Image result for ilustrasi fokus muslim
Gambar: http://csms.lexington1.net
Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didengar, mungkin karena ramai orang yang mengamininya, termasuk saya. Walaupun ada penggalan lain yang menyangkal "We are not what we think, or what we say, we are what we do", sepertinya sangkalan ini tidak terlalu signifikan karena pikiran, perkataan dan perbuatan kita bukannya tidak bisa berkoeksis, melainkan mereka masing-masing membentuk siapa diri kita. Ya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa pemikiran kita adalah salah satu komponen utama dalam hidup kita.

Oke, terus apa?

Terus mari kita bertanya, apa yang sudah kita lakukan untuk mengarahkan pemikiran kita? Apa usaha kita untuk menjadikan pemikiran kita produktif? Atau apakah kita membiarkan pikiran kita menjadi produk dari apa saja yang tersaji di hadapan kita?

Tunggu. Kenapa ini ko terlalu bertele tele. Sebelum semua itu, apakah pikiran kita akan dipertanggung jawabkan nanti? Wallahu a'lam. Mungkin hadits berikut bisa bantu menjawab:

"...Jika ia ingin mengerjakan kebaikan namun tidak mengerjakannya, tulislah sebagai kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, tulislah baginya sepuluh kali kebaikannya itu hingga tujuh ratus (kebaikan)." [HR Bukhari, no. 7501]

Keinginan, yang hanya ada di pikiran saja bisa menjadi sumber pahala untuk pemiliknya.Terlepas dari bagaimana hitung-hitungan tentang pikiran kita, kita tahu bahwa pikiran kita adalah salah satu penyebab utama perbuatan kita. Hal lain yang harus sama-sama kita sadari juga adalah kita hidup di periode waktu di mana ledakan informasi telah terjadi, yang membuat kita bisa mengakses informasi jauh lebih banyak dari orang sebelum kita. Belum lagi kita juga dibombardir sana sini oleh media (seperti billboard misalnya) yang bahkan tidak meminta izin untuk membuat kita melihat apa yang kita lihat. Juga berlebihnya stimulasi dalam kehidupan sehari hari yang menuntut kita untuk bermultitask, contohnya berjalan sambil main telepon genggam. 

Mau tidak mau, kita mempunyai tantangan yang berbeda untuk berpikir jernih di zaman ini. Jika dulu ayah kita punya waktu untuk berpikir ketika ia di perjalanan pulang dari kantor, sekarang kita sibuk dengan menggulir foto-foto di instagram ketika kita dalam kendaraan. Coba tanya, kapan waktu yang paling pas untuk berpikir tenang bagi diri kita? Mungkin sebagian kita bahkan tidak sadar bahwa ada waktu yang 'lebih tenang' dari waktu lainnya. 

Sebenarnya, inti dari tulisan ini adalah untuk mengingatkan diri saya untuk kembali melatih fokus pemikiran saya. Untuk tidak menyibukkan diri pada hal-hal yang sebenarnya bukan urusan saya. Untuk meningkatkan usaha dalam menjadikan pikiran saya sebagai sumber keridhaan yang Maha Mengetahui segala isi pikiran. Tentang hal ini, ada sebuah hadits yang sering menyentil saya:

"Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya ". [HR at-Tirmidzi, no. 2318]

Ternyata begitu simpel. Ketika kita hendak berbuat sesuatu, hadits tersebut mengajarkan sebuah tes litmus untuk dieksekusi dalam pikiran kita: apakah ini bermanfaat buat saya? Mungkin kita terlalu lama berjibaku dalam maraton film sehingga tidak ada waktu tersisa untuk berdialog secara jujur dengan diri kita. 

