Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki keluarga dari kalangan manusia; mereka adalah para Ahlullah, Ahlul Qur’an dan orang-orang yang diistimewakan-Nya 
(H.R Ahmad)

Hilmi menutup mushafnya setelah menyelesaikan target muroja’ah harian hari ini. Menghela napas panjang, ia mengedarkan pandangan pada suasana menenangkan di sekitarnya. Malam ramadhan ke-21, dan Hilmi memutuskan untuk I’tikaf di salah satu masjid basis Huffazh tak jauh dari Ruha untuk mengikuti dauroh mutqin yang diadakan Indonesia Muroja’ah.

Ia sendiri sudah hampir seminggu bermalam di kamar khusus para Imam Muda. Roadshow Imam Muda yang diadakan pondok kembali menunjuknya untuk berpartisipasi tahun ini. Program Imam Muda bisa dibilang merupakan persiapan anak-anak santri Ruha untuk terjun langsung ke masyarakat. Program ini menyiapkan beberapa kader terpilih untuk bergantian mengisi kultum hingga menjadi Imam Tarawih di masjid dan majelis ta’lim yang mengundang.

Tahun ini Hilmi memilih shift kedua untuk bertugas karena tak ingin melewatkan puasa pertama di rumah. Sekalian mengambil rehat sejenak dari kepadatan wisuda dan segala pernak-pernik kelulusan yang baru saja ia lewati. Apalagi ia juga harus langsung menjalankan tugas pengabdiannya di Markaz Tahfiz. Membantu merapikan administrasi santri yang sedang mengambil sanad, juga beberapa kali mendampingi asatidz dalam beberapa acara.

Sayangnya, keputusannya itu membuat Hilmi tak bisa mengikuti dauroh mutqin yang diadakan IM pada 10 hari terakhir ramadhan. Untung saja ia kenal baik dengan ketua panitia acara, jadi meski tak resmi menjadi peserta Hilmi bisa menyempil sejenak mengikuti program sejak pembukaan sore tadi.

“Mau begadang, Bang?” sapa Fatih yang segera mengambil tempat duduk di sampingnya. 

“Nggak deh kayaknya. Besok jadwal ana full. Paling nunggu jam 12 baru tidur sebentar.”

Fatih hanya mengangguk pelan menanggapi. Suasana di sekitar mereka masih lumayan ramai dengan suara lantunan tilawah-muroja’ah.

“Ternyata jadi Hafizh itu berat ya, Bang.”

Perkataan Fatih barusan membuat Hilmi mengangkat alis. “Kenapa gitu?”

“Hmm, Fatih baru nyadar aja. Kalau isu-isu di pondok itu ternyata nggak seberapa dibanding ekspektasi masyarakat ke para penghafal kayak kita. Apalagi yang udah khatam.”

Ah, ya Fatih baru saja menyelesaikan setorannya di hari ke-7 ramadhan kemarin. Hilmi sempat hadir di pembacaan doa khotmilnya. Sosok juniornya itu tampak menghela napas panjang, lalu melanjutkan. “Baru tahun ini ngerasain jadi imam di luar pondok, beban tanggung jawabnya berasa beraaat banget. Apalagi sambil bawa nama almamater. Harus hati-hati banget bersikap dan bertindak.”

“Ya, udah risiko sih itu. Kita jadi santri aja pandangan orang-orang udah beda. Apalagi ditambah ‘santri penghafal Qur’an’ beban amanahnya nambah juga. Tapi ya, Tih kalo dipikir-pikir, semua omongan, sindiran, atau apalah itu sebenernya jadi pengingat kita juga buat lebih berhati-hati dalam bersikap.”

Hilmi meletakkan mushafnya di salah satu meja terdekat. “Ada yang bilang, Penghafal Qur’an itu memang Qur’an udah ter-copy di otaknya. Tapi belum tentu terinstal di hatinya. Reminder buat kita sih, untuk terus memperbaiki diri dan akhlak. Jangan sampai, ayat-ayat cahaya ini cuma terasa di lidah aja. Nggak berbekas ke hati.”

 “Sebenernya, akhir-akhir ini ana lagi kepikiran sesuatu. Abis nugas Imam Muda dua hari kemarin, tiba-tiba ana keingetan hadits Rasulullah tentang tiga golongan yang pertama masuk neraka tanpa hisab. Salah satunya penghafal Qur’an yang niatnya nggak lurus. Dia menghafal karena ingin dipanggil Hafizh, dipuji orang-orang.”

