Sore itu, di salah satu pasar swalayan modern di Jakarta. Kulihat sebuah figura bergambar kapal kecil yang sedang berlayar dan di atas kapal tersebut bertuliskan kalimat berbahasa Inggris.
Lalu, kubaca dan kupahami tulisan itu, tapi tak kunjung paham apa maksudnya.

"Tuh kak, pentingnya gak nunda-nunda waktu..", celetuk Ummi secara tiba-tiba.

"Oh ya, paham-paham", sahutku.

Entahlah, kalimat tersebut sebenarnya biasa saja, bahkan sering diulang oleh para pemateri dalam forum diskusi ataupun dipajang di gedung-gedung sekolah dan universitas. Tapi kali ini beda, tulisan tersebut membuatku jleb seketika setelah Ummi memperingatkanku. Mungkin, karena kelalaianku selama ini, membuatku merasa tercyduk dengan kalimat itu. Dan tidak bisa dipungkiri lagi, menunda waktu sudah menjadi hal yang lumrah bagiku.

Kalimat tersebut sudah teraplikasikan dalam aktifitas kita setiap hari. Banyak beberapa contoh yang sering kita jumpai, misalnya: saat ada diskon besar-besaran di pasar dengan waktu yang ditentukan. Jika kita menunda atau tidak segera untuk beli barang berdiskon tersebut, barang itu akan habis dibeli oleh para pembeli lainnya. Atau contoh lainnya jika kita tidak sengaja datang terlambat ke bandara, lalu tertinggal oleh pesawat yang ingin dinaiki dan tiket yang sudah dibeli 'hangus' begitu saja, tidak bisa dibatalkan. Kalau sudah seperti itu, sayang bukan?

Sempat saat awal SMA saya bertanya-tanya, bagaimana caranya agar tidak menunda-nunda waktu lagi? Dan pada akhirnya saya menemukan jawabannya, 
"Kalau kita masih merasa suka telat ngapa-ngapain, lihat shalat kita, shalatnya udah tepat waktu belum? Karena semua aktifitas tergantung shalat kita", begitulah kata kakak panitia MOS kala itu. Memang benar, sebab hakikat kita hidup hanya untuk Allah 
(وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ)
[Surat Adh-Dhariyat 56]

Kalau masih merasa telat juga, mungkin ada satu aktifitas yang menghambat sehingga cara kerja kita yang mesti diubah. Untuk mengubahnya butuh proses. Menurut pengalaman orang-orang sukses, suatu kebiasaan baru akan terbentuk biasanya dalam kurun 40 hari dan paling cepat 21 hari. Jadi, bersabarlah dan teruslah konsisten untuk melakukannya.
Do it now. Sometimes later become never

Penulis : Fika Amani

Sore itu, di salah satu pasar swalayan modern di Jakarta. Kulihat sebuah figura bergambar kapal kecil yang sedang berlayar da...




Lahir di lingkungan Istana tepi sungai Eufrat sebagai keturunan walikota Abilah, satu kota yang berada di bawah kekuasaan Persia menjadikan seorang anak tumbuh dalam kesenangan dan kemewahan. Suatu hari wilayah tersebut diserang oleh Romawi dan anak walikota pun menjadi salah satu tahanannya. Hingga datang seorang saudagar Mekkah membelinya untuk dijadikan budak, namun ketika sang saudagar melihat kecerdasan, keuletan, kerajinan serta kejujuran si budak kecil, ia pun dibebaskan.

Ketika cahaya Islam datang dari rumah Arqam, si mantan budak ini pun datang  bersama sahabatnya; Ammar bin Yasir dengan sembunyi-sembunyi untuk menyatakan keIslamannya di hadapan Rosululloh صلى الله عليه وسلام .

Sejak pertama menerima cahaya Ilahi dan menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rosululloh,  ia layak mendapatkan keimanan yang begitu istimewa.

Perjuangan dan kesetiaannya dimulai saat peristiwa hijrah. Ketika terdengar olehnya bahwa Rosul akan berhijrah ke Madinah, ia semestinya menjadi orang ketiga yang ikut bersama Rosul dan Abu Bakar. Namun rupanya orang Quraisy mengetahui dan menahan Shuhaib bin Sinan.

Ketika orang kafir Quraisy lengah, ia pergi dengan cepat mengarungi sahara yang luas. Namun orang kafir Quraisy tak tinggal diam, mereka segera menyadari bahwa Shuhaib akan menyusul Rosul. Maka diutuslah pasukan dari kalangan kafir Quraisy untuk mengejar Shuhaib.

Ketika Shuhaib melihat kedatangan para pengejar, ia berkata,"hai orang-orang Quraisy, kalian semua tahu bahwa aku jago memanah. Demi Alloh,  sebelum kalian mendekatiku, aku akan membidik kalian dengan semua anak panah yang aku bawa. Setelah itu, aku akan melawan kalian dengan pedang sampai titik darah penghabisan. Sekerang terserah kalian, jika kalian ingin mendekat, mendekatlah. Atau, aku tunjukkan di mana harta kekayaanku, dan kalian biarkan aku pergi."

Menariknya, orang-orang kafir Quraisy langsung pergi saat itu juga dan berbalik ke Mekkah setelah Shuhaib menunjukkan tempat penyimpanan hartanya. Mereka tidak meminta bukti atau sumpah. Artinya, selama ini mereka sudah mengenal Shuhaib sebagai orang yang jujur.

Ketika perjalanan Shuhaib sampai bertemu dengan Rosululloh di Quba yang saat itu sedang duduk dikelilingi oleh beberapa sahabat, Rosul bersabda,"Perdaganganmu sungguh mendapatkan laba yang besar hai Abu Yahya (Shuhaib). Perdaganganmu sungguh mendapatkan laba yang besar, hai Abu Yahya (Shuhaib)."

Dan saat itu turun pula wahyu dari الله
"Dan diantara manusia ada orang-orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan الله dan الله Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (Q.s Al Baqoroh (2) : 207)

Ucapan salam untukmu wahai Shuhaib Bin Sinan رضي الله عنه


📝 Disarikan dari 60 Sirah Sahabat Rosululloh-Khalid Muhammad Khalid
21 Rabiul Akhir 1440 H/28 Desember 2018

Penulis : Halimah Sa'diyah

Lahir di lingkungan Istana tepi sungai Eufrat sebagai keturunan walikota Abilah, satu kota yang berada di bawah kekuasaan Persia menjad...