Pikiran kita adalah salah satu sumber utama perbuatan kita, untuk itu kita harus mengambil kembali tali kendali pikiran kita sepenuhnya. Kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kita pikirkan ketika kita mempunyai kesempatan luang untuk berpikir. Mari ingatkan diri kita bahwa pikiran yang paling mulia dan bermanfaat adalah yang ditujukan untuk Allah dan kehidupan setelah kehidupan ini. Ibnu Qayyim rahimahumullah telah memaparkan secara lugas 5 macam 'pikiran yang ditujukan untuk Allah'. Saya rasa macam macam pikiran ini seperti hierarki, dengan macam pertama yang paling menantang dan macam terakhir yang lumayan mudah untuk langsung dieksekusi. Bagaimanakah pikiran yang ditujukan untuk Allah?

1. Merenungi Ayat-ayat di Al-Qur'an, Memahami dan Mengamalkannya. 
Sudah ramai diketahui bahwa al-Qur'an adalah buku petunjuk, dan semoga tidak hanya itu. Semoga kita juga sudah memperlakukannya sebagai sumber petunjuk. Ulama terdahulu ramai berkata: "Allah menurunkan al-Qur'an untuk diamalkan, tetapi orang-orang malah menjadikan bacaan al-Qur'an sebagai bentuk pengamalan." Jika kita belum mengamalkan apa yang kita baca dari al-Qur’an, maka mari berbenah untuk hal itu.

2. Memikirkan Ayat-ayat Kauniyyah, Mengambil Pelajaran dan Menjadikannya Hujjah.
Ayat kauniyyah yang berupa ciptaannya yang terbentang di alam semesta dan bahkan di dalam diri kita sepatutnya menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya dan lebih merasakan keberadaan-Nya. Memperhatikan, memikirkan dan merenungkan ciptaan-Nya adalah salah satu hal yang bisa didapatkan ketika kita mengurangi eksposur dari hal-hal yang jika berlebihan bisa melalaikan, sosial media contohnya. Ekhm.

3. Memikirkan karunia-Nya, nikmat-Nya, rahmat-Nya, ampunan-Nya, serta kesabaran-Nya.
Menghitung dan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah adalah hal selalu kita usahakan, inshaaAllah. Berfikir lebih jauh tentang bagaimana cara nikmat itu bisa sampai kepada kita juga akan membantu kita lebih bersyukur kepada-Nya. Bahkan, kalau kita bandingkan nikmat itu dengan 'nakal' dan lalainya kita, kita bisa memaknai lebih dalam arti dari Sang Maha Pemurah, Sang Maha Pemaaf, Sang Maha Penyabar.

4. Memikirkan Aib dan Kerusakan Yang Terdapat Pada Diri dan Perbuatan Kita.
Hal yang menarik disini adalah imam Ibnu Qayyim mengikutsertakan hal ini sebagai suatu bentuk pikiran yang ditujukan untuk Allah. Tapi memang dengan memikirkan hal ini kita bisa mengetahui hal yang perlu kita perbaiki pada diri kita, sehingga pada akhirnya kita hanya peduli dengan bagaimana Allah akan selalu ridha pada kita. Terkadang, aib saudara kita lebih terlihat jelas karena kita tidak berpikir lama untuk hal ini.

5. Memikirkan Pentingnya Waktu dan Penggunaannya.
Imam Ibnu Qayyim selanjutnya menjelaskan bahwa ini bisa dicapai dengan mencatat seluruh kegiatan beserta waktunya, karena siapa yang menjadikan waktunya untuk Allah dan untuk mengerjakan perintah-Nya, maka itulah kehidupan dan umurnya. Bukan berarti waktu yang bermanfaat hanya shalat dan ibadah ibadah lainnya, melainkan juga setiap kegiatan yang tidak bertentangan dengan agama kita dan diniatkan untuk mencari ridha Allah.
Begitulah salah satu kiat praktis dari ulama besar kita, yang bisa langsung dipraktikan dalam kehidupan keseharian sehingga kita bisa mendapatkan ridha-Nya dengan mengarahkan pikiran kita. Terkadang kita cemburu melihat kawan yang begitu produktif dan proaktif, bagaimana mereka melakukan itu? Mungkin, salah satu kiatnya adalah dengan terus berpikir ‘Apalagi yang saya bisa lakukan untuk menjadi lebih baik di mata-Nya?’. Sehingga dari pertanyaan-pertanyaan seperti itulah muncul ide cemerlang untuk menginisiasi sebuah proyek untuk makcik-makcik cleaner, membuat kegiatan di mushalah sekitar, menentukan target baru Hafalan Qur’an untuk bulan ini, atau bahkan ide untuk melakukan inovasi bisnis sederhana, dll. 