Hilmi menghela napas berat. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim itu sungguh membekas di benak Hilmi. Betapa sanjungan, pujian dan popularitas bisa membelokkan niat seseorang dengan mudah. Di titik ini, ia tersadar. Jika semua lelah, takkan berarti jika tanpa Lillah di dalamnya. Alih-alih mendapat kedudukan tinggi sebagaimana ia membaca Al-Qur’an di dunia, jangan-jangan ia justru dilemparkan ke neraka.

“Makanya ana bilang barusan, Bang. Jadi Hafizh Qur’an itu berat. Buat Fatih, doa pas khotmil itu yang paling membekas. Gimana kita merayu Allah untuk mengizinkan kita nggak hanya menyelesaikan bacaan Qur’an di dunia, tapi juga bersama Qur’an sampai ke surga.”

Hilmi memejamkan matanya yang mendadak terasa berair. Ya Allah, jadikanlah Al Quran teman bagi kami di dunia. Dan pendamping untuk kami kala di liang kubur. Juga penolong kami saat hari kiamat. Dan cahaya bagi kami ketika di atas sirath. Serta sahabat kami untuk menuju surga. Dan penghalang bagi kami dari api neraka. Bait doa yang selalu berhasil membuatnya menangis tanpa aba-aba.

“Itulah Ahlul Qur’an yang sebenarnya kan, Tih? Nggak penting seberapa lama kita menghafal Al-Qur’an, yang paling penting seberapa lama kita bisa bersama hafalan Qur’an itu selama sisa hidup kita,” ujar Hilmi melanjutkan.

“Duh, malem-malem gini obrolan kita berat banget sih, Bang.”

Tawa spontan Hilmi pecah mendengar celetukan Fatih. “Siapa coba, yang mulai tadi?”

Fatih hanya menampilkan cengiran tak berdosanya.

“Mi, antum jadi imam tahajjud ya? Bacanya bebas deh ngacak juga nggak apa-apa.” Tiba-tiba saja Kang Hamid sudah ada di hadapan mereka dengan tangan penuh kertas. 

“Eh? Hilmi ke sini mau rehat loh, Kang. Besok jadwal udah full lagi di Tangerang,” sahut Hilmi dengan nada memelas.

Kang Hamid menaikkan sebelah alisnya saat mendengar alasan Hilmi barusan.

“Semua aja pake alasan yang sama tiap ditunjuk jadi badal. Fatih juga nih sama aja. Pokoknya antum imam tahajud besok ya, Tih. Nggak pake tapi.” Kang Hamid menetapkan tanpa menerima argumen apapun.

“Bacanya bebas kan, Kang? Siap kalo itu mah.”

Hilmi dan Fatih berbincang ringan sebentar lantas menepi untuk tidur sejenak. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara Fatih membaca surat Yusuf ayat 108. Seketika, Hilmi teringat sebuah kutipan dari Syekh Nashiruddin Al-Albani yang dikutip ulang oleh Ustadz Salim A Fillah dalam bukunya.

“Jalan Allah ini sangat panjang, untunglah kita tidak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Hanyasanya, kita diperintahkan untuk mati di atasnya.”

Penulis: Annisa Alya Adzkya

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memiliki keluarga dari kalangan manusia; mereka adalah para Ahlullah, Ahlul Qur’an dan orang-orang ya...



 

Hilmi keluar dari kamar sambil membawa mushaf biru kesayangannya.  Ramadhan hari kesepuluh, dan ia senang karena rumah sudah kembali ramai dengan kecerewetan Nida yang baru pulang liburan. Tambahkan kerusuhan Dzaki yang tiba-tiba menginap sejak semalam, rasa-rasanya ia akan menghabiskan lima hari terakhirnya di rumah dengan menyenangkan.

Omong-omong, di mana kedua tom and jerry itu sepagian ini? Hilmi melirik jam dinding di ruang tengah saat sudah sampai di lantai bawah. Sudah pukul 9  lewat. Waktunya mereka setoran pagi setelah tadarus sehabis subuh.

Harusnya ia bisa menemukan Nida tertidur masih dengan mukena lengkap di sudut mushola, atau Dzaki yang asik main game di sofa ruang tengah. Di mana mereka? Hilmi mulai mencari keduanya di sekeliling rumah. Bunda dan Ayah sudah pergi sehabis subuh untuk menemui rekan kerja Bunda di kota sebelah, hingga seluruh aktivitas rumah sampai ashar sudah dialihtugaskan kepadanya.

