Gambar : tomvansaghi.wordpress.com

Ini tentang bagaimana cara kita memandang hidup. Ada sebuah sajak mengatakan “ Hidup itu sederhana, yang hebat-hebat tafsirannya” kata Alm. Pramoedya Ananta Toer. Masalah yang datang pada kita sebenarnya ada karna kita sendiri yang menciptakannya. Maksudnya ketika masalah itu datang, sebenarnya kita sendiri yang mengasumsikan kalau itu adalah “Masalah”. Rasa sedih dan gundah gulana tidak akan pernah hadir kalau bukan kita sendiri yang mempersilahkan mereka hadir. Ibaratnya rasa sedih ialah air laut dan kapal yang berlayar adalah badan kita sendiri. Bukan air laut yang menenggelamkan kapal, melainkan jika air laut tersebut dibiarkan masuk ke dalam kapalnya terus-menerus maka pada akhirnya menenggelamkan kapalnya. Allah menyebutkan dalam Al-Quran:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” ( Surat Yunus : 44 )

Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah kalau kita menganggap itu mudah. Semuanya bersumber pada fikiran kita. Kalau kita yakin bahwa itu akan mudah maka itu akan menjadi mudah. Salah satu bab dalam buku La Tahzan for Women karya Nabil bin Muhammad Mahmud menyebutkan tentang optimisme. Yaitu orang-orang yang selalu berfikiran optimis, maka akan berhasil. Sebaliknya, mereka yang berfikir negatif dan takut dengan kegagalan, maka kegagalan pun akan terjadi. Hal ini telah dikenal lama dalam teori pemikiran. Segala sesuatu yang difikirkan manusia, akan berpengaruh pada sistem kerja otak. Sehingga apa yang difikirkanpun akan terjadi. Semua itu hanya permainan fikiran kita.

Dan di dalam buku itu juga disebutkan bahwa pada hakikatnya manusia itu baik, akan tetapi manusia adalah makhluk yang lemah dan gampang terjerumus oleh godaan setan. Kalau kita beriman kita pasti meyakini bahwa setan adalah musuh kita dan kita tidak akan mudah terbawa arus. Musuh yang paling harus kita jauhi setelah hawa nafsu, Allah berfirman dalam KitabNya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : “Bukankah Aku telah memerintahkan kamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” ( Surat Yasin: 60)

Semua pikiran itu datang dari hati yang yakin kepada Allah. Pernah ga sih terfikir dalam benak kita kalau sedang dalam keadaan susah lalu kita buka Al-Quran tanpa mencari halaman berapa atau surat berapa lalu kita baca, dan setelah kita baca kita merasa sudah mendapatkan jawaban atas masalah kita. Ya, begitulah cara Allah menjawab setiap masalah hambaNya, karena Allah tahu apa yang ada di dalam hati kita. Karna hanya Dia yang menggerakkan dan membolak-balikkan hati kita.

Membaca Al- Quran sekaligus mentadaburi ayat-ayatnya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pernah satu hari saya membaca Al-Quran, pada saat itu saya benar-benar mentadaburi ayatnya satu persatu. Saya menemukan ayat ini selalu ada disetiap surat yang saya baca.

Contoh nya pada surat Al A’raf ayat 35:

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 

Dan pada surat Yunus ayat 62-63:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ () الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (63)

Perkataan setelah kalimat orang-orang yang beriman selalu dibarengi dengan kalimat tidak ada keraguan dan kesedihan didalam hati mereka. Contoh lain pada surat Al-Asr yang artinya 
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” 

Kalau kita pahami sekilas, ayat ini sudah jelas menerangkan bahwa manusia akan menjadi orang yang merugi kecuali jika ia beriman kepada Allah dan beramal soleh. Karna jika seseorang sudah beriman, maka ia akan berusaha untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk selain Allah. 