Fokus, adalah 1 kata yang perlu kita ulang untuk diri kita ketika aib orang lain terasa menarik untuk jadi bahan pembicaraan, ketika kita bisa menghabiskan waktu 1 jam hanya untuk melihat foto terkini kawan di instagram, ketika tidak ada ide baru selama 1 bulan, ketika dalam 1 minggu kita belum mendapatkan pemaknaan baru dari bacaan Al Qur’an. 

Fokus, seperti dalam fotografi, ketika kita ingin mendapatkan suatu objek secara detail kita harus mengarahkan fokus hanya untuk objek itu, sehingga hal hal yang tidak penting disekitarnya akan menjadi bokeh yang buram. Namun buramnya lah yang membuat foto itu lebih indah.
Wallahu a’lam bishawab.


Penulis : Fadhilah Assadah Abdul Aziz

Gambar: http://csms.lexington1.net Pernah dengar kalimat "We are what we think"? Kalimat Buddha tersebut begitu lazim didenga...

Gambar : tomvansaghi.wordpress.com

Ini tentang bagaimana cara kita memandang hidup. Ada sebuah sajak mengatakan “ Hidup itu sederhana, yang hebat-hebat tafsirannya” kata Alm. Pramoedya Ananta Toer. Masalah yang datang pada kita sebenarnya ada karna kita sendiri yang menciptakannya. Maksudnya ketika masalah itu datang, sebenarnya kita sendiri yang mengasumsikan kalau itu adalah “Masalah”. Rasa sedih dan gundah gulana tidak akan pernah hadir kalau bukan kita sendiri yang mempersilahkan mereka hadir. Ibaratnya rasa sedih ialah air laut dan kapal yang berlayar adalah badan kita sendiri. Bukan air laut yang menenggelamkan kapal, melainkan jika air laut tersebut dibiarkan masuk ke dalam kapalnya terus-menerus maka pada akhirnya menenggelamkan kapalnya. Allah menyebutkan dalam Al-Quran:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” ( Surat Yunus : 44 )

Sesuatu yang sulit akan menjadi mudah kalau kita menganggap itu mudah. Semuanya bersumber pada fikiran kita. Kalau kita yakin bahwa itu akan mudah maka itu akan menjadi mudah. Salah satu bab dalam buku La Tahzan for Women karya Nabil bin Muhammad Mahmud menyebutkan tentang optimisme. Yaitu orang-orang yang selalu berfikiran optimis, maka akan berhasil. Sebaliknya, mereka yang berfikir negatif dan takut dengan kegagalan, maka kegagalan pun akan terjadi. Hal ini telah dikenal lama dalam teori pemikiran. Segala sesuatu yang difikirkan manusia, akan berpengaruh pada sistem kerja otak. Sehingga apa yang difikirkanpun akan terjadi. Semua itu hanya permainan fikiran kita.

Dan di dalam buku itu juga disebutkan bahwa pada hakikatnya manusia itu baik, akan tetapi manusia adalah makhluk yang lemah dan gampang terjerumus oleh godaan setan. Kalau kita beriman kita pasti meyakini bahwa setan adalah musuh kita dan kita tidak akan mudah terbawa arus. Musuh yang paling harus kita jauhi setelah hawa nafsu, Allah berfirman dalam KitabNya:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya : “Bukankah Aku telah memerintahkan kamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” ( Surat Yasin: 60)

Semua pikiran itu datang dari hati yang yakin kepada Allah. Pernah ga sih terfikir dalam benak kita kalau sedang dalam keadaan susah lalu kita buka Al-Quran tanpa mencari halaman berapa atau surat berapa lalu kita baca, dan setelah kita baca kita merasa sudah mendapatkan jawaban atas masalah kita. Ya, begitulah cara Allah menjawab setiap masalah hambaNya, karena Allah tahu apa yang ada di dalam hati kita. Karna hanya Dia yang menggerakkan dan membolak-balikkan hati kita.

