"Jalan Allah ini sangat panjang. Untunglah kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanyasanya kita diperintahkan untuk mati di atasnya." (Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani)

Judul buku ini diambil dari tajuk tabligh akbar yang diadakan di Islamic Book Fair setahun sebelumnya. Ditulis oleh kedua ustadz penulis kondang, jadilah buku bergizi ini kolaborasi apik dari beliau berdua. Bagi yang sudah akrab dengan buku-buku terbitan Pro-U Media, tentu tak lagi asing dengan konsep 'dua wajah' dari buku ini. Sisi pertama ditulis oleh Ustadz Salim A. Fillah yang menulis tentang dakwah. Sedangkan sisi kedua ditulis oleh Ustadz Felix Y. Siauw yang bercerita tentang ukhuwah.

Ustadz Salim memberikan penjelasan tentang dakwah secara singkat, melalui garis besar tafsir Qur'an Surah Yusuf ayat 108. Kata per kata, kalimat per kalimat dijelaskan dengan amat apik. Mulai dari jalan dakwah yang panjang tempuhannya, sedikit kawanannya, juga banyak timpaannya hingga sampai pada titik dimana kita menentukan posisi diri. Kita akan diajak menelusuri kisah-kisah dakwah Rasulullah S.A.W juga para sahabat, tabi'in dan ulama-ulama sesudahnya dalam memperjuangkan agama ini.

Bab yang paling menyentuh dari bagian ini adalah saat sampai ke akhir ayat. Pada titik di mana kita mungkin mempertanyakan diri sendiri; Kemana ilmu akan membawa kita? Lebih dekat dengan Allah atau justru menjauhkan kita dari-Nya? Sudahkah niat kita lurus dalam berdakwah dan menuntut ilmu?

Sisi lainnya yang berkisah tentang ukhuwah, juga dituliskan dengan begitu indah. Menelaah sebab-sebab kenapa kita sekarang ini mudah berpecah, padahal doa-doa yang kita langitkan masih sama. Kenapa kita mudah sekali berselisih paham pada sesama, namun mudah pula bertenggang rasa pada yang tak seharusnya.

Ah, mungkin kita terlalu sibuk pada diri sendiri, hingga tak sempat bersilaturahmi. Padahal jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu untuk saling melihat, betapa sesama kita memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Ustadz Felix menuliskan bagian ini dengan halaman yang tidak terlalu tebal, namun sarat makna.

Dengan total halaman berkisar 250-an, buku kecil ini sungguh sarat makna dan begitu berkesan. Bagi Anda yang sedang ingin mendalami makna tentang dakwah dan ukhuwah dengan gaya bahasa yang ringan, ‘Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku’ adalah pilihan yang tepat.

Bersamamu, Di Jalan Dakwah Berliku | Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw | Pro-U Media | 2016 | 256 halaman |

Peresensi: Alya Adzkya 



"Jalan Allah ini sangat panjang. Untunglah kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanyasanya kita diperintahkan untuk ma...

source:twitter.com


Sungguh betapa berharganya seorang wanita sholihah yang dapat menjaga kehormatan dirinya, menjaga pandangannya, tidak pernah disentuh oleh laki-laki yang bukan mahramnya, indah akhlak dan tutur katanya, lembut kepribadiannya, juga teguh iman dan takwanya. Bagaimana tidak? Rasulullah langsung yang menobatkan bahwa ia adalah sebaik-baik perhiasan dunia. Ya, coba bayangkan, betapa banyak dan mewahnya perhiasan di dunia ini yang terkalahkan oleh pesona wanita sholihah.