Mereka berdua jelas tidak ada di kamar, karena hanya ia yang naik ke lantai atas setelah selesai tadarus. Ia berjalan menuju taman belakang. Matanya menangkap dua pasang sandal yang berada di bawah tangga paviliun.

Alis Hilmi terangkat sebelah. Paviliun? Really? Mau apa kedua santri akhir Ruha itu setelah bebas dari pondok kemarin sore? Hilmi bergegas menuju paviliun yang menjadi perpustakaan serta berfungsi sebagai markas besar mereka jika para sepupu sedang berkumpul.

Tak ada suara terdengar dari depan pintu. Nggak mungkin juga lagi pada  asik baca, kan? Kalo Nida sih mungkin-mungkin aja. Tapi Dzaki? Biang kerok satu itu kan nggak suka baca. Hilmi perlahan membuka pintu dan menemukan pemandangan ajaib di sofa sudut.

Ujung bibirnya berkedut melihat posisi adik dan sepupunya itu. Nida dan Dzaki tampak serius menonton sesuatu di laptop, dengan earphone masing-masing satu di sebelah telinga keduanya.

“Nid! Gedein lagi volumenya. Masa musik latarnya lebih kenceng dari dialog? Nggak kedengeran lagi ngobrolin apaan.”

“Berisik! Emang begini file-nya. Udah paling gede ini suaranya. Dibilangin juga tadi pake speaker aja malah ngeyel. Lagian di rumah cuma ada Bang Mi ini. Paling kalo ketahuan, Bang Mi bakal nimbrung nonton,” omel Nida setelahnya.

“Lagi pada nonton apaan sih? Nggak ngajak-ngajak lagi.” Suara Hilmi membuat Nida dan Dzaki menyadari eksistensinya.

Keduanya hanya memasang cengiran tak bersalah. Hilmi sudah sampai di dekat mereka dan melihat apa yang sedang ditonton keduanya.

“Alif Lam Mim? Serius, kalian baru nonton?” tanya Hilmi tak percaya. Film genre action dengan tema konspirasi itu memang sedang hangat di kalangan anak-anak santri. Angkatan 7 bahkan membuat nobar di rumah Akhyar tak lama setelah mereka lulus.

“Biasa aja kali kagetnya, Bang. Iya kita baru pada tahu malah. Nggak usah disamain sama anak Sevareichen yang udah ‘melihat dunia luar’ sebulan lebih abis lulus,” sahut Dzaki sebal yang disambut tawa kecil Hilmi.

“Eh, udah pada dhuha, belom? Udah jam sembilan lewat ini. harusnya kita udah pada duduk rapi di mushola buat setoran—“

Perkataan Hilmi terhenti dengan gestur tangan Nida yang kembali asik menonton. “Tunggu, Bang. Nanggung. Limabelas menit lagi.”

Begitu saja lalu keduanya sibuk berkomentar tentang film yang ditonton. Nida memekik ngeri melihat adegan dalam film, sedangkan Dzaki mengomel karena menurutnya plot twist film itu sangat tak tertebak. Limabelas menit, dan keduanya mengakhiri tontonan dengan jeritan frustrasi penuh sebal.

What was happened? Itu siapa? Alif kenapaaa?”

“Apa-apaan nih! Itu bukan ending!”

“Dibilang open ending aja nggak bisa. Entah deh, memang bakal ada sekuelnya kali makanya akhirnya nge-gantung begitu,” ujar Hilmi menanggapi.

“Betewe, kalian nonton yang versi extended bukan?” tanya Hilmi lagi.

“Emang ada yang versi disensor?” Dzaki balik bertanya.

“Kalo kalian paham semua ceritanya Lam, berarti itu versi extended.”

Melihat tatapan penasaran bercampur dengan permohonan dari kedua mata di depannya, Hilmi tahu  kalau keduanya perlu menonton ulang film dengan plot menantang itu sekali lagi.

“Sekarang pada wudu dulu, sholat dhuha, terus setoran. Baru kita nonton ulang di lantai atas.”

Tak perlu diberitahu dua kali, keduanya sudah melesat pergi ke rumah utama. Hilmi menunggu Nida dan Dzaki bersiap sambil mengulang halaman yang akan ia baca. Sebelum jarum jam menunjukkan pukul sepuluh tepat, mereka sudah menyelesaikan agenda setoran ziyadah hari ini.

