Image result for ilustrasi orang yang putus asa
Gambar : dakwatuna.com

Belakangan saya menjadi takut ketika bertafakkur, karna saya jadi sadar akan kebodohan-kebodohan dan kelemahan-kelemahan saya yang masih menggunung. Saya yang dalam keseharian selalu merasa level keimanannya berada ditengah-tengah. Tidak mulia tapi ya tidak terlalu blangsak juga kelakuannya. 

Saya memutuskan untuk merubah diri, terutama dalam hal akhlaq. Setelah curhat dengan seorang guru, saya diberi tahu bahwa “Kamu tidak akan menjadi mulia, kalau kamu belum merasa dirimu hina Ki”. Lalu dilanjutkan dengan beberapa nasihat-nasihat lain. Saya menyimpulkan bahwa tidak baik menghakimi orang lain, mengkafirkan, mengatakan bahwa orang yang berbeda dengan saya adalah orang-orang yang salah. 

Lalu beliau menambahkan beberapa kisah tentang bagaimana orang-orang yang sekarang ini dikenali sebagai orang yang mulia adalah orang-orang yang justru merasa dirinya belum mulia. Sedikit cerita, Rasulullah SAW dahulu pernah mencatat nama-nama orang munafik yang ada di sekitar Rasulullah SAW. Namun hanya Rasul saja yang tahu, tidak diumbar ke mana mana. Lalu siapa yang memberi tahu Rasulullah ? yaitu Allah SWT secara langsung.

Sampai akhirnya Sahabat Rasulullah yaitu Umar -Al faruq- bin Khattab menjadi seorang khalifah, Beliau mengundang satu-satunya orang yang tahu mengenai nama-nama orang munafik tadi. Beliau adalah Hudzaifah Al Yamani. Seorang sahabat yang dijuluki Sahabat Pemegang Rahasia Rasulullah.  Setelah bertemu, Umar pun berkata “Wahai Hudzaifah, saya tahu kamu memegang nama-nama orang munafik yang pernah disebutkan oleh Rasulullah, waktu Abu Bakar menjadi khalifah saya belum berani memanggil dan bertanya tentang itu padamu” tapi Sahabat Umar RA bukan mau menodong dan menyuruh menyebutkan siapa saja nama orang munafik itu. Yang ditanyakan beliau adalah “Yaa Huzaifah, adakah nama saya disitu? ”.

Seorang Umar bin Khattab. Dengan segala akhlaq dan kemuliannya, sampai Rasulullah berkata dalam salah satu sabdanya "Seandainya ada nabi setelahku maka itu adalah umar" (HR. Ahmad, Al- Tirmidzi, Al Tabroni dan Al-Hakim. Al-Albani menilai hadis ini hasan dalam Shahih Al Jami’,5160 ) Orang yang sebegitu tinggi maqamnya, sebegitu sucinya masih bisa berfikir dan khawatir akan adanya nama dia disitu. Hinaa saya yang hina.

Dalam konsep berakhlaq, ternyata bukan hanya akhlaq kepada manusia yang menjadi poin utama. Karna sebagai Khalifah di muka bumi, manusia harus bisa berakhlaq dengan apa yang ada di muka bumi juga. Ada akhlaq kepada hewan, kepada tanaman, bahkan kepada jin. Bagaimana caranya? Contoh ya, kalau kepada hewan maka jangan menyakiti dan menghinakan, karna ternyata hewan yang najis yang namanya biasa kita jadikan bahan hinaan dan bahan menghina, ternyata ada yang masuk surga. Qithmir namanya. 

Ada lagi kisah Sunan Bonang yang ketika terjatuh dan tidak sengaja mencabut rumput. Beliau menangis. Walaupun, begini ya sebetulnya itu bukan masalah rumput yang dicabutnya. Tapi masalah mengenal Allahnya. Artinya, mau rumput mau binatang mau tanaman semua adalah makhluk Allah, yang terlihat bukan ini adalah rumput atau tanaman, yang terlihat adalah ini ciptaan Allah. Orang kalau sudah mencintai sesuatu maka akan mencintai semua karyanya. Sejelek apapun. Itu rumus logis. 