source: bundanyacinta.files.wordpress.com


     Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi para penikmat malam. Seperti seorang wanita berambut sepunggung yang kini tengah memandangi temaram rembulan. Namun ia lebih suka akan benda yang kini ada di genggamannya.
     Bunga mawar. Bunga yang kerap ia irikan karena memiliki pesona yang indah. Apalagi bunga yang ia sukai itu memiliki pelindung sendiri. Meski kerap sekali orang-orang mudah memetiknya. Tapi ia tetap suka dengan pesona mawar, apalagi mawar merah.
     Terkadang ia berpikir untuk bisa jadi mawar. Bukan tanpa alasan dia berkeinginan seperti demikian. Baginya, mawar jika diibaratkan seperti manusia, maka nasibnya penuh keberuntungan. Disukai banyak orang, sejuk dipandang, bernilai mahal, dijaga, dan hal-hal baik lainnya. Sedangkan ia? Masih bisa menghirup nafas gratis saja ia sudah beruntung.
     Bagaimana tidak? Gadis pecinta mawar itu hidup sebatang kara. Makan saja harus bekerja keras dahulu. Bukan bekerja keras dengan cara benar maksudnya. Tapi mencuri adalah hal menegangkan yang ia sebut sebagai kerja keras. Uang yang biasa ia pakai untuk jajan, untuk mengerjakan tugas sekolah, untuk pergi ke klub dan iuran-iuran lain saja hasil mencuri. Untung saja ia termasuk kalangan anak berotak cerdas sehingga mendapatkan beasiswa dan tidak usah membayar SPP selama prestasinya tidak turun.
     Makadari itu ia membenci hidupnya. Hidupnya serasa tidak adil. Tuhan memang tidak memperbolehkannya untuk bahagia.
     “Gue benci hidup gue,” lirihnya dengan hati tersayat.
     “Allah menciptakanmu bukan untuk membenci hidupmu sendiri, Syahna.” Seseorang dibelakangnya menyahut.
    Syahna membalikkan badannya. Ternyata ada Bu Dara. Beliau adalah guru di sekolahnya. Atau lebih tepat sebagai wali kelasnya.
    “Ibu ngapain di sini?”
    “Nyamperin gadis pecinta mawar yang membenci hidupnya.”
    “Basi!”
     Bu Dara hanya tersenyum saat mendengar kata ketus dari muridnya itu. Bukannya ia membiarkan Syahna terus-terusan kasar seperti itu. Hanya saja ia akan pakai cara halus untuk melunakkannya.
     “Ibu tau kamu pecinta mawar. Bahkan sampai kamu ingin menjadi sepertinya. Tapi ibu lebih pengen kamu jadi kaya mutiara.”
     “Maksudnya?”
     “Itu pesan dari Ibu, Na. Ibu pamit.”
     Syahna hanya memandang punggung Bu Dara yang semakin mengecil. Jujur saja, ia bingung dengan kata-kata bu Dara. Itu kata perumpaan, iapun faham.
     “Ah, persetan,” umpatnya.
     Syahna memutuskan untuk pulang karena ini sudah cukupp malam untuk ukuran perempuan sepertinya.
     Selama diperjalan menuju rumah reyotnya, ia masih kepikiran dengan ucapan gurunya. Ia yakin, itu bukan sekedar permintaan biasa. Seperti memberi pengaruh besar untuk hidupnya.
     Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Tapi Syahna tidak akan membalikkan badannya. Hal bodoh jika ia harus melakukan itu.
     “Neng,” ucap seorang lelaki dibelakangnya dengan nada menggoda.
     Syahna mempercepat langkahnya tanpa menggubris lelaki dibelakangnya. Namun sayang, belum lama kemudian tangannya sudah berhasil dicekal.
     “Lepas!”
     “Neng mau kemana? Mending sama abang aja yuk!”
     “Gak! Lepas! Gue jijik sama lo.”
     “Ah pura-pura. Kita main bentar yuk,” ajak lelaki itu seraya menyeret tangan Syahna.
     Syahna ingin memberontak. Tapi kekuatannya tak sebanding lelaki itu. Hingga sampai di jalan buntu dengan tembok-temboknya yang penuh sekali akan coretan, lelaki itu memojokkannya.
     Syahna benar-benar ketakutan saat ini. Separah-parahnya ia saat mabuk di klub, ia tidak pernah bermain bersama pria hidung belang. Sekedar dirabapun ia tak sudi.
     “Neng cantik mau kemana sih tadi?”
     “Minggir! Gue mau pulang.”
     “Entar abang anterin deh, tapi kita main dulu, gimana?”
Syahna terdiam. Hanya air mata yang berlinang menjadi jawabannya. Ia jijik, sunggung. Kini matanya malah terpejam, bukan karena membolehkan lelaki itu mengapa-apakannya. Tapi ia tak kuat berada jarak sedekat itu dengan seorang lelaki.
     Tiba-tiba sebuah ide muncul di tengah-tengah ketegangan hatinya.
DUK!
     Syahna menendang benda rawan milik lelaki bejat itu. Lalu sekeras mungkin ia melarikan diri. Sesekali Syahna menoleh kebelakang untuk memastikan pria itu masih mengikutinya atau tidak. Jika masih ia akan melajukan kekencangan larinya. Hingga dirasa lelaki itu jauh dengannya, Syahna melambatkan laju larinya.
     Nafasnya tersenggal-senggal. Dan ia butuh minum. Jika ia mencuri maka ia akan kembali berlari-lari barangkali ada yang melihat aksinya.
     Namun ide itu hilang dikala seorang wanita berhijab pink menjadi pusat pandangannya.
     “Ziva,” panggilnya.
     Wanita berhijab itu menoleh lalu menebarkan senyum manisnya. Ziva adalah putri dari bu Dara yang memang sekelas dengannya.
    “Ada apa?”
    “Gue haus banget Ziv. Pinjamin gue duit dong!”
    “Duh maaf banget ya Na, uangku habis. Gimana kalau kamu ke rumahku saja?”
     Tanpa pikir panjang Syahna menyetujui tawaran itu. Lagipun ia takut untuk pulang sendirian.
    “Lo sendirian?” Ziva hanya berdehem.
    “Gak takut?”
    “Aku punya Allah.”
    “Tapi Allah gak bisa bantuin lo kan kalau lo tiba-tiba dicegat lelaki bejat.”
    Ziva tersenyum. “Lelaki bejat kaya gitu gak akan mungkin ngerusak nilai harganya mutiara. Karena hanya sekedar melirikpun mereka butuh perjuangan. Beda lagi sama mawar, yang meskipun cantik dan punya duri, ngambilnya gak butuh perjuangan. Apalagi orang-orang gak akan sayang kalau bunga itu layu lalu dibuang.”
    “Lo gak usah sok perumpamaan kaya ibu lo deh!”
    Ziva hanya tersenyum mendengar nada kesal itu. “Ayo masuk, kita sudah sampai.”
    Memasuki rumah Ziva yang artinya rumah bu Dara juga, Syahna dipersilahkan untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Ia memandangi rumah megah itu. Ia jadi iri dengan Ziva. Hidup   Ziva benar-benar beruntung.
    “Lho Syahna,” kaget Bu Dara. Syahna sedikit aneh dengan gurunya itu. Di dalam rumah saja masih mengenakan hijab.
“Kok sudah di sini?”
“Saya tadi ketemu Ziva.”
“Sekarang Ziva mana?”
“Ke kamarnya.”
     Bu Dara hanya manggut-manggut. Sedang Syahna jadi kembali memikirkan maslaah dua perumpaan itu.
    “Bu, Saya gak faham masalah perumpaan yang diucapka Ibu dan anak Ibu.”
    “Lalu?”
    “Gak usah basa-basi deh bu. Jelasin aja apa susahnya sih!”
    “Apa kamu pernah hampir dilecehkan?” Syahna mengangguk. Baru saja hal itu menimpanya.   “saya mengajarkan Ziva untuk menutup tubuhnya karena saya tau, dia itu berharga. Ibu nggak mau lelaki dengan mudah memandangnya. Dia harus jadi seperti mutiara yang untuk dipandangpun susah karena tertutup bermili-mili air laut. Ibu nggak pernah mau dia jadi kaya mawar yang emang cantik dan punya duri untuk melindungi tubuhnya. Tapi bagaimanapun memetik mawar tidak sulit dan tidak sayang untuk dibuang.”
     Syahna diam membeku. Kini ia faham. Dirinyapun berharga, tapi mengapa ia tak menyadarinya?
     “Ibu sayang sama kamu, makanya ibu mau kamu jadi kaya mutiara yang berharga.”
Syahna tersenyum. “Makasih Bu.”
     Sejak hari itu, entah mengapa ia ingin menutup segala kecantikan tubuhnya. Dan benar seperti yang diucapkan Ziva. Semenjak ia berhijab, ia tidak pernah digoda lelaki bejat lagi.
     Dalam hati ia bersyukur dapat bertemu dengan Bu Dara yang penyayang itu. Andai kata Bu Dara tak menyadarkannya, mungkin saja ia tak sadar akan berharganya dirinya dan iapun akan mengekspos kecantikannya terus menerus. Mungkin saja akan ada lelaki bejat yang mengambil aset berharganya.
     “Makasih Bu Dara. Berkat ibu, Syahna faham akan berharganya diri Syahna. Dengan itupun Syahna mulai mengurangi kebiasaan buruk Syahna. Ibu emang Pahlawan di hidup Syahna,” ucap Syahna ketika ia pulang bersama bu Dara.
     Sedang Bu Dara hanya tersenyum. Sudah tugasnya sebagai guru untuk mengayomi dan membimbing muridnya ke jalan yang benar.

