Hijrah sendiri memiliki arti yang cukup luas. Hijrah dalam konteks sejarah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Rasulullah bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah dan dakwah. Dan hijrah secara bahasa berarti meninggalkan, atau menjauhkan diri dan berpindah tempat. Seseorang dikatakan hijrah jika telah memenuhi dua syarat, yaitu: ada sesuatu yang ditinggalkan dan ada sesuatu yang dituju.

Sebagian besar dari kita tentunya sudah mengetahui apa itu hijrah dalam konteks sejarah, tetapi tidak banyak orang memahami apa maksud hijrah secara bahasa. Untuk memahaminya lebih dalam, ada kisah pendek yang mungkin dapat membantu menjawab pemahaman tersebut. 

Kisah ini saya ambil dari rekan saya yang usianya jauh lebih tua dari saya. Ia adalah salah satu manager cabang pada salah satu tempat khursus bahasa inggris bertaraf internasional di ibu kota. singkat cerita kami bertemu dan berkenalan satu sama lain yang kemudian pada akhirnya menceritakan kehidupan pribadi masing-masing. “kisah hijrah” ini kemudian bermula saat ia menceritakan masa lalunya yang kelam.

Sebut saja mba Anggun, ia merupakan sosok perempuan yang tangguh dan cerdas. Pada masa mudanya ia sudah harus merasakan pahitnya kehidupan. Hidup di keluarga yang berada di bawah rata-rata membuatnya harus mencari uang sembari bersekolah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah atas ia selalu mendapatkan juara umum di sekolahnya. Tetapi nasib berkata lain, ia tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk bekerja pada salah satu club golf menjadi seorang caddy. Caddy adalah orang yang membantu pemain golf di lapangan. Baik itu membantu membawa peralatan mau pun memberikan masukan kepada pemain golf. Ya mungkin sebagian dari kita tahu betapa beresikonya menjadi seorang caddy perempuan yang dimana mereka dianjurkan berpakaian minim dan berpenampilan menarik. Sampai pada akhirnya ada seorang pria yang mengajaknya berkenalan. 

Mereka mengenal satu sama lain dan akhirnya mereka menjalin sebuah hubungan terlarang. Pada saat itu Mba Anggun memenuhi permintaan sang pria karena pria ini menawarkan tawaran yang menggiurkan yaitu, ia diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta bergengsi di kawasan Jakarta dan diberi modal untuk berwirausaha. Setelah lama menjalin hubungan, berbagai masalahpun menghadang, yang pada akhirnya mengharuskan mba Anggun untuk mengakhiri hubungannya dan mencari uang dengan cara lain. Kemudian ia memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai barista pada salah satu kafe terkemuka di Jakarta. Tetapi dengan hanya menjadi barista, ia tidak dapat menutup biaya hidup di Jakarta dan iuran kuliah yang tentunya tidak murah. Dan akhirnya ia diajak oleh teman kost-annya untuk ikut bekerja di salah satu club malam. Pada saat itu, ia hanya mengira untuk menjadi seorang bartender. Untuk menjadi seorang bartender saja ia memiliki keraguan yang besar pada dirinya karena harus menyediakan minuman keras untuk konsumen. Ternyata….. temannya mengajak untuk hal yang jauh lebih menakutkan, yaitu sebagai “wanita malam”. Mba anggun sangat dilemma pada saat itu, karena harga yang ditawarkan cukup menggiurkan untuk membayar biaya hidupnya, iuran kuliah, dan juga membantu beban ayahnya membiayai adik-adiknya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk melakukannya demi dapat menutupi seluruh biaya tersebut. Setelah terjerumus dalam lingkungan temannya, ia mulai terbiasa minum minuman beralkohol dan mengonsumsi beberapa obat-obatan jenis terlarang lainnya. 

Pengalaman pahit mba Anggun tidak hanya berhenti sampai situ saja, setelah ia mengakhiri pendidikannya dan mendapat gelar sarjana ia sempat bekerja menjadi salah satu sales promotion girl di salah satu perusahaan rokok yang lagi-lagi mengharuskan ia berpakaian minim. Tidak lama dari itu, ia akhirnya mendapatkan pekerjaan tetap menjadi seorang pengajar Bahasa Inggris di tempat saya khursus sebelumnya. Dari tempat kerjanya ini, ia bertemu dengan seorang pria asing dan menjalin hubungan dengannya. Selama dengannya seringkali mba Anggun ini tidak dapat menahan hawa nafsunya karena ia yakin bahwa pria ini akan menikahinya kelak. 

Hingga akhirnya, suatu hari ia bertemu seorang ustadz yang merupakan teman ayahnya sendiri. Ustadz ini memberi ucapan selamat padanya, “selamat ya neng, denger-denger kamu udah sukses sekarang. Udah bisa bantu banyak keluarga. Pokoknya selama kamu berada di jalan-NYA insyaAllah bakal sukses terus. Si ayah bangga banget sama kamu, jangan sampe ngecewain dia ya.” Dari perkataan teman sang ayah ini mba Anggun mulai merenung dan mengaitkannya dengan kondisi ayahnya yang semakin hari semakin memburuk karena penyakit yang dideritanya. 

