Gambar : danielgarciaart.com

Iseng saya browsing, ternyata jumlah pengguna aktif Facebook di dunia mencapai hampir 2 milyar. Indonesia menempati urutan ke-4, dimana pengguna aktifnya mencapai 60,3 juta dari total populasi 253,6 juta jiwa.

Didalamya berisi banyak komentar, status dan gambar. Dari mulai yang bernuansa dakwah, sosial, kemanusiaan, jualan, curhat, gosip, keluh-kesah, hingga celaan dan fitnah. Semua ada. Saya membayangkan betapa kewalahannya si FB  jika kelak di hari kiamat ia dipanggil untuk menjadi saksi di pengadilan akhirat.

Mungkin akan ada pintu Jannah yang terbuka untuk si "A" karena FB bersaksi bahwa A sering menebar dakwah, atau kebaikan humanis lain di wallnya. Sehingga banyak yang terinspirasi dan tercerahkan karnanya.

Mungkin ada juga si “B” yang ikut meraup pahala karena sibuk mengamalkan ilmu dan hikmah dari si “A”, atau ikut share status dan komentar si “A” yang menurutnya layak di ketahui oleh teman-teman di friends list nya.

Ada pula si “C” yang sibuk menambah dosanya karena FB bersaksi bahwa C ini gemar mengumpat, memaki saudaranya, menipu pelanggan, atau menggoda dan merusak rumah tangga orang lain.

Ada juga si “D” yang ikut terseret ke NERAKA karna FB bersaksi bahwa D ini sering menzalimi orang lain, suka memfitnah, membuat atau menyebar meme provokatif, atau tergesa-gesa menyebar berita dusta (hoax) tanpa diklarifikasi sebelumnya.

Di posisi yang manakah kita….? Yang A,B,C atau yang D kah…

Jangan sampai di akhirat kelak kita termasuk dalam golongan MUFLIS, dimana pahala kita direbut oleh mereka yang pernah kita dzalimi di dunia. Atau mungkin kita jadi tempat pembuangan dosa dari orang yang pernah kita dzalimi. Naudzubillah.

Smartphone yang kita pegang saat ini….
Laptop yang sedang kita pandangi ini….
Mata yang sedang kita buka ini….
Bahkan kedua jari tangan yang sedang mengetik ini…
Semuanya akan menjadi saksi.

Bahkan jika ALLAH berkehendak sosial media yang kita punya akan menjadi saksi atas apa yang telah kita bagikan di status, komentar yang pernah kita tuliskan bahkan semuanya..

Sanggupkah kita menjawab kesaksian dari akun media social yang kita punya saat ini kelak di akhirat? Tanyakanlah pada hati nuranimu. Apa yang telah kita lakukan di akun Facebook.

Penulis : Yunita Zakiya

Gambar : danielgarciaart.com Iseng saya browsing, ternyata jumlah pengguna aktif Facebook di dunia mencapai hampir 2 milyar. Indonesia ...

Gambar : media.buzzle.com

Keluar, beristirahat sejenak dari rutinitas itu menyenangkan. Menemukan banyak waktu untuk berfikir dan membuat kita lebih bisa merasakan diri sendiri. Merenungi hidup. Berapa lama lagi waktu yang tersisa ? dan warna apa yang akan digoreskan disisa hari-hari itu. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggerakan hati dan kaki kita untuk terus berjalan mencari peluang-peluang kebaikan diluar sana. Kata ibu, belajar dan berusahalah menjadi orang yang bahagia, orang yang mendedikasikan hidupnya bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Ya, bukankah hidup tidak akan berarti kalau kita tidak bisa memberi ?

Waktu, kehidupan, perjalanan, akan selalu maju kedepan dan tidak akan pernah mundur arahnya. Kita harus memiiki progress. Mendewasakan diri untuk membuat perubahan yang lebih baik lagi. Membawa diri untuk bisa merasa daripada hanya merasa bisa. Mencoba untuk lebih peka, memberikan yang terbaik untuk setiap kesempatan dalam hidup dan saling menginspirasi.