Penulis : Rosi Azizah

source: bundanyacinta.files.wordpress.com      Cahaya rembulan sudah mulai menjilati permukaan bumi. Menambahkan kesan syahdu bagi par...


source: sunnah.co.id

Tersebutlah, di sebuah Pesantren Salaf terdapat seorang santri bernama Abdullah. Dia adalah santri yang memiliki tingkat pengabdian luar biasa pada gurunya. Apapun yang Kiai perintahkan, tak sedikitpun yang dia lalaikan. Semua tugas terlaksana dengan baik. Dengan tingkat kesabaran dan keikhlasan yang tinggi.

Dalam hatinya sudah terpatri keikhlasan semata-mata mengharap Ridho dan cinta Allah dengan metode mengabdi pada guru. Sang perantara ilmu.

Namun sayang, dibalik semua itu Abdullah memiliki kelemahan dalam pembelajaran. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Bahkan tingkat menghafal otaknya sangat rendah. Apa yang di pelajari hari ini akan hilang keesokan harinya.

Tak heran jika santri Al-Mubarok-Nama pesantren Salaf tersebut mengolok-olok dirinya dengan sebutan Bhindhereh Robbinnas. Bhibdhereh dalam bahasa Madura biasa dikenal sebagai sebutan untuk santri putra. Robbinnas sendiri di ambil dari Surah An-nas.

Tugas Abdullah setiap harinya selalu sama. Dari pagi hingga sore hari menggembalakan itik milik sang Kiai. Dia istirahat hanya ketika tiba waktu solat dan makan siang. Selepas Maghrib usai berjemaah solat, dia akan mengikuti kajian Al-Qur'an di Musollah Sang Kiai. Bersama dengan santri junior. Mereka terdiri dari usia lima sampai dua belas tahun.

Abdullah tak pernah merasa malu ketika santri senior seusianya seringkali mengejek dirinya yang sudah bertahun-tahun masih tidak bisa mengahafal surat pendek. Jangankan Surah Yasin, Surah Annas saja masih mentok.

"Ayo Abdullah. Baca hafalanmu kemarin malam." Tunjuk Kiai Mukarrom ketika Ahmad selesai menyetor hafalan Al-Bayyinah.

"Enggeh Kiai." Jawabnya takdim.

Kemudian dia mulai membaca basmalah dengan tartil.

"Bismillahirrohmanirrohim. Qul audu birobbinnas. Mali..." Sampai ayat Maliki Abdullah berhenti. Sedikitpun hafalan yang dia sudah pelajari menghilang begitu saja. Dia terus mencoba mengingat. Sayang, semuanya benar-benar menghilang.

"Ayo lanjut. Kenapa berhenti?" Tegur sang Kiai.

"Mohon maaf Kiai. Saya tidak hafal." Jawabnya menunduk. Takut akan kemarahan sang guru.

Para santri junior tertawa mendengarnya. Ada yang tersenyum mengejek. Diantaranya pula ada yang hanya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan tingkah aneh Abdullah. Santri senior yang terkenal akan kebodohannya dalam masalah belajar.

Hal aneh yang tak habis pikir oleh santri Al-Mubarok adalah Surah Annas yang dihafal Abdullah. Hari ini hafal dengan lancar. Besoknya akan mentok di ayat Robbinas. Besok akan lancar lagi. Lalu keesokannya lagi akan kembali mentok. Begitu seterusnya setiap hari.

"Robbinnas mulai aneh." Celetuk Fiki, berbisik pada Rofiq di sampingnya.

"Hus. Nggak boleh gitu. Nanti Kiai Dhukah." Sanggahnya pelan. Dhukah bermakna marah.

Fiki nyengir lebar. Sedangkan Rofiq mengalihkan pandangan matanya pada Kiai Mukarrom. Beliau tampak tersenyum menanggapi kelemahan hafalan Abdullah.

"Tidak apa. Besok harus belajar lebih giat lagi." Selalu begitu jawaban yang beliau lontarkan kala hafalan Abdullah putus di ayat robbinnas.

♧♧♧♧

Kiai Muharrom adalah salah satu Kiai yang sangat sederhana dalam setiap saatnya. Beliau sangat ramah pada siapapun. Dhukah pada santri itupun bisa terhitung dengan jari.

Beliau memiliki satu orang putri yang sangat cantik. Kecantikannya mempesona setiap pasang mata yang memandangnya. Senyum manis dari bibir ranumnya mampu membius. Mata lentiknya mampu menundukkan. Tutur katanya yang lembut mampu meruntuhkan pertahanan setiap lelaki.

Kiai Mukarrom sangat menyayangi putrinya. Beliau menjaga kehormatan putrinya dengan sangat hati-hati. Beliau sangat selektif dalam memilih calon suami teruntuk putri tercintanya.

Banyak dari kalangan Lora dan Gus yang datang melamar sang putri, tapi tak satupun dari mereka yang berhasil memikat hati beliau.

Hingga pada suatu hari beliau mengumpulkan seluruh santri putra. Tidak terkecuali. Semua ikut hadir dalam pertemuan beliau di aula pesantren. Semua santri saling berbisik. Ada apa gerangan beliau mengumpulkan santri di aula. Tidak biasanya itu terjadi.

"Assalamualaikum anak-anakku sekalian."

"Waalaikumsalam warahmatullahi Wa barokatuh." Jawab seluruh santri lantang.

"Saya ingin mengadakan sayembara. Siapa yang bisa menyentuh putriku tanpa membuatnya batal wudhu maka akan saya jadikan dia menantu saya." Jelas sang Kiai menjawab kebingungan semua santri.

Santru senior bersorak senang. Bagi mereka, ini adalah kesempatan emas. Siapa yang tidak mau menjadi menantu Kiai? Menikahi putri beliau yang sangat terkenal akan kecantikannya. Tidak hanya santri biasa. Bahkan para Lora yang juga nyantri disana sama girangnya.

"Ingat! Anggap putri saya sedang dalam keadaan punya wudhu. Kalian harus menyentuh bagian tubuh yang tidak termasuk dalam kategori batalnya wudhu." Kembali beliau menjelaskan kala sang putri sudah berdiri di samping beliau. Ditemani Sang Ummi.

"Kalian faham?" Tanya beliau sebelum membuka sayembara.

Seluruh santri senior berdiri. Berjejer rapi membentuk barisan ular. Memanjang kebelakang.

"Batal." Seru beliau kala santri pertama menyentuh putrinya di telapak tangan.

Majulah santri kedua. Tanpa pikir panjang dia menyentuh bagian pipi.

"Batal." Santri kedua mundur. Dengan perasaan kecewa seperti halnya santri pertama.

Sayembara terus berlanjut hingga barisan paling belakang hampir selesai. Tak satupun dari mereka yang berhasil memenuhi syarat. Semua menyentuh di area yang membatalkan wudhu.

Ada yang menyentuh pipi, mata, dahi, dagu, bibir, dan tangan. Sebagian lagi bagian kaki dan lengan sang Putri.

Hingga santri barisan terakhir selesai pun tak satupun dari mereka berhasil.

"Apa masih ada santri senior yang belum menyentuh putri saya?" Tanya beliau.

Semua santri saling pandang. Menerka-nerka siapa kiranya yang masih tersisa.

"Tidak ada Kiai."

Beberapa saat hening. Mereka masih berfikir bagian mana kiranya yang tidak termasuk batalnya wudhu. Mereka santri senior. Sudah sepastinya mereka memahami bagian apa saja yang seharusnya tidak termasuk anggota batalnya wudhu ketika disentuh lawan jenis.

