Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR

Tema : Fiqh Puasa (Part 2)
Pemateri : Ust. Ismail Farros, Lc
Tanggal : 3 Mei 2020
Pukul : 14.30-16.30 MYT
Tempat : Aplikasi Zoom

Muhasabah Ramadhan

Tidak terasa hari-hari Ramadhan telah berlalu. Maka setelah memasuki pekan kedua Ramadhan ini, kita perlu menghitung kembali (muhasabah) atas apa saja amal yang sudah kita lakukan.

Seperti apa malam-malam Ramadhan kita lalui?
Seperti apa kualitas tarawih kita, dzikir kita, disaat kita diberi Allah begitu banyak waktu luang?

Karena hari ini adalah masa beramal tanpa hisab, dan kelak adalah masa hisab tanpa perlu lagi amal.

Ketika kita tidak melakukan evaluasi secara rutin (misal harian), jangan sampai kita terkejut dan menyesal di hari akhir nanti. Pentingnya muhasabah juga disampaikan oleh Sahabat Nabi, Umar ra. :

حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
Artinya: “Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah)”.
Esensi Berpuasa Ramadhan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183).

Dari Surat Al Baqarah ayat 183, kita dapat mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Pengertian taqwa adalah mentaati perintah Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya.

Berikut adalah amal-amal utama yang mendorong kita agar dapat menjadi pribadi yang bertaqwa :
A.Mentaati perintah-Nya
1. Sholat
Amalan yang paling pertama dihisab adalah sholat. Kalau sholat kita baik, maka insyaa Allah, kita akan dibimbing untuk mebaikkan amalan yang lainnya. Maka dari itu, berusahalah untuk meningkatkan kualitas sholat kita dengan menunaikannya tepat waktu dan dilengkapi dengan sholat sunnah rawatib, dhuha, dan tarawih. Bagi yang sudah merasakannya, akan ada kenikmatan tersendiri bila kita dapat 'mengejar-mengejar' sholat bukan kita yang dikejar-kejar waktu sholat.

2. Tilawah
Bulan Ramadhan erat kaitannya dengan Al-Qur'an. Hal itu dijelaskan di dalam kutipan Surah Al Baqarah ayat 185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia

Sebagaimana juga yang telah dicontohkan Rasulullah SAW serta salafussalih yang begitu dekat interaksinya dengan Al Qur'an, maka sebagai umat yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad kita perlu menanamkan pada diri kita kesungguh-sungguhan untuk berinteraksi dengan Al Qur'an.

3. Dzikir & Do'a
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH sehari 100 kali, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah Swt.) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". (QS. Al-Mu'min : 60)

Selain itu, istighfar, shalawat, serta dzikir setelah sholat juga termasuk dzikir yang utama.
Jum'at sore, waktu sahur, sebelum berbuka, dan ketika hujan termasuk waktu mustajab untuk bermunajat serta berdo'a kepada Allah swt.

4. Bersedekah

B. Menjauhi larangan-Nya
1. Taubat
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya : “Katakanlah; wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampunkan dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Allah swt. memerintahkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya yang begitu luas. Berputus asa dari rahmat Allah justru merupakan suatu dosa.

Karena bila Ia berkehendak, sesulit apapun  kita meninggalkan maksiat, Allah swt. menjadikan kita membencinya.

2. Meninggalkan berbagai perkara yang sia-sia
Perkara yang sia-sia adalah apasaja yang tidak membawa kebaikan bagi kita di akhirat. Termasuk merugi bagi orang yang tidak merasakan syiar Ramadhan, menganggap bulan mulia ini sama saja dengan bulan lain.

3.Tidak bermaksiat di Bulan yang harusnya penuh ketaatan
Termasuk kerugian yang besar apabila kita bermaksiat di bulan yang banyak diisi oleh orang lain atau orang disekeliling kita dengan banyak ketaatan.

Demikian notulensi Kajian Dua Pekanan Fotar, semoga di pekan kedua Bulan Ramadhan ini kita tetap semangat dalam meningkatkan ibadah dan amal kebaikan.

