“When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman

Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus bertanya, masih jauh nggak? Sampai kapan? Udah sampai mana? Berapa lama lagi? Atau terjebak di kemacetan yang gak jelas dimana ujungnya dan kapan beresnya. Dan kamu nggak bisa mengubah keadaan. Tiap cek google maps, waktu perkiraan tiba terus berubah. Tapi kamu stuck, gabisa berbuat apa-apa.

Bukankah kali ini, situasi kita cukup mirip? Dipenuhi pertanyaan kapan usainya cobaan ini? Ada yang menyatakan tiga bulan, enam bulan, setahun? Dan kepala dipenuhi rencana-rencana yang tertunda. Ketidakpastian yang ada di depan mata.

Sadarkah kita bahwa justru itulah ujiannya : KETIDAKTAHUAN tentang KAPAN

Coba cek lagi, jangan-jangan yang bikin kita stress adalah RASA INGIN TAHU soal kapan ini semua berakhir, dan kapan pertolongan Allah swt. datang. Ingatkah kita, para nabi aja nggak dikasih bocoran. Nabi Ayyub nggak tau kapan bakal sembuh, Nabi Ya’qub nggak tau kapan akan kembali dipertemukan dengan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf nggak tau kapan keluar penjara, Nabi Yunus juga nggak tau kapan (atau akankah) keluar dari perut ikan. Allah swt tidak memberi tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kapan misi beliau akan selesai. 

Allah tidak menjanjikan berapa minggu ujian ini akan berlangsung, atau berapa bulan..tapi Allah berjanji akan memberi balasan terhadap setiap apa yang kita lakukan selama cobaan ini berlangsung. Tapi ya itu, ujiannya adalah kita ga tau sampai kapan.

Jadi daripada kita mikirin yang gak pasti, fokuslah pada saat ini. Lihat apa yang kita miliki sekarang dan syukuri. Keluarga, Kesehatan, rasa aman, yang belum tentu kita miliki beberapa minggu  ̸ bulan lagi. Tak ada yang janji bahwa kita gak bakal mati sebentar lagi, sebelum, atau setelah beres pandemi.

Sadari bahwa sabar itu bukan sekedar menunggu ujian ini berakhir, tapi tentang bagaimana cara kita menunggu.

Fokus pada saat ini. Banyak yang mesti kita lakukan. Banyak bekal yang mesti dikumpulkan. Berhenti terobsesi dengan segala probabilitas dan kemungkinan soal kapan. Tapi yakinlah bahwa akhirnya akan hadir ketenangan bagi orang yang beriman. Mungkin ketenangan di dunia dengan berakhirnya ujian ini, tapi yang pasti aka nada ketenangan di akhirat. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan momen ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat buat kita.

Jadi jangan sibuk bertanya : Kapan?. Apakah ini  akan sampai Ramadhan? Jangan menunda melakukan kebaikan hingga Ramadhan, lagipula, nggak ada yang menjajikan kita hidup untuk melihat Ramadhan.

Fokus untuk kembali pada Allah
S E K A R A N G.

Penulis : @loveshugah

“When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus bertanya, masih jauh nggak? Sa...

Source : Tribunnews.com



Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT berikan setiap hari nya dapat selalu kita syukuri dan nikmati.

#dirumahaja bagi saya yang suka di rumah itu jadi surga dunia. Ngomong-ngomong soal hari ke-7, walaupun suka dirumah, layaknya manusia biasa pasti ada rasa jenuh menghampiri. Saya memutuskan ngobrol sama kakak saya yang ada di Jakarta. Saya ceritakan perasaan jenuh saya, dari obrolan itu saya dapatkan banyak hal. Salah satu nasehat nya “Harta yang hilang dari seorang muslim sekarang ini adalah hikmah” dia menambahi “Setiap hari yang ada di kepalaku adalah mencari-cari hikmah dibalik ini semua, karna kalo ga gitu kita akan mudah menyalahi keadaan dan jadi ga bersyukur”

Hal itu coba saya praktekkan, sampai saya buat list apa aja hikmah yang saya dapat dari #dirumahaja. Salah satu nya mengistirahatkan kaki saya yang baru saja terkilir 2 minggu lalu. Satu pekan sebelum libur saya tidak masuk kelas karna itu, satu minggu berlalu saya sudah bisa berjalan tapi belum seperti normal. Setelah berkonsultasi ke banyak orang, katanya kaki ini bisa benar-benar pulih jika diistirahatkan 1 bulan.