Setiap hari mba Anggun memikirkan ucapan teman sang ayahnya ini, terlebih lagi sang ayah seringkali menasihatinya untuk menutup auratnya dan menasihatinya untuk selalu bersyukur kepada Allah dengan menjalankan seluruh perintah-NYA. Yang terbesit dalam lamunannya adalah, “apakah ini (kondisi sang ayah) dan nasihat sang ayah dan perjumpaannya dengan ustadz ini merupakan bentuk teguran dari Allah?” 

Mba Anggun mulai memantapkan hatinya untuk memenuhi perintah sang ayah. Ia mulai dari meninggalkan dunia malamnya, kemudian meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya, dan akhirnya bertekad untuk memakai hijab. Alhamdulillah setelah ia mulai kembali ke jalan-NYA segala cobaan pada hidup mba Anggun mulai terurai satu persatu. Tetapi, masih ada satu hal berat baginya untuk ditinggalkan, yaitu untuk meninggalkan sang kekasih yang begitu ia cintai dan tidak mungkin untuk ia tinggalkan. Kemudian mba Anggun mencoba untuk mengislamkan pasangannya tersebut, tetapi Allah belum mengkhendakinya. Mba Anggunpun memantapkan hatinya untuk meninggalkan pria asing tersebut. Seiring berjalannya waktu, mba Anggun mulai mencari ilmu dengan menghadiri kajian satu ke kajian lainnya. Ataupun bila ia sibuk dengan kerjanya, ia mendengarkan kajian tersebut dari internet. 

Setelah mba Anggun istiqomah untuk berhijrah ke hidup yang lebih baik, Allah mengangkat penyakit sang ayah dan ia mendapat kedudukan tinggi pada tempat kerjanya saat itu. Mba Anggun benar-benar merasa keajaiban “hijrahnya” tersebut. 

Nah, dari pengalaman senior sekaligus kawan saya ini dapat kita simpulkan bahwa hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang buruk untuk berpindah ke suatu hal yang jauh lebih baik. Dan Allah akan memudahkan seluruh langkah kita apabila kita selalu mengingat-NYA dan berpegang teguh pada agama-NYA. Wallahu ta'ala a'lam

Penulis : Ananda Adilah Fauzia

Hijrah sendiri memiliki arti yang cukup luas. Hijrah dalam konteks sejarah adalah kegiatan perpindahan yang dilakukan oleh Rasulullah b...

Gambar : umad.com

“Tidur dulu ah… main game dulu ah….”
“Nanti aja lah, sekarang mau santai dulu”

Ucapan-ucapan tersebut tentu sangat sering kita jumpai di sekitar kita, atau bahkan jangan-jangan kita sendiri yang secara rutin mengucapkannya. Seringkali kita menunda suatu pekerjaan yang seharusnya segera kita laksanakan. Salah satu penyebabnya adalah karena kita merasa masih ada waktu untuk mengerjakannya nanti. Hal ini tentu membuat hidup kita sebagai muslim yang seharusnya produktif menjadi tidak produktif. 

Coba kita ganti situasinya jadi seperti ini:
”Wah, kerja tugas dulu lah. Kalau tugas sudah selesai baru mau main game sampai puas”
”Aku harus kerja tugas sampai selesai dulu, setelah itu baru deh bisa tidur puas”
Nah, beda kan? Walaupun di kedua situasi sama-sama ada tidur, main game dan mengerjakan tugas tapi perbedaannya jelas kan?

Padahal Ibnu Al jauzi telah mewanti-wanti kita agar tidak mengulur-ulur waktu. Beliau pernah mengatakan, “Jangan sekali-kali mengulur-ulur waktu, karena ia merupakan tentara iblis yang paling besar.” Penundaan merupakan bekal orang yang bodoh dan lalai. Itulah sebabnya orang yang saleh berwasiat, “Jauhilah saufa (nanti)”, penundaan juga kemalasan, merupakan penyebab kerugian dan penyesalan.”

Setidaknya ada 4 penyebab utama kebiasaan menunda-nunda yang dapat dijabarkan beserta cara mengatasinya. Pertama, kurangnya motivasi. Tentu saja jika kita tidak termotivasi dalam melakukan sesuatu maka kita akan enggan untuk melakukannya. Adapun cara mengatasi kurangnya motivasi adalah dengan mencari motivasi dari dalam diri sendiri. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan membayangkan apa yang akan kita dapat setelah kita menyelesaikan tugas tersebut. Misalnya pada saat kita kekurangan motivasi dalam menyelesaikan tugas research paper yang menumpuk, maka kita harus bisa membayangkan bagaimana kalau tugas itu segera diselesaikan. Bayangkan perasaan lega dan waktu santai yang bisa didapatkan setelah menyelesaikan semuanya. 

Kedua, perasaan malas mengerjakan sesuatu. Rasa malas adalah suatu hal yang umum terjadi, apalagi ketika kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus menyelesaikan banyak tugas dalam waktu yang cenderung sangat terbatas. Jadi, bagaimana cara mengatasi rasa malas? Salah satunya adalah dengan berkoordinasi dengan sahabat seperjuangan untuk senantiasa “menampar” kita pada saat rasa malas itu melanda. Dengan demikian, ketika rasa malas melanda diri kita maka kita punya seseorang yang akan menjauhkan diri kita dari rasa malas tersebut. 