Salah satu ciri wanita sholihah adalah yang pandai menjaga diri dan tidak mendekati apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya. Akan tetapi mudahkah kita sebagai muslimah yang hidup diakhir zaman ini menjadi muslimah yang menjaga diri? Apalagi sebagai makhluk yang tidak terlepas dari sosialisasi bahkan tuntutan kerja dan organisasi yang tidak jarang harus berinteraksi dengan laki-laki. Berikut tips menjaga diri untuk saudari yang saya cintai:

1. Memakai baju yang syar’i.
Baju yang syar’i mestilah yang menutup aurat dan bukan tujuannya untuk membungkus aurat (ketat), ditambah berjilbab rapi yang menutupi dada lebih dapat menjauhkan diri dari fitnah dan menghindari terpancingnya syahwat pria, juga tidak lupa memakai manset tangan jika dikhawatirkan bagian lengan akan terbuka saat beraktifitas dan kaos kaki karena kaki termasuk aurat dalam mazhab syafi’i yaa sholihah.

2. Ghoddhul bashor (Menundukkan pandangan).
Menjaga pandangan memang wajib bagi setiap muslim dan muslimah didalam surat An-Nuur ayat 30-31, dengan terjaganya pandangan maka akan secara otomatis akan terjaga pula kehormatannya. Salah satu hikmah menundukkan pandangan pada yang bukan halal ialah menambah kesetian istri pada suami dan sebaliknya, serta perlu diingat menjaga pandangan tidak hanya di dunia nyata melainkan juga di dunia maya seperti diinternet atau media sosial

3. Menjaga wudhu dan menjaga jarak dengan yang bukan mahrom.
Dengan adanya wudhu, pasti kita tidak maukan wudhunya batal karena tersentuh pria yang bukan mahrom? Dan langsung refleks menjaga jarak meskipun dalam diskusi grup, rapat atau di tempat umum lainnya. Biasanya wanita yang menjaga jarak dan tegas dalam hal ini, maka laki-laki pun akan segan mendekat apalagi menyentuhnya meskipun hanya sekadar bercanda atau bergurau, kalaupun serius bisa langsung mendekati ke orangtuanya dan minta ta’aruf.

4. Menjaga rasa malu.
Fitrahnya setiap wanita adalah mempunyai sifat malu. Malunya seorang wanita adalah mahkota kemuliaan yang akan menjadikan dirinya lebih berharga, ia mempunyai aurat yang harus dilindungi, maka ia malu jika auratnya tidak dilindungi. Ia malu kalau tertawa terbahak-bahak, maka ia tidak akan tertawa seperti itu. Ia malu jika didekati lawan jenisnya, maka ia memilih untuk menjauh. Betapa banyak wanita yang menanggalkan rasa malunya karena lupa betapa berharganya mereka. Seorang wanita yang sholihah adalah sebaik-baik perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah yang terjaga, dan terjaganya itu ialah dengan rasa malu yang terdapat dalam dirinya sendiri.

5. Chat seperlunya dan ada aturannya.
Tidak sms/chat hal yang tidak penting, tidak sampai larut malam, isi teks langsung to the point, tidak perlu pakai emot apalagi sampai gombal-gombalan, kalau bisa sesingkat-singkatnya, tegas, salam awal dianjurkan, tidak berujung curhat ke lawan jenis.

6. Tidak berkhalwat (berduaan). 
Rasulullah SAW bersabda “Ingatlah, bahwa tidaklah laki-laki itu berkhalwat (berduaan dengan yang bukan mahrom) dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (H.R Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim). Meskipun itu ditempat kerja, rapat hanya berdua, atau dengan teman laki-laki yang sudah seperti keluarga sendiri, atau mohon maaf, berdua dengan yang orang yang terkenal alim sekalipun itu sebaiknya tidak dilakukan dan menolak dari pertama kali diajak berkhalwat, karena banyak cerita dan kasus-kasus pelecehan yang tidak diinginkan bermula dari khalwat ini, ya karena ada si setan ikutan.