Karna jika seseorang menyerahkan segalanya pada yang Maha Sempurna maka hidupnya akan terasa indah dan sempurna. Seperti 99 NamaNya, tidak ada satupun yang tidak baik. Beriman bukan hanya mengimani bahwa Allah adalah satu dan tiada tuhan selain Allah. Tetapi, mengimani seluruh aspek. Termasuk mengimani sifat dan nama-namaNya. Bahwa Allah Maha Pengasih ( الرحمن),  Maha Memberi Keamanan  (المؤمن ) Maha Mengatur (  المهيمن) Maha Mengetahui (البصير) dll. Dengan begitu kita akan selalu yakin dan tidak pernah merasa khawatir ataupun sedih, bahwa setiap apa yang kita lakukan sudah ada yang mengatur dan semua yang terjadi di kehidupan kita sepenuhnya ada ditanganNya. 

Kita pasti selalu menginginkan yang terbaik didalam kehidupan kita, begitu juga Allah. Selalu menginginkan yang terbaik untuk kita walau namun terkadang memberikannya dengan cara yang tidak kita sukai. Optimis, berprasangka baik harus selalu ada dan tertanam dalam diri kita. Karna Allah tergantung prasangka hambanya. Simple. Allah cuma mau kita yakin kalau Allah itu ada, pertolongannya dekat, tinggal kita mau yakin atau tidak bahwa semuanya akan beres ditanganNya. Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi :
 إن الله يقول أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حيث يذكرني
Artinya : "Aku menuruti prasangka hamba kepadaku,dan Aku selalu bersamanya selagi dia mengingatKu.” (HR Muslim )

dan ketika kita sudah berharap dan yakin sama Allah, tapi Allah berkehendak lain dan punya rencana lain. Maka ingatlah FirmanNya yang satu ini


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal Dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Surat Al-Baqarah: 216) 

Penulis : Syarifah

Gambar : tomvansaghi.wordpress.com Ini tentang bagaimana cara kita memandang hidup. Ada sebuah sajak mengatakan “ Hidup itu sederhana,...

Gambar: Islami.co

Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini tiba-tiba terlintas di fikiranku ketika sedang mengkaji ulang pelajaran nahwu yang pernah aku pelajari di pondok dulu. Pelajaran nahwu adalah pelajaran yang mungkin menjadi salah satu pelajaran susah bagi sebagian santri. Tapi bagaimanapun ini adalah pelajaran yang menjadi ciri khas seorang santri. Kali ini bukan pelajaran nahwu yang akan aku bahas di tulisan ini, tapi pelajaran yang begitu berpengaruh dalam membentuk karakter diri seseorang. 

Semua berawal dari ketidaktertarikanku belajar di pondok pesantren yang katanya memiliki pola hidup yang keras dan monoton. Hmmmm opini itu memang tidak salah, pola hidup disana memang keras, keras dengan disiplin. Bukan hanya disiplin dalam ilmu, tapi juga disiplin dalam hidup. Kata mereka jalan hidup di sana monoton, mungkin yang mereka maksud monoton adalah monoton dalam menjalankan sunnah-sunnah pondok pesantren seperti shalat berjama’ah, ngaji kitab, bangun pagi, dan lain-lain. Memang keras dan susah, tapi di pondok inilah aku bukan hanya diajarkan untuk mengerti, tapi aku diajarkan untuk memahami. Bukan hanya sekedar memahami pelajaran, tapi memahami hakikat makna kehidupan yang sebenarnya. 

Mengerti dan memahami adalah dua hal yang berbeda, tidak semua yang mengerti dapat memahami, tapi semua yang memahami merekalah yang mengerti. Bagaimanapun keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Kita perlu mengerti untuk dapat memahami, tidak akan pernah ada pemahaman tanpa pengertian. Ketika kita bisa memahami sesuatu, maka kita akan mengerti bagaimana kita harus memperlakukan sesuatu itu. 

Mengerti hanya melibatkan fikiran saja, sedangkan memahami akan melibatkan fikiran dan perasaan yang akan melahirkan sebuah emosi. Dengan sebuah pemahaman, kita akan mudah dalam menentukan suatu sikap terhadap orang lain. pengertian dan pemahaman tidak akan pernah dicapai tanpa proses belajar. Lagi-lagi di pondok ini aku diajarkan memiliki dua dimensi untuk belajar KELAS dan KEHIDUPAN.