Ketiga, kurangnya kedisiplinan. Hal ini merupakan karakter yang terbentuk dari kebiasaan. Jika pada masa lalu kita terbiasa tidak disiplin dalam melakukan suatu hal, maka ke depannya tentu kecenderungan kita untuk selalu bersikap tidak disiplin sangat besar. Oleh karena itu, kita harus memotong siklus ketidakdisiplinan dari kehidupan kita. Sehingga pada masa yang akan dating kita bisa bersikap disiplin dalam melakukan suatu pekerjaan dan mencapai tujuan kita. Salah satu cara mendisiplinkan diri adalah dengan membuat jadwal kegiatan tentatif harian dan menyediakan reward and punishment

Jika kita berhasil menyelesaikan semua pekerjaan yang seharusnya kita selesaikan pada hari itu tanpa menunda untuk keesokan harinya, maka berilah sedikit reward kepada diri kita, misalnya seperti membeli menu makanan yang sedikit lebih mahal dan lezat. Namun, jika ternyata sebaliknya maka kita harus memberi punishment kepada diri kita agar tidak mengulanginya lagi seperti melakukan push up 30 kali. 

Keempat, rasa stress. Kebanyakan dari kita cenderung stress ketika berhadapan dengan hal-hal yang harus kita kerjakan. Adapun salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Akan lebih baik lagi jika dilanjutkan dengan tilawah minimal dua halaman Alquran. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman “Ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. ar-Ra’d: 28)

Semoga kita semua bisa mulai meninggalkan sikap menunda-nuda dan mulai menjadi muslim yang lebih produktif. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin. 

Penulis : Rangga Tri Nugraha

Gambar : umad.com “Tidur dulu ah… main game dulu ah….” “Nanti aja lah, sekarang mau santai dulu” Ucapan-ucapan tersebut tentu s...

Gambar : theodysseyonline.com

Hai teman-teman, ayooo ngaku siapa yang sekarang sudah mulai merasa deg-degan karena sebentar lagi mau ujian? Saya, saya *hehe.. sayup-sayup terdengar. Yup, kita semua sama-sama tahu bahwa ujian akhir semester tinggal hitungan hari lagi yaitu sekitar 20 hari. Pastinya sudah ada yang mulai belajar kan, *Manteep. Tapi kalau belum mulai gimana? Jangan khawatir! Kamu masih punya waktu kok.

By the way, ada lho diantara kita yang terkadang bila musim ujian datang, bukannya lebih giat belajar dan berdo’a, eh…malah kebalikannya: bawaannya bad mood aja, malas, galau dan yang pasti tidak siap untuk menghadapi ujian. Nah, yang demikian itu adalah indikasi bahwa kita mungkin belum paham landasan dan tujuan kita menjalani ujian. Ibarat naik pesawat terbang, sebelum meninggalkan landasan kita harus sudah tahu tujuan naik pesawat ini mau kemana dan dalam rangka apa. Ujian yang kita hadapi di kampus diantaranya adalah untuk memenuhi hak akal kita. Akal merupakan salah satu dari lima hal yang sangat dijaga dalam Islam. Selain itu, menjalankan ujian dengan maksimal juga bagian dari sunguh-sungguh menuntut ilmu. Allah جل جلاله telah menyiapkan keutaman-keutamaan yang agung bagi para penuntut ilmu, seperti: Ditinggikan derajatnya, dihitung sebagai orang yang berada di jalan Allah, dimudahkan menuju surga dan masih banyak lagi keutamaan yang lain.

Hidup yang kita jalani ini, selalu penuh dengan ujian. Allah جل جلاله berfirman dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3: Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? (2). Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.(3). 

Ujian-ujian tersebut Allah berikan kepada orang beriman, karena Allah ingin mengetahui seberapa besar keimanan mereka kepada-Nya dan Allah juga ingin mengangkat derajat mereka disisi-Nya. Demikian juga dengan ujian dalam belajar, fungsinya adalah untuk mengetahui sejauh mana pemahaman kita terhadap materi-materi pelajaran dan juga untuk menaikkan tingkat pendidikan kita, pasti pada nggak mau kan kalau kuliahnya nggak naik-naik tingkat, hehe… So, ujian ini hanyalah sarana, bukan tujuan akhir, sehingga keberkahan ilmu tetap bisa kita rasakan walaupun musim ujian telah berlalu.

Peluang memperoleh keberkahan ilmu akan lebih besar bila kita memperhatikan adab-adab selama dalam masa ujian. Pertama, memahami dengan baik bahwa ilmu itu adalah cahaya. Ingat nggak nasehat Imam Waqi’ kepada Imam Syafi’i: “Al-Ilmu nuurun, wa nuurullah laa yuhdaa lil’aashi.” Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada ahli maksiat. Oleh karena itu, agar ilmu bisa kita pahami dengan baik maka kita perlu membersihkan diri dari dosa dan kemaksiatan, yaitu dengan memperbanyak istighfar dan taubat. Kedua, mengikut sertakan Allah جل جلاله dalam ujian kita.