"Mohon maaf Kiai. Ada satu santri yang belum menyentuh Neng Faya." Seorang santri junior maju mengahadap dengan sikap takdimnya.

"Siapa, Fiq?" Tanya beliau.

Rofiq, santri junior yang setiap maghrib rajin kajian menyebutkan satu nama.

"Robbinnas, Kiai." Jawabnya sopan. Detik berikutnya dia membenahi ucapannya. "Maksud saya Kak Abdullah, Kiai." Jawabnya membuat seluruh santri senior terbahak.

Fikir mereka, santri cerdas seperti mereka saja tidak lolos sayembara, apalagi santri model robbinnas yang hafalannya maju mundur seperti ayunan bocah.

"Diam!" Ucapan Kiai Mukarrom mampu membungkam lisan para santri.

"Panggil dia kemari." Titah Kiai pada Rofiq.

Setelah pamit, Rofiq mundur tiga langkah dari hadapan Kiai lalu segera berlari menuju kandang itik. Dimana Abdullah baru saja menggiring mereka kembali ke kandang. Wajahnya tampan tampak lelah setelah seharian menunggui ratusan itik Kiai di ladang. Membiarkan hewan-hewan berisik itu mencari makanan.

"Assalamualaikum Kak Ab." Ucapan salam Rofiq menghentikan Abdullah yang sedang menuangkan air pada wadah minum itik di bagian selatan.

"Waalaikumsalam. Ada apa, Deg?" Tanyanya menghampiri Rofiq yang sedang mengatur nafas.

"Pean dipanggil Kiai ke Aula."

Hanya karena mendapat titah tersebut, Abdullah segera berlalu. Berlari secepat yang dia bisa untuk segera menemui sang Guru. Apapun tujuan panggilan beliau, Sebisa mungkin dia selalu tepat waktu. Itu yang selalu dipegang teguh Abdullah.

"Assalamualaikum, Kiai. Mator Ka'dintoh, Kiai." Salamnya berdiri takdim di depan kiai. Tak jauh dari keberadaan Neng Faya. Sang putri.

"Apa kamu sudah tau maksud saya memanggilmu?" Tanya beliau ramah.

"Mator ka'dintoh. Abdhinah korang oning ka'dintoh. (Saya kurang faham)." Bahasanya yang sopan selalu mampu menbuat Kiai senang.

"Kamu sentuh putri saya. Dengan syarat tidak boleh membatalkan wudhunya."

Abdullah mengangguk patuh. Seluruh santri memperhatikan setiap gerak gerik Abdullah yang berangsek maju. Berdiri takdim di depan Neng Faya. Putri kesayangan sang Kiai yang sangat beliau jaga  kehormatannya.

"Menurutmu, apa dia bakal berhasil?" Sikut Kiki melihat Aril tersenyum sinis. Meremehkan.

"Palingan belom nyentuh aja udah gagal duluan."

Mereka tertawa pelan. Tak ingin mengundang keributan. Tidak hanya mereka berdua. Tapi semua santri senior yang lain pun sepemikiran dengan mereka.

"Mohon maaf Neng. Saya mohon izin untuk menyentuh Pean." Ucapnya sopan membuat Neng Faya tersenyum.

"Silakan." Jawabnya lembut.

"Bisakah Pean tersenyum lebar?" Pertanyaan Abdullah membuat Neng Faya mengangkat alis sebelah. Menurutnya pertanyaan Abdullah aneh.

Tapi, detik berikutnya Neng Faya melakukan apa yang Abdullah minta. Tepat saat senyum lebar itu tersungging, Abdullah menyentuh deretan gigi putih Neng Faya.

Hal itu membuat Kiai Mukarrom berseru.

"Kholas. Kamu berhasil memenangkan sayembara ini, Abdullah."

Semua orang tercengang. Mereka tak habis pikir. Bagaimana mungkin santri bodoh bergelar robbinnas bisa memenangkan sayembara? Ini gila. Fikir mereka.

"Salah satu bagian tubuh yang tidak batal kala disentuh lawan jenis adalah gigi. Maka dari itu, Abdullah saya terima sebagai menantu saya. Dia benar-benar santri sejati. Santri yang faham dengan ilmu fiqih." Tampak Kiai wajah Kiai Muharrom berseri. Beliau sangat bahagia mendapatkan menantu yang sesuai kriteria yang diimpikan beliau.

"Diantaranya lagi adalah kuku dan semua bulu yang ada di tubuh. Baik itu rambut, bulu mata, bulu hidung maupun bulu-bulu yqng melekat di kulit (dari tangan sampai kaki). Masa kalian yang sudah pintar, kelasnya tinggi tidak tau bagian ini? Memangnya kalian ngaji fiqih bab apa? Bab nikah saja yang di urus?" Penjelasan beliau mampu membungkam seluruh harga diri santri senior.

Banar, mereka memang terlalu sibuk mendapatkan kesenengan duniawi, tanpa perlu bersusah payah. Menyepelekan orang lain. Bahkan mengejek dan mengolok-olok setiap saat. Merasa bahwa dirinya lebih pintar. Karena sifat sombong itulah, mereka hanya mampu meneguk ludah saat sang robbinnas melampui kemampuan mereka semua.

Qudrotullah. Abdullah yang terkenal karena kebodohannya bisa memenangkan sayembara. Semua itu tidak semata-mata kerena dia ingin menikahi Neng Faya. Gadis cantik yang diidam-idamkan semua kaum lelaki. Semua yang dia lakukan hanya karena sebuah pengabdian pada perintah guru.

♧♧♧♧

Hari ini Abdullah dan Neng Faya menikah. Tangan penuh kesederhanaan milik Abdullah di akad langsung oleh Kiai Mukarrom. Dengan lancar, Abdullah mengucap lafadz akad. Tanpa salah tanpa jeda. Dalam satu tarikan nafas Abdullah berhasil menjadi menantu idaman Kiai.

"Awas ya. Nggak boleh sedikitpun robbinnas menyentuhmu. Dia tidak boleh mendapatkan hak-nya. Ummi tidak ridho putri kesayangan Ummi disentuh santri bodoh itu." Seru Nyai Kamilah mewanti-wanti putrinya untuk menjaga kontak dengan Abdullah, yang kini berstatus suaminya.

Nyai Kamilah tidak pernah setuju putri cantiknya menikah dengan santri yang terkenal kebodohannya. Walau beliau tau, dibalik semua itu Abdullah memiliki paras tanmpan, berkulit kuning langast walau setiap hari terpapar matahari, anak yang sopan, pengabdiannya pada guru patut diacungi jempol. Hanya saja beliau terlalu khawatir pada masa depan putrinya.

Jika surah pendek saja dia tidak hafal, bagaimana mau menjadi imam untuk putrinya?

"Abdullah." Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu kanannya.

"Enggeh, Kiai." Jawabnya sopan.

"Kok Kiai. Panggil Abah."

"Tidak, Kiai. Saya takut cangkolang." Jawabnya masih menunduk takdim.

"Loh kan sekarang saya Abah mertuamu. Sudah sepantasnya kamu memanggilku begitu."

Sebelum Abdullah menyanggah, Kiai Mukarrom sudah merangkulnya.

"Kenapa masih disini. Sana temui istrimu. Dia sudah menunggumu di kamarnya." Ucapan Beliau sukses membuat Abdullah gugup.

"Sana."

"Enggeh, Kiai."

"Abah." Koreksi Beliau.

"Ba.. Baik, Bah."

Abdullah mohon diri. Melangkah dengan canggung. Saat tiba di depan kamar, dia mengetuk pintu.

"Assalamualaikum, Neng."

Tak ada jawaban. Abdullah diam. Dia bingung harus melakukan apa. Beberapa menit berlalu masih tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.

Dia mengulangi lagi salammya sambil mengetok pelan daun pintu.

