source: unsplash.com




Pernahkah kamu merasa sudah sangat lelah menjalani keseharian? Rasanya, ingin berhenti saja. Rasanya, kalau bisa melarikan diri dan menghilang kamu mungkin akan memilih kemungkinan tersebut. Penat. Lelah. Tak hanya fisik, keadaan emosional pun sama labilnya. Lelah yang mendera benar-benar menguji batas akhirmu.

Saat-saat di mana kita merasa apa yang dilakukan seolah tak ada yang benar. Saat-saat kita merasa ingin berhenti saja dari apapun yang sedang dijalani saat ini. Saat-saat rasanya ingin menangis saja karena luapan emosi yang tak lagi terbendung.

Tenang, Kawan. Kamu tidak sendirian. Aku, kamu dan banyak orang di luar sana juga pernah mengalaminya. Jangan merasa begitu pecundang karena ingin menyerah saja pada apapun itu yang sedang kamu coba jalani saat ini. It’s okay. It’s okay to feel not okay.

Yang kamu perlukan saat ini hanyalah jeda. Ambil jeda sejenak. Coba beri reward pada dirimu atas semua pencapaianmu sejauh ini. Coba istirahat dari apapun yang membuat kamu merasa se-hectic ini. Tarik napas yang dalam, lakukan hal-hal yang sekiranya mampu membuat mood kamu kembali membaik.

Kita sangat perlu mengambil jeda sejenak. Tidak harus untuk me-review apa-apa saja yang akan dan telah kamu lakukan sebelumnya. Cukup ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri. lakukan hal-hal positif yang akan membuat kamu bahagia. Menonton film misalnya, membaca buku penulis favorit, atau sekadar hangout bersama teman-teman.

Seperti juga tulisan yang memerlukan spasi dalam porsi yang tepat agar bisa dibaca dan dimengerti, kita juga butuh spasi dalam hidup kita. ‘Spasi’ tadi kita butuhkan tak hanya untuk menenangkan diri, namun juga untuk lebih mengenali diri sendiri.

Barangkali karena terlalu sibuk, kamu jadi lupa melakukan hal-hal kecil yang membuatmu bahagia. Barangkali karena terlalu padat, jadwal ibadahmu jadi tidak tersusun rapi seperti sedia kala. It’s okay. Take a rest. Ambil jeda sejenak untuk menyusun kembali hidupmu, untuk memastikan dirimu menjalani hari-hari dengan menyenangkan nantinya.

Selama jeda tersebut, coba telusuri apa-apa saja yang terasa hilang atau tertinggal. Mungkinkah karena kesibukan selama ini ibadah-ibadahmu jadi sering terbengkalai? Mungkinkah target-target harian seperti tilawah Al-Quran sering ter-skip begitu saja? Ambil jeda sejenak. Tenangkan dirimu, lakukan hal-hal yang menyenangkan, lalu susun kembali rutinitas harianmu.

Mungkin membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk membuatmu merasa enjoy seperti dulu. Tak apa, take your time. Ambil jeda sebanyak yang kamu butuhkan. Lalu mulai kembali semuanya dengan senyuman.

Ditulis oleh : Annisa Alya Adzkya 

source: unsplash.com Pernahkah kamu merasa sudah sangat lelah menjalani keseharian? Rasanya, ingin berhenti saja. Rasanya, kalau bi...

sumber: unsplash.com

Terciptanya engkau kepada dunia bukan menjadikan itu sebagai tujuan akhir, melainkan hanya sebagai persinggahan.
Engkau akan kembali berkelana dalam pilihan-pilihan yang menentukan pada akhir jalan.
Penentuan sikap dan tingkah laku menjadi sebuah patokan, akankah sampai pada tujuan.

Engkau akan menemukan banyak jenis gerombolan, yang berjalan sesuai arah dan petunjuk atau bukan.
Engkau akan menemukan pula mereka yang mungkin tertinggal ketika keberangkatan pada tujuan akhir bahkan yang mendapati kesesatan.
Di terminal persinggahan, engkau akan sedikit kelaparan demi sampai pada tujuan.

Tak peduli banyaknya rintangan karena fokusmu adalah pada akhir jalan.
Menerjemahkan tiap kesesatan menjadi sinaran mencerahkan.
Pada persinggahan selalunya menebar kebaikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman.