Dzaki bergegas ke kamarnya tanpa disuruh. Sedangkan Nida dan Hilmi menunggu Di balkon lantai dua yang menghadap ke taman belakang.

“Bang Mi tilawah mandiri juga, ya?” tanya Nida saat melihat abangnya itu sibuk memeriksa ulang tanda di mushaf kesayangannya.

“Hmm? Iya dek. Seenggaknya harus dapet tiga kali khatam selama puasa ini.”

Muroja’ah mandiri juga jalan?”

Hilmi mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan Nida. “Lah, yang barusan disetorin kan termasuk muroja’ah mandiri?”

“Bukan itu maksud Nida. Abang punya target harian muroja’ah mandiri kan? Di luar yang disetorin tiap pagi?”

Hilmi hanya mengangguk menanggapi.

“Sebenernya buat penghafal Qur’an nih. Lebih penting muroja’ah atau tilawah sih? Kalo pas ramadhan begini, apalagi dengan tuntutan mutaba’ah di pondok, Nida ngerasa kayaknya tilawah itu ngeberatin deh. Bukannya kita lebih wajib mengulang hafalan ya?”

Hilmi membenarkan posisi duduknya lalu meletakkan mushaf di meja kopi di sudut balkon.

“Dua-duanya sama aja sebenernya. Sama-sama interaksi kita bareng Qur’an kan? Dan ya, dari segi urgensi muroja’ah lebih penting dari tilawah. Tapi bukan berarti kita bisa mengabaikan tilawah sama sekali. Tilawah itu tetap penting, toh sebelum mulai ngafal halaman baru kita pasti tetep baca dulu kan? Nggak langsung ngafalin gitu aja?”

 

“Kalau Muroja’ah berfungsi membantu kita fokus mengulang hafalan yang kita punya, tilawah bisa ngebantu kita untuk lebih familiar sama halaman-halaman yang belum kita hafal. Kalo buat yang udah khataman kayak abang, tilawah ngebantu banget buat muroja’ah mandiri dengan waktu yang terbatas. Karena nggak semua orang bisa baca 5 juz tiap hari dan khataman tiap minggu, tilawah membantu ngejaga hafalan Al-Quran walau nggak bener-bener ngebaca lewat hafalan.”

“Menurut abang, tilawah dan muroja’ah itu sama-sama penting sih. Jadi paling nggak kita harus punya target harian mandiri buat keduanya.”

Penjelasan panjang lebar Hilmi membuat Nida mengangguk mengerti. Adiknya itu tampak menuliskan sesuatu pada post it yang ada di mushafnya.

“Betewe, Nid. Tilawah kamu bulan ini udah sampai mana?”

Hilmi sudah bersiap sembunyi dengan menjadikan meja kopi sebagai tamengnya saat Dzaki datang dengan suara riang sambil membawa laptop.

“Jadi, apa bedanya yang versi extended sama yang di-cut Bang?”

Penulis: Annisa Alya Adzkya

  Hilmi keluar dari kamar sambil membawa mushaf biru kesayangannya.   Ramadhan hari kesepuluh, dan ia senang karena rumah sudah kembali rama...


Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR

Tema : Fiqh Puasa (Part 2)
Pemateri : Ust. Ismail Farros, Lc
Tanggal : 3 Mei 2020
Pukul : 14.30-16.30 MYT
Tempat : Aplikasi Zoom

Muhasabah Ramadhan

Tidak terasa hari-hari Ramadhan telah berlalu. Maka setelah memasuki pekan kedua Ramadhan ini, kita perlu menghitung kembali (muhasabah) atas apa saja amal yang sudah kita lakukan.

Seperti apa malam-malam Ramadhan kita lalui?
Seperti apa kualitas tarawih kita, dzikir kita, disaat kita diberi Allah begitu banyak waktu luang?

Karena hari ini adalah masa beramal tanpa hisab, dan kelak adalah masa hisab tanpa perlu lagi amal.

Ketika kita tidak melakukan evaluasi secara rutin (misal harian), jangan sampai kita terkejut dan menyesal di hari akhir nanti. Pentingnya muhasabah juga disampaikan oleh Sahabat Nabi, Umar ra. :

حَاسِبُوْا أَنْفُوْسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا
Artinya: “Hitung-hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung (oleh Allah)”.
Esensi Berpuasa Ramadhan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2:183).