7. Tidak pacaran.
Khalwat dan pacaran itu beda lho ya. Khalwat belum tentu pacaran, kalau pacaran itu udah pasti ada/sering khalwatnya. Khalwatnya saja sudah dilarang, apalagi pacarannya. Kenapa pacaran sangat dilarang dalam islam? Karena pacaran salah satu perbuatan yang mendekati zina, agar tidak sampai ke zina maka jangan pacaran. Orang yang pacaran itu ibarat buah yang dijual di pasaran, bisa dipegang, dicium, dicoba sesuka hati kalau tidak sreg, tinggal pilih yang lain. https://www.instagram.com/p/BzHXIBQl7l2/?utm_source=ig_web_copy_link

8. Tidak membiasakan upload selfie/foto diri di media sosial yang dapat dilihat semua orang.
Coba tanya niat diri sendiri sebelum upload foto diri ke media sosial untuk apa. Untuk dapat pujian? Untuk pamer? Na’udzubillahi min syarri dzalik. Jangan biarkan kecantikan kita mudah dinikmati orang lain apalagi lawan jenis yang tidak ada ikatan halal, kecuali kalau di share ke keluarga atau ke sesama teman perempuan agar tahu keadaan kita baik-baik saja. Semua kembali kepada niat dan hanya Allah yang maha tau isi hati setiap insan.

9. Memperbanyak teman yang mengajak ketaatan.
Jika anda mendapati teman seperti ini, pegang erat ukhuwahnya jangan sampai lepas, karena teman yang baik bisa menjadi salah satu syafa’at di akhirat kelak yang bersamanya selalu teringat allah, saling mengingatkan jika ada khilaf dan mengajak pada kebaikan, sehingga kita sebagai muslimah selalu terjaga dalam lingkaran ketaatan.

Cukup sekian yang dapat saya rangkum menjadi 9 tips ini, saya menulis ini karena saya menyayangi saudari seiman saya dimanapun mereka berada karena Allah. Boleh dishare jika dirasa bermanfaat. Syukran wa barakallah fiikunn.

Penulis : Ukhtukunn Fillah.

source:twitter.com Sungguh betapa berharganya seorang wanita sholihah yang dapat menjaga kehormatan dirinya, menjaga pandangannya, tid...