Percaya bahwa pada akhir jalan ada cita dan tujuan, membuat mata menatap jauh ke depan.
Saling membakar semangat demi perubahan bagi peradaban.
Mengisi malam dingin dengan renungan-renungan.
Mengokohkan ukhuwah dan iman guna menguatkan lagi menyuburkan.

Mengikuti aturan-aturan yang diperintahkan, serta memberi jarak pada larangan.
Mengikhlaskan hati serta berprasangka baik pada setiap kejadian.
Menjadikan setiap kejadian menjadi pelajaran, kemudian menerjemahkannya menjadi kebaikan serta menyebarkan menduplikasikan.
Mengharapkan kebersamaan agar sampai pada tujuan, sambil mengeratkan genggaman persaudaraan.

Iman melahirkan keajaiban, kemudian keajaiban menguatkan keimanan.
Keajaiban yang mendatangkan kejutan, yang meyakinkan hati untuk selalu bersabar pada persinggahan yang sedikit lagi akan sampai pada ujung jalan.

Ditulis oleh : Ilham Fadilah 

sumber: unsplash.com Terciptanya engkau kepada dunia bukan menjadikan itu sebagai tujuan akhir, melainkan hanya sebagai persinggahan. ...



Mulai dari kehidupan kita di alam ruh, sampai ke alam barzakh, semuanya punya proses yang harus dilewati, tidak ada satu pun lembaran kehidupan yang tidak dilengkapi. Misal, dalam Al-Qur'an disebutkan proses terjadinya manusia, mulai dari sari pati tanah lalu dijadikan air mani yang disimpan dalam tempat yang kokoh, lalu air mani itu dijadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu dijadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu dibungkus dengan daging, kemudian dijadikan makhluk yang berbentuk lain. Proses ini menandakan bahwa semuanya memerlukan step by step, mudah saja bagi Allah untuk langsung membentuk manusia dengan sempurna tanpa melalui proses. Tapi Allah ingin menunjukkan bahwa kita diciptakan melalui proses bukan melalui hasil dan proses itu memerlukan waktu. 

Begitu juga ketika kita lahir di dunia ini, tidak semena-mena langsung berumur 10 tahun, 20 tahun atau bahkan 70 tahun. Bisa dibayangkan kalau kita lahir dan langsung bertumbuh besar dan dewasa, aneh bukan? 

Ketika kita mulai beranjak dewasa, kita pasti akan selalu menghadapi masalah. Dan setiap orang punya kertas ujiannya masing-masing dan juga punya caranya sendiri untuk menjawab soal-soal dalam kertas ujian itu. Ketika kita mulai mendapati masalah, biasanya kita selalu membanding-banding kan dengan orang lain.

Contoh sederhana, ketika sedang makan bareng teman, terus makanan kita rasanya nggak enak. Waktu kita nyobain makanan temen kita kok lebih enak. Padahal menurut temen kita makanan dia sendiri juga nggak enak.

Ketika kita melihat seseorang kok dia kayaknya nggak punya masalah ya, hidup nya enak-enak aja. Kok hidup dia kayanya nggak ada beban, padahal kita nggak tahu kalau dia juga mengalami masalah dan masalahnya berbeda dari kita.

Coba kita renungkan sejenak, terkadang kita ingin hidup di kehidupan orang lain. Entah kita menginginkan kehidupan orang lain, entah kita sibuk memerhatikan orang lain atau lebih parahnya lagi kita tidak menikmati kehidupan sendiri.

Sebuah sajak mengatakan Everyone grows in a different rates, contoh sederhana ketika kita melihat kehidupan orang di negara lain. Ada yang dilahirkan memiliki hidung mancung, kulit putih, langsung bisa berbahasa Arab atau langsung bisa berbahasa Inggris. Sepertinya kita iri apalagi yang bisa bahasa Arab “Kok enak ya dari lahir udah ngerti bahasa Arab, baca Qur’an nya gampang." Tapi kita nggak tahu masalah yang mereka hadapi ternyata justru lebih berat.

Masing-masing kita adalah aktor utama dalam kehidupan kita. Mainkan peran itu dengan sebaik- baiknya. Salah satu ciri orang yang bertumbuh versi Kuniawan Gunadi dkk adalah tidak iri pada pertumbuhan orang lain. Kita ditumbuhkan di keluarga yang berbeda, di lingkungan yang berbeda, di negara yang berbeda. Maka masalah yang kita hadapi pun juga akan berbeda. Ketika kita nyontek ke kertas ujian temen kita, itu kan percuma. Karena jawaban dari masalah dan soal ujian kita, berbeda dengan jawaban milik mereka.