Dari Surat Al Baqarah ayat 183, kita dapat mengetahui, bahwa Allah memerintahkan kita untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Pengertian taqwa adalah mentaati perintah Allah swt. dan menjauhi larangan-Nya.

Berikut adalah amal-amal utama yang mendorong kita agar dapat menjadi pribadi yang bertaqwa :
A.Mentaati perintah-Nya
1. Sholat
Amalan yang paling pertama dihisab adalah sholat. Kalau sholat kita baik, maka insyaa Allah, kita akan dibimbing untuk mebaikkan amalan yang lainnya. Maka dari itu, berusahalah untuk meningkatkan kualitas sholat kita dengan menunaikannya tepat waktu dan dilengkapi dengan sholat sunnah rawatib, dhuha, dan tarawih. Bagi yang sudah merasakannya, akan ada kenikmatan tersendiri bila kita dapat 'mengejar-mengejar' sholat bukan kita yang dikejar-kejar waktu sholat.

2. Tilawah
Bulan Ramadhan erat kaitannya dengan Al-Qur'an. Hal itu dijelaskan di dalam kutipan Surah Al Baqarah ayat 185 :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
Artinya : (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia

Sebagaimana juga yang telah dicontohkan Rasulullah SAW serta salafussalih yang begitu dekat interaksinya dengan Al Qur'an, maka sebagai umat yang mengaku cinta kepada Nabi Muhammad kita perlu menanamkan pada diri kita kesungguh-sungguhan untuk berinteraksi dengan Al Qur'an.

3. Dzikir & Do'a
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW. bersabda:
مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang mengucapkan: SUBHANALLAHI WABIHAMDIH sehari 100 kali, maka kesalahan-kesalahannya akan diampuni (Allah Swt.) walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Imam Al-Bukhari no. 5926 dan Muslim no. 2691).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu". (QS. Al-Mu'min : 60)

Selain itu, istighfar, shalawat, serta dzikir setelah sholat juga termasuk dzikir yang utama.
Jum'at sore, waktu sahur, sebelum berbuka, dan ketika hujan termasuk waktu mustajab untuk bermunajat serta berdo'a kepada Allah swt.

4. Bersedekah

B. Menjauhi larangan-Nya
1. Taubat
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya : “Katakanlah; wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampunkan dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az-Zumar: 53)

Allah swt. memerintahkan kita untuk tidak berputus asa dari rahmat-Nya yang begitu luas. Berputus asa dari rahmat Allah justru merupakan suatu dosa.

Karena bila Ia berkehendak, sesulit apapun  kita meninggalkan maksiat, Allah swt. menjadikan kita membencinya.

2. Meninggalkan berbagai perkara yang sia-sia
Perkara yang sia-sia adalah apasaja yang tidak membawa kebaikan bagi kita di akhirat. Termasuk merugi bagi orang yang tidak merasakan syiar Ramadhan, menganggap bulan mulia ini sama saja dengan bulan lain.

3.Tidak bermaksiat di Bulan yang harusnya penuh ketaatan
Termasuk kerugian yang besar apabila kita bermaksiat di bulan yang banyak diisi oleh orang lain atau orang disekeliling kita dengan banyak ketaatan.

Demikian notulensi Kajian Dua Pekanan Fotar, semoga di pekan kedua Bulan Ramadhan ini kita tetap semangat dalam meningkatkan ibadah dan amal kebaikan.

Fotar IIUM
#DakwahHingaJannah

Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR Tema : Fiqh Puasa (Part 2) Pemateri : Ust. Ismail Farros, Lc Tanggal : 3 Mei 2020 ...



Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR

Tema : Fiqh Puasa
Pemateri : Ustadz Muhammad Azzam
Tanggal : 19 April 2020
Pukul : 14.30-16.30 MYT
Tempat : Aplikasi Zoom

Beribadah perlu ilmu, tidak hanya sekadar sah tapi juga diterima oleh Allah SWT

Sejarah Syariat Puasa :

1. Allah menurunkan syariat puasa pada tahun ke-2 bulan Sya’ban (ketika sudah di Madinah). Dan para sahabat berpuasa pada saat perang badar.
2. Rasulullah menjalankan puasa Ramadhan sebanyak 9 kali dalam hidupnya

Fiqh Puasa :

A. Pengertian
Bahasa : Al imsak (menahan)
Istilah: Menahan diri dari makan, minum, bersetubuh, dan hal-hal yang mebatalkan puasa dari terbitnya fajar sampai tenggelam matahari dengan niat ibadah.