Fotar IIUM
#DakwahHingaJannah

Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR Tema : Fiqh Puasa (Part 2) Pemateri : Ust. Ismail Farros, Lc Tanggal : 3 Mei 2020 ...



Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR

Tema : Fiqh Puasa
Pemateri : Ustadz Muhammad Azzam
Tanggal : 19 April 2020
Pukul : 14.30-16.30 MYT
Tempat : Aplikasi Zoom

Beribadah perlu ilmu, tidak hanya sekadar sah tapi juga diterima oleh Allah SWT

Sejarah Syariat Puasa :

1. Allah menurunkan syariat puasa pada tahun ke-2 bulan Sya’ban (ketika sudah di Madinah). Dan para sahabat berpuasa pada saat perang badar.
2. Rasulullah menjalankan puasa Ramadhan sebanyak 9 kali dalam hidupnya

Fiqh Puasa :

A. Pengertian
Bahasa : Al imsak (menahan)
Istilah: Menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, dan hal-hal yang mebatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelam matahari dengan niat ibadah.

B. Siapa yang wajib puasa : 
Muslim
Baligh (perempuan maupun laki laki)
Berakal (tidak gila dan sadar)
Mampu melaksanakannya 
 Muqim, orang yang menetap di suatu tempat
(jika musafir, orang yang sedang dalam perjalanan, maka tidak wajib baginya berpuasa, namun apabila ia berpuasa, maka puasanya sah)
Bebas dari penghalang (yakni tidak sedang haid ataupun nifas)

C. Rukun Puasa
1. Niat menahan diri dari hal yang membatalkan 
2. Menentukan awal bulan

D. Menentukan awal bulan
1. Melihat bulan sabit (hilal) Ramadhan, atau
2. Membulatkan bulan sya’ban 30 hari

E. Syarat sah puasa : 
1. Adanya niat, pendapat ‘ulama:
a. Boleh berniat untuk melakukan puasa selama seluruh ( 1 bulan Ramadhan)
b. Jumhur ‘ulama (niat pada setiap malam sehari sebelum puasa)
2. Muslim
3. Suci dari haid dan nifas
4. Berpuasa dihari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa

F. Hal yang membatalkan puasa
1. Makan, minum (yang disengaja)
2. Hubungan seksual pada siang Ramadhan (batal + kafarat)
Kafaratnya 1 dari 3:
a. Membebaskan seorang hamba sahaya
b. Puasa dua bulan berturut-turut, atau
c. Memberi makan fakir miskin
3. Muntah dengan sengaja
4. Merubah niat (contohnya niat untuk mau batal puasa walaupun tidak jadi makan / minum)
5. Murtad
6. Keluar mani dengan sengaja (sengaja masturbasi) batal puasa = ganti tanpa kafarat. Tidak sengaja, tidak membatalkan puasa
7. Haid ataupu nifas

G. Yang tidak membatalkan puasa
1. Makan atau  minum karena lupa, maka tidak batal. Wajib berhenti saat ingat ataupun ada yang mengingatkan
2. Keluarnya mani tanpa sengaja
3. Bekam
4. Bersiwak atau sikat gigi (makruh : meskipun tidak kemakan dan demi menjaga kebersihan tidak ada larangan sama sekali) tidak membatalkan dan tidak juga dilarang 
5. Kumur-kumur, istinsyaq selama tidak ada cairan yang masuk ke perut maka tidak membatalkan puasa
6. Mandi/ berenang (tidak batal selama tidak meminum airnya)
7. Kemasukan asap atau debu (Rokok? Batal karena asap roko mengandung zat zat e.g nikotin yang masuk kedalam tubuh)
8. Obat tetes mata (tidak batal/ karena tidak masuk kedalam perut)
9. Suntik (jika tidak memperkuat diri/suplemen tidak batal. e.g ; obat). Berbeda dengan infus, dia membatalkan karena maqasid dari salah satu tujuan puasa adala (menghilangkan rasa lapar.