Masalahnya, bagaimana mau cinta.  Kenal juga belum. Baru tau saja. Saya ini baru tau kalau pencipta dan Tuhan seluruh alam semesta namanya Allah SWT. Belum kenal.  Masih sering terjebak dengan hal-hal yang zahir. Menilai sesuatu melalui logika saja. Merasa lebih aman ketika pintu rumah sudah digembok, jendela sudah ditutup ada satpam di depan rumah dan lain lain. Bukan merasa aman karna ada Zat yang Maha Kuasa yang akan selalu menjaga keselamatan saya. Lalai saya lalai.

Intinya untuk ngebenerin diri. Saya harus lebih sering merendahkan. Bukan ke luar tapi ke dalam.  Karna sesungguhnya orang yang keluar dari rumah dan merasa masih ada yang lebih hina dari dirinya di muka bumi, maka dia sudah sombong. 

Saya makhluk yang paling hina. 


رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ



Penulis : Muhammad 

Gambar : dakwatuna.com Belakangan saya menjadi takut ketika bertafakkur, karna saya jadi sadar akan kebodohan-kebodohan dan kelemahan-...

Image result for pemuda membawa alquran
Gambar : addinu-nasihah.blogspot.my
Terkadang mudah saja rasanya mengomentari zhahir (cover) seseorang, apa yang nampak oleh mata kita senang saja mengkonversikannya ke kata-kata yang belum tentu juga kebenarannya. Waktu yang nilainya amat berharga pun banyak terbuang demi sekedar memuaskan nafsu untuk mengomentari mereka, padahal di dalam hati seorang muslim pasti ada panggilan untuk memperbaiki keadaaan, bukan sekedar mengomentari, mengumpat apalagi mencaci-maki individu lainnya, terlebih, muslim lainnya. Padahal bisa jadi keburukan orang yang kita lihat dari luar itu disebabkan oleh ketidakpekaan kita juga terhadap mereka. 

Untuk memperbaikinya pun membutuhkan analisa atas keadaan orang tersebut dan mengerti betul cara terbaik untuk menyadarkannya. Ibarat seorang anak yang selama hidupnya mempercayai bahwa ibunya itu adalah ibu kandungnya, maka ketika tiba-tiba diberitahu bahwa kenyataannya bukanlah seperti itu, akan ada penolakan dari anak itu untuk mempercayai fakta tersebut, bahkan dapat berujung kepada perilaku-perilaku negatif jika anak ini memberikan penolakan yang terlampau besar kepada fakta tersebut. sama seperti usaha kita dalam memperbaiki seseorang, tidak bisa serta-merta kita memberitahu dia bahwa perilakunya itu salah, tentu akan ada penolakan, dan kalau tetap kita paksakan, besar kemungkinan semakin negatifnya perilaku orang tersebut. 

Syaikh Muhammad al-Ghazali, seorang ulama dari Mesir, bercerita dalam kitab al-Haqq al-Murr (kebenaran yang pahit) “Seorang wanita berpakaian ‘tak pantas’ masuk ke kantorku. Aku sedikit risih saat melihat penampilannya pertama kali. Namun dari tatapan matanya ia tampak sedih dan kebingungan. Wanita ini patut dikasihani, pikirku. Aku pun duduk, mendengarkan keluh-kesah yang ia sampaikan kepadaku dengan seksama.

Dari sela-sela obrolan tersebut aku tahu bahwa wanita itu adalah pemudi Arab yang mengeyam pendidikan di Prancis, dan nyaris tak mengenal sedikitpun tentang Islam, agama yang ia peluk. Kepadanya, aku berusaha menerangkan hakikat Islam, menjawab sejumlah syubhat dan pertanyaan yang ia ajukan. Serta mengungkap berbagai kedustaan yang disampaikan para orientalis.