Penyair Iqbal mengatakan, “Umur bukan ukuran tahun. Akal bukan ukuran tubuh. Sehari hidup singa di rimba. Seratus tahun bagi si domba. ”

Jangan cepat menyerah. Lihatlah perjuangan ibu kita, kalau seandainya ibunda kita menyerah untuk melahirkan kita dalam perutnya, mungkin kita tidak akan hidup sampai saat ini.

Wallahu a’lam bissowab.

Penulis : Inas Syarifah

Mulai dari kehidupan kita di alam ruh, sampai ke alam barzakh, semuanya punya proses yang harus dilewati, tidak ada satu pun lembaran...


             Suatu hari, papa menunjukkan ku sebuah buku dan berkata “kak, baca deh buku ini. Kalo udah selesai, kita praktekkin ya” Aku yang melihat papa hanya tersenyum sambil membalas tantangan papa “InsyaAllah, siap laksanakan pa!”

Judul bukunya, Rahasia Magnet Rezeki, karya Nasrullah. Inti dari buku tersebut adalah, apapun yang terjadi pada kehidupan kita, semuanya bagus, baik dan bermanfaat. Jika ada hal yang tidak nyaman dalam kehidupan kita, segera jadikan kejadian itu sebagai kejadian yang positif. Pastinya, memang tidak mudah. Tapi kita harus fokus pada hasil akhir dari segala fikiran kita. Jika kita ingin ujungnya positif, maka dimulai dari pikiran kita yang positif. Setelah aku selesai membaca buku itu, papa berkata:

“Are you ready to play?”
“Bismillah, Why not pah 😃?” jawabku

Dan permainan pun dimulai. Di permainan pada buku ini, aku dan papa dipaksa untuk mengucapkan kata “Alhamdulillah, buaguuus itu……!” dengan bersemangat terhadap seluruh peristiwa yang tidak mengenakkan. Setelah itu, menyebutkan alasannya kenapa bagus.

Contohnya, ada seorang bapak A yang berhadapan dengan bapak B dihadapannya. Bapak A mengabarkan seperti ini “Kabarnya, istri kamu cinta sama saya”. Nah, bapak B hanya boleh menjawab “buaguuus itu….”

Tentunya, pengucapan kalimat “buagus itu” berlawanan dengan harapannya. Mestinya, istri bapak B hanya boleh mencintainya saja dan tidak boleh mencintai orang lain. Tapi, disinilah tantangannya. Ingat, Fakta apapun tidak penting, yang penting adalah respons kita atas fakta itu.

Respons di sumber pikiran hanya 2. Bagus atau buruk. Nah, seringkali ketika kita dihadapkan pada hal yang tidak kita suka, maka respons kita adalah melawannya dengan keras. Hal inilah yang akan membuat semua nasib kita sesuai dengan yang kita pikirkan. Ketika kita pikirkan “wah…buruk ini…” maka, itulah yang akan terjadi. Yang terjadi bener-bener tidak baik.

Jadi, bagaimana? Ya harus dipaksa husnuzhon. Sekali lagi, dipaksaa! “Allahumma paksain….” Hehe
Dengan husnuzhon, bapak B akan menjawab “Buaguss itu…pantas saja beberapa bulan ini istri saya uring-uringan…ternyata karena ada lelaki lain difikirannya. Pak, terimakasih atas informasinya. Dengan begini saya jadi tahu alasan kenapa istri saya berubah. Tolong banget cintanya jangan diterima karena kami sudah lama menikah. Dengan informasi ini, saya akan rapihkan cinta saya dan istri saya dan kami akan melalui ujian ini dengan berhasil insyaAllah…terimakasih sekali lagi ya pak…”

Naah...keren kan jawabannya? hehe
Coba apa kira-kira yang akan terjadi jika bapak B merespon negative dan tidak suka dengan fakta yang baru saja terhidang, dia katakan “waaah ini buruk sekali” maka kita bisa menduga bahwa ketika bapak B pulang kerumahnya, dia akan cekcok dengan istrinya, saling bersilat lidah, dan seterusnya…dan seterusnya…