H. Yang boleh membatalkan puasa (tidak berdosa)
1. Safar/ perjalanan : jarak 47 mil/89 km
2. Sakit yang mempengaruhi ketahanan puasanya (kalo kepentok doang, ngga termasuk)
3. Hamil dan menyusui. Ada dua pendapat:
a. Karena kecemasan terhadap diri dan bayinya maka dia hanya mengqadha hari dimana dia tidak berpuasa
b. Kecemasan hanya terhadap anak maka dia harus mengqodho dan membayar fidyah
4. Kondisi laper yang bikin sekarat
5. Dipaksa untuk membatalkan puasa (wajib ganti) contoh : keharusan mengkonsumsi obat
6. Pekerja berat (yang membuat tidak mampu puasa) / wajib ganti.

I. Tradisi puasa (tradisi menjadi terlarang ketika mengandung unsur maksiat, contoh: musyrik/ikhtilat, dll.)
1. Wajib ziarah kubur? Boleh dilaksanakan sebagai bentuk zikrul maut tapi tidak diwajibkan (kalua mewajibkan maka jatuhnya jadi dosa)
2. Mandi besar (balimau di sumatera barat) untuk mensucikan dirinya. Tidak dilarang oleh syariat tapi bukan sebuah kewajiban.
3. Puasa sehari/dua hari sebelu Ramadhan untuk berjaga-jaga (dilarang puasa) 
4. Ramadhan menjadi bulan ibadah (orang orang cuma ibadah selama Ramadhan saja tidak dibenarkan karena Ramadhan justru sebagai bulan latihan untuk istiqamah ibadah setelah Ramadhan)
5. Jangan menghabiskan malam Ramadhan dengan kegiatan yang tidak bermanfaat 
6. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum (makan sampai kekenyangan saat berbuka: mudharatnya jadi mengantuk untuk shalat malam)
7. Sahur sangat dianjurkan karena mendatangkan barakah walaupun bisa puasa tanpa sahur tetap dianjurkan untuk sahur

J. FAQ Puasa

1. kapan berhenti makan sahur?
Mengetahui dengan jelas masuknya waktu fajar (walaupun belum adzan). Saat imsak sudah harus berhati-hati karena udah mulai masuk fajr. 10 menit sebelum azan dianjurkan untuk berenti makan shahur.

2. Lagi makan tiba tiba azan?
Segera berhenti makan

3. kondisi junub?
Boleh makan sahur terlebih dahulu kemudian mandi setelah adzan subuh sebelum melaksanakan shalat subuh.

4. Bagaimana hukum membatalkan puasa dengan sengaja?
Merupakan salah satu dosa besar dan tidak tidak bisa diganti walaupun dengan puasa satu tahun.

5. Istihadah (darah penyakit selain darah haid)
Wanita yang mengetahu siklus haidnya (jadi tahu mana darah istihadhah/haid). Apabila istihadhah maka wajib untuk tetap berpuasa, jika tidak mengetahu siklus haidnya, bedakan dengan jenis darahnya yang keluar

6. Kapan waktu mengganti puasa? 
Dilaksanakan pada bulan-bulan sebelum Ramadhan)
Jika tidak mampu mengganti dalam rentang waktu setahun boleh ganti dengan fidyah 

7. Meninggal sebelum qadha puasa?
Dua pendapat ulama :
1. Dibayarkan fidyahnya
2. Dalil lebih shahih : kewajiban qadhanya digantikan / dibagikan kepada ahli warisnya

8. Bagaimana jika lupa jumlah hari yg ditinggalkan?
Ambil yang pasti dan yang lebih banyak, tidak mungkin lebih dari 30 hari

9. Melakukan operasi saat sedang berpuasa?
Anastesi (tidak sadar) = membatalkan
Jika operasi tidak membuat hilang kesadaran, makan diperbolehkan.