Di Penghujung ayat ke 282 surat Al-Baqarah, Allah جل جلاله berfirman: Dan Bertaqwalah kamu kepada Allah, maka Ia akan mengajari kamu…(282). Maka sangat dianjurkan sekali pada musim ujian ini kita tetap memperhatikan hak-hak Allah جل جلاله ,jangan sampai gara-gara sibuk belajar, tilawah Al-Quran kita yang biasanya one day one juz malah dikurangi menjadi one day one page. Atau sholat yang biasanya tepat waktu, jadi sering delay nya, tapi justru sebaliknya hendaklah kita termotivasi memperbanyak amal sholeh dengan harapan bahwa Allah akan membantu kita dalam belajar, alias PDKT gitu sama Allah جل جلا له.

Ketiga, mengutamakan kejujuran saat menjawab soal ujian. Kalau dulu ada yang terbiasa mencontek, maka sekarang sudah saatnya berubah. Coba bayangkan ijazah seseorang yang diperoleh setelah melewati ujian-ujian yang tidak jujur, kemudian dengannya ia mendapat pekerjaan, maka bisa jadi rezeki yang dia dapat menjadi tidak berkah. Na’udzubillaah… Keempat, Berdo’a dan bertawakkal kepada Allah جل جلاله .Minta terus sama Allah جل جلاله supaya diberikan kemudahan dalam belajar, diberikan kesehatan dan hasil yang memuaskan serta yang paling utama adalah meminta keberkahan ilmu. Setelah belajar dengan maksimal, do’a dengan sungguh-sungguh, dan jujur dalam ujian, maka selanjutnya jangan lupa berserah diri kepada Nya, sehingga InshaAllah tidak ada lagi penyesalan saat kita menerima hasil ujian nanti. So, yang semangat ya teman-teman, Good luck for all of you! :)

Penulis : Ainul Mardhiah 

Gambar : theodysseyonline.com Hai teman-teman, ayooo ngaku siapa yang sekarang sudah mulai merasa deg-degan karena sebentar lagi mau ...

Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim

(28/04/2017) IIUM, “Islam beribadah itu akan dibiarkan, islam berekonomi akan diawasi, Islam berpolitik akan dicabut ke akar-akarnya”, sebuah kutipan kata-kata sebagai buah dari pemikiran seorang pahlawan bangsa, Muhammad Natsir. Kajian-kajian, buku-buku, skripsi, tesis, disertasi, sudah terhitung lagi yang membahas tentang sosok beliau ini. Dalam rangka menjemput spirit pergerakan dan keteladanan yang telah pernah beliau tempuh dahulu, Forum Tarbiyah (FOTAR) IIUM bekerjasama dengan ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) IIUM –organisasi mahasiswa Indonesia di International Islamic University Malaysia- mengangkat sebuah seminar dengan tema “THE LEGACY OF MOHAMMAD NATSIR”.

Seminar yang dimulai pada pukul 10.00am ini, menghadirkan dua orang dosen asal Indonesia yang mengajar didua universitas berbeda di Malaysia, yaitu Assoc. Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim, dengan dimoderatori oleh seorang kandidat s3 jurusan Hukum di IIUM.

Pada sesi pertama, dimulai oleh Ustadz Sohirin dengan tema “Muhammad Natsir dalam Dakwah dan Politik”. “M. Natsir memang tidak ada gelar akademik dalam bidang keislaman, beliau belajar islam secara otodidak”, ujar dosen yang menamatkan PhD beliu di University of Birmingham UK membuka sesi diskusi. “Beliau belajar Islam melalui mulazamah dengan para ulama. Karena prestasinya, beliau pernah  ditawari beasiswa untuk belajar Hukum di universitas Rotterdam di Belanda, tapi karena semangat beliau yang sangat ingin mendalami Islam dan berjuang atas nama keislaman, beliau menolak tawaran tersebut. 

Beliau mulai banyak berkenalan dengan tokoh-tokoh Islam saat berada di Bandung, dan disanalah awal titik tolak beliau mendedikasikan diri kepada Islam. Salah satu inspirator yang beliau temui selama berada di Bandung adalah seorang tokoh fenomenal Syarikat Islam, HOS Tjokroaminoto, yang digelari sebagai Guru Bangsa, selain Muhammad Natsir, Soekarno - Bapak Proklamasi - dan Kartosuryo juga berguru kepada beliau”, papar Ustadz Sohirin berikutnya.

Pada usia 19 tahun, Muhammad Natsir telah berdialog dan berdebat dengan Soekarno, tentang bagaimana negara harus dibangun. Dalam usia semuda itu, beliau sudah berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran filosofis dan membaca jurnal-jurnal internasional, salah satunya adalah jurnal Al-Manar.