Disitu yang dipikiran saya cuma gimana ke kelas dengan keadaan tiap hari harus jalan dari mahallah ke kelas yang jarak nya ditempuh dalam 20 menit. Qadarullah, sehari setelah itu diumumkan ada libur 2 minggu. Saya gak tau lagi gimana cara bersyukurnya sama Allah. Momentnya pas. Alhamdulillah.

Setelah memikirkan banyak hikmah lain-nya tiba-tiba kejenuhan saya jadi hilang. Beliau juga bilang ditelfon “al-wajibat aktsar minal awqat” yang artinya kewajiban atau tugas-tugas kita itu lebih banyak daripada waktu yang kita punya.

Justru moment #dirumahaja ini membuat kita berfikir, sebenarnya kita itu tidak sedang diberi waktu luang lebih, tapi kita sedang disadarkan betapa banyak tugas yang kita punya sampai waktu yang ada ga cukup untuk menyelesaikan itu semua.

Tugas yang paling kita lupa adalah mengingat mati atau mempersiapkan akhirat kita. Lagi scroll timeline di Instagram sampai ada yang buat poster isinya “Kemungkinan kita meninggal karena Corona satu persen, sedangkan kemungkinan kita meninggal setiap saat adalah seratus persen”

Dalam hadis dikatakan ''Aku datang menemui Nabi Muhammad SAW bersama 10 orang, lalu salah seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia wahai Rasulullah? Nabi menjawab, orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kehormatan.'' (HR Ibnu Majah)

“Dan, barang siapa menjadikan akhirat keinginan (utamanya), niscaya Allah kumpulkan baginya urusan hidupnya dan dijadikan kekayaan didalam hatinya dan didatangkan kepadanya dunia bagaimanapun keadaanya (dengan tunduk)”. (HR. Ibnu Majah).

Sampai diakhir telfon kaka saya nyeletuk “Kalau misal nya kita sekarang meninggal karna wabah Corona ya berarti kita diitung syahid, tapi kalo kita meninggal karna stress atau jenuh karena mikirin gatau mau ngapain, nah itu perlu jadi peringatan buat kita”

Seminimal mungkin yang bisa kita lakukan sekarang adalah membiasakan mulut kita untuk berzikir kepada Allah. Dan zikir yang paling bagus adalah “La Ilaha illaAllah”. Pernah dalam satu kajian seorang Ustadz berkata, “Ketika kita mati, otak kita sudah tidak berfungsi, jadi yang menggerakkan mulut kita untuk mengucap kalimat La ilaha illaAllah adalah karna mulut kita yang terbiasa mengucap itu”.

“Whenever you are alone, remember Allah has sent the whole world away, so that it’s only you and Him”. -Mufti Menk

Semoga moment #dirumahaja ini ada banyak hikmah yang bisa kita ambil.

Wallahu a’lam bisshowab

Penulis: Inas Syarifah

Source : Tribunnews.com Halo apakabar teman teman semua? Ga kerasa udah hari ke-7 kita #dirumahaja, semoga keberkahan yang Allah SWT ...




Tak banyak yang aku dapatkan dari berita akhir-akhir ini tentang virus corona, kecuali merasakan kelemahan yang sangat, tak berdaya serta terbatasnya manusia.

Bagi yang lain, mungkin hampir putus asa, atau cukup untuk membuat mereka panik lalu mengaktifkan otak reptil mereka, berusaha menyelamatkan diri sendiri.
Aku berusaha mememahami aksi belebihan dengan menguras stok pangan, obat-obatan, masker dan lainnya, adalah bentuk dari ingin selamatnya manusia dari wabah.
Sekali lagi, kesemuanya menunjukan betapa lemahnya manusia, bahkan tidak bisa berbuat apapun tehadap sesuatu yang sudah diketahui, tak bisa kendalikan apapun.
Sampailah aku pada suatu batas, ketika sudah berada di jenjang pencarian tentang virus corona, penyebarannya, dan cara untuk mencegahnya, yaitu : 'kita tidak bisa apa-apa'.
Di batas teknologi, di jenjang ilmu manusia, ternyata kita semua harus tunduk, bersujud, menengadah pada Sang Pencipta, yang mungkin kita abaikan disaat-saat biasanya.
Ataukah ini cara Allah swt, mendidik kerasnya kepala kita, tentang arti kelemahan, tentang arti kematian, dan arti kekuasaannya yang begitu luas?
Kita dijanjikan kenikmatan ketika kita mau memperjuangkan agama Allah swt, tapi kita abai. Ternyata kekuatan ketakutan lebih banyak menggerakkan kita untuk mendekat pada-Nya.
Satu hal yang membuatku sedikit lebih tenang. Memikirkan Allah swt. dan rasulnya, masih memiliki orang-orang yang aku cintai, dan berusaha beramal sholeh pada hari ini.