Tak lupa pula aku sampaikan terkait peradaban modern yang kerap memposisikan wanita sebagai ‘daging’ pemuas nafsu, yang tak mengenal keindahan, ketenangan, dan makna ‘iffah di dalam keluarga. “Izinkan aku suatu hari untuk kembali ke tempat ini menemuimu, Syaikh,” ujar sang wanita. Ia pun mohon pamit keluar.

Tak lama berselang seorang pemuda berpenampilan religius masuk membentakku, “Apa yang membuat wanita kotor seperti itu datang kemari!?”

Aku jawab, “Tugas seorang dokter adalah menyembuhkan orang yang sakit sebelum orang sehat.”

Ia menyela, “Kenapa kau tak menasehatinya memakai hijab!?”

Aku katakan, “Perkara yang dihadapi wanita tadi jauh lebih besar dari sekadar memakai atau melepas hijab. Ada proses yang harus dilalui, terkait esensi iman kepada Allah dan Hari Kiamat, menegaskan makna taat kepada wahyu yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah, serta pilar-pilar inti agama ini dalam aspek ibadah dan akhlak.”

Lagi-lagi ia memotong pembicaraanku. “Bukankah hal-hal tersebut sama sekali bukan halangan bagimu untuk menyuruhnya berhijab!?”

Dengan tenang aku berupaya menjelaskan, bahwa aku tak bisa berbahagia melihat wanita itu datang ke sini sedangkan hatinya sunyi dari keagungan Allah Tuhan yang Maha Esa, hidupnya tak mengenal yang namanya rukuk dan sujud. Sesungguhnya aku sedang berupaya menanam di hatinya sejumlah pondasi yang jika pondasi itu tertancap dengan kuat, dengan sendirinya membuat ia sadar pentingnya menutup aurat.

Saat pemuda tadi hendak memotong pembicaraanku untuk yang kesekian kalinya, aku berkata dengan tegas, “Aku tak mampu menarik orang kepada Islam melalui selembar kain sebagaimana yang kerap kalian lakukan. Namun aku berusaha menancapkan pondasi, lalu memulai membangun di atasnya, dan menyampaikan semuanya dengan penuh hikmah.”

Dua minggu kemudian wanita itu kembali mendatangiku dengan pakaian yang lebih baik dari sebelumnya. Ia menutup kepalanya dengan secarik kain tipis. Ia kembali bertanya tentang Islam, dan akupun kembali menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Lantas aku bertanya, “Mengapa kau tak pergi ke masjid terdekat dari rumahmu (untuk menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini)?”

Meski akhirnya aku menyesal mananyakan hal ini, karena aku teringat bahwa wanita-wanita itu terlarang untuk pergi ke masjid. Namun pemudi itu menjawab, “Aku membenci para da'i dan tak ingin mendengarkan ceramahnya.”

“Mengapa?” tanyaku penuh penasaran.

“Hati mereka keras, berwatak kasar. Mereka memperlakukanku dengan pandangan penuh kehinaan.”

Tiba-tiba aku teringat sosok Hindun bintu Utbah, istri Abu Sufyan Ra. Seorang wanita yang di masa kekufurannya membunuh secara sadis serta memakan jantung paman Nabi Sayyidana Hamzah Ra. Saat itu dia belum mengenal Rasulullah Saw. Namun setelah memeluk Islam dan mengenal Rasulullah Saw., ia mendekat dan mengucapkan sebuah kalimat yang menggetarkan hati:

يا رسول الله, والله ما كان على ظهر الأرض أهل خباء أحب أن يذلوا من أهل خبائك, وما أصبح اليوم على ظهر الأرض أهل خباء أحب إلي أن يعزوا من أهل خبائك


“Wahai Rasulullah, Demi Allah, dahulu tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka terhina kecuali penghuni rumahmu. Namun sekarang tidak ada satu penghuni rumah pun di permukaan bumi ini yang aku ingin mereka mulia selain penghuni rumahmu.”