Dalam dunia politik, awalnya beliau memang tidak langsung terlibat dalam proklamasi, seperti tokoh politik lainnya. Di Bandung beliau diangkat sebagai biro pendidikan yang diamanahi langsung oleh pemerintah Jepang kala itu. Dari sanalah beliau mengkritisi sistem pendidikan yang ada dan bercita-cita untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan yang baru melalui kata-kata beliau, “saya tidak akan mencipkatakn sistem pendidikan seperti pesantren tradisional, karena itu tidak akan menghasilkan generasi yang tahu akan hubungan antara Islam dan negara”.

Sebagai seorang dosen Tafsir, Ustadz Sohirin menyampaikan bahwa beliau sangat terkesan dengan cara M. Natsir menafsirkan beberapa ayat al-qur’an, yang salah satunya adalah sebuah kalimat pada ayat “تعالوا إلى كلمة سواء” dalam surat Ali-Imran yang diakhiri dengan pernyataan “اشهدوا بأنا مسلمون” –saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim-, M. Natsir menafsirkan pernyataan ini dengan sebuah tafsiran bahwa maksud dari pernyataan tersebut adalah “saksikanlah bahwa kami adalah orang muslim yang sudah punya identitas tolong jangan diganggu gugat identitas kami”, ujar Ustadz Sohirin menjelaskan. “Begitu juga ketika mengupas tentang hujjatul wada’, M. Natsir mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada hujjatul wada’ merupakan timbang terima kekuasaan, transformasi kekuasaan, dari Rasulullah shallahu’alaihi wasallam kepada para sahabat radhiyallahu’anhum”, tambah Ustadz.

Masih sangat banyak lagi hal-hal seputar kehidupan M. Natsir yang disampaikan Ustadz Sohirin Muhammad Solihin pada sesi pertama tersebut, tentang keterlibatan M. Natsir dalam perang PRRI, tentang beliau ketika dipenjara pada pemerintahan Orde Baru, tentang raja Faisal yang menjadikan beliau sebagai Polical Advisor pribadi kerajaan dengan gaji USD 5000 dan hanya USD300 yang beliau terima, dan banyak lagi sampai moderator harus berkali-kali mengingatkan Ustadz bahwa waktu untuk sesi pertama telah selesai.

Diskusi semakin menarik, peserta yang berdatangan pun semakin memenuhi ruangan ADM LT 1. Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Lily Yuliadi dengan tema “Karisma M. Natsir dalam Membentuk Pemuda Islam di Indonesia”. Dr. Lily menyampaikan tentang perjalanan hidup M. Natsir yang dibangun diatas networking yang kuat, beliau bergaul dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda-beda. “Pendidikan formal beliau mungkin terbatas, tapi beliau sangat aktif mengikuti asosiasi-asosiasi seperti Jong Islamic Bond”. Menurut Dr. Lily, networking yang kuat inilah yang membuat M. Natsir dapat mengakses literatur-literatur internasional pada usia yang masih tergolong remaja, “salah satu yang mendewasakan M. Natsir adalah berkawan dengan kawan yang cerdas dan juga lawan yang pintar”, tambah dosen di Universiti Malaya yang juga menyelesaikan pendidikan s3 beliau dikampus yang sama.

“Pengaruh M. Natsir bahkan lebih terasa di Malaysia. Beliau mendidik Dato’ Sri Ahmad Ibrahim yang kemudian mendirikan ABIM – Angkatan Belia Islam Malaysia –, bahkan Anwar Ibrahim pun juga merupakan didikan dari M. Natsir“, jelas Dr. Lily.

Diskusi terus berlanjut hingga jam menunjukkan pukul 12.30am, sesi Q & A pun dimanfaatkan oleh para peserta untuk menggali lebih dalam tentang sosok idola yang seharusnya menjadi panutan pemuda di zaman yang kering akan figur yang loyalitasnya kepada Islam ini sudah terbukti. Salah satu masterpiece yang masih dapat dinikmati pada hari ini adalah “Capita Selecta” kumpulan artikel yang ditulis oleh beliau sendiri diberbagai media massa.

Buku ini mengupas tentang kebudayaan filsafat, pendidikan, agama, ketatanegaraan, persatuan agama dan negara. Beliau merupakan seorang ulama, pejuang kemerdekaan, seorang negarawan. Di dalam negeri, beliau pernah menjabat sebagai Menteri dan Perdana Menteri Indonesia, sedangkan didunia internasional, beliau pernah menjabat sebagai Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

Membayangkan dan merasakan lagi karya dan kontribusi yang telah beliau berikan untuk bangsa dan dunia Islam, mengingatkan kita akan sebuah kalimat yang indah, “إن الله إذا أحب عبدا استعمله” – Allah, jika mencintai seorang hamba, maka Ia akan ‘menggunakannya’ (untuk kepentingan agamanya). Semoga Allah menerima amal jariyah beliau, dan memberikan kita kesempatan untuk turut menjaga NKRI. Wallahu’alam. 

Penulis : Qoriatul Hasanah

Prof. Dr. Sohirin Mohammad Solihin dan Dr. Lili Yulyadi Bin Arnakim (28/04/2017) IIUM, “ Islam beribadah itu akan dibiarkan, islam ber...



