dengan pilihan-pilihan yang tersedia kita coba mulai dari pertanyaan ‘Apakah sudah karena Allah?’ ‘Apa sudah minta dan konsultasi dulu sama Allah? Apakah sudah berserah diri sama pilihan terbaik yang nanti Allah akan kasih?

{…..  فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ}
“…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (3:159)

Tawakkal juga merupakan ciri orang beriman, banyak ayat dalam al Quran yang mengaitkan sifat berserah diri dengan orang yang beriman, karna pada hakikatnya hidup seorang muslim sepenuhnya ada dalam genggaman sang Kholiq.

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus". (Surah Hud: 56)

“Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal (11). Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri (12)". (Surah Ibrahim : 11-12)

Pada hakikatnya, semua teori ini ga akan berlaku kalau kita belum pernah diuji. Contoh nya, dalam Al-quran disebutkan “Mintalah pertolongan dengan sabar dan sholat” kita tidak akan pernah bisa paham makna mencari pertolongan dengan sabar dan sholat sampai kita benar-benar diuji apakah ketika kita punya masalah kita bisa sabar sambil terus memperbaiki kualitas sholat kita? Bukankah betulnya sholat kita akan betul juga kehidupan kita?

Akhir kata, mengutip perkataan Fikri Suadu “Pengetahuan adalah panduan bagi keinginan-keinginan manusia. Tanpa pengetahuan, manusia akan dihancurkan oleh keinginan-keinginannya sendiri”. Setiap kali ingin memilih pastikan pilihan itu kita kembalikan lagi kepada yang Maha Mengetahui, saya yakin dengan izin Allah istilah Quarter Life Crisis tidak akan muncul dalam kamus kehidupan kita. Wallahu a’lam.

Penulis : Inas Syarifah

Source: Inas’s Photo Album Bagi kamu yang sekarang berumur antara 20 sampai menjelang 30 pasti pernah mendengar istilah Quarter Life...

Source: temanku.com

Serangkaian ibadah dan aktivitas yang kita amalkan selama Ramadhan tentunya masih membekas dikeseharian kita dan berharap dapat terus dilanjutkan selepas Ramadhan. Beberapa dari kita ada yang menargetkan untuk melanjutkan rutinitas seperti atau aktivitas lain. Begitu banyak dampak positif yang ditinggalkan bulan Ramadhan, dari sekian banyak kebiasaan kita selama Ramadhan, ada satu kebiasaan yang sangat berharga untuk dilepas yaitu ‘Bangun sebelum adzan subuh’.

Satu bulan penuh kita mengupayakan diri sebisa mungkin untuk bangun sebelum azan subuh untuk menyempatkan bersahur. Diawal berlangsungnya Ramadhan mungkin ini sesuatu yang cukup berat untuk dilakukan, namun seiring berangsurnya waktu, kita mulai terbiasa bangun sebelum adzan subuh bahkan tanpa alarm atau dibangunkan kawan. Akan tetapi perubahan jam biologis ini jarang kita sadari.

Mari kita lihat mengapa kebiasaan ini sangat disayangkan apabila kita tinggalkan. Rasulullah pernah menasihati Fatimah untuk bangun dan jangan menjadi orang yang lalai karena Allah memberi rezeki pada hambanya diantara terbit fajar dan terbit matahari. Rasulullah juga berpesan kepada kita untuk bangun dipagi hari dan mencari rezeki, sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan. Di dalam riwayat lain Rasul bersabda “Dua rakaat subuh lebih baik dari dunia dan seisinya” (HR. Muslim).

Itulah beberapa keutamaan bangun subuh dari sisi spiritual. Nyatanya bangun pagi tidak hanya berdampak pada spiritual kita saja, namun juga berdampak bagi kesehatan terutama untuk para pelajar. Pernahkah kita merasa menghabiskan hari tanpa mendapatkan apa-apa? Bisa jadi itu karena tidak adanya perencanaan yang dipersiapkan dengan matang, dengan bangun lebih awal kita bisa menyempatkan waktu untuk menyusun jadwal dari pagi hingga malam.

Disamping itu, bangun pagi juga menjadikan tubuh kita lebih fresh. Pada masa-masa ujian sering kali kita memilih untuk belajar hingga larut, padahal dengan tidur lebih awal dan bangun pagi, tidak hanya badan yang lebih segar tetapi otak juga berfungsi lebih optimal karena udara segar yang kita hirup akan memperkaya oksigen di dalam darah dan memperlancar aliran darah ke otak sehingga otak berfungsi maksimal, dengan memaksimalkan fungsi otak maka memori otak kita akan meningkat.