Perlu dicatat bahwa Syaikh al-Ghazali menggunakan cara yang tepat dan bijaksana dalam usahanya untuk menyadarkan wanita tersebut, setelah beberapa waktu baru disadari bahwa wanita tersebut ternyata membenci da'i. Bisa dibayangkan kalau beliau langsung menyuruh wanita tersbut untuk menutup seluruh aurat nya, mungkin wanita tersebut akan langsung pergi dan tidak akan pernah mendapatkan hidayah Islam, padahal pemuda itu memiliki niat yang sama baiknya dengan beliau, tetapi jika tidak dibarengi dengan langkah-langkah yang bijaksana, tentu niat tersebut tidak akan bisa terwujud. 

Itulah fenomena yang sedang banyak terjadi dalam masyarakat kita, orang-orang seperti pemuda tadi lebih banyak jumlah nya daripada orang-orang yang memilih sikap seperti Syeikh al-Ghazali. Sedangkan umat merindukan seorang atau sekelompok orang yang memiliki hati yang jernih untuk melihat semua muslim, baik orang yang shaleh maupun yang masih terjebak dalam kemaksiatan. Dimanakah orang-orang tersebut? Apakah saudara pembaca bersikap seperti pemuda shaleh tersebut, atau seperti Syeikh Muhammad al-Ghazali?


Penulis : Yusuf Ali

Gambar : addinu-nasihah.blogspot.my Terkadang mudah saja rasanya mengomentari zhahir (cover) seseorang, apa yang nampak oleh mata kit...

Gambar : inilahbanten.co.id

Saya pernah diceritakan oleh ustadzah saya tentang pemilik toko selimut yang kedatangan seorang pembeli kaya dan miskin (lupa sumbernya dari mana).

Awal ceritanya sih gini. Si penjual membandrol harga 450 Riyal untuk setiap selimutnya. datanglah pembeli pertama untuk membeli selimut dengan harga itu. Lalu, datang pembeli kedua. Melihat bajunya yang lusuh dan keringat di dahinya, Si Pembeli Pertama menjauhinya dengan tatapan sinis merendahkan.

Si Penjual bertanya kepada Pembeli Kedua:
"Apa yg bisa saya bantu untuk Anda?"

Pembeli Kedua:
"Saya butuh 6 lembar selimut untuk saya dan anak-anak, agar kami terlindungi dari dinginnya hawa musim ini. Tapi...saya cuma punya uang 50 Riyal." Tatapannya penuh harapan.

Si Penjual tersenyum menanggapi:
"Oh begitu...saya punya 6 lembar selimut buatan Turki. Harganya 10 Riyal perlembar. Jika Anda membelinya 5 lembar, maka saya akan kasih 1 lembar dengan gratis".

Si Pembeli Kedua sumringah:
" Alhamdulillahh... ini uang saya 50 Riyal..."

Kemudian ia pulang membawa 6 selimut untuk dirinya dan keluarganya dengan penuh syukur. Tak lama kemudian si Pembeli Pertama protes pada si Penjual.

"Kenapa engkau menyerahkan 6 lembar selimut itu pada Pak Tua tadi hanya seharga 50 Riyal, sementara padaku Kau jual 450 Riyal untuk setiap lembarnya?..."

Penjual dengan tersenyum menjawab :
"Engkau orang mampu, maka kujual selimut ini dengan harga yang semestinya.
Sementara Pak Tua tadi sangat membutuhkan selimut, tapi tak punya cukup uang..."

Si Pembeli Pertama masih penasaran:
"Kenapa engkau tak berikan saja padanya dalam bentuk sedekah yang gratis. Sebab 50 Real tidak ada artinya buatmu..."

Si Penjual menjawab:
"Menolong tak harus merendahkan orang yang ditolong. Aku ingin menolongnya tanpa harus membuatnya merasa ditolong. Saat menjual selimut padamu, aku berdagang dengan manusia.
Tapi saat menjual selimut pada Bapak Tua tadi, aku berdagang dengan Allah. Jika di dunia ini aku bisa melindunginya dari hawa dingin dunia, Maka aku berharap Allah akan melindungiku dari panasnya api neraka kelak..." .

Si Pembeli Pertama mengangguk penuh arti.

                    والله في عون العبد ما كان العبد في عون اخيه

"Dan Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim).