Gambar : http://www.npr.org

Seorang ibu muda berdiri  mengacungkan tangannya untuk bertanya dalam sebuah seminar saya pekan lalu. Dia menanyakan  tentang  anak laki-lakinya  berusia 16 tahun yang mengalami perubahan yang sangat drastis dan tidak masuk akal mereka sebagai orang tua. Sejak kecil anaknya ini dikenal sangat patuh, baik, alim, suka mengaji dan bahkan sering jadi imam baik disekolah maupun dirumah. Tapi akhir akhir ini dia mogok semua, bukan hanya jadi imam tapi bahkan mengaji dan sholat ditinggalkan..Kemudian, ibu ini mengakui bahwa kedua mereka tadinya sangat sibuk, terutama suaminya. Pendek cerita, dalam  menghadapi situasi anaknya ini mereka kemudian menyadari dan mengurangi aktifitasnya dan ayah mulai mencoba mendekati anaknya, tetapi tak nampak adanya perubahan pada anaknya tersebut. Saya menangkap kegalauan yang sangat dari wajahnya dan mengerti mengapa dia “hilang malu” terhadap lebih dari 500 lebih audiens lainnya  ketika menceritakan tentang anaknya ini.


Seorang ibu lainnya bertanya hal yang sama dengan cara yang sedikit berbeda. Dia menanyakan  bagaimana deal dengan “inner childnya” agar dia bisa memperbaiki hubungan dengan anak laki lakinya yang berusia 10 tahun. Ibu ini juga mengakui dengan air mata bahwa waktunya dengan anaknya tersebut sangat terbatas karena dia bekerja dan suaminya sering keluar kota. Kemudian saya tahu bahwa anaknya  ini sudah pernah membentak dan bahkan ingin memukul ayahnya .

Tak pernah lupa saya akan  wajah seorang lelaki muda( 30 tahun) yang duduk didepan saya sekitar 8 tahun yang lalu, dengan wajah berat tapi hampa. Dia menjawab pendek pertanyaan saya:”Apa yang membawa anda kesini, bertemu saya?” dengan :”Disuruh ibu saya bu!”. Saya menaikkan alis tanda terkejut tapi memberinya senyum lebar. Dia menceritakan dengan menahan tangis, bahwa ibunya nyaris putus asa untuk mencoba mendekatkan dia dengan ayahnya. Dia juga sedih sama ibunya dan bahkan pernah marah. Ia tahu bahwa ibunya menyadari mengapa dia tak pandai mengambil keputusan, tak bisa bertahan lama pada suatu pekerjaan dan bahkan tak pernah berhasil dalam hubungan dengan lawan jenis, semua berasal dari ke”tidak beres”-an hubungannya dengan ayahnya.

Terakhir adalah salah satu pasien kami: anak super cerdas , lulusan PT ternama tetapi sudah sejak kelas 4 berkenalan dan kemudian adiksi berat pornografi. Dia punya hubungan  buruk sekali dengan ayahnya dan juga ibunya. Ayahnya menghilang tak tentu rimba. Dan dia sudah bertahun-tahun tak pernah jumpa. Yang paling menyedihkan adalah terakhir ini dia sudah langsung menyampaikan kepada kami   complainnya  terhadap Tuhannya. Ia berkeluh kesah mengapa Tuhan itu begini dan mengapa Tuhan itu begitu sehingga dengan aturan-aturan yang  ditentukan Tuhan dia merasa terhambat ini dan terhambat itu.. Padahal disisi lan dia ingin sekali jadi hamba yang patuh pada aturan Allah nya.. Dia ingin keluar dari kontradiksi berat yang dia alami.
Saya faham betul.. semua perasaannya itu berpangkal pada kekecewaannya, ketidak pengertiannya mengapa ayahnya meninggalkannya dan tak pernah berkabar berita.. tapi dilain pihak ia juga merindukannya, dan berharap sekali waktu akan berjumpa ..Tapi harapannya  itu seringkali kandas dan hampa..   

Kekosongan jiwa anak dari Vitamin A ( ayah ) ini telah lama merupakan derita jiwa bagi saya. Tak tertanggungkan rasanya ketika menghadapi pertanyaan, keluhan para ibu  di seminar, pelatihan dan  juga pengalaman langsung dengan ibu dan anak-anak di ruang-ruang  praktek saya puluhan tahun lamanya.
Disisi lain, masha Allah Tabarakallah, saya juga tak terhitung berhadapan dengan berbagai jenis ayah dalam upaya memperbaiki hubungan ayah - anak ataupun membantu anak mereka keluar dari masalahnya.
Tetapi pengalaman panjang itu menghantarkan saya pada  pengertian, memang seperti cara kerja otaknya yang lebih kuat sebelah kiri,ayah tak mudah berubah!. Perubahan yang paling maksimal yang umumnya dilakukan  adalah ayah melakukan kontak fisik, tapi sangat sulit dan berat  bagi beliau  untuk “menyapa rasa!” 

Mengapa ayah ayah  begini?.

Hal yang banyak saya dan teman teman saya sesama psikolog di YKBH temukan adalah karena ayah juga umumnya dulu mengalami atau jadi korban dari pengasuhan yang kurang lebih sama.
Saya sering mengatakan bahwa “Parenting is all about wiring!”. Bagaimana kita bersikap dan  bertindak terhadap anak, umumnya tak bisa dilepaskan dari pengalaman masa lalu yang kita terima setiap saat sehingga membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan yang sangat kuat dalam ingatan kita. Kita mengulangnya : OTOMATIS dan TIDAK SENGAJA ! 