B. Siapa yang wajib puasa : 
Muslim
Baligh (perempuan maupun laki laki)
Berakal (tidak gila dan sadar)
Mampu melaksanakannya 
 Muqim, orang yang menetap di suatu tempat
(jika musafir, orang yang sedang dalam perjalanan, maka tidak wajib baginya berpuasa, namun apabila ia berpuasa, maka puasanya sah)
Bebas dari penghalang (yakni tidak sedang haid ataupun nifas)

C. Rukun Puasa
1. Niat menahan diri dari hal yang membatalkan 
2. Menentukan awal bulan

D. Menentukan awal bulan
1. Melihat bulan sabit (hilal) Ramadhan, atau
2. Membulatkan bulan sya’ban 30 hari

E. Syarat sah puasa : 
1. Adanya niat, pendapat ‘ulama:
a. Boleh berniat untuk melakukan puasa selama seluruh ( 1 bulan Ramadhan)
b. Jumhur ‘ulama (niat pada setiap malam sehari sebelum puasa)
2. Muslim
3. Suci dari haid dan nifas
4. Berpuasa dihari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa

F. Hal yang membatalkan puasa
1. Makan, minum (yang disengaja)
2. Hubungan seksual pada siang Ramadhan (batal + kafarat)
Kafaratnya 1 dari 3:
a. Membebaskan seorang hamba sahaya
b. Puasa dua bulan berturut-turut, atau
c. Memberi makan fakir miskin
3. Muntah dengan sengaja
4. Merubah niat (contohnya niat untuk mau batal puasa walaupun tidak jadi makan / minum)
5. Murtad
6. Keluar mani dengan sengaja (sengaja masturbasi) batal puasa = ganti tanpa kafarat. Tidak sengaja, tidak membatalkan puasa
7. Haid ataupu nifas

G. Yang tidak membatalkan puasa
1. Makan atau  minum karena lupa, maka tidak batal. Wajib berhenti saat ingat ataupun ada yang mengingatkan
2. Keluarnya mani tanpa sengaja
3. Bekam
4. Bersiwak atau sikat gigi (makruh : meskipun tidak kemakan dan demi menjaga kebersihan tidak ada larangan sama sekali) tidak membatalkan dan tidak juga dilarang 
5. Kumur-kumur, istinsyaq selama tidak ada cairan yang masuk ke perut maka tidak membatalkan puasa
6. Mandi/ berenang (tidak batal selama tidak meminum airnya)
7. Kemasukan asap atau debu (Rokok? Batal karena asap roko mengandung zat zat e.g nikotin yang masuk kedalam tubuh)
8. Obat tetes mata (tidak batal/ karena tidak masuk kedalam perut)
9. Suntik (jika tidak memperkuat diri/suplemen tidak batal. e.g ; obat). Berbeda dengan infus, dia membatalkan karena maqasid dari salah satu tujuan puasa adala (menghilangkan rasa lapar.

H. Yang boleh membatalkan puasa (tidak berdosa)
1. Safar/ perjalanan : jarak 47 mil/89 km
2. Sakit yang mempengaruhi ketahanan puasanya (kalo kepentok doang, ngga termasuk)
3. Hamil dan menyusui. Ada dua pendapat:
a. Karena kecemasan terhadap diri dan bayinya maka dia hanya mengqadha hari dimana dia tidak berpuasa
b. Kecemasan hanya terhadap anak maka dia harus mengqodho dan membayar fidyah
4. Kondisi laper yang bikin sekarat
5. Dipaksa untuk membatalkan puasa (wajib ganti) contoh : keharusan mengkonsumsi obat
6. Pekerja berat (yang membuat tidak mampu puasa) / wajib ganti.