Beberapa saat, akhirnya pintu terbuka. Abdullah menundukkan pandangan kala tak sengaja matanya bersirobok dengan mata lentik Neng Faya, istrinya.

Neng Faya berlalu dari hadapan Abdullah setelah pintu terbuka. Gadis cantik itu duduk di pinggiran ranjang. Masih lengkap dengan pernah-pernih gaun pengantin.

"Masuk. Kenapa masih berdiri disitu?" Suara lembutnya terdengar sedikit kesal melihat Abdullah mematung di ujung pintu.

"Enggeh." Jawabnya sopan.

Dia tau diri. Tingkah polosnya membuat Neng Faya gemas. Bagaimana mungkin pemuda tampan yang telah menikahinya itu hanya diam saja. Ketika disuruh baru beranjak. Ketika didiamkan, maka akan diam pula.

"Aku tidak mau tidur denganmu. Kamu tidur di kandang itik saja bisa, kan?" Ucapan Neng Faya terdengar terpaksa. Ada sesal dalam dirinya ketika kata itu terucap.

Dia takut Abdullah akan marah mendengar perkataan lancangnya sebagai seorang istri. Ini malam pertama mereka menikah. Bahkan seharusnya gadis itu mencium tangan suaminya sebagai bentuk penghormatannya sebagai istri. Tapi, jangankan mencium, jarak mereka saja terlalu jauh.

"Enggeh, Neng. Saya permisi dulu. Assalamualaikum." Jawaban itu membuat Neng Faya terenyuh.

Bagaimana mungkin pemuda itu masih terlihat polos saat dirinya sudah mennjadi suami? Harusnya dia protes. Marah atau apapun yang membuat harga dirinya sebagai suami tetap terjaga.

Abdullah berlalu begitu saja. Tubuhnya menghilang dibalik pintu yang terhubung dengan kandang itik di belakang kamar Neng Faya. Disana, ada sebuah Lincak besar. Cukup untuk dijadikan alas tidur malam ini.

Dengan berbekal sarung hijau yang dipakainya saat akad tadi, Abdullah merebahkan tubuhnya pada Lincak. Sarungnya ia jadikan selimut. Sedangkan tangannya ia jadikan bantal.

Abdullah selalu menerima apapun yang Allah tetapkan padanya. Dia tidak pernah protes. Karena dia yakin apapun itu, Allah sudah memberinya yang terbaik. Dia bersyukur masih diberi kesempatan bisa menimba ilmu di pesantren. Selain itu, dia juga sangat bersyukur diberi kepercayaan mengembalakan itik sang Kiai. Baginya, itu sudah anugrah luar biasa yang dia dapatkan.

♧♧♧♧♧

"Maafkan Faya, Mas. Bukan Faya tak ingin mengabdi padamu. Hanya saja Faya bingung. Faya belum bisa. Ummi melarang Faya melakukan tugasku sebagai seorang istri."

Gadis itu menangis sesegukan di pinggiran ranjang. Wajahnya yang ayu sudah basah oleh air mata. Dia merasa sangat bersalah memperlakukan suaminya dengan sangat tidak adil. Ini malam pertama mereka menikah. Tapi apapun keputusannya, Abdullah tak pernah membantah. Dia selalu menjadi santri penurut.

Dia sadar, Abahnya tak memilih sembarang orang untuk dijadikan suaminya. Karena dibalik semua itu, Neng Faya mulai memahami banyak hal tentang suaminya itu. Lelaki tampan yang terlalu polos. Yang menerima semua hal tanpa mengeluh sedikitpun.

Hanya saja dia terikat pada janjinya pada sang Ummi. Bahkan, Ummi nya lah yang menyuruh dirinya untuk menyuruh Abdullah tidur dikandang itik.

"Maafkan Faya, Mas. Sungguh maafkan Faya." Tangisnya terhenti kala dia mulai terlelap. Jatuh tertidur dengan menenggelamkan kepalanya diantara lututnya.

"Assolatu wassalamu Alaik." Sebuah panggilan tahajjud menggema di langit-langit pesantren.

Abdullah terjaga. Lalu bergegas kembali ke kamar Neng Faya. Dia harus sudah berada di masjid lima belas menit sebelum subuh bertandang.

Saat masuk, matanya tak sengaja menatap wajah istrinya yang menyender pada pinggiran kasur. Segera dia mengangkat tubuh istrinya. Menidurkannya kembali di kasur yang lembut. Setelah menyelimutinya Abdullah bergegas keluar.
Dia harus segera menunaikan solat tahajjud di masjid pesantren.

Kejadian serupa terjadi hingga malam-malam selanjutnya. Tanpa perlu di komando, ketika sudah waktunya masuk kamar, Abdullah langsung bergegas ke pintu belakang. Menuju kandang itik. Tidur disana hingga waktu tahajjud tiba.

Perasaan bersalah semakin bersarang di dalam hati Neng Faya. Ingin rasanya dia mencegah suaminya itu tidur di kandang itik. Namun, ketakutannya pada kata-kata Ummi nya membuatnya tak berdaya.

"Ummi sungguh tak ridho, Nak. Kalo sampai santri bodoh itu menyentuhmu sedikitpun." Ucapan itu selalu terngiang dalam benaknya ketika ia hanya berdua saja dengan Abdullah, Suaminya.

"Ya Allah. Hamba mohon tunjukkan kasih sayangMu Ya Robb. Jangan biarkan hamba mendholimi suami hamba sendiri. Hamba mencintainya sejak pertama dia memintaku tersenyum. Namun, hamba juga tak ingin mendapat murka Ummi hamba." Isak tangisnya semakin kuat kala menutup mata. Banyangan wajah teduh suaminya begitu jelas.

"Jangan menangis. Saya ikhlas menerima semua ini. Apapun yang terjadi, Saya meridhoi Pean sebagai istri saya. Jangan pernah berfikir Pean mendholimi saya."

Neng Faya mendongak. Di sampingnya, Abdullah tengah berlutut. Wajah tampannya semakin berlipat kala senyuman tulus tercipta disana. Mata teduhnya mampu menghapus seluruh kesedihan hati sang istri.

"Maafkan Faya, Mas. Sungguh maafkan Faya."

"Pean tidak bersalah Neng. Semua ini sudah rancangan dari Allah. Dan saya menerima apapun takdir saya." Jawaban itu kembali membuat tangis Neng Faya meluruh.

"Tolong jangan menangis. Saya tidak sanggup melihat wajah cantik pean basah oleh air mata. Tersenyumlah. Allah menyukai orang yang tersenyum."

Abdullah menghapus air mata yang masih mengalir deras. Untuk pertama kalinya mereka bersentuhan fisik. Saat tangan Abdullah akan menjauh, Neng Faya menariknya kembali. Menempelkan tangan pemuda itu di pipinya.

"Tetaplah disisiku. Apapun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku, ya Mas. Aku mencintaimu. Walau mungkin belum bisa menjadi istri yang sempurna."

Senyum Abdullah kembali terkembang. Dielusnya lembut pipi halus istrinya itu.

"Insya Allah."

"Mas..." Panggil Neng Faya sesaat ketika hening tercipta diantara keduanya.

"Ya, Neng?"

"Jangan panggil Neng."

"Harus saya panggil apa?" Tanyanya bingung.

"Terserah. Aku istrimu, bukan lagi putri gurumu."

"Tapi...."

Bibir Neng Faya mencebik. Suaminya itu memang terlalu menjaga ketakdziman. Dan hal itu membuatnya kesal.

"Baiklah. Saya panggil Cantik saja, enggeh."

"Kok Cantik? Kenapa nggak sayang atau apa gitu?"

Abdullah tampak berfikir.

"Karena kecantikan sejatimu yang membuat saya mengagumimu."

"Bukan cinta?"

"Saya ingin mencintaimu bukan karena kecantikan fisik. Tapi semata-mata karena ketaqwaanmu pada Robby. Ketika cinta pada Robby sudah berlabuh, maka cinta pada pasangan akan menjadi pengiringnya."