Membaca Al- Quran sekaligus mentadaburi ayat-ayatnya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pernah satu hari saya membaca Al-Quran, pada saat itu saya benar-benar mentadaburi ayatnya satu persatu. Saya menemukan ayat ini selalu ada disetiap surat yang saya baca.

Contoh nya pada surat Al A’raf ayat 35:

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي ۙ فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Artinya : “Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” 

Dan pada surat Yunus ayat 62-63:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ () الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (62) (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (63)

Perkataan setelah kalimat orang-orang yang beriman selalu dibarengi dengan kalimat tidak ada keraguan dan kesedihan didalam hati mereka. Contoh lain pada surat Al-Asr yang artinya 
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran” 

Kalau kita pahami sekilas, ayat ini sudah jelas menerangkan bahwa manusia akan menjadi orang yang merugi kecuali jika ia beriman kepada Allah dan beramal soleh. Karna jika seseorang sudah beriman, maka ia akan berusaha untuk memanfaatkan waktunya sebaik mungkin untuk beribadah kepadaNya dan tidak menyia-nyiakan waktunya untuk selain Allah. 

Karna jika seseorang menyerahkan segalanya pada yang Maha Sempurna maka hidupnya akan terasa indah dan sempurna. Seperti 99 NamaNya, tidak ada satupun yang tidak baik. Beriman bukan hanya mengimani bahwa Allah adalah satu dan tiada tuhan selain Allah. Tetapi, mengimani seluruh aspek. Termasuk mengimani sifat dan nama-namaNya. Bahwa Allah Maha Pengasih ( الرحمن),  Maha Memberi Keamanan  (المؤمن ) Maha Mengatur (  المهيمن) Maha Mengetahui (البصير) dll. Dengan begitu kita akan selalu yakin dan tidak pernah merasa khawatir ataupun sedih, bahwa setiap apa yang kita lakukan sudah ada yang mengatur dan semua yang terjadi di kehidupan kita sepenuhnya ada ditanganNya. 

Kita pasti selalu menginginkan yang terbaik didalam kehidupan kita, begitu juga Allah. Selalu menginginkan yang terbaik untuk kita walau namun terkadang memberikannya dengan cara yang tidak kita sukai. Optimis, berprasangka baik harus selalu ada dan tertanam dalam diri kita. Karna Allah tergantung prasangka hambanya. Simple. Allah cuma mau kita yakin kalau Allah itu ada, pertolongannya dekat, tinggal kita mau yakin atau tidak bahwa semuanya akan beres ditanganNya. Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi :
 إن الله يقول أنا عند ظن عبدي بي وأنا معه حيث يذكرني
Artinya : "Aku menuruti prasangka hamba kepadaku,dan Aku selalu bersamanya selagi dia mengingatKu.” (HR Muslim )

dan ketika kita sudah berharap dan yakin sama Allah, tapi Allah berkehendak lain dan punya rencana lain. Maka ingatlah FirmanNya yang satu ini


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal Dia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu me-nyukai sesuatu, padahal Dia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Surat Al-Baqarah: 216) 

Penulis : Syarifah

Gambar : tomvansaghi.wordpress.com Ini tentang bagaimana cara kita memandang hidup. Ada sebuah sajak mengatakan “ Hidup itu sederhana,...

Gambar: Islami.co

Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini tiba-tiba terlintas di fikiranku ketika sedang mengkaji ulang pelajaran nahwu yang pernah aku pelajari di pondok dulu. Pelajaran nahwu adalah pelajaran yang mungkin menjadi salah satu pelajaran susah bagi sebagian santri. Tapi bagaimanapun ini adalah pelajaran yang menjadi ciri khas seorang santri. Kali ini bukan pelajaran nahwu yang akan aku bahas di tulisan ini, tapi pelajaran yang begitu berpengaruh dalam membentuk karakter diri seseorang. 