I. Tradisi puasa (tradisi menjadi terlarang ketika mengandung unsur maksiat, contoh: musyrik/ikhtilat, dll.)
1. Wajib ziarah kubur? Boleh dilaksanakan sebagai bentuk zikrul maut tapi tidak diwajibkan (kalua mewajibkan maka jatuhnya jadi dosa)
2. Mandi besar (balimau di sumatera barat) untuk mensucikan dirinya. Tidak dilarang oleh syariat tapi bukan sebuah kewajiban.
3. Puasa sehari/dua hari sebelu Ramadhan untuk berjaga-jaga (dilarang puasa) 
4. Ramadhan menjadi bulan ibadah (orang orang cuma ibadah selama Ramadhan saja tidak dibenarkan karena Ramadhan justru sebagai bulan latihan untuk istiqamah ibadah setelah Ramadhan)
5. Jangan menghabiskan malam Ramadhan dengan kegiatan yang tidak bermanfaat 
6. Berlebih-lebihan dalam makan dan minum (makan sampai kekenyangan saat berbuka: mudharatnya jadi mengantuk untuk shalat malam)
7. Sahur sangat dianjurkan karena mendatangkan barakah walaupun bisa puasa tanpa sahur tetap dianjurkan untuk sahur

J. FAQ Puasa

1. kapan berhenti makan sahur?
Mengetahui dengan jelas masuknya waktu fajar (walaupun belum adzan). Saat imsak sudah harus berhati-hati karena udah mulai masuk fajr. 10 menit sebelum azan dianjurkan untuk berenti makan shahur.

2. Lagi makan tiba tiba azan?
Segera berhenti makan

3. kondisi junub?
Boleh makan sahur terlebih dahulu kemudian mandi setelah adzan subuh sebelum melaksanakan shalat subuh.

4. Bagaimana hukum membatalkan puasa dengan sengaja?
Merupakan salah satu dosa besar dan tidak tidak bisa diganti walaupun dengan puasa satu tahun.

5. Istihadah (darah penyakit selain darah haid)
Wanita yang mengetahu siklus haidnya (jadi tahu mana darah istihadhah/haid). Apabila istihadhah maka wajib untuk tetap berpuasa, jika tidak mengetahu siklus haidnya, bedakan dengan jenis darahnya yang keluar

6. Kapan waktu mengganti puasa? 
Dilaksanakan pada bulan-bulan sebelum Ramadhan)
Jika tidak mampu mengganti dalam rentang waktu setahun boleh ganti dengan fidyah 

7. Meninggal sebelum qadha puasa?
Dua pendapat ulama :
1. Dibayarkan fidyahnya
2. Dalil lebih shahih : kewajiban qadhanya digantikan / dibagikan kepada ahli warisnya

8. Bagaimana jika lupa jumlah hari yg ditinggalkan?
Ambil yang pasti dan yang lebih banyak, tidak mungkin lebih dari 30 hari

9. Melakukan operasi saat sedang berpuasa?
Anastesi (tidak sadar) = membatalkan
Jika operasi tidak membuat hilang kesadaran, makan diperbolehkan.

10. Transfusi darah?
Makruh jika memudharatkan yg mendonor 
Dalam kondisi darurat diperbolehkan
Imam qardhawi : infus tidak batal karena tidak melalui tenggorokan

11. Hukum melakukan hubungan sexual selama siang hari bulan ramdhan?
Batal dan kafaratnya besar
Menyentuh pasangan diperbolehkan jika tidak menimbulkan syahwat. 
Hindari hal hal yg memancing syahwat

12. Bolehkan mencicipi masakan saat berpuasa?
Pastikan tidak melalu rongga perut dan tidak tertelan. Langsung kumur-kumur

13. Bagaimana hukum membayar puasa sehari/dua hari sebelum Ramadhan?
Puasa qadha sehari/dua hari sebelum Ramadhan diperbolehkan, tapi puasa sunnah tidak diperbolehkan.

14. Bagaimana jika tidak sempat ganti puasa sampai bertemu dengan ramadhan berikutnya?
Mengganti setelah Ramadhan dan plus bayar fidyah

15. Puasa Syawal dulu atau qadha dulu?
a. Puasa syawal waktunya terbatas sedangkan puasa ganti waktunya lebih luas
b. Idealnya mengganti yg wajib dulu baru puasa sunnah setelahnya
    Tapi jika tidak mampu (waktunya mepet) boleh puasa syawal dulu.