Tapi, ketika jawaban indah diatas, tentang penerimaan bapak B yang ikhlas dan berusaha memandang dari sudut pandang yang lain, maka kira-kira apa yang akan terjadi? Yaa benar….kamu sudah melihat hal-hal baik yang terjadi pada mereka semua. Sangat mungkin hal ini lah yang akan terjadi:

bapak B pulang ke rumah, sambil memikirkan kesalahannya terhadap istrinya. Dia mungkin sepanjang perjalanan akan ketemu dengan beberapa episode kesalahannya pada istrinya, lalu beristighfar, meminta ampun kepada Allah. Lalu saat sampai rumah, tanpa berbicara tentang apa pun yang terjadi dengan bapak A, sang bapak ini langsung saja meminta maaf, memberikan perhatian lebih pada istrinya. Mengajaknya ke restoran saat pertama kali mereka berjumpa. Berbicara dari hati ke hati tentang kehidupan mereka. Menjalani hari-hari special yang indah. Lalu qadarullah istrinya terbit kembali rasa cintanya pada bapak B ini, dan perlahan mampu melupakan bapak A. dan tiba-tiba saja sang istri menjadi istri yang salihah. Istri yang berbakti. Seperti tidak terjadi apa-apa. Hidup mereka terjadi keajaiban, kebaikan demi kebaikan datang pada hidup mereka.

Indah bukan? Ujung yang berbeda 180derajat. Semua bermula dari kalimat “Alhamdulillah, buaguss itu…”
Mengapa kita perlu bersyukur atas peristiwa yang menurut pandangan manusia “tidak mengenakkan”?

Ibaratnya begini sahabat. Suatu saat, kamu terjatuh dan berdarah. Ada seorang berbadan besar yang tiba-tiba menjatuhkanmu. Terbitlah rasa marahmu. Saat kamu melihat ke arah orang tersebut, ternyata dia adalah imam Masjidil Haram yang sangat kamu kagumi. Apakah kamu akan melampiaskan amarahmu? Sepertinya tidak. Kenapa? Karena akhirnya kamu memaafkan dan memaklumi imam tersebut, bahkan kamu kemudian menyalaminya karena ingin mendapatkan keberkahan ulama.
Jika terhadap ulama saja kita mampu demikian, bagaimana jika yang menjatuhkan kita adalah Allah… Sang Pemilik Jagat Raya.

Saat kamu bangkrut dalam sebuah bisnis, dikhianati orang, dibawa kabur uangmu. Lalu terbitlah amarahmu. Tapi tiba-tiba kamu melihat ke belakang dan tersadar bahwa yang menjatuhkanmu adalah Allah Sang Pemilik Bisnismu. Kamu memakluminya…Kamu sadar, bisa jadi Allah akan memindahkan kamu ke sebuah nasib yang lebih baik dari sebelumnya…dan akhirnya kamu mampu mengatakan “Alhamdulillah,buaguuss itu…”

Segala yang terjadi, semuanya pasti terjadi atas izin Allah. Semua fakta yang terhidang dalam kehidupan kita, hanya Allah yang membuatnya terjadi. Maka ucapkan saja, Alhamdulillaaah…buaguss itu…

Jika belum terjadi, tentu kita pun berdoa agar hanya terjadi hal yang baik-baik saja. Seperti doa Rasulullah saw,

“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wala fissama’I wa huwas sami’ul ‘alim”

“Dengan nama Allah, Yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang ada di bumi dan di langit yang membahayakan. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”                (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Tapi, jika memang sudah terjadi, maka fakta apa pun yang terhidang semuanya pasti yang terbaik. Allah percaya kamu bisa menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin! Hidup bersama Allah, sangat indah! Semangat menjalani hidup sahabat 😇. Bismillah ya!
Wallahu a’lam bisshowab


Penulis : Nabila G. Forenza

             Suatu hari, papa menunjukkan ku sebuah buku dan berkata “kak, baca deh buku ini. Kalo udah selesai, kita praktekkin ya” Ak...


Acara Kajian Fotar x ISEFID pada 16 September 2018 yang lalu 

Pada tanggal 16 September 2018 yang lalu, Forum Tarbiyah bekerja sama dengan ISEFID mengadakan sebuah kajian dengan pemateri Prof.K.H Didin Hafifuddin. Acara yang bertempat di Kulliyah of Economics ini mengangkat tema tentang “Hijrah dan Narasi Baru untuk Kebangkitan Ummat” khususnya di Indonesia. Berikut ini ringkasan materi yang telah disampaikan.