Begitu banyak manfaat yang dapat kita raih apabila bangun di awal pagi, dan masih banyak manfaat lainnya. Sangat merugi rasanya bila kebiasaan ini lepas begitu saja. Seperti ucapan Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Prof. Dr. Ahmad Satori Ismail, “Setiap Muslim hendaknya menyadari posisi sebagai hamba Allah, bukan hamba Ramadhan”. Jangan sampai peningkatan amalan kita hanya di bulan Ramadhan saja, tetapi juga berlanjut untuk kedepannya.

Yuk mulai besok kita jaga bangun sebelum adzan subuh, untuk dunia dan akhirat yang lebih baik.

Penulis: Muhammad Rasyid Abdurrahman

Source: temanku.com Serangkaian ibadah dan aktivitas yang kita amalkan selama Ramadhan tentunya masih membekas dikeseharian kita dan be...

sumber: twitter.com/muslimculture


Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar terhadap seluruh elemen kehidupan, yang mana ia adalah perbaikan diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Malam-malamnya dimuliakan oleh Allah untuk memperbanyak dzikir dan muhasabah, dan amalan-amalan pada siang harinya dimuliakan posisinya saat tengah menjalankan puasa. Kini Romadon telah berakhir, penulis berhemat bahwa perlu dilakukan muhasabah terkait sepak terjang kita sebagai umat muslim sebagai entitas sosial-politik di Indonesia kini, untuk menuju kondisi yang lebih baik dari sebelumnya.

Hampir dua-tiga tahun belakangan, tanah air senantiasa diguncangkan dengan blunder-blunder besar dalam ranah sosial politik yang tak bisa dilepaskan dengan identitas umat muslim di dalamnya. Betapa seringnya klaim muslimin dicaplok oleh berbagai jenis kelompok; baik kanan, liberal, bahkan kiri, dan betapa reaktifnya masyarakat muslimin terhadap berbagai isu yang beririsan dengan identitas muslim sehingga merendahkan martabatnya sendiri, meninggalkan renungan besar bagi para pemerhati dunia Islam di Indonesia : mengapa umat muslimin kini kian rapuh? Bagaimana masa depan gerakan Islam dan agenda-agenda dakwah Islam dapat terwujud kelak? Setidaknya ada beberapa hal yang penulis rasa perlu menjadi perhatian besar:


Polarisasi Kekuatan Politik Nasional

Presidential Treshold 20% kian kuat dalam menyebabkan benturan besar baik antara muslim dan non-muslim maupun antara gerakan-gerakan Islam di Indonesia. Hal ini nampak dengan terbatasnya capres-cawapres menjadi hanya dua pasang yang menyebabkan gerakan-gerakan Islam yang berbeda ijtihad prioritas harus berhadapan satu dan lainnya secara langsung. Dalam perebutan angka elektoral dan konstituen muslimin, maka akhirnya terbuktilah hadits nabi bahwa umat muslim kelak bagai hidangan makanan yang diperebutkan dalam aspek pemikiran maupun politik (HR. Ahmad), oleh umat muslimin sendiri.

Perebutan klaim identitas Islam tersebut kian nampak dengan elit partisan yang tiap hari mengklaim siapa yang paling ‘islami’, dengan berkutat pada hal-hal dangkal yang bersifat simbolis, seperti bagus-bagusan sorban sampai puasa sunnah pribadi calon diumbar-umbar ke ranah pubik sebagai dagangan. Terbeli dengan dagangan politik seperti ini, tidak  hanya ia akan memecah belah kesatuan muslimin sebagai kelompok (akibat polarisasi gerakan-gerakan Islam), ia juga akan membentuk pemahaman baru akan konsepsi Islam dalam dimensi politik yang dangkal dan tidak akurat, hingga berdampak besar menjadi fenomena pembodohan politik Islam nasional. Maka sekalipun kita memiliki sikap politik yang tegas, jangan sampai kita menjadi memusuhi kelompok Islam yang berlainan dengan diri kita hanya karena beberapa blunder elit dan ijtihad sikap yang berbeda. Toh, seberapa hebat kita hingga mampu untuk menilai isi hati orang lain?