Ada sebuah kisah menarik antara seorang guru dan murid-muridnya yang mana suatu saat, sang guru menyampaikan sebuah nasehat yang kurang lebih berbunyi: “Janganlah malas seperti orang Jepang!”. Tidak, guru ini bukannya salah ucap. Kita semua tidak bisa menafikkan betapa tinggi etos kerja, betapa cekatan dan betapa disiplinnya orang Jepang, menjadikan negaranya negara maju yang menjadi cermin kesuksesan bangsa-bangsa lain, bukan hanya di Asia tapi di seluruh dunia.
Maka jika kita melihat dimensi nilai yang terkandung dalam nasehat ini, bukan hanya sang guru sekadar meminta muridnya untuk tidak bermalas-malasan, tetapi juga agar memiliki standard yang tinggi dalam menjadikan sesuatu acuan keberhasilan! Kita boleh saja memiliki acuan tertentu dalam memenuhi tujuan duniawi, karena bagaimana pun kita tetap tidak boleh ‘kalah’ di dunia tanpa melupakan bahwa ada kehidupan yang lebih indah dan abadi. Dan sejatinya seorang muslim, maka suri tauladan dengan standard terbaik yang telah Allah jamin kepada kita melalui firman-Nya adalah Rasulullah saw.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab : 21 )
Dan pembahasan tentang rasa malas sudah dibahas dalam bab lain, ‘komplit’ dengan solusinya yang merupakan satu paket super-lengkap! Yaitu sebuah do’a yang insya Allah kita baca setiap pagi dan petang sebagai bagian dari al-Ma’tsurat.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dr. Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya yang berjudul Mengapa Kita Kalah di Palestina? menuliskan bahwa bangsa Yahudi mampu bekerja selama 20 jam per hari. Beberapa tokoh dunia seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg mengaku menghabiskan waktu untuk tidur per harinya sekitar 7-8 jam, sedangkan tokoh lain seperti CEO Apple Tim Cook menghabiskan waktu hanya sekitar 3 jam untuk tidur. Terlepas dari berapa banyak waktu yang digunakan untuk beristirahat dan bekerja, poin yang kita dapat disini adalah bagaimana mengontrol diri sendiri dalam memanfaatkan waktu yang sudah Allah karuniakan kepada kita agar selalu produktif dan penuh berkah. Mengutip dari Ust. Adian Husaini yang dalam suatu kuliahnya juga pernah mengatakan bahwa yang menyebabkan kita kalah adalah bukan karena musuh yang hebat, melainkan karena diri kita sendirilah yang lemah.
Yang ingin saya bahas selanjutnya adalah sesuatu yang menarik mengenai kata ‘pembelajar’ dan ‘pelajar’. Jika kita tarik dari akar katanya maka akan muncul perbedaan yang mendasar. Kata ‘pelajar’ sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah anak sekolah, sedangkan ‘pembelajar’ adalah orang yang mempelajari. Maka, dapat kita pahami bahwa gelar pembelajar bersifat lebih abadi dan ‘adil’, sedangkan gelar pelajar hanya bisa didapat oleh orang-orang yang mampu mendaftarkan diri ke sebuah institusi pendidikan tertentu dan gelar tersebut kandas ketika telah menyelesaikanya studinya. Menjadi seorang pelajar yang juga merupakan pembelajar akan menjadi pilihan yang paling opsional bagi seorang muslim, karena sejatinya kehidupan itu sendiri salah satunya adalah pembelajaran tiada henti.
Terakhir yang paling penting dan akan sangat fatal jika dilupakan adalah pembelajaran mengenai adab. Imam Malik ra. pernah berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Adab tentang mempelajari ilmu, menghadiri majelis, menghormati guru, dan memanfaatkan ilmu itu tersebut. Islam sendiri sangat menekankan tentang bagaimana bersifat adil terhadap ilmu; menempatkan ilmu pada tempatnya. Dan contoh nyata yang telah Allah abadikan dalam Al-Qur’an untuk kita renungkan dan ambil hikmahnya adalah kisah Bani Israil.

“Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Jumu’ah : 5)
Semoga Allah senantiasa menjaga kita agar teguh menjadi pembelajar muslim yang beradab dan dimudahkan dalam menuntut ilmu. Aamiin yaa robbal ‘aalamiin.

Penulis : Annisa Shabrina

Ada sebuah kisah menarik antara seorang guru dan murid-muridnya yang mana suatu saat, sang guru menyampaikan sebuah nasehat yang kurang l...

sources:islampos
“Look beyond the eyes can see”
and “See the world for what it could be”

“Janganlah menyerah dalam memecahkan satu situasi. Namun, lihatlah pada apa yg kau mampu
lakukan lebih” inilah gaya berfikir seorang pemimpin, Muhammad Al-Fatih.

Nama aslinya Sultan Mehmed II. Ia dididik oleh para ulama sejak kecil. Ayahnya, Murad II
adalah seorang Sultan Empayar Turki yang keenam dan sudah punya misi tersendiri yang ia
rancangkan untuk anak laki-lakinya.