Intinya dari cerita ini adalah, menolong tak seharusnya merendahkan orang yang kita tolong. Banyak sekali di negara kita Indonesia hakikatnya pengemis atau pengamen, tapi dia bukan hanya sekedar meminta. Dia bekerja menyanyikan sebuah lagu untuk kita meski kadang suaranya tak semerdu Boy Band dan hanya dibantu dengan peralatan tradisional.

Ada juga pengemis yg menjual 1 tissue dengan harga bebas, yakni dia menjual bukan dengan harga asal melainkan seikhlasnya kita tuk memberikan berapa terhadapnya. Dari sini lah kita bisa menolong tanpa merendahkan orang lain, niatkan lah dalam diri kita karna setiap pekerjaan itu tergantung pada niat kita. Niat menolong bukan karna dia miskin tapi karna dia telah bekerja untuk kita.   


Penulis : Yunita Zakiya

Gambar : inilahbanten.co.id Saya pernah diceritakan oleh ustadzah saya tentang pemilik toko selimut yang kedatangan seorang pembeli ka...

Gambar : shutterstock.com

Izinkan pada pagi yang teduh ini aku sedikit berbicara tentang cinta. Ini yang kuyakini, dan ini yang kulalui. Kalian tahu bahwa Allah bukanlah pemberi harapan palsu? Ia menepati janji. Dan Ia tidak akan membuatmu mengharapkan sesuatu yang semu.

Jadi tatkala tiba-tiba kita mencintai seseorang, pernahkah kita bertanya? Kenapa aku mencintai wanita atau pria yang satu ini, bukan yang lain, bukankah masih banyak wanita ataupun pria yang jauh lebih cantik dan tampan dari sosok ini?

Layaknya bercerita tentang takdir, aku tak pernah percaya dengan kata kebetulan. Kembali ke pertanyaan sebelumnya. Kira-kira apa yang akan menjadi jawaban kita? Dan nyatanya terkadang kita mencintainya tanpa alasan. Tanpa angin dan hujan, apalagi badai debu di padang gersang. Bahkan tidak sedikit dari kita yang berkata "cinta pada pandangan pertama".

Nah yang ingin aku sampaikan pada point ini adalah "Allah-lah yang membuatmu untuk mencintainya". Dalam bahasa lain, Allah mengabarkanmu bahwa itu akan menjadi jodohmu.

Namun, sekarang masuk pada permasalahan lain. Tatkala Allah mengilhamkan sebuah rasa pada seseorang, Allah membiarkan seorang hamba itu mencapainya dengan cara mereka sendiri. Allah sudah arahkan pada dua jalan; cara yang benar, dan cara yang salah.

Layaknya sebuah doa. Kalian pernah tidak tiba-tiba pengen punya gadget baru dengan merek terkenal? Lantas apa yang kalian lakukan? Cara yang benar adalah berdoa kemudian berusaha. Dan cara yang salah adalah kalian mencurinya. Sehingga apa? Kita diharamkan darinya.

Layaknya sebuah do'a ini, pernahkah kalian berfikir bahwa Allah ingin memberikan kalian sesuatu yang kalian dambakan, namun Allah ingin bagaimana agar kalian berdo'a dan beribadah pada-Nya, karena itu adalah alasan kalian diciptakan. Jadi yang Allah inginkan adalah agar kalian beribadah, namun hasil yang kalian dapatkan adalah buah.

Kembali ke topik percintaan tadi. Tatkala kita tiba-tiba mencintai seseorang, berarti Allah sudah ingin menjadikannya pasangan kita. Permasalahan selanjutnya adalah soal cara.

Cara yang baik adalah dengan bersabar, menjaga hati, menjaga pandangan, menjaga kemaluan, kemudian mempersoleh diri, dan jangan lupa berdoa.

Adapun cara yang salah adalah; kita tidak bersabar menunggu waktunya, stalking seluruh kegiatannya, mencoba menghubunginya, membuat janji untuk akan tetap bersama, kemudian menikah dengan segala impian dengan merusak hati dari sebelumnya.