Semua berawal dari ketidaktertarikanku belajar di pondok pesantren yang katanya memiliki pola hidup yang keras dan monoton. Hmmmm opini itu memang tidak salah, pola hidup disana memang keras, keras dengan disiplin. Bukan hanya disiplin dalam ilmu, tapi juga disiplin dalam hidup. Kata mereka jalan hidup di sana monoton, mungkin yang mereka maksud monoton adalah monoton dalam menjalankan sunnah-sunnah pondok pesantren seperti shalat berjama’ah, ngaji kitab, bangun pagi, dan lain-lain. Memang keras dan susah, tapi di pondok inilah aku bukan hanya diajarkan untuk mengerti, tapi aku diajarkan untuk memahami. Bukan hanya sekedar memahami pelajaran, tapi memahami hakikat makna kehidupan yang sebenarnya. 

Mengerti dan memahami adalah dua hal yang berbeda, tidak semua yang mengerti dapat memahami, tapi semua yang memahami merekalah yang mengerti. Bagaimanapun keduanya memiliki keterkaitan satu sama lain. Kita perlu mengerti untuk dapat memahami, tidak akan pernah ada pemahaman tanpa pengertian. Ketika kita bisa memahami sesuatu, maka kita akan mengerti bagaimana kita harus memperlakukan sesuatu itu. 

Mengerti hanya melibatkan fikiran saja, sedangkan memahami akan melibatkan fikiran dan perasaan yang akan melahirkan sebuah emosi. Dengan sebuah pemahaman, kita akan mudah dalam menentukan suatu sikap terhadap orang lain. pengertian dan pemahaman tidak akan pernah dicapai tanpa proses belajar. Lagi-lagi di pondok ini aku diajarkan memiliki dua dimensi untuk belajar KELAS dan KEHIDUPAN.

Al-imtihanu yukramu al-maru aw yuhanu. Inilah kalimat dalam bahasa arab yang terpampang besar di gedung ulul albab yang pada awalnya aku tidak pernah benar-benar lirik.  Karena kalimat itu memang selalu ada terbentang di sana. Semakin lama rasa ingin tahu pun muncul dalam diriku untuk sekedar mengerti makna dari kalimat itu. Mengapa kalimat itu selalu terpajang di sana walau para santri tidak sedang menempuh ujian karena arti dari kalimat itu adalah (ujian memuliakanmu atau menghinakanmu). karena selama ini aku hanya sekedar mengerti akan kalimat tersebut dalam konteks ujian pondok. Tapi ternyata setelah aku memahami makna dari kalimat tersebut dalam konteks yang lebih besar yaitu kehidupan, kalimat itu memiliki makna besar untuk kehidupan kita. Inilah yang aku sebut proses belajar di dalam kelas dan di dalam kehidupan. 

Sejatinya hidup itu sendiri adalah ujian. Ujian tidak akan pernah berhenti selama proses kehidupan itu tidak berhenti, itulah mengapa kalimat itu terus terpampang di sana. Setiap kali kita menemui ujian itu, maka di situlah peluang kita untuk menjadikan diri kita lebih baik ataupun lebih buruk. Kita mampu menjadikan ujian di setiap fase kehidupan sebagai sarana kita untuk menjadikan diri kita lebih baik. Itu kalau kita mampu berikhtiyar dalam menempuh ujian itu ya. Berikhtiyar adalah bertawakal setelah berusaha. Karena dengan ikhtiyar, kita secara tidak langsung melibatkan ALLAH dalam setiap langkah kita. 