Ternyata, begitu mudahnya manusia mati, semudah Allah swt menciptakan kita, sama mudahnya ketika Allah swt bangkitkan kita kembali di hari ketentuan.
Di hari itu kelak kita akan kembali sadar, bila semua manusia sekarang diambang batas kekhawatirannya akan virus, di saat itu ada yang lebih mengerikan,
hari perhitungan amal.

Refrensi : Ust.Felix Siauw


Tak banyak yang aku dapatkan dari berita akhir-akhir ini tentang virus corona, kecuali merasakan kelemahan yang sangat, tak berda...


"Hai bapak penjual karpet" sapaku dari jendela flatku, dalam hati saja. Apa kau tak kedinginan dengan sehelai gamis dan syal yg melilit lehermu? Padahal udara nyaris membuat tubuhku menggigil, kau menunggu karpet2mu dibawa pulang lalu kau mengantongi uang untuk anak2mu yg menunggumu sejak tadi di rumah? Benar begitu? sini kubantu berteriak menawarkan daganganmu, karena sejak kemarin aku memperhatikanmu jarang sekali kau menawarkanya pada orang2 seperti halnya penjual di toko2 yg tak lelah meneriaki siapa saja yg melewati tokonya supaya mereka membeli apa yg si penjual tawarkan, ah aku paham seusiamu pak, harusnya kau duduk bersama anak cucumu dirumah, melihat mereka bermain,memijatmu,bercanda tawa dengan mereka.

Hai bapak penjual sandal, bagaimana daganganmu, sudah berkeliling kemana saja? Tapi kulihat sandal2mu masih menumpuk penuh diatas gerobak.

Ah aku lupa tak kusapa ibu yang menunggangi kuda, mengelilingi komplek mencari barang2 bekas,tapi aku ingin mengajukan mmm... entah cocok disebut sebuah pertanyaan atau sebuah pernyataan. Bu, hidup ini keras bukan?

Hai adek yg menawarkan sekotak tisu pada siapapun yg kau jumpai, kau marah jika yg kau paksa untuk membeli tisumu tak menghiraukanmu. Dik, siapa yg mengajarkanmu begitu?

Hai pak, yg setiap melintas depan rumahku kau menopang sebelah tubuhmu dengan tongkat dan menyeret-nyeret kakimu, lalu meminta2 berharap rasa kasihan dari orang2, padahal kemarin sore ditempat yang lain, kau berjalan gagah, kemana tongkat penopang itu?

Hai bapak pembawa tong sampah dan sapu, kau membersihkan teras2 toko yg nyatanya sudah bersih, lalu kau meminta upah pada si pemilik toko, jika mereka membayarmu dengan kepingan2 uang logam, kau pergi menyeret tong sampahmu dengan geram.

Ah siapa aku? Dapat hak dari mana sehingga aku bisa menghakimi mereka?bukankah aku si pengamat dari jendela rumah yg terbuka ketika malam saja?.

Penulis : Melinda Silviani

"Hai bapak penjual karpet" sapaku dari jendela flatku, dalam hati saja. Apa kau tak kedinginan dengan sehelai gamis dan syal yg...



Tanpa kamu harus bercerita panjang lebar pada manusia, Allah sudah mengerti bagaimana sulitnya kamu bersabar, tentang bagaimana gemuruhnya hatimu saat ini.

Menangislah sejenak, kepasrahanmu padaNya akan mendatangkan jalan keluar, ribuan usaha yang kamu lakukan tidak akan pernah membawa pada puncaknya jika ternyata kamu tidak melibatkan Allah dalam rencanamu.

Rancang dan tuangkanlah setiap rencanamu dalam secarik kertas, pada bait akhir, tulislah “Aku, usahaku, dan doaku harus seimbang, dan untuk hasilnya aku ikuti jalan dan kemauanmu ya Rabb”. Ia akan menenangkanmu, sebab kini kamu tidak bergantung pada hasil manusia, tapi pada hasilNya.

Setiap yang bergemuruh dalam dada terkadang akan membuatmu harus sedikit menangis, tidak mengapa. Biarkan ia tertuang dalam aliran airmatamu, hingga ia tenang, dan setelah itu kamu harus kembali menghapusnya dan mulai berjalan lagi. Tersenyum.

Karena setiap kita akan ada gemuruh dalam dadanya masing-masing, dan setiap kita punya tujuan yang harus dicapai. Semangat bertumbuh.

Jangan lupa doa.

@jndmmsyhd

Tanpa kamu harus bercerita panjang lebar pada manusia, Allah sudah mengerti bagaimana sulitnya kamu bersabar, tentang bagaimana gemuruhn...