Al-imtihanu yukramu al-maru aw yuhanu. Inilah kalimat dalam bahasa arab yang terpampang besar di gedung ulul albab yang pada awalnya aku tidak pernah benar-benar lirik.  Karena kalimat itu memang selalu ada terbentang di sana. Semakin lama rasa ingin tahu pun muncul dalam diriku untuk sekedar mengerti makna dari kalimat itu. Mengapa kalimat itu selalu terpajang di sana walau para santri tidak sedang menempuh ujian karena arti dari kalimat itu adalah (ujian memuliakanmu atau menghinakanmu). karena selama ini aku hanya sekedar mengerti akan kalimat tersebut dalam konteks ujian pondok. Tapi ternyata setelah aku memahami makna dari kalimat tersebut dalam konteks yang lebih besar yaitu kehidupan, kalimat itu memiliki makna besar untuk kehidupan kita. Inilah yang aku sebut proses belajar di dalam kelas dan di dalam kehidupan. 

Sejatinya hidup itu sendiri adalah ujian. Ujian tidak akan pernah berhenti selama proses kehidupan itu tidak berhenti, itulah mengapa kalimat itu terus terpampang di sana. Setiap kali kita menemui ujian itu, maka di situlah peluang kita untuk menjadikan diri kita lebih baik ataupun lebih buruk. Kita mampu menjadikan ujian di setiap fase kehidupan sebagai sarana kita untuk menjadikan diri kita lebih baik. Itu kalau kita mampu berikhtiyar dalam menempuh ujian itu ya. Berikhtiyar adalah bertawakal setelah berusaha. Karena dengan ikhtiyar, kita secara tidak langsung melibatkan ALLAH dalam setiap langkah kita. 

Karena hakikatnya manusia hanya mampu merencanakan, dan Allah yang menentukan. Sebuah keberhasilan dalam ujian bukanlah diukur dengan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang telah Allah takdirkan untuk kita. Disinilah ujian dapat menjadikan diri kita menjadi lebih baik, menjadikan kita tetap mengingat Allah di setiap langkah hidup kita. karena ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak akan lupa untuk bersyukur mengingat Allah. Dan ketika Allah belum memberikan apa yang kita inginkan, maka syukur dan muhasabah akan menjadikan kita tetap mengingat Allah, dan menjadikan diri kita lebih baik. 

Bagaimanapun, ujian dalam kehidupan ini juga dapat menjadikan kita lebih malah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Ketika kita lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap masalah dan dalam setiap langkah hidup kita, sejatinya kita akan kehilangan arah, mencari bantuan kepada makhluk yang juga memerlukan bantuan.  Lagi-lagi tanpa pemahaman, pengertian itu kurang memiliki arti. Di dalam kelas kita belajar untuk ujian, tapi di dalam kehidupan kita diuji untuk belajar. Keduanya tetap memiliki kesinambungan satu sama lain. teruskan perjuanganmu wahai pejuang ilmu. 

Bagaimanapun kau akan sampai pada titik di mana kelas dan kehidupan akan bertemu di satu titik yang menjadikanmu lebih mengahargai perjuanganmu sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Karena kehidupan di dunia adalah ladang amal kita, dimana kita akan kembali membawa hasil untuk kehidupan abadi kita.

الإمتهان يكرو المرء أو يهان

(Ujian memuliakan-mu atau menghinakan-mu).


Penulis: Sarah Noor Islah Jamil

Gambar: Islami.co Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini...