Al Quran pun memiliki satu istilah istimewa tentang hidup “Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia beriman, maka akan kami hidupkan dengan hayyatan thayibah (kehidupan yang baik)”. Sebuah kombinasi rasa qana’ah dan ridha. Kehidupan kalbu, kenikmatan hati, dan rasa bahagia karena keimanan serta ma’rifah kepada Allah, begitu kata Ibnul Qayyim.

Dan selama kita masih hidup, berarti kita harus siap terkejut. Karena tidak selamanya kita berada di atas dan tidak terus menerus berada dibawah, kadang penuh dengan kebahagiaan, kadang juga kesedihan. Tapi seorang yang beriman akan selalu memandang baik setiap kejutan hidup, sepahit apapun kondisinya, seberat apapun menjalaninya, karena pasti ada kebaikan yang masih tersembunyi, yang tertunda untuk melengkapi bagian yang lainnya, dan kita yang harus terus mencari arti dari takdir-Nya.

Penulis : Salsabila

Gambar : media.buzzle.com Keluar, beristirahat sejenak dari rutinitas itu menyenangkan. Menemukan banyak waktu untuk berfikir dan me...


Gambar: shutterstock.com

Kenapa kok bercita-cita?
Karna aku yakin semua perempuan ingin mencapai ke tujuan tersebut.
Dan kenapa kok disebut cita-cita?
"Cita-cita lo kok gitu amet sih..?" sebagian mungkin akan mencetus.

Karna yang tidak asing di zaman kita adalah cita-cita yang mengarah menjadi dokter tertenar, engineer terhebat, atau bahkan bercita-cita menjadi istri salah satu oppa Korea.
Tidak ada yang salah kok.
Hanya saja, ini semua bersifat duniawi dan tidak akan kekal.

Shalat lima waktu, berpuasa, haji, zakat dll kita sudah "cukup" kok.
Benarkah?
Dari beberapa artikel yang aku baca & ketahui, bercita-cita menjadi shalehah itu adalah satu tujuan yang terdengar mudah, terucap mudah, tetapi ketika ingin menjadi shalehah, disitulah lika-liku naik-turunnya iman kita.

Keistiqamahanlah yang menjadi alat perang kita.
Ketika menuju titik yang sangat tinggi, tetapi sangat mulia di mata Allah.
Wanita shalehah itu ibaratnya seperti menginvestasi dinar yang nantinya sangat bermanfaat dan nilainya akan terus naik. Wah kaya dong kita? Pasti, makanya itu Rasulullah menyebutkan bahwa, 

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.”  (HR. Muslim)
Yang maksudnya, tidak cuma kita saja yang akan merasakan kemanisan itu nantinya. Bahkan orang-orang disekitar kita akan merasakan manisnya berada di sekitar orang-orang shalehah. Kenapa? Ya karna untuk menuju cita-cita menjadi shalehah itu banyak lika-liku nya, jadi ketika berusaha untuk mengubah diri, perubahan-perubahan itu yang nantinya tidak akan mendustakan hasil. Merasakan kehilangan teman, memuseumkan jeans ketat & baju lucu kita, double-extra dalam hal menutup aurat, bahkan bukan cuma itu, kadang keluarga sendiri yang belum mendukung juga akan menilai kita dengan perkataan-perkataan yang tidak enak didengar.

Tapi itu semua akan menjadikan bait-bait cerita seru yang akan tertulis di “CV” hidup kita.
Justru cita-cita ini yang akan membuat CV kita diterima di Jannah-Nya loh, bahkan dalam sabda Rasulullah SAW,  

      “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.”
Tetapi, tentu ada syarat-syarat nya untuk mendapatkan hadiah itu. “Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya,...”
Alangkah mencapai cita-cita itu mudah, maka semua orang akan berlari-lari untuk mengejarnya, tetapi ianya dipenuhi dengan cobaan yang mana membuat perempuan-perempuan zaman sekarang ini menyerah untuk mencapainya, karna yang bersifat duniawi & bertentangan agama itu lebih mudah untuk dijalani.