Sesungguhnya orang lain (non muslim) yang memiliki masalah besar, bukan kita yang terombang-ambing dengan berita-berita yang sengaja dibuat oleh mereka agar kita (muslim) takut dan merasa bimbang dengan kemajuan Islam di bumi tercinta.

Tetap kita sebagai muslim harus memiliki HARAPAN, OPTIMISME, dalam menyongsong kebangkitan Islam.

Saat ini kemajuan Islam sudah tampak ke permukaan, misal: banyak sekali pemuda yang suka ke Masjid, para perempuan sudah mendominasi dalam menutup aurat (jilbab) zaman sekarang sangat berbeda drastis dengan zaman dahulu, kini kita sebagai muslim sudah menjadi kebiasaan dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan ALLAH SWT, kemajuan ini terlihat dengan banyaknya komunitas-komunitas Islam seperti: Tangan di Atas (Komunitas berbagi para pengusaha).

Kita terus diingatkan agar selalu memperbaiki niat, memperbarui dan memperkuat semangat juang untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah.

Ajaran Islam mencakup seluruh kehidupan, namun saat ini Indonesia masih belum memiliki hal yang esensial dalam penerapan ajaran Islam meskipun negara kita memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di Dunia, misalnya belum benar-benar menjadikan Al-Quran sebagai hukum kehidupan.

Dalam hal ekonomi telah disepakati oleh seluruh Negara yang tergabung di OKI, pada saat itu hasil pertermuan itu menghasilkan beberapa kebijakan yakni pembentukan Ekonomi Syariah baik secara aspek, filosofi dan ideologi. Kemudian membuka perusahaan Islamic Development Bank (IDB) serta membuka perguruan tinggi yang benar-benar berkonsentrasi terhadap Islam, yakni International Islamic University Malaysia.

Keadaan ekonomi syariah di Indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan terbukti telah meningkatnya market share lembaga keuangan syariah menjadi 6%, hal ini harus disambut baik oleh semua muslim di Indonesia. Kemudian telah dibukanya beberapa minimarket muslim yang tersebar di seluruh Indonesia, misal : 212 Mart, 414 Mart, Muslim Mart, semuanya telah menjamur dan menjadi harapan baru Indonesia.

Sesuai dengan QS AnNisa: 29 di ayat ini menjelaskan bahwa kita sebagai umma tmuslim harus memiliki komitmen untuk mengembangkan perekonomian dengan cara memulai gaya hidup, kehidupan sehari-hari, semuanya harus terlahir, terbuat dan diberikan kepada ummat muslim. Sehingga kita diharuskan untuk melakukan transaksi antar sesame muslim, agar perekonomian semakin berkembang dan maju.

Kenapa kita harus berkomitmen mendukung perekonomian ummat, karena ekonomi sangat berefek besar terhadap suatu peradaban. Diikuti oleh kondisi politik, jika ekonomi dan politik berada pada satu tangan (golongan non muslim) maka akan sangat berpengaruh dengan kebijakan yang otoriter.

Dengan timbulnya kebijakan seperti ini pasti akan sangat mengganggu kemajuan ummat muslim.
Adapun pengusaha-pengusaha yang termasuk top 10 di Indonesia, mayoritas diduduki oleh orang non muslim. Kemudian jika kita lihat pengusaha non muslim yang memiliki beberapa mall , tempat sholat (mushollah) pasti ditempatkan di tempat yang kurang refresentatif, biasanya ditempatkan di bagian paling pojok, paling jauh, kecil, dan fasilitas yang kurang memadai. Ini merupakan contoh nyata jika non muslim yang menguasai ekonomi. Apalagi jika politik, mereka kuasai, tentu akan lebih dahsyat efeknya terhadap kehidupan ummat muslim.

Kemudian potensi ajaran Islam di Indonesia, misalnya kemakmuran, sampai saat ini ukuran kemakmuran di negeri kita, belum ada indikator yang baku terhadap definisi kemakmuran. Jika kita telisik di Q.S Quraisy: 4,  artinya yang menyediakan makanan untuk mereka menghadapi kelaparan, maupun yang menyediakan keamanan untuk mereka menghadapi kekhawatiran.

Acara Kajian Fotar x ISEFID pada 16 September 2018 yang lalu  Pada tanggal 16 September 2018 yang lalu, Forum Tarbiyah bekerja sama de...