Jauh sebelum Murad II naik menjadi sultan negara Turki, ia telah menaruh perhatian besar
pada pendidikan anak-anaknya dalam ilmu agama dan akhlak. Ia pilih ulama-ulama terkemuka yang
ahli dibidangnya untuk membimbing anak-anak nya sedini mungkin. Jangan salah sangka, ulama-
ulama dizaman kesultanan dan kekhalifahan Islam adalah ulama polymath. Tidak sedikit dari
mereka yang pengetahuannya tidak terbatas pada satu bidang saja. Namun, pandai di bidang agama,
hafal alquran, bahkan, ahli di bidang ilmu lainnya. Yang menarik perhatian saya adalah, ilmu yang
mampu dikuasai para ulama saat itu adalah ilmu-ilmu rumit science, history, dan sastra. Beberapa
diantaranya: astronomi, kimia, teknik perang, dan ilmu kedokteran yang mereka pelajari dari kitab-
kitab bahasa asing dan mampu meneliti bagaimana ilmu-ilmu ini diterapkan dimasa sebelum-
sebelumnya. Tak heran, taktik peperangan Islam dizaman itu sangatlah mengesankan. Dan, ulama-
ulama inilah yang menjadi guru privat anak sultan Murad II saat itu.

Ada yang mengajar hanya untuk beberapa jam dan ada ulama khusus yang membersamai
mereka ke mana pun anak itu pergi. Mengajarkan ia berfikir akan arti dunia ini, dan apa misi terbesar
dalam hidupnya. Memotivasinya dengan cerita hebat rasulullah, serta, menanamkan jiwa ksatria
muslim pada dirinya. Kebiasaan inilah yang membangkitkan semangat sultan Mehmed II agar selalu
melihat kedepan dan merasa butuh untuk melakukan sesuatu, dan mempelajari ilmu-ilmu baru.
Sehingga, setiap waktu yang ia habiskan sangatlah produktif. Ia lebih dewasa menghadapi suatu
situasi dibanding anak seumurannya. Ia berani mengungkapkan opini dan ide. Matanya selalu
melihat kedepan dan berfikir, “apa yang mampu ia lakukan selanjutnya?”
Waktu berjalan dan hubungan sang ayah dengan sang anak sangat baik. Sultan Murad II
kerap mengunjungi anak-anaknya untuk mendidiknya secara langsung dan bertukar fikiran untuk membentuk pandangan hidup yang jelas bagi mereka. Sekaligus menanamkan semangat pada
anak-anaknya untuk menjadi panglima penakluk Konstatinopel terbaik, sebagaimana yang telah
dikatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Sultan Murad II pun kerap memberi ujian menantang
untuk anaknya ini. Ilmu tak cukup maksimal jika tak dicoba di medan lapang. Diumur 8 tahun,
Mehmed II berhasil menghafal seluruh Al-Quran. Setelah baligh, ia tak pernah meninggalkan shalat
tahajjud dan shalat berjamaah awal waktu. Shalat rawatib pun sudah menjadi kebiasaan hingga tak
pernah lupa mengerjakannya. Seringkali Mehmed II kecil diajak bertempur di medan perang. Diumur 6 tahun, ia telah diangkat menjadi gubernur. Dan diumur 12, ia diuji menjadi sultan
pemimpin negara.

Rasanya belum stabil ketika ia memerintah Turki di umur yang sangat muda. Tiba-tiba,
pemerintahan menghadapi situasi mencekam ketika musuh mendengar kabar terlantiknya seorang
bocah menjadi pemimpin negara, dan hubungan Mehmed II dengan para prajurit dan pemimpin
istana pun saat itu belum terlalu intens baik dan sehat.
Pada dasarnya kepribadian Mehmed II sudah sangat bagus. Ia berani dan punya misi, dan ia
meneladani sifat Rasulullah. Gurunya juga sudah menjamin keahliannya. Walaupun ia berumur 12
tahun, ia mampu mengontrol diri: visinya besar dan fikirannya matang. Namun, skill eksternalnya
nampak belum terasah se-profesional mungkin. Maka, setelah 2 tahun menjabat sebagai sultan,
ia diturunkan dan digantikan lagi dengan ayahnya.