Karena hakikatnya manusia hanya mampu merencanakan, dan Allah yang menentukan. Sebuah keberhasilan dalam ujian bukanlah diukur dengan mendapatkan apa yang kita inginkan. Tapi adalah ketika kita mampu bersyukur dengan apa yang telah Allah takdirkan untuk kita. Disinilah ujian dapat menjadikan diri kita menjadi lebih baik, menjadikan kita tetap mengingat Allah di setiap langkah hidup kita. karena ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak akan lupa untuk bersyukur mengingat Allah. Dan ketika Allah belum memberikan apa yang kita inginkan, maka syukur dan muhasabah akan menjadikan kita tetap mengingat Allah, dan menjadikan diri kita lebih baik. 

Bagaimanapun, ujian dalam kehidupan ini juga dapat menjadikan kita lebih malah menjadi lebih buruk dari sebelumnya. Ketika kita lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap masalah dan dalam setiap langkah hidup kita, sejatinya kita akan kehilangan arah, mencari bantuan kepada makhluk yang juga memerlukan bantuan.  Lagi-lagi tanpa pemahaman, pengertian itu kurang memiliki arti. Di dalam kelas kita belajar untuk ujian, tapi di dalam kehidupan kita diuji untuk belajar. Keduanya tetap memiliki kesinambungan satu sama lain. teruskan perjuanganmu wahai pejuang ilmu. 

Bagaimanapun kau akan sampai pada titik di mana kelas dan kehidupan akan bertemu di satu titik yang menjadikanmu lebih mengahargai perjuanganmu sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Karena kehidupan di dunia adalah ladang amal kita, dimana kita akan kembali membawa hasil untuk kehidupan abadi kita.

الإمتهان يكرو المرء أو يهان

(Ujian memuliakan-mu atau menghinakan-mu).


Penulis: Sarah Noor Islah Jamil

Gambar: Islami.co Seketika ada yang ingin kutulis tentang cerita kejam yang berhasil menjadi landasan untuk bangkit. Kenangan ini...


Related image
Gambar : commons.wikimedia.org
Suatu pagi di kampus ku IIUM tepatnya pada tanggal 8 januari 2018 jam 8.50. Mama mengabarkanku untuk pulang ke Batam karna harus menjaga nenek. Sejujurnya, aku seneng tapi juga bingung mendengar kabar itu. Seneng karena akan pulang, namun bingung karena aku tidak memiliki uang sebanyak RM 200, yang digunakan sebagai ongkos pulang. Mau minta ke orangtua? Tapi...ga secepet itu sob...karena…

Sedari dulu…. mama mengajarkanku, kalo minta apa-apa jangan sama papa mama tetapi minta dulu sama Allah. Makanya, aku jadi mager kalo mau minta sama mama hehe. Pasti mama bilangnya “solat”. Setelah agak lama, baru dikasih atau Allah kasih dengan caraNya. Karena ke-mager-an itulah, aku harus usaha dulu dengan minta sama Allah. Terimakasih ma,pa telah mendidikku seperti ini. (Yuks sobat, hadiahkan Al fatihah untuk semua orangtua kita)

Jam menunjukkan pukul  9.00 sedangkan pukul 10 aku harus otw dari kampus ke pelabuhan Johor. Lalu aku mikir, gimana ya mau dapetin uang sebanyak RM 200 dalam waktu kurang dari setengah jam? Alhamdulillah, aku ingat cara mama papa yaitu “Bilang ke Allah”

Oke. jam 9 waktu dhuha, maka akupun sholat. Selesai sholat, aku bilang sama Allah: “Yaa Allah, tolong aku ini yang mau ke batam, kira-kira aku perlu RM 200. Beneran deh yaaAllah, aku ngga mau banget mohon-mohon sama manusia. Mohon-mohonnya sama Allah aja ya…dsb” Setelah itu, aku packing. Pede aja gitu. Tapi sebetulnya sambil berbisik dalem hati “Yaa Allah, uangnya gimana ya?”hehe. Qadarullah, cara usahaku (ikhtiar) adalah bertanya. Ya, aku bertanya kepada kaka roomate-ku. 