Hal ini kemudian saya minta di konfirmasi secara ilmiah pada guru kami Asep Khaerul Gani, sebagai apa yang disebut Inner Child seseorang. Sangat lazim, ketika seseorang bereaksi secara otomatis atau tak sengaja, maka umumnya reaksi itu bukanlah merupakan hasil dari  tingkah laku yang ditunjukkannya sebagai orang dewasa, tetapi “anak kecil” dalam dirinya yang sangat kuat pengaruhnya itu.

Maka kita temukanlah  berbagai jenis ayah seperti berikut :

Ayah yang diam tak banyak bicara atau kalaupun bicara seperlunya saja: menegur, mengingatkan, memerintah, menyalahkan, meremehkan, mencap, mengancam, membandingkan, menasihati atau marah.
Ayah yang dingin tak pandai menunjukkan perasaan apalagi kehangatan.

Ayah yang suka memukul, menampar, menggunakan ikat pinggang, bahkan sapu lidi. Seorang anak SMP yang kecanduan games pernah menunjukkan pada saya :”Lihat nek, nih bekasnya sambil memperlihatkan betis dan lengannya yang barut merah  bekas sapu lidi. Sapu lidi ada dimana mana , sehingga mudah diakses kalau ayah marah: ada dibawah, ditangga dan diatas lemari dilantai dua. Ayahnya bukan orang biasa, beliau pejabat tinggi Negara!.  Kalaulah dia masih SD, mungkin saya sudah memeluknya, dia sudah baligh, yangbisa saya lakukan adalah menepuk nepuk jemarinya sebagai tanda empati.. Hancur rasanya hati saya!.

Ayah yang dalam hal apa saja cenderung bergantung atau  menyalahkan ibu, bahkan ada yang berkata : “Tuh lihat anakmu!.””Bagaimana  kamu membesarkannya?, dikeluargaku tidak ada anak seperti itu!” ( maksud loh?!)

Terakhir adalah ayah yang super duper sibuk sehingga benar-benar tak punya waktu dengan anak-anaknya . Tak sempat tersentuh olehya berbagai aspek perkembangan anaknya, jangankan sesekali mengambil raport atau menghadiri aktivitas anak di sekolah atau dilingkungannya, bicara baik-baik 10 menit saja dalam seminggu tak sempat dilakukannya.
Banyak jenis ayah lain, yang akan memperpanjang artikel ini untuk diuraikan.  

Tentu saja tidak semua orang terjebak dalam keadaan seperti itu, karena banyak ayah-ayah mendapatkan pengasuhan yang benar dan baik, didasarkan pada ajaran agama  yang kuat dan modelling yang benar jua.
Selain itu ada ayah-ayah yang bertekad sekuat mungkin atau  “sumpah mati” berusaha mengalahkan pengalaman dan kebiasaan buruknya  jangan sampai terulang pada anaknya.

Apa yang terjadi pada anak?

Berbagai bentuk emosi negatif yang kadang-kadang pada satu anak bisa belasan jumlahnya: Hampa/ kosong, tertekan, sedih, kecewa, marah, terabaikan, merasa gak berharga, kurang percaya diri, bingung, kesal, mudah frusrasi,kehilangan semangat,  sunyi dan sepi, ngiri sama orang lain, benci bahkan sampai dendam!
Bayangkanlah  kalau seorang anak menyimpan sebanyak atau mungkin lebih rasa negatif terhadap orang tua sendiri?
Jadi bagaimana mekanismenya sampai dari benci ayah jadi benci atau mempertanyakan Tuhan dan malas menjalankan perintahNya?                             
Jadi.. sederhana saja, sesuai dengan perkembangan otak dan  cara berfikirnya. Dia merasa dan mengetahui bahwa seharusnya dia punya ayah yang membuatnya atau sepatutnya mendapatkan perhatian, dikasihi dan disayangi, dilindungi, di bela, diberikan semangat, didampingi, dan ada tempat untuk mengadu dan menyandarkan jiwa…
Semua tidak didapatkannya, sehingga dia merasakan semua rasa yang dituliskan diatas. Apalagi kalau dia sudah pandai membandingkan dengan teman temannya yang terpenuhi haknya oleh ayahnya. 
Mula mula dia bingung, kemudian tidak suka dengan keadaan dirinya, tidak suka sama ayahnya (berjuta rasa campur aduk tentang dan terhadap ayahnya, tak bisa diungkapkan), tidak suka sama aturan agama  yang mengharuskan dia untuk tetap tunduk, patuh dan hormat pada ayahnya, padahal perasaannya semua negatif. Terakhir dia tidak suka pada Tuhannya mengapa  memberikan dia ayah seperti itu dan mengharuskan pula dia menghormatinya..Sebagai orang tua, anda jangan marah dulu. Semua ini diungkapkan dari kaca mata anak yang umumnya ketika semua proses ini berlangsung, otak mereka saja  belum sempurna berhubungan!.