Jadi jangan katakan Allah PHP jika tiba-tiba kita kena tikung. Sakit? Ya iyaa, salah siapa? Kita tak sabar melewati prosesnya.

Maka SEKUFUKAN lah dirimu karena Allah, dan dengan cara yang Allah berikan.

FYI: Aku dan istriku ternyata kita telah saling mencintai selama sepuluh tahun sebelum kita menikah. Dan kita baru sama-sama tahu setelah label halal melekat pada kita berdua.

Shabbahakumullahu 'ala khayr.

Penulis : Moe Azz


Gambar : shutterstock.com Izinkan pada pagi yang teduh ini aku sedikit berbicara tentang cinta. Ini yang kuyakini, dan ini yang kulalu...

Image result for ilustrasi mencari-mencari jalan keluar
Gambar : vebma.com

Ketika matahari mulai menampakkan cahayanya di bumi. Saat itu juga, seorang manusia bangun dari tidur lelapnya. Baru saja setengah sadar, dirinya terkejut ketika melihat gagdetnya yang katanya canggih. Layar gadget itu menunjukkan jam 7 pagi. 

Itu tandanya hanya tersisa waktu 15 menit lagi agar tepat waktu sampai di kantor. Akhirnya dia buru-buru bersiap menuju kantor. Di dalam benaknya yang terpikirkan hanya berharap nasibnya hari ini baik. Tidak macet dijalan. Tidak telat dateng kantor. Tidak dimarahin atasan. Gaji mendarat dengan lancar. Ternyata bersamaan hari ini gaji turun. Dan bisa makan-makan enak.

Ketika keluar rumah dan didapati mobilnya mogok. Serentak dirinya bingung dan cemas. Mau cari bantuan siapa lagi supaya hari ini bisa sampe kantor tepat waktu? Apalagi hari ini gajian. Dia berharap jangan sampe kesalahan yang lalu terulang. Ternyata dalam bulan ini sudah sering dirinya datang telat ke kantor.

Tidak ingin waktu berlalu begitu cepat. Dia mencari cara agar cepat sampai ke kantor. Akhirnya ngojek. Ia berharap dengan naik ojek maka akan cepat sampai kantor. Ternyata jalan utama macet. Setelah berpikir panjang, belok haluan ambil jalan alternatif juga. Berharap bahwa jalannya lancar dan abang ojeknya ngebut. Kenyataannya sama-sama tidak berbuah hasil untuk datang tepat waktu sampai kantor. 

Kesal, kesal, dan kecewa berat rasanya. selama perjalanan menuju kantor dirinya terus mengeluh. Bahkan abang ojeknya kena omelan kekecewaannya. Pandangan dan harapannya untuk hari itu sudah sangat buruk. 

Tepat jam 7.30 dia sampe kantor. Perjalanan sekitar 15 km yang ditempuh. Dan sudah lewat jalan alternatif tidak membuat dirinya sampai tepat waktu. Ketika sampai, bukannya bersyukur malah marah karena abang ojek tidak bisa membawanya tepat waktu sesuai harapan. Padahal memang macetnya jalan yang menghambatnya. Ojek itu hanya bisa diam dan mendoakan dalam hati agar dia bisa bahagia dan bersyukur terus.

Dia seperti merasakan bahwa hari ini sudah kacau. Namun dirinya tetap berharap agar atasannya belum datang juga. Biar masih selamat dalam waktu dekat. Ternyata eh ternyata. Baru aja masuk kantor. Atasannya sudah melototin dia tidak jauh dari sana. Duh rasanya hancur semua. 

Akhirnya dipanggilah dia. Duh deg-degan rasanya. Takut dan bertanya mau nyari alasan apalagi... mau nyari bantuan siapa lagi... ketika berhadapan dengan atasan. Baru aja duduk di ruangannya. Ternyata udah dikasih amplop aja. Hatinya yang tadinya kecewa dan gelisah. Dibuat senang oleh tingkah atasannya. Kiranya akan di tunda gaji itu karena kesalahannya. 