Related image
Gambar : commons.wikimedia.org
Suatu pagi di kampus ku IIUM tepatnya pada tanggal 8 januari 2018 jam 8.50. Mama mengabarkanku untuk pulang ke Batam karna harus menjaga nenek. Sejujurnya, aku seneng tapi juga bingung mendengar kabar itu. Seneng karena akan pulang, namun bingung karena aku tidak memiliki uang sebanyak RM 200, yang digunakan sebagai ongkos pulang. Mau minta ke orangtua? Tapi...ga secepet itu sob...karena…

Sedari dulu…. mama mengajarkanku, kalo minta apa-apa jangan sama papa mama tetapi minta dulu sama Allah. Makanya, aku jadi mager kalo mau minta sama mama hehe. Pasti mama bilangnya “solat”. Setelah agak lama, baru dikasih atau Allah kasih dengan caraNya. Karena ke-mager-an itulah, aku harus usaha dulu dengan minta sama Allah. Terimakasih ma,pa telah mendidikku seperti ini. (Yuks sobat, hadiahkan Al fatihah untuk semua orangtua kita)

Jam menunjukkan pukul  9.00 sedangkan pukul 10 aku harus otw dari kampus ke pelabuhan Johor. Lalu aku mikir, gimana ya mau dapetin uang sebanyak RM 200 dalam waktu kurang dari setengah jam? Alhamdulillah, aku ingat cara mama papa yaitu “Bilang ke Allah”

Oke. jam 9 waktu dhuha, maka akupun sholat. Selesai sholat, aku bilang sama Allah: “Yaa Allah, tolong aku ini yang mau ke batam, kira-kira aku perlu RM 200. Beneran deh yaaAllah, aku ngga mau banget mohon-mohon sama manusia. Mohon-mohonnya sama Allah aja ya…dsb” Setelah itu, aku packing. Pede aja gitu. Tapi sebetulnya sambil berbisik dalem hati “Yaa Allah, uangnya gimana ya?”hehe. Qadarullah, cara usahaku (ikhtiar) adalah bertanya. Ya, aku bertanya kepada kaka roomate-ku. 

“Kak, Kakak tau ngga Ka, anak indonesia ada ngga ya Kak yang bisa minjemin uang?”
“Emang siapa yang lagi mau minjem uang Dek?”
“Aku sendiri Kak, insyaAllah pas aku kesini lagi tanggal 15 januari, uangnya dganti Kak”
*beliau ke kamarnya dan mengambil amplop* “Dek, ini aku ada tabungan, gunain dulu aja ya”
Singkat cerita, RM 200 pun ada ditanganku. Bahkan lebih dari RM 200. Allahuakbar.

Dari kisah ini, mudah-mudahan dapat menambah keyakinan kita kepada Allah SWT. 
Nah sobat-sobat... siapa yang mau beasiswa, exchange keluar negri, mau punya bisnis?  Jom! minta ke Allah.  Punya masalah sama temen, organisasi, masalah apapun? Bilang ke Allah. Mau berubah? Bilang ke Allah. Semuamuanya bilang ke Allah. Berdoalah dengan penuh keyakinan dan bergantung FULL kepada Allah. Berdoalah dengan menghilangkan rasa bergantung kepada manusia, uang atau yang lainnya. Itu rumus doa.

Jadi, kalo masalah menghampiri kita bisa tenang, karena kita kenal sama Allah. Allah lebih besar dari masalah kita. Allah yang ngasi masalah, Allah juga yang punya solusinya. Kalo kita mengutamakan doa disetiap apa yang kita inginkan, insyaAllah  jalan ikhtiar, solusi dan semuanya akan lebih indah nan berkah.

Dulu aku berfikir “Palingan doa yang akan terkabul hanya doa dari orang yang soleh dan baik saja. Aku malu mau doa” tapi ternyata aku salah. Allah itu baik banget. Gak mandang siapa yang berdoa. Karena Allah pasti mengabulkan doa kita. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam HR.Ahmad 11302. Cara Allah mengabulkan doa ialah dengan salah satu dari 3 cara, yaitu: 1) Allah mengabulkan doa kita langsung di dunia 2) Allah menunda sampai waktu yang tepat/menyimpan doanya untuk kita di akhirat 3) Allah mengganti doa kita dengan ganti yang lebih baik. Alhamdulillah, ga rugi kan berdoa kepada Allah?