“Kak, Kakak tau ngga Ka, anak indonesia ada ngga ya Kak yang bisa minjemin uang?”
“Emang siapa yang lagi mau minjem uang Dek?”
“Aku sendiri Kak, insyaAllah pas aku kesini lagi tanggal 15 januari, uangnya dganti Kak”
*beliau ke kamarnya dan mengambil amplop* “Dek, ini aku ada tabungan, gunain dulu aja ya”
Singkat cerita, RM 200 pun ada ditanganku. Bahkan lebih dari RM 200. Allahuakbar.

Dari kisah ini, mudah-mudahan dapat menambah keyakinan kita kepada Allah SWT. 
Nah sobat-sobat... siapa yang mau beasiswa, exchange keluar negri, mau punya bisnis?  Jom! minta ke Allah.  Punya masalah sama temen, organisasi, masalah apapun? Bilang ke Allah. Mau berubah? Bilang ke Allah. Semuamuanya bilang ke Allah. Berdoalah dengan penuh keyakinan dan bergantung FULL kepada Allah. Berdoalah dengan menghilangkan rasa bergantung kepada manusia, uang atau yang lainnya. Itu rumus doa.

Jadi, kalo masalah menghampiri kita bisa tenang, karena kita kenal sama Allah. Allah lebih besar dari masalah kita. Allah yang ngasi masalah, Allah juga yang punya solusinya. Kalo kita mengutamakan doa disetiap apa yang kita inginkan, insyaAllah  jalan ikhtiar, solusi dan semuanya akan lebih indah nan berkah.

Dulu aku berfikir “Palingan doa yang akan terkabul hanya doa dari orang yang soleh dan baik saja. Aku malu mau doa” tapi ternyata aku salah. Allah itu baik banget. Gak mandang siapa yang berdoa. Karena Allah pasti mengabulkan doa kita. Seperti sabda Rasulullah SAW dalam HR.Ahmad 11302. Cara Allah mengabulkan doa ialah dengan salah satu dari 3 cara, yaitu: 1) Allah mengabulkan doa kita langsung di dunia 2) Allah menunda sampai waktu yang tepat/menyimpan doanya untuk kita di akhirat 3) Allah mengganti doa kita dengan ganti yang lebih baik. Alhamdulillah, ga rugi kan berdoa kepada Allah?

Bismillah, kuy sama-sama mengenal Allah lebih dekat! Karena itulah perkenalan yang HQQ 

Wallahua’lam bisshowab


Penulis : Nabilla Gita Forenza

Gambar : commons.wikimedia.org Suatu pagi di kampus ku IIUM tepatnya pada tanggal 8 januari 2018 jam 8.50. Mama mengabarkanku untuk p...

Menyepi
Gambar : global.liputan6.com

Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak tahu kemana arah yang hendak dituju. Tetapi, kita malah berdiam diri dan menyerah karna kebingungan hendak kemana. Kita sudah merasa sangat bodoh dan gagal dan menyalahkan diri kita karna tersesat.

Siapa yang salah di sini?

Di sebuah tempat itu padahal ada banyak papan-papan tanda jalan yang menunjukkan arah, di sana juga ada sang penjaga tempat atau pak satpam yang tahu arah-arah menuju tempat. Juga ada beberapa orang yang lewat untuk bisa ditanyakan tempat tujuan kita. Situasi ini terdengar tidak asing, bukan?

Tapi sayangnya, kebanyakan dari kita seperti orang yang dideskripsikan tadi. Ketika kita merasa tersesat dalam hidup yang sedang kita jalani sendiri ini, dan seketika bingung dengan kemana arah tujuan kita. Menangis berhari-hari pun tidak akan membawa ke tempat tujuan tersebut, apalagi berdiam diri dan menyerah membuat kita seakan tidak layak berpijak di dunia ini lagi,karna merasa gagal dengan diri sendiri.

Tapi ada sesuatu yang kita lupa, apa itu?