Neng Faya tertegun. Ternyata suaminya itu bisa romantis juga.

"Begitukah? Belajar dari mana?" Tanyanya meledek.

"Dari sini."

Abdullah meraih tangan kanan Neng Faya lalu meletakkanya di dadanya. Menunjuk hatinya.

Seketika wajah Neng Faya merona. Merasakan detak jantung berirama suaminya menjalar ditangannya yang masih menempel.

"Mas, boleh Faya mencium tangan Pean. Bukannya malam itu tidak sempat melakukannya?" Tanyanya menunduk. Rasa bersalah itu kembali menyergap.

"Baiklah."

Tangan kanan Abdullah terangkat. Segera Neng Faya menyambutnya. Di ciumnya tangan itu dengan segenap perasaannya. Beribu doa terpanjat kala bibirnya menyentuh punggung tangan suaminya. Sama halnya Abdullah. Dia mungkin belum bisa baca dan menulis. Namun semua pelajaran tentang suami istri sudah lama ia fahami.

"Uhibbuki Fillah, Ya Zaujati. Semoga Allah menjadikan kita pasangan yang diridhoi Allah."

"Amin."

Sebuah kecupan lembut mendarat dikening Neng Faya. Rasa hangat itu menjalar ke seluruh aliran darahnya. Menikmati betapa tulusnya cinta yang tercipta antara dirinya dan suaminya.

♧♧♧♧

Kullu nafsin dzaiqotul maut.

Semua makhluk yang hidup di muka bumi ini pasti akan merasakan mati. Semuanya. Tanpa sisa. Semua orang hanya menunggu giliran dirinya tiba.

"Abah..." Lirih, Neng Faya mendekati tubuh Kiai Mukarrom yang sudah terbujur kaku. Wajah teduhnya tampak damai. Di bibirnya yang pucat tersungging senyum.

"Kenapa Abah pergi secepat ini? Bahkan Faya belum sempat mengabdikan hidup Faya buat Abah."

Untuk terakhir kalinya, tubuh yang sudah dingin itu dipeluk Neng Faya. Baginya, Kiai Muharrom adalah cinta pertamanya. Surga kedua setelah sang Ummi. Dari beliau, Gadis cantik itu belajar banyak hal. Dari beliau pula, Dirinya merasakan betapa cinta Rosulullah begitu nyata teruntuk putrinya, Sayyidah Fatimah Azzahra.

"Menangis boleh saja. Tapi ingat, Allah tidak suka orang yang meratap. Tabahkan hatimu, Dek. Allah lebih menyayangi Abah. Sekarang kita doakan Abah saja, Yah."

Pesantren berduka. Seluruh santri kehilangan sang pengasuh. Duniapun tampak ikut bersedih. Mendung menyelimuti pesantren. Seakan mengatakan bahwa salah satu hamba taqwallah itu sudah di jemput kematian.

Raganya mungkin telah pergi. Tapi ilmu yang telah beliau ajarkan akan tetap abadi dalam hati dan kehidupan seluruh santri.

Tepat selepas solat berjemaah Jum'at usai, Kiai Mukarrom menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan kesedihan mendalam bagi seluruh santri. Beliau meninggal dalam pangkuan Abdullah. Diiringi senyuman bahagia.

Tasbih kaoka berwarna coklat terang beliau lingkarkan di tangan kanan Abdullah.

"Abah titip pesantren ini padamu. Abah yakin, kamu bisa menjaga amanah Abah."

"Insya Allah, Bah."

Abdullah tidak begitu faham apa yang dimaksud Abah mertuanya. Yang dia tau, mematuhi perintah sang guru adalah kewajiabnnya sebagai seorang santri. Meski dirinya kini berstatus menantu beliau.

Seluruh santri yang menyaksikan saling pandang. Mereka tak yakin Abdullah akan mampu memimpin pesantren. Mengingat kebodohan yang melekat dalam dirinya.

Sore, selepas Ashar jasad suci itu sudah di kebumikan. Pesantren banjir manusia. Semua orang ikut mengantar jasad belia ke peristirahan terakhir.

"Allahummaghfirlahu Warhamhu Wa'fuanhu. Ampunilah semua dosa-dosa Abah hamba, Ya Robb. Beliau orang yang baik. Maka, tempatkanlah beliau di riyadul jinan Engkau, Robby. Amin." Lirih, Neng Faya mengumandangkan doa. Dipangkuan Umminya yang juga tak kalah rapuh melihat jasad suami yang sangat dicintainya telah tertimbun tanah merah.

Terlihat, Abdullah menaburkan bunga-bunga diatas gundukan tanah basah mertuanya. Air matanya tak berhenti mengalir. Sejak kepala sang mertua terkulai lemas saat naza'.

"Bibarokati Rosulillah Sollallahu alaihi wasallam, tempatkanlah beliau bersama sang Baginda Muhammad. Rangkullah beliau dengan rahmat dan ridhoMu Ya Allah. Sungguh, hamba bersaksi bahwa beliau termasuk hambaMu yang bertaqwa."

Selepas pemakaman berakhir, Neng Faya dan Umminya merangsek maju. Membawa rangkaian bunga yang masih segar. Mereka menaburkan bunga-bunga tersebut diatas gundukan tanah merah yang telah menyembunyikan jasad lelaki tua yang sangat mereka sayangi.

♧♧♧♧

"Kalau Robbinnas jadi pengganti kiai, aku mau boyong dari pondok." Seru Aril ketika beberapa santri senior nongkrong di pos ronda.

Seminggu berlalu sejak Kiai Mukarrom wafat, acara tahlilan tidak pernah sepi dari jemaah. Banyak yang hadir dari luar kota. Ada yang dari kalangan kiai, ada pula yang alumni dan simpatisan.

Seminggu berlalu pula, perbincangan para santri masih seputar wasiat Kiai Muharrom pada Abdullah. Bagaimana mungkin menantu kiai yang bodoh itu bisa memimpin pesantren? Jangankan membaca kitab, membaca surah Annas saja tidak hafal.

"Aku juga. Malahan mulai nanti malam aku bakal packing semua barangku. Tinggal siap sowan ke Nyai Kamilah." Sahut Fiqran.

"Sama. Aku juga." Santri-santri yang lain ikut menanggapi. Setuju dengan ucapan Aril.

"Eh, tapi tunggu dulu. Sepertinya kita harus mengetesnya dulu. Bagaimana kalo nanti malam kita intip dia ketika mengajar anak-anak ngaji Kitab Safinatun Najah." Usul Fauroq.

Mereka menyutujui usul Fauroq. Mereka bersiap mengumpulkan para santri junior yang mengikuti kajian kitab Safinatun Najah selepas berjemaah Isha.

"Kalian mengaji seperti biasa. Sebagaimana Kiai memulai kajian. Jangan protes. Kalian ikuti saja apa tadi kakak katakan. Mengerti?"

Mereka mengangguk cepat. Sebagai junior, mereka juga penasaran.

Ditempat lain diwaktu yang sama. Tampak Nyai Kamilah mondar-mandir di dalam kamarnya. Beliau khawatir bagaimana kepemimpinan pesantren akan terkedali dibawah tanggung jawab Abdullah, menantunya yang terkenal bodoh. Dia tidak mau pesantren suaminya yang sudah dirintis puluhan tahun harus hancur dibawah kendali menantunya.

"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Jangan biarkan pesantren ini hancur. Ridhoilah  pesantren ini tetap berdiri tegak dibawah naungan rahmatMu." Rapalan doa tak henti beliau panjatkan.

Beberapa menit lagi, pemuda tampan bergelar menantunya itu akan naik ke musollah. Mengajar kitab Safinatin Najah. Menggantikan Abah mertuanya.