Bismillah, kuy sama-sama mengenal Allah lebih dekat! Karena itulah perkenalan yang HQQ 

Wallahua’lam bisshowab


Penulis : Nabilla Gita Forenza

Gambar : commons.wikimedia.org Suatu pagi di kampus ku IIUM tepatnya pada tanggal 8 januari 2018 jam 8.50. Mama mengabarkanku untuk p...

Menyepi
Gambar : global.liputan6.com

Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak tahu kemana arah yang hendak dituju. Tetapi, kita malah berdiam diri dan menyerah karna kebingungan hendak kemana. Kita sudah merasa sangat bodoh dan gagal dan menyalahkan diri kita karna tersesat.

Siapa yang salah di sini?

Di sebuah tempat itu padahal ada banyak papan-papan tanda jalan yang menunjukkan arah, di sana juga ada sang penjaga tempat atau pak satpam yang tahu arah-arah menuju tempat. Juga ada beberapa orang yang lewat untuk bisa ditanyakan tempat tujuan kita. Situasi ini terdengar tidak asing, bukan?

Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita seperti orang yang dideskripsikan tadi. Ketika kita merasa tersesat dalam hidup yang sedang kita jalani sendiri ini, dan seketika bingung dengan kemana arah tujuan kita. Menangis berhari-hari pun tidak akan membawa ke tempat tujuan tersebut, apalagi berdiam diri dan menyerah membuat kita seakan tidak layak berpijak di dunia ini lagi,karna merasa gagal dengan diri sendiri.

Tapi ada sesuatu yang kita lupa, apa itu?

Kita lupa kalau ada “Pak Satpam”, ada papan-papan tanda jalan dan ada beberapa orang yang lewat di sekitar bangku yang kamu duduki ditempat itu. Iya, kita lupa kalau ada Allah SWT yang maha tahu segalanya, ada “buku manual” Al-Quran yang bisa selalu kita jadikan tempat untuk memahami cara untuk survive di tempat itu, dan juga masih ada orang-orang sekitar kita yang selalu bisa kita tanyakan, yang tidak lain mungkin keluarga kita yang bersama kita dari gigi kita baru tumbuh dua, sampai gigi kita tinggal dua lagi.

Bedanya dengan “pak satpam” yang hanya ada kalau dia lagi rajin ngeronda. Allah SWT selalu meronda 24/7, sampai-sampai Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Seru ya, tidak perlu nyari koneksi 4G atau mengisi paket quota untuk selalu bisa meng-update ke Allah tentang kondisi kita saat itu.

Kita hanya bilang “Ar Rahman“ “Ar Rahim” mungkin kalau Allah mau balas, akan segera dibalas, dan tidak membiarkan kita dengan “blue tick” atau “di-read doang”. Allah itu Sami’un yang artinya Maha Mendengar. Allah juga tidak pernah lelah mendengar hamba-hambanya. “Udah ya, kelamaan curhat kamu, hamba-hamba-Ku masih banyak tuh..” Tapi justru ketika kita selalu memanggil Allah untuk curhat, dengan menggunakan segala cara spesial-Nya, Allah selalu setia mendengar kita. Hanya saja, kita belum bisa mendengar balasan-Nya dengan kasat pendengaran kita. Kalau tidak, mungkin tidak ada lagi manusia-manusia yang curhat sesama manusia karna curhat sama Allah adalah tempat yang sangat nyaman.

Berbeda dengan manusia, ketika kita curhat 15 menit, dan bilang “Eh maaf ya, mau ngangkat jemuran nih, lanjut aja, dengerin kok ini” dan ternyata telfon kita sudah di-loudspeaker. Allah itu tidak pernah bosan & tidak pernah lelah. Ketika kita baru mendekat ke Allah, Allah bilang “Apa hamba ku? Ada apa? Kenapa?” Selalu siap mendengarkan curhatan kita, Mau kita curhat ketika lagi sedih, lagi bahagia, lagi benci sama orang, lagi suka sama orang, Allah pasti mendengarkan.