Dengan paket degradasi nilai yang amat tajam dan lengkap tersebut, maka selamanya muslimin akan senantiasa kalah dalam perjuangan agenda-agenda dakwah yang besar dan semakin diragukan untuk menjadi Ustadziatul Alam (guru peradaban dunia) dalam tingkat nasional maupun internasional.
Kendati kerugian muslimin dari polarisasi kekuatan politik nasional amat besar, ia bukan berarti bahwa upaya advokasi nilai perjuangan dakwah Islam harus dilakukan di luar institusi politik saja. Perjuangan dakwah Islam harus senantiasa menyertakan kanal politik modern, sebagai upaya bertahan dan menyerang nilai yang bertentangan dengan nilai agenda dakwah Islam. Muslimin harus semakin dewasa dan lihai dalam berpolitik praktis maupun politik nilai, tidak repulsif, dan mampu membawa kedamaian terhadap sekitarnya.

"Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya." [HR. Bukhari]


Misrepresentasi Nilai Perjuangan

Yang menjadi pelik adalah saat elit politik/tokoh besar/'ustadz-yang-sering-bicara-politik secara partisan tetapi tak pernah mau mengakui menjadi politisi’ mengenakan jubah identitas islami namun menyuarakan nilai-nilai yang tidak berasal dari kerangka pikir Islam, padahal nilai-nilai perjuangan Islam adalah transenden dari spektrum politik ‘kiri-kanan’. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana Islam bersikap dengan sikap yang berbeda-beda untuk isu yang berbeda, seperti bagaimana Islam melihat persoalan gender dan tatanan keluarga yang cukup konservatif, sedang di sisi lain melihat persoalan bentuk pemerintahan dan hidup bersama masyarakat berbeda keyakinan dengan cukup liberal (sebagaimana produk piagam Madinah dan perjanjian Hudaibiyah). Dengan demikian, untuk mengklaim agama Islam adalah milik dari salah satu poros spektrum politik ‘kiri-kanan’ adalah bentuk pendangkalan pemahaman nilai perjuangan Islam.

“Dan demikian (pula) Kami menjadikan kamu (umat Islam) ummatan  wasathan (umat yang adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan manusia) dan agar Rasul (Muhammad) menjadi  saksi atas (perbuatan) kamu…” [al-Baqarah:143].

Dalam kehidupan kita, betapa seringnya ‘elit muslim’ Indonesia yang mencampuradukkan narasi Islam dengan paradigma dunia kanan yang berlebihan sehingga melahirkan narasi ultra-nasionalis yang rentan dengan pemahaman kebangsaan yang diskriminatif, dan bahkan rasis. Lahirnya pikiran-pikiran ‘memaksa’ dari mulut ‘elit muslim’ akan mendangkalkan pemahaman pengikut elit tersebut bahwa nilai perjuangan dakwah Islam bersifat global, dan senantiasa berpangku kembali terlebih dahulu kepada Quran dan Sunnah dengan tradisi Ishlah-Tajdid.

Di sisi lain, kelompok muslimin yang memposisikan diri sebagai ‘kelompok toleran’ tidak kalah juga dalam mengecewakan konstituen muslimin dengan sangat akomodatif terhadap kelompok dan pikiran-pikiran yang seringkali secara vulgar maupun implisit menyerang apa yang menjadi advokasi mendasar dari perjuangan dakwah, seperti persatuan sekte-sekte gerakan, independensi pikiran dari pengaruh arus pemikiran yang ‘mengobok-obok’ aqidah muslimin yang tsawabit (tetap). Kebanyakan darinya mengaku sebagai reformis, namun narasi yang dibangun seringkali menyerang kelompok Islam lainnya di depan umum, sehingga firman Allah ‘serulah menuju jalan Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan debatlah dengan baik..’ [an-Naml:125] tidak terimplementasikan. Alih-alih penyadaran—bila apa yang dianut adalah benar—yang ada hanyalah perpecahan.

Dengan demikian, mendudukkan representasi nilai muslimin yang tepat menjadi sangat penting. Misrepresentasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Amerika kini pula menghadapi persoalan serupa. Banyak sekali politisi muslim Amerika seperti Ilhan Omar, Linda Sarsour, Abdul el-Sayed, hingga Rashida Tlaeb terjebak dalam narasi politik identitas dan mengadvokasi agenda-agenda feminis radikal seperti akomodasi LGBTQ+ dan advokasi hukum pro aborsi bebas.