Beliau benar-benar khawatir. Bayang-bayang ketakutan itu begitu nyata dihadapannya. Abdullah sama sekali tidak pernah menyentuh kitab apapun. Selama nyantri dia hanya menjadi pengembala itik. Kalaupun belajar, itu sebatas menghafal surah Annas.

"Saya pergi dulu. Jangan bersedih lagi. Abah selalu bersamamu. Walau mungkin tak tampak nyata dalam penglihatanmu." Abdullah mengusap lembut punggung istrinya yang menatap foto sang Abah. Air matanya kembali mengalir. Mengingat semua kenangan bahagia yang tertoreh diantara mereka.

"Kesedihanmu adalah kesedihan Mas juga. Kebahagiaanmu adalah anugerah terbesar yang Mas dapatkan. Jangan biarkan dirimu larut dalam kesedihan. Disana, Abah hanya menunggu doa-doamu mengalir. Membentuk cahaya yang akan menerangi rumah sementara Abah. Bangkitlah, Jangan biarkan air mata Abah yang mengalir."

Terharu akan kata-kata suaminya, Neng Faya menghambur kepelukan hangat sang suami. Dia begitu bersyukur Allah menjadikannya bagian dari kehidupan suaminya. Walau semua orang mengatakan bahwa suaminya bodoh, dia sadar bahwa semua itu salah. Mereka hanya tidak mengetahui fakta besar, bahwa suaminya orang yang sangat alim. Hanya saja suaminya itu terlampau rendah hati. Sama halnya seperti sang Abah.

"Terima kasih sudah menjadi suami yang hebat. Faya sangat mencintai Mas. Demi Allah, Faya ingin cinta kita sepenuhnya untuk Allah. Bimbing Faya menjadi istri solihah, Mas."

"Insya Allah. Kita sama-sama berusaha, ya."

Neng Faya mengangguk. Lalu beranjak menuju meja belajar. Mengambil satu kitab matan berwarna merah. Di sampulnya tertera Safinatun Najah,  dengan tulisan arab.

"Ini kitabnya. Semoga Allah meridhoi langkah Mas mengajar santri Abah."

"Amin. Demi pengabdian Mas pada Allah, Mas akan berusaha sebisa mungkin menjadi yang lebih baik. Semoga ridho Abah menyertai setiap barisan langkah Mas."

"Amin."

Sekali lagi Neng Faya merasakan pelukan hangat suaminya. Bonus kecupan lembut di puncak kepala.

Abdullah bergegas ke Musollah setelah lebih dulu ke kamar mandi. Menyucikan diri dengan berwhudu. Selain memuliakan guru, dia juga sangat memuliakan kitab, perangkum ilmu.

Baginya, sepintar apapun otak seseorang, jika ilmunya tidak dihormati maka ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri.

Tiba di Musollah, Abdullah mengucap salam. Dengan tenang dia duduk di hadapan para santri junior. Abdullah membuka kutab Safina setelah bertanya sampai halaman berapa pembelajaran yang kiai terangkan.

"Fasal anggota sujud, Ra." Seru Rafiq.

"Baiklah. Mari kita berdoa dulu sebelum memulai kajian."

Abdullah memimpin doa. Sesmua santri junior terkesiap. Bagaimana mungkin tata cara bicara dan sikap Sang Robbinnas sama persis dengan wibawa Kiai Mukarrom. Tutur bahasanya yang lembut mampu menentramkan jiwa-jiwa yang was was sejak beberapa hari belakangan.

Tidak hanya mereka, namun Nyai Kamilah, Neng Faya dan seluruh santri senior yang tengah mengintip tak jauh dari musollah pun tertegun.

Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Abdullah tidak pernah belajar kitab. Tidak pernah pula terlihat membawa kitab. Kesehariannya hanya sibuk dengan kawanan itik Kiai.

Setitik air mata jatuh di pipi tua Nyai Kamilah. Kerinduannya pada sang suami seakan terobati ketika mendengar suara lembut dan penuh wibawa milik menantunya. Neng Faya tersenyum. Dia sudah menduga bahwa Abahnya pasti mewariskan Karomah yang beliau miliki pada suaminya, Abdullah.

"Dia mirip sekali dengan Abahmu, Nak. Rindu Ummi seakan terobati ketika mendengar suaranya mengajar."

Nyai Kamilah terisak dalam pelukan Neng Faya. Tidak menyangka, bahwa menantu yang sempat dibencinya itu benar-benar mewarisi kewibawaan suaminya. Ini semua tak lepas dari qudrotullah. Apa yang terjadi tak semata-mata kehendak Abdullah. Namun, semua kembali pada kuasa Allah.

Tak terasa satu jam telah berlalu. Mereka larut dalam penjelasan Abdullah menerangkan anggota sujud. Lalu dilanjut dengan keteragan satu persatu anggotanya. Secara rinci, secara simpel. Bahasa yang mudah difahami anak-anak.

"Robbi faj'al mujtama'na. Ghoyatuh Husnul Khitami. Wa tinama qod saalna. Min atoyakal jisami." Abdullah mengakhiri dengan doa akhirul majelis.

Ketika turun dari musollah, dia begitu terkejut mendapati Ummi mertuanya menghambur kepelukannya. Dengan tangisan hebat yang membuatnya kebingungan.

Matanya melirik istrinya yang hanya tersenyum.

"Maafkan Ummi yang sempat mendholimi kamu. Sungguh Ummi begitu jahat padamu, Nak. Ummi tidak menyangka kalau kamu bisa menjadi pemimpin yang baik. Kamu benar-benar mewarisi karomah Abah."

"Tidak, Ummi. Ummi tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Semua ini terjadi atas kehendak Allah."

"Kamu memang pemuda yang baik, Nak. Pantas saja Abah begitu yakin mempercayakan pesantren ini padamu. Terima kasih sudah memperjuangkan peninggalan Abah. Semoga Allah meridhoi setiap langkahmu."

"Amin." Serempak Abdullah dan Neng Faya mengamini.

Sejak saat itu, seluruh santri senior merapikan kembali barang-barang mereka. Hati dan fikiran mereka mantap untuk menetap di pesantren. Mereka merasa malu, orang yang selama ini mereka rendahkan ternyata memiliki keistimewaan jauh diatas keilmuan mereka.

Kini mereka sadar, apa yang tampak di depan mata tidak berarti sama dengan yang tampak secara batiniyah. Apalagi penglihatan mereka disertai rasa iri dan hasud. Tentu saja semuanya menjadi tampak begitu buruk dalam benak mereka. Apa yang terjadi, menjadi tamparan keras bagi hati mereka.

Abdullah, pemuda tampan yang mereka kenal sebagai orang terbodoh di pesantren, yang setiap harinya sibuk mengurus itik, yang setiap maghrib tak mampu menuntaskan hafalan Annas ternyata mampu membina pesantren besar yang mereka tempati.

Keilmuan yang selama ini tersirat tampak jelas terukir dalam kesehariannya yang sederhana. Pembawaannya yang kalem mampu meredam keegoisan dan kesombongan yang selama ini mengganggu hati dan perasaan para santri Abah mertuanya itu.

Jangan sekali-kali menilai seseorang hanya dengan mata sebelah, karena kita tidak pernah tau hubungannya dengan Rabb-Nya sudah seberapa jauh. Ketika seseorang sudah menyatu dengan rahmat-Nya, niscaya apapun yang dia  butuhkan akan Allah kabulkan.

Kun!

Fayakun!


♡♡☆☆☆◇☆☆☆♡♡
☆☆☆◇◇☆☆☆




Ini kisah nyata yang terangkum dari pesantren. Bersumber dari sang Pengasuh. Kisah ini seringkali diceritakan ulang pada beberapa kesempatan saat Sang Pengasuh memulai kajian kitab pada malam hari.

Nama dan tempat hanya karangan penulis. Sebab memang tidak diketahui persisnya siapa nama asli dan pesantrennya.

Semoga dari kisah ini kita bisa menuai banyak hikmah kehidupan.