Apalagi kalau di sepertiga malam yang dingin, kita tahu kalau waktu ini adalah waktu doa-doa kita yang dipanjatkan seperti panah yang tidak pernah melesat dari sasaran. Tapi, lagi-lagi di waktu ini, kita manusia-manusia yang tidak tahu diri ini malas untuk meluangkan waktu untuk Allah dan menarik lagi selimut kita, padahal ketika itu adalah waktunya Allah lagi online dan Allah menyuruh malaikat-malaikatnya untuk turun dari langit untuk melihat siapa yang lagi berdo’a kepada Allah. Karna jika malaikat lihat, saat itu juga malaikat-malaikat langsung berebutan ingin melaporkannya ke Allah supaya Allah bisa mengijabah do’a kita.

Apa itu cinta?

Kalau di kamus-kamus atau di novel-novel sastra mungkin akan sangat berat mengartikannya atau bahkan menggambarkan bentuk sebuah illusi atau gambaran yang sangat mendalam. Menurutku, cinta itu simpel. Aku menemukan cinta. Disitu, ketika aku mendengar tentangnya, isi perutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan tak tentu arah dan hati yang tiba-tiba tidak sadar mengencang bunyi ‘dup dup dup’ nya, membuat ku pun yakin dan ingin mengatakan kalau, “He’s the One.” Dan ya, Dia adalah Ar-Rahman.

Semoga Dia tetap selalu menjadi tempat ternyaman untukku, dan semoga menjadi tempat ternyaman untuk kita semua juga sampai saatnya nanti kita harus kembali ke pangkuan-Nya dan akhirnya bertemu langsung dengan tempat ternyaman ketika di dunia dulu.


Penulis : Adya Laras Tsabita Atindriya

Gambar : global.liputan6.com Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak ta...


Gambar : Ummi-online.com
Langit perlahan mulai terang, di hadapan sudah tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh. Sepanjang penglihatan hanya lautan luas membentang. Situasi semakin genting, lautan semakin dekat. Apakah perjalanan yang telah ditempuh semalaman, akan berakhir saja seperti ini? Tapi ini bukan perjalanan yang ia sendiri putuskan, ia hanya diperintahkan untuk berangkat pada malam hari dan untuk menempuh jalur yang sekarang ia lewati. Jarak semakin dekat, pasukan Fir’aun sudah mulai terlihat. “إنا لمدركون”, kita pasti tersusul, ujar teman-temannya mulai berputus asa. Tapi Musa As bukan pemuda biasa. Imannya pada Tuhannya membantunya melihat apa-apa yang tidak terlihat oleh mereka yang tidak beriman. “كلا، إن معي ربي سيهدين”, tidak mungkin, sungguh Tuhanku bersamaku, Ia pasti akan memberiku petunjuk menuju jalan keluar.  [QS: Asy-Syu’ara 52-62] 

***
“قالت ياليتني مت قبل هذا وكنت نسيا منسيا”. Entah rasa sakit akan melahirkan atau karna rasa malu yang sudah tak tertanggungkan yang membuatnya berujar seperti itu, “Seandainya aku meninggal saja sebelum semua ini, dan aku menjadi orang yang tidak diperhatikan dan dilupakan”. Berat ia mengumpulkan nafasnya satu persatu untuk tetap bertahan, menjalani semua yang telah ditetapkan Pencipta untuk hidupnya. Tubuhnya yang lemah telah tersandar sedari tadi di bawah pohon kurma yang kokoh, saat tiba perintah berikutnya, “وهزي إليك بجذع النخلة تساقط عليك رطبا جنيا”. Ketika yang ia perlukan adalah pertolongan, justru wahyu yang datang adalah perintah untuk  menggoncangkan pohon kurma yang bahkan orang sehat pun mungkin tidak semuanya bisa melakukannya. Maryam saat itu berada diposisi yang sangat masuk akal untuk memberi argumen ilmiah jika ia mau beralasan. Tapi ia adalah wanita pilihan, ketaatan pada Tuhan menuntunnya untuk melakukan apa yang diperintahkan padanya. [QS: Maryam 16-25].