Saat sedang semangat-semangatnya untuk berubah atau terbesit di hati ingin berhijrah,
Maka disitulah bentuk cinta Allah akan muncul. 
Allah ingin kita terus membuktikan cinta kita untuk-Nya. ‘Pengorbanan cinta kita’, bahasa gaulnya.
"Yakin nih cinta sama Allah?", mungkin itu cara Allah bilangnya.
Sama seperti kita manusia-manusia yang ingin menguji cinta kita sesama dengan memberi skenario-skenario, apakah kita akan tetap setia... atau menyerah.

Karna menyerah adalah hal yang paling mudah, tetapi menunjukkan kelemahan atau kekalahan seseorang. Sedangkan menyerah adalah hal paling hina dalam membuktikan cinta kita ke Allah. Ketika kita lalai dalam beriman, Allah tetap setia menunggu shalat-shalat kita, walaupun ianya baru dikerjakan terburu-buru 5 menit sebelum azan selanjutnya berkumandang, atau bahkan Allah selalu setia menunggu hamba-hambanya setiap malam untuk curhat kepada-Nya, tapi kita lagi-lagi lebih asyik bergadang dan curhat sesama manusia yang ilmu nya juga rata-rata, yang bahkan setelah  berjam-jam pun kadang tidak ada solusi untuk masalahnya, justru diselimuti rasa galau yang berkelanjutan.

“La Hawla Wala Quwwata Illa Billah”. Kalimat ini adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. Seorang hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah.

Sudah jelas sekali Allah begitu membuka lebar tangan-Nya untuk memeluk kita, yang artinya, apapun yang membuat kita gelisah, semua masalah lika-liku kehidupan, kembalilah ke Allah, yang Maha Penyayang & Maha Pengasih ini.

Maka dalam kesempatan ini, selagi kita terbesit di hati untuk berubah, ubahlah cita-citamu untuk menjadi perhiasan dunia, mintalah terus ke Allah untuk selalu diberikan kemudahan mencapai “requirements” yang diperlukan untuk mencapainya.

InsyaAllah dengan itu ketika ‘waktu ujian’ tiba, hati & wajah kita menunjukkan kalau kita siap dengan alat tempur kita yang berbekal ‘revision’ bertahun-tahun lamanya, dan keluar dari ‘tempat ujian’ dengan hati dan wajah yang tersenyum lega, karna akhirnya Allah sudah menerima & meluluskan “CV” hidup kita itu.
InsyAllah. Aamiin.


Penulis: Adya Laras Tsabita Atindriya

Gambar: shutterstock.com Kenapa kok bercita-cita? Karna aku yakin semua perempuan ingin mencapai ke tujuan tersebut. Dan kena...

Gambar: Sumedico.com

Happy little soul adalah judul buku karya Retno Hening yang terinspirasi dari anak lucunya yaitu Kirana. Buku ini sangat inspiratif dan mengajarkan kita sebagai seorang ibu dan calon Ibu tentang bagaimana mendidik anak agar jiwa dan mentalnya sehat.

Mendidik anak bukanlah pekerjaan yang mudah yang bisa dipermudah. Anak adalah karunia Allah yang hanya akan diberikan kepada orang-orang yang Allah percayai untuk mengemban amanah untuk membesarkannya.

Dalam buku ini Retno membagikan pengalaman tentang pentingnya komunikasi antara Ibu dan Anak atau Orang tua dan anak. Komunikasi yang baik akan menghasilkan jiwa dan mental yang sehat pada anak-anak. Komunikasi disini artinya merespon apa saja yang keluar dari mulut anak dan mendengarkan cerita apa saja yang ingin mereka ceritakan kepada kita.