10. Transfusi darah?
Makruh jika memudharatkan yg mendonor 
Dalam kondisi darurat diperbolehkan
Imam qardhawi : infus tidak batal karena tidak melalui tenggorokan

11. Hukum melakukan hubungan sexual selama siang hari bulan ramdhan?
Batal dan kafaratnya besar
Menyentuh pasangan diperbolehkan jika tidak menimbulkan syahwat. 
Hindari hal hal yg memancing syahwat

12. Bolehkan mencicipi masakan saat berpuasa?
Pastikan tidak melalu rongga perut dan tidak tertelan. Langsung kumur-kumur

13. Bagaimana hukum membayar puasa sehari/dua hari sebelum Ramadhan?
Puasa qadha sehari/dua hari sebelum Ramadhan diperbolehkan, tapi puasa sunnah tidak diperbolehkan.

14. Bagaimana jika tidak sempat ganti puasa sampai bertemu dengan ramadhan berikutnya?
Mengganti setelah Ramadhan dan plus bayar fidyah

15. Puasa Syawal dulu atau qadha dulu?
a. Puasa syawal waktunya terbatas sedangkan puasa ganti waktunya lebih luas
b. Idealnya mengganti yg wajib dulu baru puasa sunnah setelahnya
    Tapi jika tidak mampu (waktunya mepet) boleh puasa syawal dulu.

16. Batasan Jumlah rakaat solat tarawih?
Tidak ada Batasan khusus, boleh dilakukan berapa rakaat. (yang penting berkualitas)

K. Tips maksimal ibadah selama masa PKP

a. Pergi ke surau yang masih bisa digunakan
b. Membuat suatu tempat di rumah/asrama kita sebagai masjid (tempat khusus untuk ibadah)
c. Membuat kesepakatan (contoh : area ibadah adalah area bebas gadget)
d. Membuat target ibadah/amal. Bukan tentang banyaknya tapi juga kualitas ibadah.
e. Membuat tim untuk beribadah bersama-sama.
f. Melakukan evaluasi amalan dan ibadah (mutabaah)
h. Perempuan yang haid tidak boleh tilawah bisa mendengarkan murratal dan berzikir.
g. Skip atau menghilangkan kegiatan harian yang berpotensi menurunkan kualitas ibadah kita selama Ramadhan (music, menonton, makan yang berlebihan)
h. Shalat sunnah lebih panjang dengan sambil melakukan tilawah al-Quran dalam shalat.
i. Ikut kajian online, diskusi, dan membaca buku.

L. Zakat Firah
Hukum : wajib bagi yang bernafas selama bulan Ramadhan dan memiliki makanan pada hari itu.
Apabila belum memiliki penghasilan, boleh dibayarkan oleh orang tua.


Notulis : Keisya Azizah Khairunnisa

Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR Tema : Fiqh Puasa Pemateri : Ustadz Muhammad Azzam Tanggal : 19 April 2020 Pu...

http://www.republika.com

“When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman

Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus bertanya, masih jauh nggak? Sampai kapan? Udah sampai mana? Berapa lama lagi? Atau terjebak di kemacetan yang gak jelas dimana ujungnya dan kapan beresnya. Dan kamu nggak bisa mengubah keadaan. Tiap cek google maps, waktu perkiraan tiba terus berubah. Tapi kamu stuck, gabisa berbuat apa-apa.

Bukankah kali ini, situasi kita cukup mirip? Dipenuhi pertanyaan kapan usainya cobaan ini? Ada yang menyatakan tiga bulan, enam bulan, setahun? Dan kepala dipenuhi rencana-rencana yang tertunda. Ketidakpastian yang ada di depan mata.

Sadarkah kita bahwa justru itulah ujiannya : KETIDAKTAHUAN tentang KAPAN

Coba cek lagi, jangan-jangan yang bikin kita stress adalah RASA INGIN TAHU soal kapan ini semua berakhir, dan kapan pertolongan Allah swt. datang. Ingatkah kita, para nabi aja nggak dikasih bocoran. Nabi Ayyub nggak tau kapan bakal sembuh, Nabi Ya’qub nggak tau kapan akan kembali dipertemukan dengan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf nggak tau kapan keluar penjara, Nabi Yunus juga nggak tau kapan (atau akankah) keluar dari perut ikan. Allah swt tidak memberi tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kapan misi beliau akan selesai. 