Kegagalan ini ia jadikan sebagai langkah awal yang besar untuk melompat tinggi sukses dalam
memimpin. Maka, selama beberapa tahun ia habiskan waktunya membangun jaringan, koneksi
dengan para prajurit, penasihat, jenderal dan masyarakat. Memahami cerita Umar bin Khottob yang
selalu melakukan errands berpatroli ke rumah-rumah disaat malam hari, ia pun terinspirasi dan
melakukan hal yang sama. In disguise, ia melihat keadaan rakyat dan bertukar pikiran dengan
mereka. Interaksi dengan lingkungan adalah target self improvement eksternal nya saat itu.
Betapa keren dan terstrukturnya hidup Mehmed II, didikan pada self internalnya sudah
diasah sejak dini, keberanian dan teladan Rasulullah dan kesatria islam lainnya pun ada dalam
dirinya. Sejarah, bahasa, dan sastra pun adalah sumber ilmu komunikasi dan informasi berfikirnya.
Digabungkan dengan kemauan kerasnya, dalam umur kurang dari 17 tahun, Mehmed dapat
menguasai bahasa musuh dan Persia. Pun, dengan dalih bahwa sebagai Muslim kita wajib mempelajari agama dengan maksimal, ia kuasai Bahasa Arab dengan fasih, bagaikan bahasa ibunya
yang ia cakap sehari-hari.

Di tahap selanjutnya pun ia pelajari hubungan eksternal, bagaimana bernegosiasi dan
meyakinkan orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya. Hingga pada akhirnya ia diangkat menjadi Sultan tetap, di saat umurnya yang ke 19 tahun. Di umur 21 ia lancarkan project besarnya
menaklukkan Konstatinopel dan disitulah ia ingin melihat, seberapa dekat ia dengan hadits Rasulullah:

كنا عند عبدِ اللهِ بنِ عمرو بنِ العاصِ، وسُئِلَ أيُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فدعا
عبدُ اللهِ بصندوقٍ له حِلَقٌ، قال: فأخرج منه كتابًا قال: فقال عبدُ اللهِ: بينما نحنُ حولَ رسولِ اللهِ
نكتبُ، إذ سُئِلَ رسولُ اللهِ: أىُّ المدينتيْنِ تُفتحُ أولًا القسطنطينيةُ أو روميَّةُ؟ فقال رسولُ اللهِ: مدينةُ
هرقلَ تُفتحُ أولًا: يعني قسطنطينيةَ
“Kami berada di sisi Abdullah bin Amr bin Ash dan beliau ditanya tentang mana
kota yang dibuka terlebih dahulu, apakah Konstantinopel ataukah Romawi? Maka beliau
meminta untuk diambilkan sebuah kotak, lalu beliau mengeluarkan sebuah kitab lalu
berkata: ‘Berkata Abdullah bin Mas’ud: Tatkala kami bersama Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam untuk menulis, tiba-tiba beliau ditanya: Manakah kota yang
terlebih dahulu dibuka, apakah Konstantinopel ataukah Romawi?’. Maka beliau
menjawab: ‘Yang dibuka terlebih dahulu adalah kota Heraklius’. YaituKonstantinopel“.

لَتُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah
yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.

Kemenangannya di Konstatinopel disambut dengan banyak pujian dan rasa syukur
kepada Allah, itulah kemenangan yang telah dinanti-nantikan oleh umat Islam bertahun-tahun lamanya. Sekarang, kita akan lihat siapa yang mampu menjadi the next Ghazi
menaklukkan Roma.

Disarikan dari buku “Muhammad Al-Fatih 1453”


Penulis : Ursila Husnul Ridho

sources:islampos “Look beyond the eyes can see” and “See the world for what it could be” “Janganlah menyerah dalam memecahkan satu si...


Setiap manusia di hidupnya pasti pernah sukses dalam suatu hal, sekecil apapun hal itu. Kita juga pernah merasa puas/bangga karena suatu pencapaian yang dapat kita raih. Tapi, pernahkah kita bertanya-tanya dan berfikir  darimanakah kunci kesuksesan kita berasal?