Contoh nyata dari komunikasi yang bagus antara orang tua dan anak adalah Pak Rudy Habibie. Kedekatan ayahnya dengan Pak Habibie menghasilkan mental yang kuat dan menjadikan Pak Habibie menjadi pemuda yang pintar dan berdaya saing.

Komunikasi sangat berkait erat dengan kesehatan mental sang anak karena ketika orang tua merespon apa saja yang dikatakan oleh anak, maka secara tidak langsung anak akan merasa diperhatikan dan disayangi oleh orang tuanya dan mereka juga mendapatkan cukup kasih sayang sehingga tidak mencari sumber kasih sayang yang lain. Yang dimaksud sumber kasih sayang yang lain adalah mereka mencari perhatian dari orang lain atau bahkan meminta perhatian kepada orang tuanya sendiri dengan cara melakukan hal-hal yang membuat orang menumpukan perhatian kepada dia dengan cara ikut-ikutan tawuran, merokok, dan minum minuman keras.

Bisa dikatakan secara tidak langsung bahwa komunikasi bisa meminimalisir perbuatan kriminal yang dilakukan oleh anak-anak atau remaja.

Selanjutnya adalah tentang betapa pentingnya mengajarkan anak perkataan maaf, terima kasih dan tolong. Banyak anak sekarang yang tidak tahu cara mengucapkan maaf dan tolong sehingga apa yang mereka lakukan terkesan kurang ajar. Hal seperti ini tidak 100% kesalahan sang anak, namun ini kesalahan orang tua juga yang tidak melatih anak sejak dini untuk menggunakan kata-kata tersebut.
Mengucapkan kata terima kasih bisa membuat orang merasa dihargai dan mampu menularkan energi positif kepada orang yang mempunyai niat menolong untuk lebih semangat untuk menolong orang lain.

Sedangkan kata tolong dan maaf bisa mengajarkan anak tentang sifat rendah diri dan tidak sombong, karena dengan kata tolong berarti kita menghargai orang lain dan kata maaf berarti kita menghormati orang lain. Hal tersebut tidak bisa berhenti sampai mengajarkan sang anak saja namun orang tua sendiri harus mencontohkannya karena anak bersifat mencontoh apa yang orang tua mereka lakukan.
Begitulah keajaiban dari tiga kata tersebut.

Selanjutnya adalah meminta maaf terhadap anak ketika berbuat salah. Meminta maaf bukan hanya tugas anak kepada orang tua saja namun ini juga tugas orang tua terhadap anak. Sopannya anak kepada orang tua tidak lain adalah karena sopannya orang tua terhadap anak. Jika orang tua menuntut anak untuk sopan namun orang tuanya tidak sopan kepada anaknya maka itu sama saja dengan menuangkan air di gelas yang bocor atau useless alias tidak berguna.

Tidak akan terbakar lidah jika orang tua meminta maaf kepada anak tapi kerendahan hati orang tua untuk meminta maaf bisa mengajari sang anak dan membuat mereka merasa dihargai sebagai seorang anak dan mengajarkan dia tentang tingginya budi dan harga diri. Wallahu Ta'ala A'lam.

Penulis : Subainah

Gambar: Sumedico.com Happy little soul adalah judul buku karya Retno Hening yang terinspirasi dari anak lucunya yaitu Kirana. Buku ini ...

Gambar: iabpa.org

Dikala susah melanda, dikala hati berkeluh kesah, dikala gejolak amarah menggebu-gebu, dikala perasaan menyalahi keadaan. Semua perasaan itu datang ketika cobaan menghampiri. Ya setiap kita pasti mendapat cobaan, up and down sudah pasti ada, tak kenal waktu dan tak kenal siapa orang itu.

Suatu hari saya merenung dan bertanya-tanya pada diri saya sebelum akhirnya semua rasa negatif ini berujung tak karuan. Mengapa diumur saya yang masih setengah dari umur ibu bapa saya ini cepat sekali mengeluh, ngomel, kesel kalau ada saja yang tidak sesuai dengan harapan kita, sedangkan jika kita lihat orang tua kita yang diibaratkan sudah makan manis dan pahitnya hidup tapi tetap survive dan hampir tidak pernah kelihatan susah, yang dimana cobaan bertubi-tubi datang silih berganti.