Selain proses tersebut, ada suatu proses kejiwaan lain yang terjadi yaitu konflik perasaan  atau kontradiksi. Disatu fihak dia tak suka atau benci pada ayahnya tetapi di fihak lain sesungguhnya dilubuk jiwanya: dia rindu bahkan sangat mendambakan kasih sayang cinta dan perhatian dari ayahnya… Kasian!

Perasaan dan pemikiran ini umumnya tidak ada yang faham apalagi bersedia menguraikannya dan mengalirkannya. Anak malah dapat macam macam CAP sesuai dengan pola pemikiran orang dewasa: Anak yang bandel, nakal, goblok,  keras kepala, bermasalah,  pelawan, gak ada harapan, susah diatur dsbnya dsbnya…Maka jadilah anak seperti apa yang dia dengar orang menilanya dan mencapnya..  
Berapa banyak kita menemukan anak anak yang seperti ini disekitar kita? Siapa yang berani meneriakkan kenyataan ini ke telinga jiwa ayahnya?

Hanya Allah jualah yang tahu  apa yang telah kami upayakan. Ditahap tahap awal , belasan tahun yang lalu, kami melatih ibu-ibu untuk bicara dengan ayah anak-anaknya. Mereka kami ajarkan kiat-kiat, lalu role play dalam pelatihan pelatihan. Kemudian kami sosialisasikan tehnik bicara yang lain, yaitu : 1. Pilih waktu bicara (Menurut seorang ahli waktu yang paling tepat adalah setelah melakukan hubungan suami-istri, sehingga keadaan relaks dan nyaman. 2. Isyu yang dibawa harus yang genting atau kritis ( harus merumuskan dulu kegentingannya). 3. Kalimat yang digunakan harus pendek dan sederhana tidak boleh lebih dari 15 kata..!!
 Biasanya kami berikan kesempatan praktek dalam seminar-seminar kami yang umumnya riuh rendah dengan gelak tawa.

Kemudian akhir-akhir ini kami mengajak semua pasangan untuk mengenali dirinya sendiri lebih jauh. Kami mensosialisasikan  dikota maupun di desa-desa tentang Inner Child Negative yang harus dibuang dan Inner Child Positive yang harus di “install” ketika cuaca hati lagi mendung berat atau halilintar dan kilat menyerang. Kami ajak suami  mengenal pola asuh dan pembesaran dirinya dan kemudian mengenali hal yang sama pada istrinya atau sebaliknya. Kemudian keduanya, karena Allah harus bekerja sama untuk menyembuhkan  atau sekurang-kurangnya mengatasi bersama masalah mereka . Kalau tak selesai juga,  berarti mereka berdua perlu mencari bantuan ahli.

Memang orang tua terutama ayah, sebagai pemimpin dan pendidik  keluarga mutlak  memiliki  ketakutan pada Allah dan panasnya api neraka dalam hal pemenuhan kebutuhan jiwa anak anaknya. Apalagi kini kita hidup di era digital kalau anak sudah kecanduan berbagai hal, otak mereka terganggu atau rusak fungsinya. Apa yang diharapkan dimasa tua kita kalau tak tertangani dan teratasi cepat masalahnya?.

Anak kan bukan hanya investasi dunia tetapi terlebih lagi mereka adalah investasi akhirat, karena ketika kita sudah berada dialam yang berbeda, dialah satu satunya yang doanya tak berjarak dengan kita.
Lagi  pula habis habisan amat untuk menyiapkan bagi mereka bekal didunia yang hanya maksimal 80 tahun mereka nikmati, apa yang sudah ayah persiapkan bagi merek nanti ratusan tahun berada dibawah bumi?  

Pulanglah ayah, yah  kerumah, duduklah dikursi “kerajaan” dalam istanamu dan berfungsilah ayah sesuai tugas dan tanggung jawabmu!. Jabatan ada akhirnya, Gaji akan mengecil jumlahnya, syukur kalau ada pensiun, kalau tidak ?. Tabungan akan menipis, biasanya  sebagian besar digunakan untuk berobat karena gangguan fisik dan jiwa sebab sudah renta.. Anak bukan hanya jauh tapi dia tak perduli..  karena waktu dia kecil sampai dewasa, dia juga tak dapat waktu dan perasaannya tidak diperdulikan… Pedihnya..

Bayangkanlah ayah, kalau tak kau penuhi kebutuhan jiwa dan spiritual anakmu, maka mereka benci dan dendam padamu dan akan berlanjut pada benci serta tak patuh pada Allah kita. Bagaimanalah ayah akan menjawab bila hal ini ditanya Allah di padang Mahsyar nanti ?  Berakhir dimanakah perjalanan hidup kita ini?.
Supaya sejarah tak berulang marilah kita rubah pengasuhan anak lelaki kita mulai hari ini..

Wallahualam bisshawab..
Semakin lelah terasa jiwa ini

Pondok Gede, 23 April 2017

Elly Risman
#ParentingEraDigital.

Gambar : http://www.npr.org Seorang ibu muda berdiri  mengacungkan tangannya untuk bertanya dalam sebuah seminar saya pekan lalu. Di...