Kita lupa kalau ada “Pak Satpam”, ada papan-papan tanda jalan dan ada beberapa orang yang lewat di sekitar bangku yang kamu duduki ditempat itu. Iya, kita lupa kalau ada Allah SWT yang maha tahu segalanya, ada “buku manual” Al-Quran yang bisa selalu kita jadikan tempat untuk memahami cara untuk survive di tempat itu, dan juga masih ada orang-orang sekitar kita yang selalu bisa kita tanyakan, yang tidak lain mungkin keluarga kita yang bersama kita dari gigi kita baru tumbuh dua, sampai gigi kita tinggal dua lagi.

Bedanya dengan “pak satpam” yang hanya ada kalau dia lagi rajin ngeronda. Allah SWT selalu meronda 24/7, sampai-sampai Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Seru ya, tidak perlu nyari koneksi 4G atau mengisi paket quota untuk selalu bisa meng-update ke Allah tentang kondisi kita saat itu.

Kita hanya bilang “Ar Rahman“ “Ar Rahim” mungkin kalau Allah mau balas, akan segera dibalas, dan tidak membiarkan kita dengan “blue tick” atau “di-read doang”. Allah itu Sami’un yang artinya Maha Mendengar. Allah juga tidak pernah lelah mendengar hamba-hambanya. “Udah ya, kelamaan curhat kamu, hamba-hamba-Ku masih banyak tuh..” Tapi justru ketika kita selalu memanggil Allah untuk curhat, dengan menggunakan segala cara spesial-Nya, Allah selalu setia mendengar kita. Hanya saja, kita belum bisa mendengar balasan-Nya dengan kasat pendengaran kita. Kalau tidak, mungkin tidak ada lagi manusia-manusia yang curhat sesama manusia karna curhat sama Allah adalah tempat yang sangat nyaman.

Berbeda dengan manusia, ketika kita curhat 15 menit, dan bilang “Eh maaf ya, mau ngangkat jemuran nih, lanjut aja, dengerin kok ini” dan ternyata telfon kita sudah di-loudspeaker. Allah itu tidak pernah bosan & tidak pernah lelah. Ketika kita baru mendekat ke Allah, Allah bilang “Apa hamba ku? Ada apa? Kenapa?” Selalu siap mendengarkan curhatan kita, Mau kita curhat ketika lagi sedih, lagi bahagia, lagi benci sama orang, lagi suka sama orang, Allah pasti mendengarkan.

Apalagi kalau di sepertiga malam yang dingin, kita tahu kalau waktu ini adalah waktu doa-doa kita yang dipanjatkan seperti panah yang tidak pernah melesat dari sasaran. Tapi, lagi-lagi di waktu ini, kita manusia-manusia yang tidak tahu diri ini malas untuk meluangkan waktu untuk Allah dan menarik lagi selimut kita, padahal ketika itu adalah waktunya Allah lagi online dan Allah menyuruh malaikat-malaikatnya untuk turun dari langit untuk melihat siapa yang lagi berdo’a kepada Allah. Karna jika malaikat lihat, saat itu juga malaikat-malaikat langsung berebutan ingin melaporkannya ke Allah supaya Allah bisa mengijabah do’a kita.

Apa itu cinta?

Kalau di kamus-kamus atau di novel-novel sastra mungkin akan sangat berat mengartikannya atau bahkan menggambarkan bentuk sebuah illusi atau gambaran yang sangat mendalam. Menurutku, cinta itu simpel. Aku menemukan cinta. Disitu, ketika aku mendengar tentangnya, isi perutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan tak tentu arah dan hati yang tiba-tiba tidak sadar mengencang bunyi ‘dup dup dup’ nya, membuat ku pun yakin dan ingin mengatakan kalau, “He’s the One.” Dan ya, Dia adalah Ar-Rahman.

Semoga Dia tetap selalu menjadi tempat ternyaman untukku, dan semoga menjadi tempat ternyaman untuk kita semua juga sampai saatnya nanti kita harus kembali ke pangkuan-Nya dan akhirnya bertemu langsung dengan tempat ternyaman ketika di dunia dulu.


Penulis : Adya Laras Tsabita Atindriya

Gambar : global.liputan6.com Pernahkah kita merasakan datang ke sebuah tempat yang benar-benar asing dalam keadaan sendiri dan tidak ta...