16. Batasan Jumlah rakaat solat tarawih?
Tidak ada Batasan khusus, boleh dilakukan berapa rakaat. (yang penting berkualitas)

K. Tips maksimal ibadah selama masa PKP

a. Pergi ke surau yang masih bisa digunakan
b. Membuat suatu tempat di rumah/asrama kita sebagai masjid (tempat khusus untuk ibadah)
c. Membuat kesepakatan (contoh : area ibadah adalah area bebas gadget)
d. Membuat target ibadah/amal. Bukan tentang banyaknya tapi juga kualitas ibadah.
e. Membuat tim untuk beribadah bersama-sama.
f. Melakukan evaluasi amalan dan ibadah (mutabaah)
h. Perempuan yang haid tidak boleh tilawah bisa mendengarkan murratal dan berzikir.
g. Skip atau menghilangkan kegiatan harian yang berpotensi menurunkan kualitas ibadah kita selama Ramadhan (music, menonton, makan yang berlebihan)
h. Shalat sunnah lebih panjang dengan sambil melakukan tilawah al-Quran dalam shalat.
i. Ikut kajian online, diskusi, dan membaca buku.

L. Zakat Firah
Hukum : wajib bagi yang bernafas selama bulan Ramadhan dan memiliki makanan pada hari itu.
Apabila belum memiliki penghasilan, boleh dibayarkan oleh orang tua.


Notulis : Keisya Azizah Khairunnisa

Notulensi Kajian Daring Pra-Ramadhan FOTAR Tema : Fiqh Puasa Pemateri : Ustadz Muhammad Azzam Tanggal : 19 April 2020 Pu...

http://www.republika.com

“When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman

Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus bertanya, masih jauh nggak? Sampai kapan? Udah sampai mana? Berapa lama lagi? Atau terjebak di kemacetan yang gak jelas dimana ujungnya dan kapan beresnya. Dan kamu nggak bisa mengubah keadaan. Tiap cek google maps, waktu perkiraan tiba terus berubah. Tapi kamu stuck, gabisa berbuat apa-apa.

Bukankah kali ini, situasi kita cukup mirip? Dipenuhi pertanyaan kapan usainya cobaan ini? Ada yang menyatakan tiga bulan, enam bulan, setahun? Dan kepala dipenuhi rencana-rencana yang tertunda. Ketidakpastian yang ada di depan mata.

Sadarkah kita bahwa justru itulah ujiannya : KETIDAKTAHUAN tentang KAPAN

Coba cek lagi, jangan-jangan yang bikin kita stress adalah RASA INGIN TAHU soal kapan ini semua berakhir, dan kapan pertolongan Allah swt. datang. Ingatkah kita, para nabi aja nggak dikasih bocoran. Nabi Ayyub nggak tau kapan bakal sembuh, Nabi Ya’qub nggak tau kapan akan kembali dipertemukan dengan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf nggak tau kapan keluar penjara, Nabi Yunus juga nggak tau kapan (atau akankah) keluar dari perut ikan. Allah swt tidak memberi tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kapan misi beliau akan selesai. 

Allah tidak menjanjikan berapa minggu ujian ini akan berlangsung, atau berapa bulan..tapi Allah berjanji akan memberi balasan terhadap setiap apa yang kita lakukan selama cobaan ini berlangsung. Tapi ya itu, ujiannya adalah kita ga tau sampai kapan.

Jadi daripada kita mikirin yang gak pasti, fokuslah pada saat ini. Lihat apa yang kita miliki sekarang dan syukuri. Keluarga, Kesehatan, rasa aman, yang belum tentu kita miliki beberapa minggu  ̸ bulan lagi. Tak ada yang janji bahwa kita gak bakal mati sebentar lagi, sebelum, atau setelah beres pandemi.

Sadari bahwa sabar itu bukan sekedar menunggu ujian ini berakhir, tapi tentang bagaimana cara kita menunggu.

Fokus pada saat ini. Banyak yang mesti kita lakukan. Banyak bekal yang mesti dikumpulkan. Berhenti terobsesi dengan segala probabilitas dan kemungkinan soal kapan. Tapi yakinlah bahwa akhirnya akan hadir ketenangan bagi orang yang beriman. Mungkin ketenangan di dunia dengan berakhirnya ujian ini, tapi yang pasti aka nada ketenangan di akhirat. Yakinlah bahwa Allah tidak akan membiarkan momen ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan sesuatu yang bermanfaat buat kita.

Jadi jangan sibuk bertanya : Kapan?. Apakah ini  akan sampai Ramadhan? Jangan menunda melakukan kebaikan hingga Ramadhan, lagipula, nggak ada yang menjajikan kita hidup untuk melihat Ramadhan.

Fokus untuk kembali pada Allah
S E K A R A N G. 

Penulis : @loveshugah

http://www.republika.com “When will live go back soon to normal?” – Imam Omar Suleiman Penahkah pergi bareng anak – anak, yang terus ...