Allah tidak menjanjikan berapa minggu ujian ini akan berlangsung, atau berapa bulan..tapi Allah berjanji akan memberi balasan terhadap setiap apa yang kita lakukan selama cobaan ini berlangsung. Tapi ya itu, ujiannya adalah kita ga tau sampai kapan.

Jadi daripada kita mikirin yang gak pasti, fokuslah pada saat ini. Lihat apa yang kita miliki sekarang dan syukuri. Keluarga, Kesehatan, rasa aman, yang belum tentu kita miliki beberapa minggu  ̸ bulan lagi. Tak ada yang janji bahwa kita gak bakal mati sebentar lagi, sebelum, atau setelah beres pandemi.

Sadari bahwa sabar itu bukan sekedar menunggu ujian ini berakhir, tapi tentang bagaimana cara kita menunggu.

Fokus pada saat ini. Banyak yang mesti kita lakukan. Banyak bekal yang mesti dikumpulkan. Berhenti terobsesi dengan segala probabilitas dan kemungkinan soal kapan. Tapi yakinlah bahwa akhirnya akan hadir ketenangan bagi orang yang beriman. Mungkin ketenangan di dunia dengan berakhirnya ujian ini, tapi yang pasti aka nada ketenangan di akhirat. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan momen ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat buat kita.

Jadi jangan sibuk bertanya : Kapan?. Apakah ini  akan sampai Ramadhan? Jangan menunda melakukan kebaikan hingga Ramadhan, lagipula, nggak ada yang menjajikan kita hidup untuk melihat Ramadhan.

Fokus untuk kembali pada Allah
S E K A R A N G. 

Penulis : @loveshugah

http://www.republika.com “When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus ...

Source : Tribunnews.com



Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT berikan setiap hari nya dapat selalu kita syukuri dan nikmati.

#dirumahaja bagi saya yang suka di rumah itu jadi surga dunia. Ngomong-ngomong soal hari ke-7, walaupun suka dirumah, layaknya manusia biasa pasti ada rasa jenuh menghampiri. Saya memutuskan ngobrol sama kakak saya yang ada di Jakarta. Saya ceritakan perasaan jenuh saya, dari obrolan itu saya dapatkan banyak hal. Salah satu nasehat nya “Harta yang hilang dari seorang muslim sekarang ini adalah hikmah” dia menambahi “Setiap hari yang ada di kepalaku adalah mencari-cari hikmah dibalik ini semua, karna kalo ga gitu kita akan mudah menyalahi keadaan dan jadi ga bersyukur”

Hal itu coba saya praktekkan, sampai saya buat list apa aja hikmah yang saya dapat dari #dirumahaja. Salah satu nya mengistirahatkan kaki saya yang baru saja terkilir 2 minggu lalu. Satu pekan sebelum libur saya tidak masuk kelas karna itu, satu minggu berlalu saya sudah bisa berjalan tapi belum seperti normal. Setelah berkonsultasi ke banyak orang, katanya kaki ini bisa benar-benar pulih jika diistirahatkan 1 bulan.

Disitu yang dipikiran saya cuma gimana ke kelas dengan keadaan tiap hari harus jalan dari mahallah ke kelas yang jarak nya ditempuh dalam 20 menit. Qadarullah, sehari setelah itu diumumkan ada libur 2 minggu. Saya gak tau lagi gimana cara bersyukurnya sama Allah. Momentnya pas. Alhamdulillah.

Setelah memikirkan banyak hikmah lain-nya tiba-tiba kejenuhan saya jadi hilang. Beliau juga bilang ditelfon “al-wajibat aktsar minal awqat” yang artinya kewajiban atau tugas-tugas kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya.