Jangan sekali-kali menilai buruk seseorang, karena kita tidak pernah tau seberapa dekat hubungannya dengan Tuhan, Allah Subhanahu Wa Taala.



Sabtu:

٢٣  ربيع الاول  ١٤٤٠  هجرية

Penulis : Nurhayati Azkiya'

source: sunnah.co.id Tersebutlah, di sebuah Pesantren Salaf terdapat seorang santri bernama Abdullah. Dia adalah santri yang memilik...

source: ndri's 

Tidaklah ia sebuah jamaah yang hidup tanpa adanya perbedaan. Karena jamaah adalah kumpulan dari setiap individu yang berbeda, maka memiliki perbedaan dalam jamaah adalah tabiat dari jamaah itu sendiri. Jamaah akan hidup, bila setiap individu yang berpartisipasi di dalamnya aktif dalam menggagas upaya untuk menuju tujuan bersama jamaah, yang telah menjadi satu nafas yang menyatukan berbagai insan yang berbeda. Jamaah adalah perbedaan yang bernaung dalam satu persamaan yang mendasar.

Kendati hadirnya perbedaan adalah keniscayaan, ia tidak berarti bahwa perbedaan dapat senantiasa diamini dalam sebuah jamaah. Ada kalanya suatu perbedaan diamini sebagai sesuatu yang wajar oleh beberapa orang, ada pula perbedaan yang sama tersebut dirasa menyalahi persamaan mendasar yang telah menyatukan mereka, oleh beberapa orang yang lain. Dalam titik tersebut, dialog adalah kunci. Komunikasi, tabayyun, bebas praduga, adalah adab berjamaah mendasar untuk membangun jamaah yang kuat, yang saling mencintai, dan yang saling mempercayai antar individu. Dan untuk berkomunikasi, berklarifikasi, dan ber-husnudzon, diperlukan cinta dan kepercayaan, karena jamaah terbentuk atas kepercayaan terhadap satu persamaan mendasar, dan cinta antar individu. Cinta dan kepercayaan, adalah pondasi mendasar sebuah jamaah.

Saat kita berbicara dalam konteks jamaah dakwah, maka kita telah mendudukkan apa yang menjadi kepercayaan bersama, dan dengan siapa kita saling mencintai dalam jamaah tersebut. Islam, adalah apa yang kita amini sebagai prinsip mendasar, dan cinta antar muslimin-muslimat yang terealisasi dalam ukhuwah adalah yang mengokohkan jamaah dakwah ini. Dakwah ini senantiasa mengedepankan integritas akhlakul karimah dan tazkiyatun nafs para anggotanya, yang membuat kita semakin saling menjaga, saling mencintai, dan yakin, bahwa dakwah kita berangkat dari hati yang bersih, sehingga tidak ada ruang untuk curiga atas kepentingan pada siapa-siapa yang berkecimpung dalam gerakan dakwah ini.

Dalam mengucapkan Islam pun, bahkan para ulama banyak yang berbeda pendapat, dengan segala hujjah dan tendensinya. Maka dengan itu, tidaklah perlu menjadi persoalan besar dalam jamaah dakwah saat ada dua tendensi berpikir—liberal dan konservatif—dalam gerakan dakwah. Saat gerakan dakwah ini telah dibangun dengan mengedepankan keikhlasan dan totalitas dalam dakwah, maka tidakkah kita mencederai cinta di antara anggota dakwah, saat kita memusuhi tendensi yang dimiliki anggota dakwah lain dalam jamaah, di mana kita semua berangkat dari satu prinsip yang sama—Islam? Dan tidakkah ia manusiawi untuk memiliki tendensi masing-masing selayaknya manusia dengan kapabilitas berpikir yang terbatas? Dan bukankah karena kelemahan itulah kita berjamaah, untuk mencari titik temu bersama demi dakwah Islam? Bukankah kita semestinya menjadi umat yang pertengahan?

“Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian” Al-Baqarah : 143

Maka dengan memahami realitas tendensi tiap individu yang berbeda dalam sebuah jamaah yang kemudian membentuk sebuah keseimbangan—pertengahan antara dua poros pikiran—hendaknya perbedaan aspirasi tidak menjadikan kita redup dalam mencintai dakwah ini. Saat dakwah ini pertama hadir dengan konsep totalitas perjuangan syiar Islam dan akhlakul karimah, maka mereka yang meredup memiliki alasan mendasarnya sendiri yang yang memburam dengan konsep mula dakwah ini. Ada yang sedang futur, merasa unggul dari yang lain, merasa lebih pandai dari yang lain, merasa tak sanggup dengan totalitas kerja dakwah, merasa lebih nyaman dengan jamaah lain, atau yang memang merasa sudah tidak cocok saja.

Bila hadir di antara ikhwan-akhwat sekalian rasa futur itu dalam hati, maka izinkanlah saya mengatakan bahwa saya sama dengan antum. Saya takut akan konsekuensi moral dakwah yang besar tidak akan sanggup saya pikul, bilamana saya terjungkal di tengah-tengah perjuangan—naudzubillah. Saya tidak percaya diri bahwa saya mencukupi kapabilitas sebagai dai, saat saya gagap mengucapkan dalil dan tidak mengetahui apa-apa. Saya merasakan apa yang antum rasakan.

Dan karena itulah kita bahu-membahu. Karena itulah kita berjamaah. Beban ini akan ringan jika dipikul bersama. Dada kita akan lega jika cerita dan keresahan dibagi bersama. Sebagaimana jamaah ini kokoh karena cinta dan percaya, saya percaya, dan cinta, kepada antum. Maka ikhwan-akhwat, mari kembali berpegang teguh pada janji agung Allah akan kemenangan, dan perlahan mengusap kesedihan dan ketakutan itu dari pipi kita.

Bila hadir di antara kita yang merasa pikirannya tidak sesuai dengan sikap dakwah jamaah, maka percayalah bahwa jamaah tidak berangkat dari maksud yang kotor saat menentukan keputusan, sehingga tidak ada pengkhianatan moral yang perlu untuk kita cerca dan kecam. Betapa banyak gerakan politik dan sosial yang terpecah, saling tahdzir, dan menjadi kontraproduktif dalam perjuangan, hanya karena berselisih paham? Akankah kita tenggelam dalam lubang yang sama dengan mereka? Semoga tidak.

Sebagai sesama yang terkadang pikirannya tidak tercurahkan dalam sikap jamaah, maka memahami adalah upaya yang lebih baik untuk melihat perspektif yang lain. Menulis, berjejaring, berdiskusi dengan hikmah, adalah sarana yang mampu kita lakukan untuk mencoba memberikan perspektif yang berbeda kepada jamaah. Karena Islam adalah sempurna, dan manusia adalah letaknya kesalahan, maka berdewasa dengan perbedaan dalam berjamaah adalah kebaikan, dan bentuk ketawadhuan.
Bila ada yang menjadi kelemahan dalam dakwah ini, maka saya mengamininya, saya bersimpati, dan saya ingin mengajak antum agar kita mampu berhimpun dalam barisan, langkahkan suara hati nurani, agar dakwah yang didasari oleh totalitas dan keikhlasan mampu semakin membaik dengan aspirasi antum di dalamnya, sehingga hadirnya keadilan di negeri, dan cinta dalam ukhuwah.

Roda amanah akan terus bergulir, maka izinkanlah Allah memutarnya dengan hukum-Nya, sehingga suatu kelak roda tersebut mengangkut kita yang mencintai dakwah ini dan memiliki cita-cita besar peradaban untuk kebaikan. Tetaplah teguh, dan tetaplah mencintai dakwah ini, sebagaimana Rasulullah menangis untuk kita di akhir perjalanan dakwahnya.

Penulis : Shidqi Mukhtasor

source: ndri's  Tidaklah ia sebuah jamaah yang hidup tanpa adanya perbedaan. Karena jamaah adalah kumpulan dari setiap individu yan...