Di artikel ini kita perlu ingat, bahwa sekecil apapun keberhasilan yang kita dapat dan seberapa banyak impian kita yang telah terwujud semua itu datang dari restu kedua orangtua terutama seorang ibu dan juga doa seorang ibu yang telah dikabulkan oleh-Nya. Terkadang banyak dari kita merasa hebat dengan apa yang ia telah capai, bangga dengan kemampuan yang ia miliki sampai lupa bahwa semua itu berasal dari restu dan doa dari beliau, tanpa restu beliau belum tentu hal-hal dalam hidup kita bisa terwujud. Kitapun sering lupa untuk berterimakasih kepada beliau, jangankan untuk berterimakasih kepada beliau, berterimakasih/bersyukur kepada Tuhan pemilik semesta alam saja masih sering kita lupakan, bukankah begitu?

Banyak orang sukses di dunia ini memiliki hubungan baik dengan kedua orangtua mereka karena mereka tau sesungguhnya ridha Allah ialah ridha orangtua. Dan perlu kita ketahui bahwa doa seorang ibu itu tanpa batasan di hadapan Allah S.W.T. Menembus langit. Sehingga doa ibu untuk anaknya itu sangat mudah dikabulkan oleh-Nya. Tetapi masih banyak anak yang tidak percaya dengan hal ini, padahal  seorang ibu selalu mendoakan yang terbaik untuk anaknya tanpa diminta. Jika boleh berbagi sedikit cerita, dahulu aku sempat belajar Bahasa Arab dan berbicara dengan Bahasa tersebut sehari-hari dan itu  bukanlah hal yang mudah. Aku bukanlah anak yang pandai dalam bidang bahasa. Jangankan mahir, saat itu, rajin dalam mendalami bahasa arab pun aku tidak terlalu. Tapi entah bagaimana, setiap ujian, yang notabene berbahasa arab, yang ku hadapi untuk kenaikan kelas, Alhamdulillaah Allah selalu mudahkan. Hingga aku bisa lulus dengan hasil yang bisa dibilang baik. Aku sempat bertanya-tanya tentang keberhasilan yang ku dapat ini. Setelah mencoba flashback, akhirnya akupun tersadar akan suatu hal yang pernah ku lakukan. Seringkali aku menelpon ibuku, berbicara dan meminta doa dari beliau. Saking seringnya sampai aku tidak menganggap itu suatu hal yang serius ataupun berat. Aku selalu bilang “Ibu doakan ya, semoga semua urusanku dimudahkan oleh Allah dan diberikan yang terbaik” ibu selalu menjawab “pasti nak” dan dilanjutkan oleh nasehatnya yang selalu menenangkan hati. Itu sering terjadi hingga saatnya aku paham bahwa apa yang Allah berikan dan kabulkan untukku tidak lain karena doa dan restu dari seorang ibu. Dengan doa dan restu dari beliau-lah segala sesuatu yang ku takutkan hilang dan terasa mudah dijalani.  

Dari cerita diatas semoga kita bisa lebih bersyukur atas apa saja yang telah kita capai hingga detik ini dan lebih berterimakasih kepada orangtua kita, terutama ibu, sebelum semuanya terlambat. Biasakan dari sekarang untuk tidak segan meminta doa dan restu mereka untuk segala langkah yang akan kita ambil kedepan. Insyaallah jika mereka tau apa yang ingin kita capai dan merestuinya, beliau pasti mendoakan untuk kelancaran & kesuksesan kita. Jadi jangan pernah lupa ya kawan, di balik keberhasilan kita terdapat doa tulus dari sang ibunda (yang barangkali kita tidak sadar) mendoakan kita di setiap nafas, kala bermunajat kepada-Nya .

Syukron ala kulli haalin

Penulis : Ami Dila Peruri



Setiap manusia di hidupnya pasti pernah sukses dalam suatu hal, sekecil apapun hal itu. Kita juga pernah merasa puas/bangga karena suatu...