Pertanyaan itu lantas saya tanyakan kepada ibu saya. Tanpa ragu dan berfikir panjang, beliau menjawab “Nanggepin semua itu biasa saja, yang penting ibadahnya istiqomah, ketika datang cobaan ya sudah siap nerimanya karna sudah ada bekal yang selama ini kita kerjakan, mungkin ketika kita dapet cobaan lalu kita biasa aja itu karna dzikirnya kita setiap hari yang membuat kita tenang, nih ya ibaratnya kita punya kartu membership di sebuah restoran, dan ketika restoran itu lagi penuh dan tidak ada tempat, terus kita tunjukin kartu membership kita, pasti habis itu langsung dikasih pelayanan khusus dan dikasih tempat, sama aja ketika kita lagi dalam keadaan susah terus selama ini kita selalu maksimalin ibadah dan istiqomah, insyaAllah nanti Allah akan kasih ketenangan disaat mengahadapinya, jadi intinya istiqomah dalam ibadah”, saya langsung mikir, mungkin selama ini kita selalu nuntut ini itu tapi ibadah aja kita tidak maksimal dan istiqomah, gimana Allah mau ngasih apa yang kita mau. Seperti biasa, beliau menyampaikannya sesederhana itu tapi sangat mengenai hati.

Reminder itu penting, pada dasarnya kita sudah tahu bahwa hal yang kita lakukan itu salah tapi perlu ada yang mengingatkan lagi agar kita terbangun dan segera sadarkan diri, seperti misalnya ada seorang anak yang lebih memilih bermain PS daripada belajar, padahal ia tahu bahwa keesokan harinya akan ada ulangan di sekolahnya. Ketika ibunya mengingatkan dan memberi tahu, ia baru beranjak dan segera mengambil bukunya.

Pada akhirnya kita harus selalu bergantung dan percaya pada Allah, kita harus sering-sering menyadarkan diri dan bertanya pada diri sendiri. Mengapa begitu mengkhawatirkan masa depanmu padahal engkau tau bahwa Allah-lah yang mengetahui segala-galanya di dunia ini. Mengapa sangat bergantung dan berharap kepada manusia padahal Allah-lah yang membolak-balikan hati manusia. Mengapa ada perasaan takut akan rezeki yang datang pada esok hari padahal kau tau tidak ada daun yang jatuh dimuka bumi ini yang lepas dari penglihatan Allah SWT.

Ada banyak hal yang kita anggap remeh namun besar efeknya jika kita pandai merenunginya, ada banyak hal besar yang kita terlalu sibuk dibuatnya sehingga lupa akan hal kecil disekitar kita yang dapat mengalahkan besar nya hal tersebut. Pandai-pandai lah mencari hikmah dibalik setiap peristiwa, karna pasti ada sebuah pelajaran yang Allah SWT hendak sampaikan kepada kita, dan percaya deh pasti itu BAIK.

Dalam firman-Nya di sebutkan "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." ( Al-Qaf : 29 )

Mungkin ini salah satu hikmah yang dapat saya ambil dari masalah yang saya hadapi, karna kalau masalah itu tidak datang, saya tidak akan melontarkan pertanyaan itu ke ibu saya. Dan saya jadi sadar kalau harus meningkatkan ibadahnya lagi. Benar kata beliau, kita harus jadi membershipnya Allah SWT dengan istiqomah dalam ibadah, agar ketenangan selalu datang dimanapun dan bagaimanapun keadaanya. Wallahu a’lam

Penulis : Inas Syarifah

Gambar: iabpa.org Dikala susah melanda, dikala hati berkeluh kesah, dikala gejolak amarah menggebu-gebu, dikala perasaan menyalahi k...