Justru moment #dirumahaja ini membuat kita berfikir, sebenarnya kita itu tidak sedang diberi waktu luang lebih, tapi kita sedang disadarkan betapa banyak tugas yang kita punya sampai waktu yang ada ga cukup untuk menyelesaikan itu semua.

Tugas yang paling kita lupa adalah mengingat mati atau mempersiapkan akhirat kita. Lagi scroll timeline di Instagram sampai ada yang buat poster isinya “Kemungkinan kita meninggal karena Corona satu persen, sedangkan kemungkinan kita meninggal setiap saat adalah seratus persen”

Dalam hadis dikatakan ''Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.'' (HR Ibnu Majah)

“Dan, barang siapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan didalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaanya (dengan tunduk)”. (HR. Ibnu Majah).

Sampai diakhir telfon kaka saya nyeletuk “Kalau misal nya kita sekarang meninggal karna wabah Corona ya berarti kita diitung syahid, tapi kalo kita meninggal karna stress atau jenuh karena mikirin gatau mau ngapain, nah itu perlu jadi peringatan buat kita”

Seminimal mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah membiasakan mulut kita untuk berzikir kepada Allah. Dan zikir yang paling bagus adalah “La Ilaha illaAllah”. Pernah dalam satu kajian seorang Ustadz berkata, “Ketika kita mati, otak kita sudah tidak berfungsi, jadi yang menggerakkan mulut kita untuk mengucap kalimat La ilaha illaAllah adalah karna mulut kita yang terbiasa mengucap itu”.

“Whenever you are alone, remember Allah has sent the whole world away, so that it’s only you and Him”. -Mufti Menk

Semoga moment #dirumahaja ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil.

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Inas Syarifah

Source : Tribunnews.com Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT ...




Tak banyak yang aku dapatkan dari berita akhir-akhir ini tentang virus corona, kecuali merasakan kelemahan yang sangat, tak berdaya serta terbatasnya manusia.

Bagi yang lain, mungkin hampir putus asa, atau cukup untuk membuat mereka panik lalu mengaktifkan otak reptil mereka, berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Aku berusaha mememahami aksi belebihan dengan menguras stok pangan, obat-obatan, masker dan lainnya, adalah bentuk dari ingin selamatnya manusia dari wabah.
Sekali lagi, kesemuanya menunjukan betapa lemahnya manusia, bahkan tidak bisa berbuat apapun tehadap sesuatu yang sudah diketahui, tak bisa kendalikan apapun.
Sampailah aku pada suatu batas, ketika sudah berada di jenjang pencarian tentang virus corona, penyebarannya, dan cara untuk mencegahnya, yaitu : 'kita tidak bisa apa-apa'.
Di batas teknologi, di jenjang ilmu manusia, ternyata kita semua harus tunduk, bersujud, menengadah pada Sang Pencipta, yang mungkin kita abaikan disaat-saat biasanya.
Ataukah ini cara Allah swt, mendidik kerasnya kepala kita, tentang arti kelemahan, tentang arti kematian, dan arti kekuasaannya yang begitu luas?
Kita dijanjikan kenikmatan ketika kita mau memperjuangkan agama Allah swt, tapi kita abai. Ternyata kekuatan ketakutan lebih banyak menggerakkan kita untuk mendekat pada-Nya.
Satu hal yang membuatku sedikit lebih tenang. Memikirkan Allah swt. dan rasulnya, masih memiliki orang-orang yang aku cintai, dan berusaha beramal sholeh pada hari ini.

Ternyata, begitu mudahnya manusia mati, semudah Allah swt menciptakan kita, sama mudahnya ketika Allah swt bangkitkan kita kembali di hari ketentuan.
Di hari itu kelak kita akan kembali sadar, bila semua manusia sekarang diambang batas kekhawatirannya akan virus, di saat itu ada yang lebih mengerikan,
hari perhitungan amal.

Refrensi : Ust.Felix Siauw


Tak banyak yang aku dapatkan dari berita akhir-akhir ini tentang virus corona, kecuali merasakan kelemahan yang sangat, tak berda...