Akhirnya, para aktivis muslimin senantiasa bergerak sendiri-sendiri, gerakan tidak terorganisir dengan rapi hingga representasi advokasi agenda juga berselisih, hingga memunculkan dai-dai yang terkadang problematik. Muslimin dan muslimat harus selektif mengurai pesan dan kata dari para representatif muslim di panggung nasional dan internasional, agar tidak mudah terperangkap dalam kerangka pikir yang bermasalah sebagai muslim, dan tetap mendukung kerangka pikiran dan agenda strategis yang mendukung keberlangsungan dakwah.

Apa yang Perlu Dilakukan?

Penguatan Adab, Tsaqafah, dan Wajihah Dakwah

Untuk menghadapi goncangan-goncangan dari dalam dan dari luar, maka umat muslimin harus memiliki pertahanan yang kuat. Pertahanan yang perlu diperkuat meliputi penguatan pemahaman Islam, pemahaman politik Islam, dan institusi-institusi berbasis Islam, baik institusi sosial maupun politik. Den gan membedakan pemahaman Islam dan politik Islam, muslimin dan muslimat akan semakin berhati-hati dan lihai dalam berdakwah dan berpolitik, hingga akhirnya muslimin memiliki marwah dan mampu mengemban risalah peradaban untuk Indonesia, dan dunia.

Betapa adab dakwah menjadi titik nadir integritas para dai, saat kini sebagian besar umat muslim berusaha mencari alternatif dakwah yang mampu memberikan rasa tenang, hingga membersamai gelombang hijrah yang kian besar di Indonesia. Bahwa adab dakwah ialah hal yang sangat fundamen bukan saja dalam aspek ruhiyah, namun politik sebagai sarana dakwah juga. Adab dakwah amat dipegang teguh oleh Imam Syahid Hasan al-Banna, saat para ulama dan asatidz dakwah mesir ‘dibredel’ oleh Gamal Abdul Naseer dan dieksekusi massal dengan biadab, Hasan al-Banna tetap menekankan bahwa Gamal Abdul Naseer tetap seorang muslim, dan tetap mendoakannya agar mampu bertaubat, saat murid-murid dari Imam Syahid sudah geram bukan main, dan melarangnya untuk bertindak sporadis yang mampu menciptakan mudharat yang jauh lebih besar.

Pembumian Nilai Politik Islam

Untuk mampu mendudukkan apa yang perlu diserukan pada umat manusia, maka dai wajib menyelami kembali khazanah dan sumber keilmuan yang meliputi nilai-nilai advokasi Islam. Ia bisa dimulai dari buku-buku ringan seperti ‘Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku’ karya Ust. Salim A Fillah, hingga khazanah-khazanah pergerakan seperti ‘Risalah Ta’lim’ karya Hasan al-Banna, ‘Islam Jalan Tengah’ karya DR. Yusuf al-Qardhawi, dan khittah pergerakan Islam nasional seperti Masyumi, Muhammadiyah, NU, dan lainnya.

 Bahwa berdakwah bukan hanya menyeru pada solat dan zakat, apalagi dakwah dalam ranah politik. Dengan menguasai kerangka pikir Islam (Islamic Worldview), maka muslimin mampu menilik nilai-nilai Islam yang perlu diperjuangkan dalam segala aspek. Menggunakan ranah politik hanya untuk memformalkan ibadah yang bersifat ritual kepada masyarakat tidak hanya merupakan pendangkalan pemahaman politk Islam—seperti masjid Illuminati dan kristenisasi alun-alun solo--, namun menyalahi konsep Indonesia sebagai Darul Ahdi wa Syahadah (Konsensus Nasional), terlebih bila ia mengabaikan advokasi yang lebih fundamental, seperti penolakan terhadap penggusuran paksa, konservasi lingkungan, dan mendukung liberalisasi penyelenggaraan pendidikan.

Mandiri dalam Bersikap

Maka setelah umat muslimin mampu membumikan nilai-nilai Politik Islam, disertakan dengan kapabilitas akhlak dan wawasan yang mumpuni, maka pergerakan umat muslimin akan kian lebih dewasa, mandiri, tidak reaktif, dan terukur tujuan-tujuannya. Kemandirian ini menjadi renungan bersama kini di saat umat muslim menjadi kian reaktif terhadap satu isu yang belum tentu benar, kemudian membesar-besarkannya dengan ketidakbenaran pula. Saat umat muslimin mampu independen dalam berpikir, umat muslimin pula mampu menyaring informasi dengan bijak, hingga akhirnya sikap-sikap politiknya tidak diayun-ayun bagai buih dan kemudian diselancari oleh kaum berkepentingan.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [al-Hujurat:6].