***
Entah berapa puluh tahun sudah ia berdoa dalam mihrabnya. Dikisahkan, kondisinya saat itu telah lemah tulangnya dan uban telah memenuhi rambutnya. Kekhawatiran akan terputusnya dakwah yang membuatnya terus berharap akan seorang keturunan yang sholeh. Harapan itu terus ia gantungkan hingga di usia yang mungkin dalam kacamata zaman sekarang adalah mustahil. Zakariya tahu, ia menggantungkan harapannya pada dahan yang tepat, “ولم أكن بدعائك ربي شقيا”, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a padamu, ujarnya. [QS: Maryam 1-4]

*** 
Nuh As sama sekali tidak tahu kenapa dia diperintahkan untuk membuat sebuah kapal di atas puncak bukit,   "واصنع الفلك بـأعيننا ووحينا" , “Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan Kami dan petunjuk Kami” [QS: Hud 37]. Yang dia tahu, ini adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.  Sama seperti Ibrahim As juga tidak tahu, kenapa ia diperintahkan untuk menyembelih anak laki-laki yang telah lama dinantinya. Ia tidak tahu bahwa pada akhirnya Allah akan menebus Ismail [QS: Ash-Shafat 103-106]. Yang ia tahu, itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.  Sama seperti Maryam, tidak tahu kenapa ia diperintahkan untuk menggoncangkan pohon,. Yang ia tahu, itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan. Sama seperti Musa As, kenapa disaat yang sangat amat genting justru perintah Allah terlihat sangat tidak masuk akal; memukul lautan dengan tongkat. Karena ia tahu itu adalah perintah Tuhannya, maka ia kerjakan.    
***
Ketidaktahuan kita akan apa yang akan terjadi dimasa depan yang membuat kita masih menjadi manusia. Tapi kadang kita terkesan ingin keluar dari status sebagai manusia dengan ingin segera tahu segalanya. Rasanya sebagian besar yang kita lakukan hari ini, -belajar siang malam, merancang life goals, aktivitas sana-sini, pelatihan ini itu, dan sebagainya- adalah bentuk kita mengejar keingintahuan itu, dan tanpa sadar kita perlahan mengesampingkan apa-apa yang diperintahkan-Nya pada kita.

Kita diperintahkan untuk sholat [QS: Taha 14], kita diperintahkan untuk membaca Al-qur’an [QS: al-Fathir 29], menghafal Al-qur’an [QS: al-Qamar 22], kita diperintahkan untuk menutup aurat [QS: al-Ahzab 59], kita diperintahkan untuk tidak mendekati zina [QS: al-Isra 32], kita diperintahkan untuk hanya mengkonsumsi makanan yang halal dan baik [QS: al-baqarah 168], kita diperintahkan untuk mengamalkan Islam di semua aspek kehidupan, يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً [QS: al-Baqarah 208]. Dari sekian banyak perintah-Nya, sayangnya, kita punya lebih alasan untuk minta diringankan-Nya, atau bahkan tidak melaksanakannya.   
***
Allah kita adalah Allah yang sama yang membelahkan lautan untuk Musa As, Allah  yang sama yang mengabulkan doa-doa Zakariya As, Allah yang sama yang membantu ibunya Isa As, Allah yang sama yang menyelamatkan Nuh As dan kaumnya, Allah yang sama yang menyembuhkan Ayyub dari penyakit-penyakitnya, Allah yang sama yang menyelamatkan Yusuf As dari fitnah dan bencana. Allah yang kita sembah adalah Allah yang sama, hanya saja cara kita dalam mentaati perintah-perintah-Nya yang berbeda, cara kita dalam bersegera menyambut panggilan-Nya yang berbeda, cara kita dalam meragukan pertolongan-Nya yang berbeda. 
Mungkin ini sebabnya kenapa hari ini rasanya begitu banyak kekhawatirkan yang kita punya. 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Rabbana, kami telah mendzalimi diri kami, sungguh kami adalah orang-orang yang merugi jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami" [QS: Al-A'raf 23] 


Penulis : Qoriatul Hasanah

Gambar : Ummi-online.com Langit perlahan mulai terang, di hadapan sudah tidak ada lagi jalan yang dapat ditempuh. Sepanjang penglihata...