Masih dalam keadaan senang bercampur kecewa. Ternyata dibalik itu. Atasannya mengutarakan saran dan kritikan atas kinerja dirinya. Mengutarakan dalam semua hal. Tentang alasan alasan yang tidak jelas. Tentang keterlambatannya. Tentang kinerja juga tentang ibadahnya. Ketika semua serasa sudah usai (karena keadaan menghening) ternyata sang atasan menambahkan. "Maaf. Gaji itu untuk terakhir kamu bekerja disini"

....JLEB... kata kata terakhir itu pas sekali mengena dihatinya. Menyimpulkan bahwa karirnya sudah berakhir disini. Entah apa yang harus dilakukannya lagi. Awal hari yang buruk. Tak ada lagi harapan bagi dirinya besok datang untuk bekerja lagi. Entah mau cari bantuan siapa lagi agar pekerjaannya balik kembali. Semua harapannya hancur seketika. Hidupnya akan semakin sepi. Tanpa pekerjaan. Juga belum dipertemukan jodohnya.

Apakah keadaan dirinya seperti diri kita? Tentu jika ia. Maka pada saat membaca ini ada kesempatan untuk berubah. Memperbaiki pandangan kita. Memperbaiki cara kita berharap. Memperbaiki pagi hari kita agar lebih cerah dan berkah. 

Jika kita berharap kepada orang lain. Maka bersiaplah kecewa berat. Tentu berbeda jika kita berharap kepada Allah. Karena rasa percaya dan yakin. Allah pasti memberikan yang terbaik. Jika belum. Maka Allah ajarkan sabar dan ikhlas.

Ketika dirinya merenungi tentu banyak yang harus diperbaiki. Cukuplah PHK sebagai pengingat tanda dirinya ternyata sudah sangat jauh dari Allah. Kerjanya menjadi tidak berkah. Bangun di pagi hari sudah terburu-buru kerja. Ketika pulang pada malam hari badan sudah capek. Jadilah semua serba salah.

Saatnya merubah kebiasaan pagi. Ketika bangun yang harus diingat pertama ya Allah. Bersyukur masih bisa bangun, lalu isi pagi dengan semangat bergerak dan ibadah. Jangan sampai bangun pagi tidak tahu harus ngapain. Eh malah lanjut tidur. If you wake up without a goal. Go back to sleep.

Ketika kehancuran datang bertubi-tubi. Dirinya sadar bahwa mengeluh dan menyesal tidak akan merubah segalanya. Allah sangat sayang kepada manusia dengan memperingatkan mereka yang sudah jauh dari-Nya. Maka ambil hikmah dan belajar dari kehendak-Nya. Akhirnya pertanyaan dalam dirinya terjawab bahkan tercerahkan. "Mau cari bantuan siapa lagi?" Jawabannya, saatnya mencari Allah terus, lagi, dan lagi. 

Karena sungguh hidup ini untuk belajar dan mencari bekal di akhirat. Life is the best gift from Allah. So learn how to be grateful with your life and always believe with Allah all the time. Dengan berharap hanya kepada Allah. Meminta hanya kepada Allah. Maka cara mendapatkannya dengan cara baik yang Allah ridhoi. Berharap kepada Allah dengan yang tidak sepatutnya ditinggalkan. 

".... Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kau berharap." (QS Al-Insyirah : 8)

Tidak lagi berharap dengan hanya bekerja di perusahaan besar maka hidup akan bahagia. Tidak lagi berharap dengan hanya memiliki bisnis omset miliaran maka hidup akan bahagia. Tapi hanya berharap pada Allah untuk kesuksesan dunia akhirat. Maka insyaAllah pekerjaan dan usaha kita juga terus terus bertumbuh dan berkah. Tanda-tanda keberkahan adalah dengan adanya kebermanfaatan, kebaikan, kebahagiaan untuk ummat.


Penulis : Farid Muhammad

Gambar : vebma.com Ketika matahari mulai menampakkan cahayanya di bumi. Saat itu juga, seorang manusia bangun dari tidur lelapnya. B...