Dengan memahami persoalan dan memahami jalan keluarnya, penulis berharap kita sebagai umat muslimin mampu berdamai dengan diri kita sendiri, hingga umat muslimin secara kultural mampu menyelesaikan mafsadat di sekitar kita dalam tiap mihwar-nya. Semoga tulisan ini mampu menjadi kontemplasi bersama kita pada momentum Idul Fitri 1440H kali ini, dan mampu kita realisasikan perbaikannya bersama-sama.

Tabik.

Penulis : Ahmad Shidqi Mukhtasor

sumber: twitter.com/muslimculture Sesungguhnya bulan Romadon adalah bulan yang diperuntukkan untuk muslimin melakukan perbaikan akbar ...


 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Entahlah, hati ini rasanya sulit untuk diajak seirama. Ia menjerit, meronta merasa takut kehilangan. Ia baru saja tersadar, bahwa ternyata hawa nafsu itu lebih menyeramkan daripada yang ia duga. Ia malu, ternyata selama ini bukan bisikan syaithan yang menjerumuskannya, melainkan dirinya sendiri.
   Pada akhirnya ia paham, Allah menghadirkan Ramadhan untuk membiasakannya berbuat baik, berprasangka baik. Namun bagaimana jika sampai akhir ia belum juga terbiasa? Ia masih saja kesulitan untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa.
  Lagi lagi ia basah menangis. Beruntung sekali ia memiliki Tuhan sebaik Allah. Yang  selalu memberi ruang untuk hambaNya bertaubat. Bahkan dengan seluruh cintaNya Ia dengan hebatnya sudi memberi limpah kasihNya pada sang lalai. Diakhir kesempatan ini Ia pun dengan baiknya menyadarkan sang hati untuk bangkit, "ayo, jangan sia-siakan aku, masih ada waktu".
   Ia malu. Ia si pendosa, tapi ketika berdoa dan doa doanya tidak dikabulkan oleh Sang Maha, ia merasa amat kecewa. Padahal ia yang lebih dulu mengecewakan Sang Pemilik Semesta
  Ia malu. Ia si yang sering lalai dari jalanNya, tapi ketika jalan hidup tak sesuai dengan yang diinginkan, ia sibuk menyalahkan sekitar, mengutuk semesta dan mencari pembelaan akan hal itu. Padahal, menjadi hambaNya saja ia belum tuntas memenuhi hak-hak Tuhannya.
  Ia malu. Hijrah yang ia lakukan tak menambah kebaikannya. Ia hanya berhijrah dari satu dosa ke dosa lainnya. Padahal ia paham betul bahwa tak ada garansi pada umurnya sebagai jaminan.
  Hati semakin menjerit. Ia merindu akan manisnya iman. Terperangkap dalam sebuah pertanyaan, apakah amalanku diterima? Apakah sudah sempurna?
  Puasaku,
  Tarawih ku,
  Apa diterima?
  Hai diri, sadarkah? Ramadhan sebentar lagi beranjak. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali beberapa waktu lagi.
  Dengan bintang ke dua puluh tujuh malam ini, akan hati sempurnakan amalan yang belum sempurna.
  Mengharap belai kasih sang bulan melalui derai air mata yang terurai. Hati ini lunglai, dengan pedihnya perpisahan ia terbuai.
  Rindu yang kemarin terobati kini mulai ditanam kembali. Membara tiap- tiap detik terlewati. Dalam sunyi berharap taubat akan melengkapi.
  Semoga waktu berbaik hati untuk membersamai. Memberi kesempatan sedikit saja lagi untuk meminta ridha sang ilahi.
  Semoga tawanan dosa dilepaskan. Semoga bara neraka dibebaskan. Selamat jalan ramadhan. Aku kembali memupuk rindu. Berharap tahun depan masih bisa bertemu

I'm leaving soon, take care of your Iman -Ramadhan

Penulis : Nyayu Siti Salma

 Ada yang sedang bersiap pamit. Yang perlu menunggu satu tahun lagi untuk bertemu. Ramadhan namanya. Tahun ini rasanya berbeda dengan tah...